Sang Pangeran

Sang Pangeran
106. Besok Pagi


__ADS_3

"Baik, Aslan pergi Pah!" ucap Aslan kemudian sebagai salam perpisahan setelah diusir papanya sendiri.


Tapi Tuan Agung diam seribu bahasa. Kedua bibirnya mengatup. Kornea matanya pun tak begerak baik ke kanan atau ke kiri.


Aslan menatap Kia dengan menganggukan kepalanya. Memberi kode ajakan ayo kita kembali. Kia, paham, dia ikut beranjak mengikuti Aslan.


"Pangeran, ayo kembali ke Tuan Alvin Nak" ajak Aslan ke Ipang.


"Kan Ipang udah bilang Ayah. Ipang nggak mau balik ke sana!" jawab Ipang menolak.


"Kalau begitu ikut pulang ke rumah ibu ya, Ipang belum pernah lihat rumah Ibu kan?" tanya Aslan merayu agar Ipang mau pergi dari Daffa untuk sekarang.


Mendengar kata rumah Ibu, Ipang yang penasaran dengan rumah baru ibunya langsung memancarkan wajah girang dan semangat.


"Ke rumah ibu?" tanya Ipang.


"Iya ke rumahmu, ke rumah kita" jawab Aslan lagi.


"Ya, Ayah" jawab Pangeran patuh. "Daffa, aku pulang dulu ya! Mainnya besok lagi!" ucap Ipang berpamitan pada sahabatnya.


"Uncle kenapa mainya cepet banget sih?" tanya Daffa tidak terima, lagi mau asik main malah dipisah.


"Lain waktu, main lagi yaa, sekarang Ipang harus pulang dulu" jawab Kia.


"Aku kira mau menginap" gumam Daffa cemberut sedih dan kesepian.


"Daaah Daffa, aku mau pulang ke rumah ibu dulu, besok kita main lagi" ucap Ipang.


Mandan pun memberi pengertian ke anaknya.


Lalu mereka bertiga keluar dari rumah Tuan Agung. Masuk ke mobil Aslan dengan perasaan bercampur-campur. Seperti sebelumnya, Ipang dipangku Kia dan Aslan yang memegang kemudi.


Sesampainya di mobil, Kia duduk termenung, membelai rambut Ipang dengan perasaan sedihnya. Kia tidak pernah mengira akan menyaksikan adegan menyakitkan. Ada ayah sebodoh Tuan Agung, entah apa maksudnya dan apa yang dipikirkanya.


Lalu Kia menoleh ke laki-laki di sampingnya itu. Dan tanpa sadar Kia mengeluarkan air matanya. Kasian sekali Aslan, mau pulang ke rumah orang tuanya diusir. Dibalik sifat angkuhnya ternyata Aslan menyedihkan.


Aslan menoleh dan melihat Kia meneteskan air mata.


"Kamu menangis?" tanya Aslan melihat Kia terisak.


Kia langsung mengelap air matanya. Tidak menjawab.


"Pang, ibumu nangis tuh!" ucap Aslan memberi tahu Ipang yang duduk bersandar pada Kia sambil melihat jalanan. Aslan malah tertawa meledek.


"Ih apa sih?" jawab Kia tidak terima diadukan ke anaknya.


Ipang mendongakan kepala melihat wajah ibunya.


"Ibu menangis? Ibu menangis kenapa?" tanya Ipang lagi.


"Nggak, Sayang! Mata ibu kelilipan!" jawab Kia tidak mengaku.


Lalu Pangeran mengambil tissu dan mengelap air mata ibunya dengan lembut.


"Ibu bohong itu dosa Bu" ucap Pangeran lagi dengan polosnya. Ipang tidak mau ibunya menangis.


"Tuh dengerin anakmu. Bohong itu dosa!" sambung Aslan lagi.


"Ibu nggak bohong, Ibu nggak apa- apa" jawab Kia lagi.


"Sungguh?" tanya Ipang


"Iya, ibu bahagia kita sekarang berkumpul bertiga" jawab Kia.


"Ipang juga bahagia Bu. Ipang sayang ibu dan ayah"


"I love you more Sayang" jawab Kia.


"Hemmm" Aslan hanya berdehem tau kalau Kia berbohong. Lalu Aslan mengelus kepala Kia.


Pangeran senang melihat perlakuan mesra ayah ke ibunya. Memudian memeluk Kia dan bersandar.


