
“Ini kamar Om Rendra? Terus itu kamar Tante Cyntia?” ceplos Ipang girang ketika rombongan sampai di apartemen. Ipang menyebutnya kamar karena hanya melihat dua pintu berdekatan meski ketika dibuka keduanya, di dalamnya luas dan terdiri dari beberapa kamar seperti rumah.
Cyntia dan Rendra sempat saling tatap kemudian menormalkan diri lagi menjawab pertanyaan Pangeran.
“Iya kita bertetangga, ini apartemen Om dan itu apartemen Tante!” jawab Rendra memberi tahu, bukan kamar tapi apartemen.
Sebenarnya, Umma, Alena, terutama Kikan juga sangat kaget melihat kenyataan itu, apalagi di lantai itu hanya ada dua unit apartemen dengan 3 kamar lengkap ruang tamu dapur dan ruang televisi beserta taman balkon. Itu berarti Rendra dan Cyntia sangat dekat dan intim seharusnya. Kikan mulai berfikir dalam hatinya dan memperhatikan gerak- gerik Rendra dan Cyntia.
“Tapi kenapa mereka berdua selalu terliha canggung seakan tidak dekat ya?” batin Kikan jiwa keponya datang.
“Waaah, kenapa nggak digabung aja kamarnya? Jadi kita semua satu rumah!” ceplos Ipang lagi tanpa berfikir panjang.
Cyntia semakin canggung dan menelan ludahnya kikuk. Mereka kmbali bertatapan yang entah apa artinya yang jelas Cyntia sedikit tersipu tapi kemudian membuang muka seperti menahan sesuatu.
“Nggak bisa, Sayang, ini kan aparteme, nggak boleh digabung!” jawab Cyntia ramah ke Ipang.
“Kenapa tidak? Ini pintunya bersebelahan, di ancurin aja temboknya terus nanti dikasih pintu, jadi meski aku tinggal bersama Umma dan Om Rendra, aku masih tetap bisa bertemu Mbok Mina!” jawab Ipang lagi.
“He...!” Kia hanya nyengir kemudian Umma yang menjelaskan.
“Kalau temboknya dijebol nanti dimarahi pak Satpan yang tadi bekerja di bawah, kan kita deketan, kita masih bisa kok ketemuan, tinggal ketuk pintu!” jawab Umma.
“Yah, tapi kan susah, nggak kedengaran, harus ketok- ketok pintu. Ipang kan seneng masakan Mbok Mina , terus kan enak kalau makan bareng rame- rame!” jawab Ipang lagi masih terus cerewet inginya para nenek itu tinggal di satu rumah. Rombongan itu jadi terhenti di depan pintu.
“Masakan Umma kan juga enak, Den!” sambung Mbok Mina merasa tidak nyaman dengan Umma.
“Tapi Ipang maunya makan itu bersama kaya di rumah Ayah!” jawab Ipang bawel.
“Ya... nanti kita makan bersama, udah yuk masuk yuk!” sela Rendra merasa tidak nyaman, permintaan Ipang selalu aneh- aneh saja menurut Rendra.
“Dada... Kak Alena...!” sapa Ipang ramah ke kakaknya itu.
Alena yang sekarang berubah jadi pendiam untuk pertama kalinya tersenyum pada Ipang cantik sekali.
“Da...!”
“Kalau masakan Mbok Mina udah matang, kabari ya... kita makan bersama!” ucap Pangeran.
“Ya!” jawab semua orang tua kubu kamar Cyntia, keinginan Ipang ada- ada saja.
Baik Rendra ataupun Cyntia membuka pintu apartemen masing- masing. Desain pintu kamar memang berdekatan, tapi setelah masuk isi apartemen melebar ke arah bersamaan.
Di kubu apartemen Cyntia, Alena yang terbiasa sering berkunjung ke rumah bagus dan tertata biasa saja. Apalagi apartemen Cyntia rutin dibersihkan, ada Mbak Narti juga, semua berjalan normal. Cyntia juga langung menunjukan kamar untuk Alena.
Setelah itu Mbak Narti dan Mbok Mina menyiapkan makan malam. Cyntia menawarkan untuk pesan makan tapi Mbak Narti malah bilang sayang di kulkas ada bahan makanan.
“Tapi nanti kalian capek lho!” tutur Cyntia sayang ke pegawainya.
“Nggak apa- apa Non! Den Pangeran kan juga mau makan bareng!” jawab Mbak Narti.
“Beneran kita mau makan bareng mereka?” tanya Cyntia ragu.
__ADS_1
“Lah memang kenapa Non?”
“Ehm... nggak, nggak apa- apa!” jawab Cyntia tidak mau ketahuan kalau dia canggug jika harus sering- sering bertemeu Rendra.
“Ya udah, Non kabari tetangga sebelah jangan masak! Kita undang mereka k sini!”jawab Mbok Mina.
“Ya...!” jawab Cyntia emngangguk getir. “Saya mandi dulu ya Mbak!” jawab Cyntia berjalan ke kamarnya.
“Hoh? Gue harus undang dia masuk ke apartemenku? Yang benar saja? Ku wa atau kudatangi saja ya? Wa saja, Umma, Kikan dan Pangeran yang boleh masuk!” batin Cyntia berfikir sambil berjalan ke kamar.
*****
Di Apartemen Rendra.
“Astaghfirulloh, Rendraa!” pekik Umma setelah masuk.
