Sang Pangeran

Sang Pangeran
208. Apa kau menyukaiku?


__ADS_3

Sebagai sekertaris, sekaligus sepupu Aslan yang ikut mengurusi persiapan resepsi Aslan, Rendra pun sudah bersiap- bersiap berangkat. Rendra yang mengurusi pemesanan tiket, memegang semua nama orang terdekat Aslan. Rendra tahu Cyntia dan Mbak Narti juga akan berangkat ke resepsi Aslan sore ini.


“Gue ajak dia berangkat bareng aja kali ya?” batin Rendra mulai kehilangan akal sehatnya.


Di pikiran Rendra sejak pagi hanya ; kenapa susah bertemu dengan Cyntia ; bagaimana caranya bertemu dengan Cyntia?


Rendra sendiri tidak tahu kenapa begitu, pokoknya Rendra merasa asik kalau bisa melihat Cyntia dan mengerjainya. 


Seperti sebelumnya, meski Aslan sudah mengirim pesan bagaimana persiapanya dan kapan berangkat? Rendra juga sudah siap, tapi Rendra lebih memilih jadi penjaga pintu dan mengintip dari celah pintu apartemenya.


Sebenarnya sangat tidak penting, kurang kerjaan dan seperti orang bodoh, tapi itulah yang Rendra lakukan sekarang. Padahal kan Rendra punya nomor ponsel Cyntia kenapa tidak dia hubungi baik- baik dan ajak berangkat bersama baik- baik. 


“Gue yakin, dia belum pulang dan belum berangkat!” batin Rendra malah lebih memilih menjadi satpam untuk Cyntia. 


Karena gelisah dan ragu, Rendra keluar dari apartemenya dan memilih menunggu di depan pintu. 


“Apa gue tanya ke ibu- ibu itu ya?” batin Rendra ingin menanyai Cyntia lagi. 


“Ah tidak masa sehari ini gue dua kali nyariin dia?” batin Rendra gengsi, Rendra kemudian masuk ke apartemenya. 


Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka, dengan gerakan cepat Rendra menoleh. Terdengar tawa dan percakapan yang jelas di antar dua orang. Dari tangkapan mata Rendra terlihat dua orang manusia berbeda jenis kelamin. 


Cyntia tampak berjalan bersama teman laki- lakinya. Rendra tidak asing dengan wajah itu. Laki – laki itu Rendra kenali seorang pengusaha pemilik brand pakaian di Ibukota. Rendra juga tahu pasti laki- laki itu masih single meski usianya 5 tahun lebih tua dari Rendra. 


Rendra pun langsung masuk, hanya saja Rendra masuk sampai ke balik pintu dan sengaja tak menutup pintunya rapat agar tetap bisa mendengar percakapan Cyntia dan laki- laki itu. 


Entah kenapa, Rendra rasanya sangat kesal dan dadanya terasa begitu panas melihatnya. 


“Bukankah tadi yang berdiri di sini, Tuan Rendra Permadi?” tanya rekan Cyntia yang bernama Tuan Ivan, sekilas melihat Rendra.


“Ah, saya tidak begitu memperhatikan tadi, memang ada orang yang berdiri di sini ya?” jawab Cyntia sedikit keras sengaja mau merendahkan dan menghina Rendra.


Cyntia padahal melihat dengan jelas, Rendra berdiri di depan pintu lalu masuk. Cyntia juga melihat pintu Rendra sedikit terbuka.


 


“Oh, mungkin saya salah lihat. Saya kira kalian bertetangga!” jawab Tuan Ivan. 


“Oh iya, saya ambilkan dulu beberapa berkasnya ya Tuan! Mau masuk atau?” tanya Cyntia mengalihkan pembicaraan dari membahas Rendra, Cyntia tidak mau membenarkan tapi tidak mau bohong juga.


“Boleh!” jawab Tuan Ivan. 


Tuan Ivan dan Cyntia masuk ke apartemen Cyntia, tentu saja Rendra mendengarnya.


Di balik pintu itu, tanpa ada sebab dan tanpa ada alasan, ada seseorang yang tenggrorokanya seperti diserbu ribuan semut jahat. Tenggorokan Rendra jadi tercekat, sakit panas dan tidak bisa dijelaskan rasanya. 


“Brak!” Rendra menendang pintunya. Ternyata cemburu sangat menyiksa.


“Apa semua perempuan itu sama? Dia kan baru saja tidur denganku? Kenapa mudah sekali dia berjalan bersama orang lain?” gumam Rendra tidak jelas mengatai orang lain.


Entah kenapa Rendra sangat kesal tanpa alasan. Padahal kan Rendra sendiri yang bilang ke Cyntia kalau malam itu kesalahan dan meminta Cyntia melupakan, sekarang malah Rendra tidak ikhlas kalau Cyntia melupakanya.


