Sang Pangeran

Sang Pangeran
143. Reporter Kia.


__ADS_3

Aslan mengklik tombol log out, dilanjut mematikan i-pad nya. Ditatapnya istri cantiknya yang masih bau bawang karena habis dari dapur, tapi Aslan tetap suka.


“Duduklah!” tutun Aslan menyeret bangku dan menempatkanya di depanya. 


Pagi itu Aslan terlihat serius, sama seperti saat Kia pertama bertemu Aslan di kantor. Jika Aslan sudah memegang laptop atau I-pad aura kepintaranya datang. Apalagi, saat Kia masak Aslan mandi, kini ketampananya terpancar maksimal. 


Kia yang jarang- jarang melihat Aslan seserius itu terpaku. Kia tunduk, menuruti perkataan Aslan. Kia duduk di kursi yang Aslan sediakan. 


“Apa kamu cinta sama Abang?” tanya Aslan serius. 


Sebenarnya tanpa ditanya Aslan tau jawabanya. Dan apapun jawaban Kia tidak akan mempengaruhi sikap Aslan yang sudah mengikatnya dengan janji suci atas nama Tuhan. 


“Kok Abang tanya itu?” jawab Kia merasa suaminya aneh.


Kia juga sangat sulit mengatakan cinta, walau kenyataanya, sekarang Kia sangat cinta Aslan. 


“Jawab!” 


“Harus ya?” 


“Emem!” Aslan mengangguk. 


Kia mengusap dagunya malu. 


“Abang tau kan jawabanya, Kia mau dibawa ke sini, Kia mau dinikahi Abang, apa coba alasanya!” jawab Kia plintat plintut tidak mau terus terang.


Aslan kemudian tersenyum. "Apa susahnya sih bilang cinta ke suami sendiri?"


"Ya udah yang penting Abang tau!" jawab Kia manyun.


“Kenapa kamu menanyai Umma sampai kalian menangis seperti tadi malam? Huh?” tanya Aslan mengintimidasi.


Kia menelan ludahnya merasa bersalah. Niat Kia kan jadi istri yang baik peduli sama suami. 


“Tuh kan diam lagi? Biasanya kamu sangat cerewet dan berani? Kenapa?” tanya Aslan lagi. Kia terlihat seperti mahasiswa yang disidang dosenya.


“Kia khawatir sama Abang?” jawab Kia menatap Aslan dengan tatapan tulusnya.


“Sungguh?” tanya Aslan dengan tatapan meledek. 


“Iiih!” Kia mendengus dan cemberut suaminya malah membuatnya malu. 


“Apa yang kamu khawatirin dari Abang?” 


“Kia nggak mau Abang sedih dan sakit hati, Kia nggak mau Abang menangis kayak kemarin! Kia juga penasaran, kenapa ada orang sejahat Tuan Agung!” tutur Kia jujur dengan muka polosnya.


Aslan tersenyum lagi dan meraih tangan Kia.


“Dengerin Abang. Abang nggak sedih, Abang baik- baik saja. Kamu dengar sendiri kan? Papa emang udah usir Abang, jadi ya udah nggak usah dipikirin! Apalagi nekan Umma kayak semalam untuk bercerita! Nggak boleh! Mengerti?” tutur Aslan serius memperungati Kia.


“Maaf Bang kalau Kia salah nanyain Umma begitu, tapi kalau Abang baik- baik aja kenapa Abang kemarin nangis?” jawab Kia lagi mengeluarkan unek-uneknya.


“Emang kemarin, Abang nangis?” tanya Aslan ngajak bercanda lagi.


“Hooh!” jawab Kia mengangguk. 


"Masa?"


“Iya beneran! Ih amnesia, Abang mah!” 


“Hehe. Nggak itu Abang akting biar dipeluk kamu!” jawab Aslan malah ngebanyol. 


“Hiiissh!”

__ADS_1


“Pokoknya, janji ya! Jangan neken Umma kaya semalem!” tutur Aslan lagi. 


“Ya! Tapi emang Kia nekan Umma? Nggak, Kia kan hanya menanyakan hal yang wajar, Bang!” jawab Kia masih membela diri. 


“Kalau kamu nggak neken gitu, nggak mungkin kalian berdua nangis gitu. Nih dengerin Abang. Umma udah tua, Umma pasti punya alasan kenapa nggak cerita. Jangan buat Umma sedih! Oke?” 


“Hmmm!” 


“Hal yang harus kamu tahu, Abang bukan Ipang yang masih anak kecil dan butuh bimbingan Ayah. Abang pria dewasa yang mandiri, yang Abang butuhkan sekarang kamu dan Pangeran Abang minta, kamu nggak usah terlalu banyak cari tau tentan ayah Abang.” tutur Aslan lagi. 


