
Suara panggilan adzan terdengar. Dua perempuan dengan balutan kain yang sangat seksi, satu hanya hot pen dan atasan kaos oblong dan tipis, satunya, setela piyama pendek sepaha. Mereka berdua masih berlindung di bawah selimut.
“Ahh” Kia membuka matanya dan meregangkan tanganya. Lalu melafalkan doa, sebagai ucap syukur kepada Sang Pemberi hidup, dia sudah diijinkan membuka matanya lagi. Dan kini Kia siap melukis harinya dengan penuh semangat. Apalagi nanti malam adalah hari pertama buah hatinya perform.
“Bangun Cyn, udah subuh!” ucap Kia ke Cynti.
“Emmmt ngantuk gue!” jawab Cyntia malas.
“Isshh, bangun sih!” tegur Kia lagi.
“Aaaah” Cyntia justru menggerutu.
Matanya masih terpejam sangat berat untuk dibuka, mungkin karena kamar Kia sangat nyaman. Rasanya matanya seperti kunci pintu dunia mimpi yang sangat indah. Kalau dibuka Cyntia kehilangan dunia indahnya itu hilang dari genggamanya.
“Ishh dasar! Kamu kan punya suami! Apa begini kebiasaanmu bersama suamimu?” cibir Kia lagi melihat sahabatnya sangat malas, malah Cyntia lebih malas sekarang ketimbang saat kuliah.
“Aaaah berisik!” ucap Cyntia lagi justru menarik selimutnya menutup kepalanya dan Cyntia berbalik membelakangi Kia.
“Hhhh” Kia hanya menghela nafas dan mengekrucutkan bibirnya. Menyerah membangunkan Kia.
Lalu Kia berfikir, bayangan ideal perempuan sebagai istri, kan bangun pagi, masak, siapin keperluan suami.
Apalagi denger- denger perempuan bersuami istri itu sebelum subuh udah pada keramas. Ups. Tiba- tiba pikiran Kia berkelana ke kehidupan berumah tangga. Tapi kan Kia pernah berniat buat tidak menikah.
Nah ini di depanya perempuan yang berstatus sebagai istri, kelakuanya lebih parah dari anak perawan.
“Apa Cyntia sangat keberatan menjalani tugasnya sebagai istri, makanya dia mau balas dendam dan mau tidur sepuasnya di sini?” Ah, Kia menebak- menebak sendiri dengan parameter polosnya bagaimana idealnya sebagai istri.
Kia lupa kalau Cyntia tidak sepertinya. Tugas Cyntia sebagai istri selama ini hanyalah menyediakan tubuhnya saat suaminya menghendakinya. Lalu menghabiskan uang sesukanya. Hal-hal yang Kia sebut tugas sebagai istri tidak pernah Cyntia sentuh.
__ADS_1
Kia, kemudian ke kamar mandi, mencuci muka, menggosok gigi, mengambil air wudhu yang begitu menyegarkan seakan menghidupkan semangat untuk dia memulai hari.
Lalu Kia menggelarkan sajadahnya, menyempatkan waktu untuk bersua dengan Tuhanya.
Mencurahkan segala syukurnya, memuji keindahan dan kehebatan Tuhanya. Dan tidak pernah ketinggalan, memintakan kebahagiaan Ipang. Memohon agar Kia bisa menjadi ibu yang baik untuk Ipang, dan yang terakhir, memintakan apa yang Ipang ingini terkabul.
Kia tidak tau, kalau keinginan terbesar Ipang adalah mempunyai ayah dan ibu yang lengkap dan bersama. Jika Kia ingin agar Tuhan membuat cita- cita Ipang tercapai, itu artinya Kia memohon agar dirinya dan Aslan bersatu.
Setelah selesai, dengan jemari lentiknya, balutan kain putih yang lembut dan terasa nyaman saat dipakai itu dibukanya. Aslan memang menyediakan mukenah mahal kualitas number one.
Lalu Kia meletakanya di tempat semula. Dan baru Kia sadari di mihrab kecil di samping kamarnya itu, Aslan seperti sudah mempersiapkan semuanya. Ada sajadah dan pakaian laki- laki juga.
“Dia sediain koko, hemm untuk siapa? Apa artinya dia akan datang ke sini? Ahh tidak, dia kan sudah berikan rumah ini padaku, bukan aku tapi Ipang. Tapi kalau dia kesini?”
Kia membatin dan menebak- nebak sendiri melihat baju laki- laki. Seketika wajah Kia memanas membayangkan Aslan akan datang ke rumah itu. Bahkan tangan Kia gemetaran, meski tidak menyadarinya.
Kia mulai merasa Aslan pria yang baik dan perhatian. Meski jual mahal, Kia menikmati semua kebaikan Aslan.
