
****
*Mohon maaf, yang belum menikah jangan baca!!! Lompat ke paragraf pertengahan!!!
“Sayang...” panggil Rendra frustasi.
Kali ini karena berantem secara langsung membuat Rendra sangat kacau. Berbeda jika berantemnya lewat telepon.
****
Kejadian sebelumnya.
Karena mereka sudah berpacaran dan saling percaya. Meta sudah tau kunci apartemen Rendra. Karena tadi pagi obrolan mereka terputus, Meta nekat mendatangi apartemen Rendra.
Seperti biasanya Meta datang dengan pakaian seksinya. Celana chinos panjang berwarna coklat muda dipadu dengan T-shirt tanpa lengan, dan potongan dada agak melengkung ke bawah, sehingga belahan buah melonya sedikit menyembul ke luar.
Pacar Rendra memang seseksi itu, dia berprofesi sebagai selebgram.
Meta dengan santainya merebahkan badanya di sofa panjang tepi kaca di apartemen Rendra dengan pemandangan kota. Dia bersantai sambil mendengarkan musik.
Saat Rendra pulang kerja dengan keadaan lelah. Meta pun menyambutnya dengan pelukan dan ciuman yang hangat. Seperti pelari yang kehausan lalu datang ke counter tempat penyedia minuman. Seperti mendapat surga.
Sebagai laki- laki normal yang lama membujang, tentu saja penampilan pacarnya yang seksi itu membangunkan otot- otot Rendra yang melemah karena lelah.
Disesapnya bibir sensual Meta dengan penuh ga*rah, Metapun menyambutnya dengan tindakan yang agresif.
Nafas mereka saling beradu dan bersatu, sampai dipuncaknya, Rendra melepaskan pagutan bibirnya dan turun ke bawah, menyusuri leher jenjang Meta yang tampak putih bersih dan terawat.
Dan Metapun memberi respon positif, karena Rendra berhasil memberikan rasa yang membuat Meta sendiri menginginkan tindakan lebih. Rendra kemudian membawa Meta ke sofa panjang itu. Merebahkan badan mungil Meta, dengan mudahnya Rendra melonggarkan t_shirt Meta, sehingga bagian yang mengintip kini terpampang sempurna. Tidak menunggu aba-aba dan ijin dari dang empunya. Rendra melahapnya. Dan disitu mereka bergelut.
Saat Rendra berada diujung pemana*anya, hendak membuka pakaian Meta bagian bawah, mata Meta terhenti pada benda di dekat nakas televisi.
Dia sadar, matanya melihat ada sepatu, baju dan tas.Itu bukan milik Rendra. Kebanyakan barang- barang Rendra, Meta yang membelikan, meski dengan uang Rendra. Jadi Meta hafal.
“Tunggu!” ucap Meta menghentikan tangan Rendra yang hendak menarik celana Meta. Meski baju Meta sudah terbuka.
“Kenapa, Sayang, kamu nggak mau? Apa lagi datang bulan?” tanya Rendra frustasi. Di tengah- tengah ha*ratnya yang memuncak harus dihentikan.
“Itu tas dan sepatu siapa?” tanya Meta bangun dan memegangi kedua buah ranumnya yang berhasil Rendra buka.
“Tas Aslan," jawab Rendra membelai Meta dan menyuruh Meta rebahan lagi.
“Aslan?” tanya Meta dengan mata melotot sempurna, Meta menolak Rendra. Meta pun langsung kembali menarik tali branya yang terlepas dan mengancingkanya lagi.
“Iya Sayang, kenapa bahas itu. Ayolah tanggung!” tanya Rendra.
“Dia nginep di sini?” tanya Meta dengan mata mendelik.
“Iya”
__ADS_1
“Kok disini? Emang dia nggak punya rumah?” tanya Meta mulai emosi.
“Dia kan berpisah dari istrinya, hubungan dengan ibu tirinya juga tidak baik, jadi sementara ke sini dulu, aku kan saudaranya juga,” jawab Rendra memberi pengertian.
Penjelasan Rendra justru semakin membuat Meta emosi dan marah.
“Hooh, jadi kamu menampungnya? Iya? Dan bahkan tempat tinggal saja dia numpang ke kamu? Lalu kamu mau ikutin dia? Oh My God, Honey!” bentak Meta marah.
Rendra menghela nafasnya lemah. Lalu duduk dengan tenang tidak seperti tadi.
“Baru satu malam dia tinggal di sini, Aslan tidak semenyedihkan itu, kita akan kembali buka usaha baru dan kita akan sukses”
“Kita? Buka usaha baru. Tunggu tunggu, jadi maksud kamu, kamu jadi resign dari Nareswara dan ikut dia lagi?” tanya Meta dengan mata melotot menghakimi.
“Iya,” jawab Rendra mengangguk.
“No, Honey. Ini gila. Kamu udah berada di posisi yang bagus di kantor itu. Kenapa harus pergi dan malah mau pindah ke tempat yang tidak pasti?”
“Nareswara akan berpindah di tangan Paul, buka Aslan lagi! Aku tidak bisa ada di sana!”
“Tapi kan kamu tidak berurusan dengan Paul, yang penting kamu bekerja dngan baik”
“Kan kamu dulu juga sering bilang aku harus baik dengan Aslan, Sayang, kenapa sekarang kamu begini?”