Aslan ingin ketika menjadi istrinya, Kia tidak dibebankan pikiran dengan urusan Aslan. Aslan ingin membuat  Kia menjadi istri dan ibu yang bahagia. Karena berdasar teka teki yang Aslan temukan, masalalu orang tuanya terdiri dari banyak puzzle yang lumayan susah dirangkainya. Aslan juga tau, Umma selama ini diam demi kebaikan Aslan dan Satya. 


“Abang beneran nggak ingin tahu siapa ayah Abang?” tanya Kia masih merasa pendapatnya benar. 


“Tau atau tidak tahu siapa Ayah Abang, apa gunanya? Ayah dan ibu Abang menikah dengan bahagia, kalau beliau masih hidup, beliau pasti temui Abang sejak dulu, percayalah! Itu hanya akan buang waktu. Ingat tujuan kita ke sini, ke makam Ibu, undang Umma dan temanmu, kita urus berkas pernikahan kita! Fokus ke pernikahan ke kita! Udah itu aja! Yang lain lupakan. Mengerti?” 


“Tapi Bang!” bantah Kia lagi. 


“Apa lagi?” 


“Menurut Kia, Abang berhak tau apa yang terjadi di masalalu, Tuan Agung sudah banyak melakukan hal yang tidak adil ke Abang. Kita harus tau kenapa dia begitu?” 


“Sayang...! Udah berlalu kan semua itu? Sekarang di hidup Abang ada kamu, itu sudah buat Abang bahagia! Jadilah pasangan Abang yang selalu ada buat Abang ya! Itu sudah cukup obatin semua luka Abang. Abang minta kamu nggak usah mikirin sesuatu yang nggak perlu kita pikirkan!” tutur Aslan lagi. 


“Menurut Kia nggak cukup Bang! Kia nggak bisa berhenti bertanya sebelum pertanyaa. Kia terjawab” Kia masih terus ngeyel dan berusaha. 


“Kenapa malah kamu sih yang ngotot pengen tau sih? Heh? Kenapa? Abang aja nggak!” 


“Karena Abang aneh. Jangan mikir diri sendiri Bang. Ingat kita punya anak!" ucap Kia lagi.


Aslan pun terdiam. Kia siap mengeluarkan keahlianya berceramah.


"Bayangkan Ipang dan Daffa Bang. Tuan Agung begitu menyayagi Daffa, tapi tidak ke Ipang. Ipang hanya tau, kakeknya Tuan Agung. Ipang pasti berharap dan ingin merasakan apa yang Daffa rasakan. Tidak merasakan kasih sayang kakek karena memang tidak ada dengan tidak merasakan kasih sayang tapi ada dan melihat perbedaan perlakuan itu rasanya beda! Dan lebih sakit ada, tapi dianggap nggak ada!"


“Sama Bang, seperti dulu Kia sembunyikan Abang dari Ipang. Saat kecil Ipang memang terlihat baik- baik saja, tapi seiring berjalanya waktu, otak Ipang berkembang, Ipang bisa menilai, bahkan Ipang mempunyai ide! Aku merasa menjadi pembohong pada anak sendiri.” tutur Kia lagi. 


Aslan diam tak berkutik. Perempuan memang jangkauan otaknya terlalu panjang. Menangani perempuan seperti Kia yang menurut Aslan akan simple dan mudah diatur ternyata salah. 


“Ipang juga harus tahu siapa kakeknya, setidaknya jika kelak, saat Ipang bertanya kita bisa jelaskan ke Ipang dengan jawaban yang tepat!” serbu Kia lagi mengeluarkan unek- uneknya. 


Aslan benar- benar tidak menyangka, Kia kalau lagi ngotot begini sangat cerewet dan bicara tiada henti. Aslan yang sesungguhnya memang sedang mencari tau, akhirnya memilih mengiyakan  kata Kia saja, tapi tetap merahasiakan apa yang sekiranya membuat Kia sedih. 


“Ya, sudah ya deh. Kita dengarkan apa cerita Umma, tapi kalau Umma nggak mau cerita. Jangan dipaksa apalagi dibuat nangis! Janji!” ucap Aslan akhirnya. 


“Nah gitu dong. Ya, janji kia nggak buat Umma nangis lagi!” 


“Ya udah sana mandi! Kita ke makam ibu dulu!” 


“Ya!” jawab Kia mengangguk dan sudah reda semangat bicaranya.


“Makasih tehnya, Sayang!” ucap Aslan tersenyum mencairkan suasana. 


“Hmmm ya!” jawab Kia. 


Kia kemudian mengambil pakaianya dan bersiap mandi. Karena ditunggu suaminya Kia mandi dengan cepat dan segera berdandan. 