"Ipang ngantuk ya? Udah tidur sini!" ucap Kia menepuk- nepuk bahu dan punggung Ipang. Lama-lama Ipang tidur. Setelah Ipang tidur Kia, menoleh ke Aslan.


"Kamu menangis kenapa Sayang?" tanya Aslan lagi dengan lembut.


"Pasti rasanya sakit banget ya Bang?" tanya Kia ke Aslan.


"Sakit gimana?" tanya Aslan lagi.

__ADS_1


"Ayah Abang sendiri. Usir Abang dari rumah, maafin Kia ya Bang!" ucap Kia sedih lagi.


"Lihat wajah Abang!" ucap Aslan dengan wajah tengilnya dan menaikan alisnya.


"Huh!" jawab Kia mengernyitkan dahi. Kia kan lagi ngomong serius malah Aslan begitu.


"Abang masih tetap tampan kan?" tanya Aslan narsis.


"Ishh" jawab Kia hanya mendesis.


Dan kebetulan mereka tiba di lampu merah. Aslan menyanggah mukanya dan menoleh ke Kia. Menatap Kia dekat.


"Abang nggak sedih ataupun sakit hati Sayang, justru hari ini hari paling membahagiakan hati Abang" ucap Aslan lagi.


Ternyata perlakuan Tuan Agung sama sekali tidak membuat Aslan kaget. Justru Kia yang merasakan sakit. Entah kenapa diusir ayahnya sendiri Aslan merasa biasa saja, mungkin karena selama ini Aslan terkekang jadi saat dibebaskan justru bahagia.


"Kok gitu?" tanya Kia.


"Karena hari ini Abang merasa sudah melakukan sesuatu untuk anak dan calon istri Abang" jawab Aslan lagi.


"Hemmm, tapi kan dia papanya Abang, seharusnya hubungan ayah dan anak kan tidak begini Bang?"


"Kalau emang Papa ayah yang baik, dan Papa Abang, dia nggak akan begitu dan segera sadar kesalahanya. Papa selalu bersikap begitu padaku. Biar saja!" ucap Aslan lagi.


"Abang nggak nyesel ninggalin keluarga Abang?" tanya Kia lagi.


"Sayang, Abang nggak pernah ninggalin Papah atau keluarga Abang. Mereka yang usir Abang kok. Abang kan datang baik- baik" jawab Aslan lagi.


"Makasih ya Bang!"


"Makasih apalagi?"


"Atas semuanya. Demi Kia dan Ipang, Abang udah lepasin semua yang Abang punya." tutur Kia menyadari pengorbanan Aslan begitu banyam.


"Abang nggak terima ucapan terima kasih" ucap Aslan tiba-tiba dengan senyum nakalnya. Otak Aslan mendapatkan ide mendadak.


"Hoh?"


"Yang Abang lakukan, semua ini nggak gratis! Kamu harus bayar!"


"Kia nggak punya uang Abang!"


"Terus?"


"Bayar pake hidup kamu"


"Serem amat bahasanya"


"Kita nikah besok pagi ya!" ucap Aslan nyeplos spontan.


"Hah!" Kia terbelalak mendengar penuturan Aslan.


Yang benar saja, nikah besok pagi. Gimana ceritanya. Kia belum urus surat- surat ke KUA. belum lagi wali, saksi dan lain sebagainya.


"Kok, hah sih?"


"Abang itu sukanya ih, ngeselin!" jawab Kia lagi.


"Ngeselin gimana?"


"Ya Abang. Masa kita jadian hari ini nikah besok pagi!"


"Sayang, lihat anak yang ada di pelukanmu Dia anak kita. Berapa umurnya? Nikah besok pagi aja kita udah telat hampir 7 tahun. Mau telat nikah berapa lama lagi? Hah?"


"Abang, emang akta cerainya udah keluar? Kia aja belum urus surat- surat syarat nikah. KTP Kia kan bukan di sini! Belum wali Kia, maskawin undangan?" jawab Kia beralasan.


"Yang penting nikah dulu"


"Nikah siri maksudnya?" tanya Kia.


"Iya"


"Nggak!"


"Kenapa? Apa salahnya?"


"Nggak, nggak! Nggak mau Kia nikah siri. Kia mau nikah sah. Kia mau punya buku nikah. Kia mau satu- satunya buat Abang. Dan cukup Ipang yang akta kelahiranya nggak ada nama Ayahnya. Kia mau adik Ipang akta kelahiranya ada nama Bapak Ibunya" jawab Kia menolak nikah siri dengan tegas.