Rendra pun memutuskan mau berangkat ke Aslan saja dan mengurungkan niat menunggu Cyntia. Saat membuka pintu, bertepatan, tamu Cyntia sedang berpamitan. Cyntia pun memberinya salam hormat dan mengantar sampai lift. Rendra menghentikan langkahnya dan menunggu pria itu menghilang. 


Saat Cyntia berjalan kembali, hasrat Rendra mengatai Cyntia datang lagi. Padahal Cyntia berjalan diam dan berusaha menghindari percakapan. 


“Ehm.. ehm...!” Rendra berdehem memancing. Tapi Cyntia tetap diam dan berjalan fokus hendak membuka pintu. 


Merasa diacuhkan dan dianggap tidak ada, sebagai seoarang yang merasa jadi idola tentu saja membuat Rendra sakit hati dan tidak terima. Rendra kemudian menghadang langkah Cyntia dan memegang pintu apartemen Cyntia. 


Cyntia yang melihatnya jadi syok dan kaget. 

__ADS_1


“Ck!” decak Cyntia geram. 


“Ehm...!” Rendra berdehem dan berdiri tegak menatap Cyntia sehingga mereka berhadapan. 


“Apa sih mau kamu?” tanya Cyntia sangat kesal dijahili terus. 


“Kau bertemu dengan idolamu, tidakkah kau merasa bahagia atau memberi senyuman gitu? Aku idola yang baik, mau menyapamu lebih dulu. Harusnya kau senang!” jawab Rendra masih sempat datang penyakit gilanya. 


“Wuah! Idola? Hah hahaha! Dasar orang gila!” jawab Cyntia tertawa mengejek dan langsung mengatai Rendra. 


“Kamu menguntitku, sampai membeli apartemen di dekatku? Terakhir kamu menjebakku agar tidur denganmu, apa itu tidak cukup menjadi bukti kalau kau penggemarku dan menggilaiku? Katakan saja sejujurnya tidak usah malu!” jawab Rendra masih saja eror.


“Haish... sshhh, bisa kena saraf lama- lama gue ketemu manusia gila sepertimu! Oke secepatnya akan aku jual apartemen ini, gue akan pindah. Satu lagi, hal yang harus kamu ingat, aku tidak tahu kalau kau bertetangga dengan temanku, aku hanya membayar apartemen ini karena temanku memintaku melakukan itu! Paham!” jawab Cyntia menggebu berusaha menyadarkan Rendra, tidak ada yang mengidolai Rendra, tapi Rendra tak peduli, Rendra malah fokus ke yang mengganggu pikiranya.


“Siapa laki- laki tadi? Dia kah pacar barumu?” tanya Rendra kelepasan kendali tidak bisa menyembunyikan cemburunya. 


“Kepo banget sih!” jawab Cyntia mengejek ke Rendra, tentu saja sikap itu sangat menyakiti Rendra. 


“Ehm... apa kamu juga akan tidur denganya? Atau malah sudah?” tanya Rendra lagi sekali lagi melontarkan pertanyaan yang ngawur dan membuat Cyntia terhina. 


“Wuah? Apa katamu? Benar- benar ya kamu suka banget bikin emosiku naik. Kalau tanya dan ngomong itu disaring ya! Bisa- bisanya kau menanyaiku begitu? Kamu pikir aku apa?” jawab Cyntia sangat kesal dihina terus.


“Kau tidur denganku, kau bilang mau melaporkanku? Kenapa mudah sekali kau tiba- tiba berjalan bersama laki- laki lain? Segitu mudahnya kau melupakan itu?” tanya Rendra lagi mulai posesif tapi tidak bisa mengungkapkanya. 


“Aih... please ya Tuan Rendra, gue capek ngomong sama lo!" jawab Cyntia gemash dan malu. Kenapa malam aib itu diungkit terus.


"Bukanya yang bilang suruh lupain itu anda. Tuan! Bisa benar- benar gila gue! Tolong pergi, gue mau masuk, gue harus ke tempat Kia!” jawab Cyntia sudah kehabisan kesabaran, nekat menyentuh Rendra agar menyingkir dari pintu apartemenya.


“Jawab dulu, apa dia pacarmu?” 


“Apa pedulimu?” tanya Cyntia semakin kaget dengan sikap Rendra yang aneh. 


“Ehm... ehm.. jawab dulu, aku hanya ingin memperingatinya, aku takut dia menyesal karena, karena!” 


Cyntia pun menyerobot mau masuk tapi tangan dan kaki Rendra menghalanginya. 


“Hoh....!” pekik Cyntia mengalah, kemudian melipat tanganya ke dadanya dan menatap Rendra menantang. 


“Apa kau sedang cemburu padaku? Apa kau menyukaiku?” tanya Cyntia berani menantang Rendra. 