“Abang!” panggil Kia mencari Aslan.


Di ruang tengah dan di kamar tidak ada Aslan, di ruang tamu juga hanya ada Kikan yang terlihat sedang mantengin drama Korea. 


“Kikan!” panggil Kia lembut. 


“Eh Kak Kia, udah cantik aja, mau  kemana?” 

__ADS_1


“Abang sama Umma kemana ya?” tanya Kia


“Tuh di halaman samping!” jawab Kikan. 


"Oke makasih!"


Kia pun keluar ke tempat yang ditunjukan Kikan. 


“Subhanalloh, Masya Alloh indahnya!” gumam Kia membuka pintu. 


Di depan Kia terbentang perbukitan yang luas dan hijau. Kia berasa di atas awan. Bahkan di bawah sana sebagian ada kabut yang mulai memudar karena pancaran matahari. 


Di bawah pondasi rumah Umma ada sungai kecil yang airnya mengalir gemericik dan sangat jernih. Di samping kanan kirinya ditumbuhi bunga- bunga liar yang warna warni, terasa asri dan alami. Udaranya juga sangat sejuk. 


Di atas bangku, yang terbuat dari potongan akar kayu, yang dibersihkan dan dirapihkan lelaki tampan berkemeja hitam dan perempuan paruh baya berjilbab dan mengenakan jarik itu duduk bersebelahan menikmati panorama sambil bercengerama.


Di meja yang terbuat dari kayu juga, tersaji makanan yang Kia masak tadi, tempe goreng yang hangat  dan satu teko teh khas daerah situ. 


“Cantik sekali kamu Nak!” puji Umma menyadari kedatangan Kia.


Kia mengenakan gamis hitam dengan renda berwarna emas di tepinya. Jilbab Kia juga berwarna hitam panjang. Warna hitam itu semakin mempertegas warna kulit Kia yang cerah. Kia tampak anggun dan elegan.


Polesan warna merah yang Kia letakan di bibir nya juga membuat kecantikan Kia semakin terpancar. 


“Terima kasih Umma!” jawab Kia tersenyum. 


Sementara Aslan menatap istrinya dengan bangga. Aslan sangat bangga dan bersyukur bisa memiliki Kia yang cantik, setia dan baik, meski suka plin plan dan hobi manyun. 


“Kemarilah, Nak!” tutur Umma menepuk tempat duduk kosong di sampingnya. 


“Ya Umma!” jawab Kia. 


Kia kemudian duduk. Mereka bertiga duduk menikmati udara sejuk dan pemandangan indah. Rupanya Umma sudah menyiapkan semua jawaban dari pertanyaan Kia. 


“Maafkan Umma!” tutur Bu Arini membuka percakapan. 


Kia langsung melirik ke suaminya, sementara Aslan tampak menunduk bersiap mendengarkan cerita. Mereka tidak merespon permintaan Umma dan memilih menunggu barisan kata yang sudah Umma rangkai.


“Maafkan Umma yang selama ini diam. Kakek Pangeran, ayah kandung kamu Le, dia adalah Surya Adi Putra!” ucap Bu Arini tanpa ditanyai lagi oleh Aslan. 


Aslan yang sudah mencari identitas ayahnya semalam masih diam menunduk. Aslan terlihat sangat tampan dan seperti orang baik- baik saat menunduk hormat begitu. Aslan memang orang baik sih.


“Apa beliau masih hidup, Umma?” jawab Kia bertanya. 


“Dia sudah meninggal, tepat dimana Mbak Andini mengetahui kehamilanya!” tutur Bu Arini mulai berat mengisahkan Aslan di masalalu. 


Aslan terus terdiam dan menunduk. Kia pun terus menatap suaminya itu. Semakin lama Kia semakin memahami bahasa tubuh Aslan. Bohong kalau Aslan tidak penasaran siapa dirinya dan ayah kandungnya. 


“Dimana makamnya Umma?” tanya Kia lagi, kini yang aktif bertanya justru Kia. 


“Di ibukota!” 


“Apa Umma bisa kasih tau tempatnyan? Kia ingin tau Umma, ayah mertua sosok ayah dan sosok suami yang seperti apa? Lalu bagaimana ayah mertua meninggal?” Kia terus mengorek dan bertanya layaknya reporter. Padahal si Aslan malah tampak tenang.


Bu Arini menghela nafasnya panjang, dan menatap Aslan. Bu Arini terlihat berat untuk memulai cerita itu. 


*****


Maaf kepotong.... 


To be continyu, secepatnya. Author ada kerjaan dunia nyata. 


Makasih buat yang selalu setia baca. Buat semangat author ngetik, selalu kasih like dan koment ya. 

__ADS_1


See you. 


__ADS_2