Sang Pangeran

Sang Pangeran
189. Bertemu Istri Nicholas


__ADS_3

“Udah selesai berantemnya?” tanya Aslan dengan tatapan thengilnya. Dia merasa gemash ke istrinya sendiri.


Aslan menghentikan Kia dan Cyntia beradu pendapat. Cyntia pun jadi malu sendiri ternyata ada orang yang mendengarkan mereka berantem seperti anak kecil. 


Aslan berjalan santai lalu menarik kursi dan duduk tepat di belakang Kia. Aslan juga meletakan tanganya di bangku Kia, sampai Kia bisa merasakan hembusan nafas Aslan. Posisi Cyntia ada di depan Kia karena mereka duduk di deretan bangku sebelah sisi kanan meja makan. 


Rendra kemudian ikut bergabung. Rendra memilih duduk di sisi kiri meja makan yang masih kosong, tapi jadi membuat berhadapan dengan Cyntia meski berjarak meja. Mereka pun meriung di meja makan.


Seketika semua diam. 


“Pletak!” Aslan kemudian menyentil kepala Kia. 


“Apaan sih Bang!” jawab Kia manyun.


“Bawel banget jadi orang dibilangin. Jangan suka rendahin diri sendiri. Abang kan udah selalu bilang. Kamu bukan pelakor. Tanpa ada kamu pun Abang pasti dan sudah bercerai dari Paul!” ucap Aslan memberitahu Kia. 


“Hemmm!” 


“Biar saja, Cyntia ini melalukan apa yang menurutnya benar. Kamu juga orang kaya Paul dibiarkan! Abang setuju sama Cyntia! sudah saatnya hentikan, dia!” jawab Aslan bahagia akhirnya punya teman. Kalau Aslan melawan perkataan Kia sendirian alamat Aslan kehausan tengah malam nggak dikasih jatah minum, minuman protein tinggi. 


Kia diam karena sekarang terpojok. Padahal kan Kia hanya berusaha berfikir yang benar, baik buruknya.


Dalam hati kecil Kia, Kia memang merutuki jalan hidupnya yang bertentangan dengan keyakinanya. Bahkan Kia setiap malam berdoa memohon ampun di setiap sujudnya karena sudah melakukan Zina dan sampai ada Ipang. 


Saat bertemu Aslan pun, Kia berusaha mati- matian untuk menghindar dan menjauh meski akhirnya takdir juga yang menyatukan mereka. Kia tidak pernah berfikir sedikitpun melakukan pembelaan ke masyarakat umum, karena dalam hati kecilnya, Kia memang merasa bersalah atas kejadian 7 tahun lalu itu. 


Berbeda, dengan Aslan dan Cyntia. Perkara 7 tahun lalu dan sekarang itu berbeda. Aslan dan Cyntia hanya berfikir, orang jahat seperti Paulina harus segera dihentikan. 


“Sesuai permintaan Bu Kia, saya sudah dapatkan tempat praktek Istri Tuan Nicholas, terserah kapan Bu Kia hendak menemuinya?, Ini jadwal praktekya, beliau seorang dokter gigi!” celetuk Rendra, di tengah diamnya Kia.


Rendra kemudiian menunjukan leaflet dari balik jasnya. 


“Hmm!” reflek Kia dan Cyntia menoleh ke Rendra. 


“Ehm!” Cyntia berdehem saat dirinya dan Rendra saling tatap. Cyntia langsung memalingkan muka. Kalau sedang begini Rendra terlihat waras, keren, baik dan ganteng. 


“Apa bisa aku menemuinya sekarang?” tanya Kia ke suaminya. 


“Tentu! Semakin cepat semakin baik, Sayang, biar kita bisa adain pesta tanpa beban!” jawab Aslan sambil mengelus puncak kepala Kia. 


“Ya udah pumpung Pangeran tidur, kita temui sekarang!” jawab Kia. 


“Mau diantar siap_?” tanya Rendra dan Cyntia berbarengan membuat Aslan dan Kia heran. Sementara Cyntia dan Rendra terdiam, kenapa bisa mereka berdua mengucapkan pertanyaan bersamaan. 