Mendengar penuturan Kia, Aslan tersenyum.

__ADS_1


"Ya Abang janji kamu satu-satunya buat Abang. Kan emang kamu satu-satunya buat abang" jawab Aslan bahagia, karena pengakuan Kia menyiratkan keposesifan dan cinta Kia.


"Setiap laki-laki yang mau nikah siri kan janjinya begitu, Bang. Tapi nyatanya? Banyak artis-artis dan perempuan di luar sana yang jadi korban nikah siri. Kia nggak mau begitu!" ucap Kia lagi beralasan.


"Kamu nggak percaya sama Abang?"


"Bukan nggak percaya Bang. Tapi Kia nggak mau. Kia nggak mau anak- anak kita lahir tanpa status dan pengakuan hukum yang jelas! Kia mikirin anak kita!"


"Ya abang juga tau. Abang juga mau kita nikah KUA setelah semuanya siap" jawab Aslan menegaskan.


"Ya udah nikahnya sekalian aja nunggu semuanya beres!"


"Kamu tega biarin Abang jadi gelandangan nggak punya rumah? Abang tabunganya tinggal dikit lho. Kalau buat sewa hotel sampai urusan Abang selesai habislah uang Abang" tutur Aslan merayu Kia dan membuat Kia berfikir.


"Hemm" Kia hanya berdehem. Sebenarnya ada benarnya juga kata Aslan. Tapi tetap aja Kia nggak mau dibodohi.


"Kalau kita nikah kita bisa tinggal bareng, nggak ada dosa lagi di antara kita," lnjut Aslan bercerita.


"Tapi Bang"


"Dulu aja nggak nikah sama sekali kamu mau abang tiduri, sekarang diajak nikah nggak mau!" tutur Aslan memancing Kia agar mau Tapi justru membuat Kia tersinggung.


"Abang!" seru Kia tersinggung.


"Iya maaf!"


"Kok bilang gitu sih? Abang rendahin Kia? Abang mau bilang Kia murahan lagi?"


"Bukan gitu Kia. Maksud abang, meski nikah sirih dan nikah KUA lebih baik nikah KUA, tapi nikah siri lebih baik dari pada kita berhubungan tanpa status. Setidaknya Abang punya tempat untuk pulang, abang bebas tinggal di rumah. Kamu nggak kasian sama abang. Ayolah!" tutur Aslan merayu lagi.


"Kia mau nikah KUA, titik"


"Iya sayangku kita nikah KUA. Tapi setelah ini"


"Nggak mau. Kita takut!"


"Takut apa?"


"Kia takut Kia hamil lagi, padahal belum nikah KUA. Sedih tau Abang pas mau buat surat-surat selalu ditanya fotokopy buku nikah mana? Tapi Kia nggak punya. Itu nyakitin Abang. Sakitnya tuh di sini. Abang nggak tau kan? Cukup Ipang yang jadi korban kita Abang, abang mah enak nggak ngrasain semua itu. Kia mau anak kita lahir terhormat dengan pernikahan yang sah!" tutur Kia panjang kali lebar.


"Ya maaf. Abang juga pengen gitu. Abang cuma pengen punya tempat pulang, Sayang"


"Ya Abang pulang aja. Abang bisa tidur di lantai atas kamarnya kosong!"


"Sayang, kalau kita nggak nikah tapi tinggal satu atap itu lebih salah!"


"Tapi nanti kalau udah nikah, Abang pasti itu?" ucap Kia dengan nada di kecilkan bermaksud pasti Aslan akan minta lebih. Belum nikah aja bahasnya udah kesitu terus.


"Ya udah Abang janji sebelum nikah KUA, kita tidur berpisah dulu!" ucap Aslan di luar dugaan Kia.


"Beneran?"


"Iya!" jawab Aslan mengangguk.


"Hemmm" Kia menatap Aslan sambil berfikir.


"Mau ya?"


"Ya deh mau, tapi janji sebelum nikah sah, jangan nuntut!"


"Iya".


"Terus yang urus nikahan kita siapa? Walinya?"


"Malam ini Abang urus. Yang pertama abang ijinin Pangeran dulu ke Alvin biar nggak dicariin"


"Siapa yang mau urus?"


"Abak buah Abang lah"


"Abang masih punya anak buah?"


"Punyalah"


"Abang kan udah miskin"


"Suamimu nggak semiskin itu. Beri alamat kakakmu!"


"Kia ikut aja kalau mau ke rumah Kakak"

__ADS_1


"Oke"


__ADS_2