Lalu Kia bangun meninggalkan tempat sholat. Kia berniat menyapu rumah. Sebagai pemanasan kegiatan sehari- seharinya. Ya itulah kebiasaan Kia, bersih- bersih kemudian masak.
Tangan Kia meraih saklar lampu dan menyalakanya. Tap, cahaya terang terpancar, dan pemandangan yang pertama Kia lihat adalah foto besarnya bersama Aslan.
“Haisshh” Kia mendesis dan mengkerucutkan bibir memperjelas penglihatanya terhadap foto dirinya bersama anak dan bapaknya.
Aslan benar- benar tertangkap kamera menatap Kia. Kia tampak memperhatikan Ipang seperti mau menyuapi dengan senyum manisnya. Siapapun yang memfoto, dia adalah fotografer terkeren yang pernah Aslan punya dan sangat memuaskan Aslan.
Betapa tidak, itu semua terjadi alami, tapi hasil fotonya seperti foto yang disengaja bertemakan keluarga, malah lebih bagus dari hasil foto famly banyak keluarga yang disengaja.
“Kalau diperhatikan dia memang tampan, sangat tampan!” batin Kia dengan otot pipinya seperti bekerja sendiri menarik bibir Kia tersenyum, meski sebenarnya Kia tidak mau melakukanya.
__ADS_1
“Beruntung juga anak gue terlahir dari bibitnya, Ipang jadi tampan juga, hihi” tanpa sadar Kia memuji Aslan, mensyukuri kedatangan Ipang dan secara tidak langsung, Kia juga menerima tanpa dendam peristiwa malam itu. Dimana Aslan dengan senjatanya menitipkan benihnya menjadi Ipang.
“Aiih, Tuhaan kenapa otakku jadi tidak terkendali gini? Aku bisa gila mengingatnya terus, apa jangan- jangan dia sengaja menaruh foto ini di sini? Untuk apa? Kenapa di foto ini aku terlihat istrinya sungguhan. Ahh tapi kan istrinya bukan gue. Keterlaluan dia kan punya istri, dasar laki- laki berengsek tak berperasaan!”
Batin Kia lagi, lalu maju dengan ekspresi kesalnya ingin menurunkan foto dirinya bersama Aslan. Kia sampai menggeser bangku karena fotonya sangat lebar dan tinggi, berukuran hampir separuh tembok.
Kia berdiri di atas bangku berniat tidak memajang foto itu, kerena Kia merasa jahat dan menyakiti istri pertamanya jika melihat itu.
Saat Kia menyentuh foto itu, tiba- tiba lembaran kertas di atas meja yang waktu itu dia lihat terlintas lagi.
“Apa benar Aslan mengajukan gugatan cerai” Kia menelan salivanya dan menarik tanganya lagi.
“Kenapa aku seperti ingin membenarkan semua itu. Ada apa denganku, kenapa aku merasa seperti senang jika itu terjadi”
“Ahh tidak tidak, aku tidak sejahat itu. Dia cerai bukan karena aku kan? Tapi kenapa dia cerai kalau bukan karena aku?” otak Kia bertraveling lagi. Akhirnya Kia mengurungkan niatnya menurunkan foto itu.
“Hooaaam” terdengar suara orang menguap di belakang Kia.
Lalu Kia menoleh, perempuan yang berpakaian seksi, hampir seperi telanjang, tampak menguap dengan rambut acak- acakan seperti sarang burung, Cyntia memang separah itu sekarang.
“Lo ngapain bawa- bawa kursi ke situ?” tanya Cyntia. Kia tidak menjawab, hanya berusaha turun dari kursi yang dia geser. Lalu Cyntia tersenyum sendiri.
“Aaah gue tau, lo kangen kan sama bapaknya anak Lo? Makanya lo pengen sentuh- sentuh fotonya? Iya kan? Iya kan?” goda Cyntia ke Kia.
“Iiih apaan sih, bangun cuci muka sisiran yang bener makanya nenek lampir. Jadi kalau ngomong nggak asal. Gue mau nurunin itu foto”
“Biarin aja sih, bagus kok, kalian itu family couple yang sip kok!” jawab Cyntia.
“Au ahh” jawab Kia ninggalin Cyntia.
__ADS_1
Karena belum belanja mereka tidak masak dan langsung mandi. Mereka berniat sarapan di luar sambil mengenali tempat- tempat belanja di komplek barunya.
Setelah sarapan Kia bergegas bekerja. Sementara Cyntia di rumah, mempelajari naskah dan dialognya. Agar Cyntia mendalami peranya. Cyntia juga ingin menyusun gugatan perceraianya.