“Aku suaminya, aku yang akan mengantarnya!” jawab Aslan cepat dan memamerkan diri.  


“Ehm! Ya!” jawab Rendra masam.


“Abang tadi bilang mau meeting dan urus persiapan di pulai D, kan? Kia sama Cyntia aja!” jawab Kia tidak mau diantar suaminya. 

__ADS_1


Aslan pun langsung diam tak berkutik. 


“Ini juga pertemuan sesama perempuan dan perempuan, nggak boleh ada laki- laki!” imbuh Kia lagi. 


“Ya! Abang kerja aja!” jawab Aslan. 


Kia kemudian mengkode Cyntia untuk pergi. Mbak Narti yang sudah selesai berkemas berdiri mematung di dekat pintu dapur, melihat rapat tuanya yang sangat aneh, rapat malah di ruang makan. 


“Non! Saya jadi ikut?” tanya Mbak Narti melihat Cyntia hendak pergi. 


“Nanti lagi, aku ada perlu dulu !” jawab Cyntia. 


“Hemmm ya Non!” jawab Mbak Narti kecewa padahal Mbak Narti kan udah dandan. 


Rendra yang terlalu percaya diri mengira Cyntia ke rumah Kia ingin mendekatinya, melihat Cyntia dan Mbak Narti akrab jadi bertanya dalam hati. Apalagi Rendra mendengar percakapan Cyntia dan Mbak Narti. Setelah Cyntia dan Kia pergi, Rendra pun bertanya ada Aslan. 


“Perempuan berjilbab di dapur tadi siapa?” tanya Rendra berbisik. 


Aslan kemudian menatap aneh ke Rendra, ngapain Rendra nanyain pembantu? Jangan bilang Rendra naksir asisten rumah tangga. 


“Ngapain kamu tanya- tanya dia?” tanya Aslan. 


“Tanya doang! Kok kenal sama Cyntia?” tanya Rendra keponya tinggi. 


“Dia asisten rumah tangga Cyntia di rumahnya yang dulu. Dia ikut ke sini saat Cyntia nemenin Kia, karena Cyntia udah punya apartemen mau ikut pindah!” terang Aslan memberitahu. 


Gleg. 


“Kenapa tanya- tanya?” tanya Aslan. 


“Nggak!” jawab Rendra mengelak. 


“Denger- denger kalian satu apartemen? Di unit berapa dia? Tetanggaan dong?” tanya Aslan lagi. 


“Kita sebelahan!” jawab Rendra datar. 


Seketika itu Aslan langsung tertawa.


“Dia janda kembang lho!” bisik Aslan. 


“Hmmm!” Rendra hanya berhem ria tanpa ekspresi dan terus berjalan maju siap ke kantor. Nggak tahu aja Aslan kalau Rendra sudah berhasil memetik kembang janda itu. 


**** 


Kia dan Cyntia kini mencari alamat tempat praktek istri Nicholas. Dia seorang dokter gigi, yang bernama Maghda Lena Vivi Astuti, orang- oraang memanggilnya Dokter Lena. 


“Kayaknya tutup deh Ki!” ucap Cyntia melihat klinik dokter Lena tutup. 


“Gimana dong?” tanya Kia. 

__ADS_1


“Tunggu. Gue punya temen yang saudaraan sama dia!” jawab Cyntia. Untungnya Cynta cerdas dan punya Ben. Untung perginya bareng Cyntia coba kalau sama Aslan yang ada marah- marahan di jalan. 


Cyntia kemudian kemudian menghubungi Ben agar bertanya pada Laura, meminta akses meminta nomor dan keberadaan Dokter Lena. Ben kemudian memberikan nomor telepon pribadinya dan dimana Dokter Lena sekarang. 


Kebetulan sekali Nicholas, Dokter Lena anak- anaknya dan Laura sedang ada acara keluarga di sebuah villa di dekat daerah Kia. Mereka pun berputar balik ke arah itu. 


“Ini alamatnya benar!” ucap Kia memeriksa. 


Di depan mobil Cyntia terhampar sebuah taman indah bernuansa alam. Di ujungnya ada penginapan dengan bangunan klasik tapi bersih dan elegan. Di ujung taman tampak kolam yang terlihat sejuk dan Asri dan samar- samar terdengar suara anak kecil tertawa. Di parkiran terparkir dua mobil keluarga.