Rendra sebenarya orangnya sangat rapih dan bersihan, tapi semenjak putus dari Meta, dia mabuk, ditambah sekarang jadi gila gegara Cyntia, Rendra jadi tidak sempat mengurus apartemenya.
“Kenapa Umma?” tanya Rendra.
“Om Rendra jorok!” seru Ipang ikut menimpali melihat minuman di atas meja di ruang tv dan kulit kacang belum dibuang.
“Maaf!” jawab Rendra langsung buru- buru membuang sampah itu.
“Apa kamu minum barang haram ini?” pekik Umma lagi melihat botol win, padahal Win itu juga masih agak penuh, tapi Umma tau itu minuman haram.
Rendra kemudian menggaruk rambutnya seperti anak ingusan ketahuan sama emaknya.
“Maaf Umma!” lirih Rendra.
“Ya Umma!” jawab Rendra megambil win itu, berniat mau membwa ke kulkan.
“Mau dibawa kemana?” tanya Umma.
“Disingkirkan!” jawab Rendra.
“Tidakdisingkirkan, sini Umma buang!” jawab Umma merebut minuman itu. Lalu di depan Rendra Umma menuangkan minuman haram itu di kloset, padahal win Rendra itu, Win mahal yang dikado dari teman bisnisnnya dari luar negeri. Rendra pun tak berdaya melawan Umma. Ipang dan Kikan pun mengekor dan jadi penonton Rendra dihajar Umma.
“Umma kamar Umma di sini, ayo masuk Umma!” tutur Rendra menunjukan kamarnya biar Umma tidak banyak masuk ke ruangan lain.
Sayangnya Umma tidak mau berhenti dan terus berjalan ke dapur memeriksa lemari es, dan dapur. Umma masih menemukan alkohol dan angsung Umma buang.
“Kamu harus segera menikah Rendra!” ucap Umma kemudian.
Rendra menunduk pasrah dimarahi Umma.
“Wuaah ini tas mahal! Bagus buanget!” pekik Kikan kemudian menemukan tas harga 1 M itu di atas nakas.
Mendengra itu, semua langsung menoleh ke Kikan,Rendra pun buru- buru merebutnya.
“Jangan sentuh!” ucap Rendra.
__ADS_1
“Jangan bilang itu buat Kak Meta! Kikan nggak ikhlas, buat Kikan aja!” ucap Kikan berani.
“Enak aja! Kakak udah putus dari dia. Jangan sebut- sebut nama dia!” jawab Rendra menyembunyikan tas di balik punggungnya.
“Terus mau buat siapa? Kakak kan Jomblo?” tanya Kikan cerdas.
Glek
Rendra gelagapan. Tas itu, niatnya mau Rendra kasihkan ke Cyntia itung- itung minta maaf dan sebagai tanda kesepakatan mereka berdua saling jaga rahasia kalau mereka pernah tanpa sengaja tidur bersama.
“Buat seseorang!” jawab Rendra.
“Siapa? Buat Kikan aja Kak!” rengek Kikan lagi.
“Nggak!” jawab Rendra lagi,
“Emang mau buat siapa sih? Itu kan tas cewek?” rengek Kikan.
“Buat calon istri Kakak!” jawab Rendra asal.
“Wuaah benarkah? Siapa dia Kak?” tanya Kikan semakin senang mengerjai Rendra.
“Rahasia....!” jawab Rendra ngeles karena sesungguhnya Rendra sekarang kan jomblo.
“Kasih tau lah Kak, kasih tau, kenalkan ke Kikan... Umma denar kan, Kak Rendra punya calon istri siapa Kak?” celoteH Kikan lagi membuat Rendra terjepit.
Umma kemudian ikut menimbrung.
“Lamar dia secepatnya kalau memang kamu sudah punya pacar lagi, kenalkan ke Umma, kamu sudah tua. Jangan terus menunda dan buat kamu banyak dosa! Biar hidupmu benar dan ada yang urus!” tutur Umma.
“Tuh! Denger kan Kaak! Kenalin ke kita! Siapa dia?” cecar Kikan lagi membuat Rendra gelagapan.
Di saat Rendra bingung mau jawab apa, bel apartemen Rendra berbunyi. Rendra pun melarikan diri dari cecaran pertanyaan keluarganya itu dan membuka pintu.
“Kamu?” tanya Rendra gugup karena Cyntia yang memakaai gaun putih pendek yang membuatnya seperti bidadari dengan rambut dicepol ke atas secara acak tapi menambah kesan seksi berdiri di depanya.
“Kenapa tidak membuka pesanku?” omel Cyntia cemberut, melirik ke dalam.
“Kamu mengirim pesan ke aku?” tanya Rendra dengan lirikan anehnya.
“Ish...!” desis Cyntia kesal. Mereka berdua malah terkesan seperti sepasang kekasih yang ceweknya merajuk akrena pesanya dicueki.
“Tumben, emang kirim apa? Kamu kangen sama aku?” tanya Rendra mulai narsis.
“Ck. Jangan GR kamu, kasih tau Umma dan yang lain, setelah istrirahat, datanglah ke apartemenku, makan di tempatku!” ucap Cyntia.
“Waah baik sekali kamu!”
“Ini untuk mereka! Kamu tidak boleh ikut!”
“Jangan gitu dong! Aku juga laper, boleh ya!” ledek Rendra ke Cyntia
__ADS_1
“Hhh!” jawab Cyntia mendengus kemudian berbalik arah dan pergi tanpa pamit.
“Woy... aku ikut!” seru Rendra tapi Cyntia buru- buru masuk ke apartemenya.