Diskak Cyntia begitu berani, Rendra gelagapan dan mengendurkan kakinya. Rendra tidak menjawab dan baru sadar, katanya Cyntia yang mengejarnya, tapi sekarang justru Rendra yang semakin hari semakin terlihat gila. Bahkan sikap Rendra mulai masuk ke kategori posesif parah.j


“Tidak!” jawab Rendra mengelak. 


“Kalau kau memang menyukaiku? Katakan saja, tidak usah gengsi!” jawab Cyntia mengembalikan perkataan Rendra dan menyerang ingin mempermalukan Rendra. 


“Tidak!” jawab Rendra lagi mengelak lemas. 


“Ya sudah kalau begitu, nggak usah kepo dan minggir!” jawab Cyntia lagi ekspresinya berubah geram.


Rendra pun kalah dan menurut, menyingkir daripada dikaati bucin, tapi Rendra masih ingin melihat dan usil ke Cyntia. Rendra pun berkata menyerobot menghentikan langkah Kia.


“Aku akan berangkat ke Aslan, sekarang!” ucap Rendra memancing. 


“Terus?” tanya Cyntia cuek


“Ehm” Rendra berdehem lagi plintat plintut. 


“Kenapa diam?” tanya Cyntia lagi lebih berani.


“Kau juga mau kesana kan?” tanya Rendra lagi bosa basi, mau mengajak Cyntia bareng tapi sangat susah.

__ADS_1


“Iya, memang kenapa?” tanya Cyntia lagi lebih pintar dari Rendra dan ingin membuat Rendra benar- benar mati kutu. 


“Maksudku, maksudku!” jawab Rendra semakin terlihat pucat.


“Aku bisa berangkat sendiri pakai mobilku!” jawab Cyntia tersenyum puas, Cyntia tau Rendra sedang berbosa basi. Cyntia pun langsung masuk mengacuhkan Rendra..


“Haish!” desis Rendra frsutasi dan mengacak- acak rambutnya.


Rendra benar- benar merasa tertolak. Sesaknya melebihi sesak saat melihat Meta selingkuh, tapi perlakuan Cyntia semakin membuat Rendra penasaran dan ingin terus menyerangnya. 


"Gue bocorin aja kali ban mobilnya ya?" pikir Rendra jahat tersenyum sinis sambil berjalan membawa tas ke lift.


Sementara Cyntia begitu menutup pintu apartemenya, langsung bersandar di pintu dan tersenyum sendiri. Entah kenapa Cyntia merasa bahagia dengan sikap dan melihat wajah Rendra mati kutu begitu. 


“Apa dia menyukaiku?” gumam Cyntia tersenyum, , sampai Mbak Narti yang sudah siap- siap dan menunggu menanyainya. 


“Non kenapa senyum- senyum sendiri Non?” tanya Mbak Narti mengagetkan Cyntia. 


“Eh Mbak!” jawab Cyntia menegakan berdirinya dan menjauh ke pintu masuk ke kamar.


“Senyum senyum sendiri, ada apa sih, Non?” tanya Mbak Narti lagi.


“Seneng aja, Kia akhirnya bahagia semua orang mulai memihak ke dia!” jawab Cyntia berbohong. 


“Ya udah ayo berangkat Non! Nanti telat!” 


“Ayuk, aku ambil tasku, koperku udah di packing sesuai mauku kan?” 


“Udah Non! Siap tinggal berangkat!” 


“Siip!” 


“Bentar lagi Non nyusul ya Non, segera menikah seperti Neng Kia!” ucap Mbak Narti.


“Aamiin, tapi entahlah Mbak, aku masih trauma!” jawab Cyntia. 


“Lhoh kok trauma, bukanya yang tadi kesini itu pacar Non Cyntia?” tanya Mbak Narti kepo mengira Ivan pacar Cyntia.


“Bukan Mbak! Dia rekan kerjaku, dia aja mau ambil coretan- coretan gambar bajuku Mbak! Dia lagi mau lamar pacarnya!” 


“Oh....  Mbok kira...” 


“Bukan, dia punya brand baju, aku dulu hobby gambar desain baju pesta juga, pas kemarin ngobrol kita nyambung, siapa tahu kan bakat terpendamku tersalurkan!” jawab Cyntia memberitahu. Tuan Ivan kawan sekalius rekan kerja.


“Kirain Non!” 


“Ya udah aku mandi dulu ya!” 


"Ya...!"


****


Buat Kakak2 pembaca yang muslim


Udah sampai pertengah sya'ban....bentar lagi ramadhan


Author banyak salah mohon maaf ya.


Selamat nisfu sya'ban.


Oh iya semoga selalu sehat dimanapun kakak berada yaa...

__ADS_1


Hihihi.


Makasih. I Love kakak semuanyaa..


__ADS_2