“Mereka lagi liburan, Cyn. Kita terlalu nekat dan egois nggak sih? Nggak etis deh kita temui di sini! Balik aja yuk!” jawab Kia,Kia masih semoat memikirkan kebahagiaan orang lain dan takut nyakitin. Padahal orang itu yang udah berniat mau jatuhin Kia dan Aslan.


“Kalau lo balik, ya udah nggak usah ketemu, gue kirim langsung aja ini video ke nomer Dokter Lena, gue kan udah punya nomernya!” jawab Kia mau marah ke Kia. Cyntia gemes ke Kia, udah bener- bener mau dibantuin dan ditemenin malah Kia yang cemen.   


“Tega nggak yah! Kalau mereka terus berantem dan cerai gimana dong?” tanya Kia semakin membuat Cyntia geram. 


“Bete gue sama lo. Ya udahh aku live ig nih! Mau sampai kapan sih sembunyiin ini. sembunyiin kenyataan yang busuk begini engap dan gemes tau nggak sih Ki. Dah kamu nurut aku!” jawab Cyntia lagi denngan nada menekan Kia dan mendominasii. Cyntia mengancam Kia mau membuat statement di media sosial. 


Kia pun terdiam karena sudah terlanjur datang ke situ. Cyntia melihat ada kafe do dekat situ. Mereka pun berniat beristirahat dan mengundang dokter Lena ke situ. 


Dan kebetulan sekali, saat mereka sampai di situ. Cyntia menangkap sepasang suami istri yang tampak harmonis menggendong anaknya duduk di sebuah meja makan. Gambaran keluarga bahagia dan tampak sempurna. 


“Lhoh Mbak Cyntia!” sapa perempuan itu mengenali Cyntia sebagai rekan kerja suaminya. 


“Hai Nicho, hai Dokter Lena!” sapa Cyntia melirik ke Nicho yang sedang menyuapi anaknya. Nicho pun mengangguk tersenyum menyapa Cyntia dan melirik ke Kia dengan tatapan aneh penuh arti. 


"Hai Cyn, apa kabar?" tanya Nicho bosa basi.


“Liburan di sini juga?” tanya Dokter Lena. 


“Iya ini, abis ada perlu. Eh nyasar sampai sini!” jawab Cyntia bosa basi. 


“Ya udah sini gabung!" tawar Dokter Lena sangat ramah.


“Boleh!” jawab Cyntia. “Oh ya perkenalkan, sahabatku! Kia!” ucap Cyntia memperkenalkan Kia. 


Kia dan Dokter Lena kemudian bersalaman. Kia melirik ke Nicho yang tampak sibuk dengan anaknya. Kia menelan ludahnya pedih, melihat sisi Nicholas yang sangat jauh berbeda dari yang dia lihat waktu itu. 


Karena di situ ada Nicho. Kia dan Cyntia jadi harus sedikit berbosa basi.


"Duh gimana sampaiinya? Ada keluarganya.Ada Nicholas juga." batin Kia gelisah.


Saat Kia, Dokter Lena dan Cyntia berbosa basi berkenalan, ponsel Nicholas berbunyi. Nicholas tampak meraih ponselnya dan mejauh.


Lena, Kia dan Cyntia pun menatap aneh ke Nicho karena mengangkat telepon menjauh. Seteah beberapa saat Nicholas kembali.


“Mah, adek sama mamah dulu ya! Papa ada perlu, harus pergi bentar!” ucap Nicholas. 


“Mau kemanaa lagi sih Pah? Baru juga libur hari ini?” tanya Lena setengah berbisik merasa tidak nyaman dilihat Cyntia dan Kia. 

__ADS_1


“Temen papa ada yang keceakaan Mah, papah harus bantu. Papah harus lihat keadaanya, secepatnya Papa balik!” jawab Nicholas berpamitan. 


“Ya!” jawab Dokter Lena pasrah sebenarnya Dokter Lena ingin bertany teman siapa, tapi Nicholas buru- buru pergi. 


__ADS_2