“Itu kan dulu, karena dia bosmu, sekarang sudah berubah! Buka matamu Honey, tempat tinggal saja dia numpang!” ucap Meta keras dan kasar menghina Aslan
Mendengar bentakan Rendra, Metapun tersinggung, dia langsung merapihkan rambutnya, mengambil tasnya dan keluar. Rendra pun segera mengenakan paakaiaanya yang sempat dia lepas, lalu mengejar Meta.
Dan sekarang mereka bertengkar di parkiran mobil. Meta dan Rendra taunya di parkiran hanya ada mereka berdua, sehingga mereka tidak malu bertengkar.
Mereka tidak tahu, berjarak satu mobil di belakang mereka ada dua sejoli yang sedang pacaran di mobil mendengarkan mereka.
“Jangan panggil aku sayang lagi!” balas Meta saat Rendra memanggilnya dengan sebutan sayang.
“Dengarkan aku dulu. Kamu harus percaya padaku!” tutur Rendra.
“Percaya apa Rendra? Hah, kamu itu bodoh!” tanya Meta ketus dan mengatai Rendra.
“Percayalah aku dan Aslan akan sukses, dan kali ini kita akan sukses dengan nama kita sendiri!”
“Sukses? Hah? Rumah aja dia nggak punya, numpang sama kamu! Jadi benalu, dia aja dicampakan istrinya begitu, dan kamu masih mau ikutin dia? ” tanya Meta semakin keras.
Dan laki- laki yang duduk di dalam mobil itu semakin memuncak emosinya. Tanganya mengepal ingin keluar dan menabok kasar mulut pacar Rendra itu.
Tidak tau dia, kalau aset Aslan masih banyak. Bisa-bisanya mengatai Aslan benalu. Rendra saja bisa seperti sekarang berkat Aslan dan ibunya.
Aslan juga bukan tidak punya rumah, Aslan memberikan rumah yang lebih mahal dari apartemen Rendra ke Kia. Tapi Aslan menghargai sifat Kia yang menjaga diri, jadi Aslan tidak pulang ke Kia dulu.
“Kurang ajar, bisa- bisanya Rendra pacaran dengan perempuan binal begitu!” umpat Aslan hendak membuka mobil.
__ADS_1
Kia menggelengkan kepalanya mencegah tangan Aslan, sehingga mereka bersentuhan danjadi panas dingin.
“Diam di sini! Jangan ikut campur!” bisik Kia hati- hati.
“Dia menghinaku, Sayang!”
“Biar saja! Hehe, kan kenyataanya kamu numpang!” jawab Kia malah mengejek Aslan sekalian.
“Haishhh” desis Aslan gemas ke Kia yang cekikikan.
Melihat ekspresi Aslan yang kesal karena mendengar hinaan atas dirinya membuat Kia merasa sangat puas.
Jadi Aslan tau, kalau di luar sana tidak semua orang menyukai dan mengaguminya. Bahkan mereka menghina Aslan. Mungkin karyawanya juga banyak mengatai Aslan.
“Kita tonton dulu drama gratis ini! Lagi panas, dan seru, nanti kalau udah reda baru kita keluar, oke?” ucap Kia mengerlingkan mata cantiknya yang membuat Aslan luluh, dan emosinya mereda.
“Ya!” Jawab Aslan menggigit bibirnya melampiaskan kesal ke Meta.
"Nggak apa- apa deh, lama- lama berduaan dengan Kia di mobil" batin Aslan melirik ke Kia yang antusias mennton Rendra.
Lalu mata mereka kembali ke kedua orang yang sedang bertengkar itu. Rupanya saat Meta menghina Aslan, Rendra tidak terima.
“Kamu tidak tahu apa- apa tentang Aslan Meta. Kamu menyesal sudah mengatainya begitu!” ucap Rendra.
“Terserah. Dengan kamu resign dari kantor itu, itu berarti kamu tidak mendengarkanku. Kita putus!” ucap Meta galak memutuskan hubungan dengan Meta.
Dua orang di dalam mobil itu menonton dengan ekspresi takjup.
“Bagus. Putus aja!” ucap Aslan menyemangati dari dalam mobil dengan ekspresi gembira.
Tapi yang di luar mobil, si pelaku laki- laki berbeda respon. Rupanya Rendra sudah ketagihan dengan buah melon Meta yang ranum dan manis.
“Sayang nggak bisa gitu dong! Masa Cuma karena pekerjaan kita putus? Aku bisa sukses, percayalah, tunggu waktu itu!” ucap Rendra tidak mau diputusin, meskipun kalau disuruh nikah juga mereka sama- sama belum mau, tapi terasa berat juga untuk putus. Terlebih Meta sudah banyak menghabiskan uang Rendra.
“Sukses gimana? Dia aja numpang sama kamu”
“Hanya sementara, Sayang! Mengertilah!”
“Nggak! Usir dia atau aku nggak akan kesini lagi, aku tidak suka berbagi tempat dengan orang lain!” jawab Meta memberikan pilihan sulit ke Rendra.
“Ya nggak bisalah, masa aku usir dia! Dia saudaraku,” jawab Rendra semakin membuat Meta kecewa.
"Oke kalau itu pilihammu!" bentak Meta. Lalu meta masuk ke mobil dan pergi tidak peduli Rendra.
“Yaang, tunggu jangan pergi dulu, dengerin dulu!” teriak Rendra mengejar mobil Meta.
Dan di dalam mobil Aslan terus mengatai dan memaki Rendra.
“Dasar bodoh lu Reen, Reen, gob*ok... gob*ok!”
__ADS_1