
"Sayang...udah dandanya? Makan yuk!" ajak Aslan membuka pintu kamar mereka.
Reflek Kia meletakan diary itu ke meja dan menoleh ke suaminya.
"Rambut Kia belum kering, Bang. Di sini nggak ada hair dryer!" jawab Kia menunjukan rambut panjangnya yang masih basah.
"Nggak apa-apa, nggak usah pakai hijab, biarin begini. Hanya ada Umma dan Kikan! Ayuk makan!" jawab Aslan.
"Baiklah!" jawab Kia mengangguk tersenyum. Suaminya sudah mengijinkan aurat Kia dilihat saudaranya. Kia bangun dan ikut Aslan ke meja makan.
Kia sebenarnya sedang membuka-buka foto-foto usang dan membaca catatan kisah dari Ibu Andini. Kia merasa ada ada yang aneh dengan foto itu. Di foto itu ada foto pernikahan mendiang ibu Andini.
Hal yang membuat Kia merasa aneh adalah foto laki-laki mempelai pria bukan Tuan Agung. Jelas bukan Tuan Agung, meski tua dan muda, tidak ada kemiripan sama sekali.
Keyakinan Kia tambah bulat saat di foto selanjutnya ada foto pemuda yang mirip dengan Tuan Agung. Foto kedua mempelai, berjajar dengan 3 teman lain, tampak seperti rombongan dari mempelai pria.
Di buku diary itu hari pernikahanya di tahun yang sama, dimana kalau Kia hitung, sesuai dengan usia Aslan sekarang. Kia jadi berfikir banyak. Ibu Aslan menikah dua kali, dengan dua laki-laki bersahabat.
****
"Gimana, Nak? Nggak kedinginan?" tanya Bu Arini pada Kia, menyambut Aslan dan Kia tiba di ruang makan.
"Dingin Umma, tapi nyaman, Kia suka!" jawab Kia mengangguk, tersenyum.
Di meja makan Kikan sudah duduk di tempatnya dan tampak cemberut.
"Kikan!" panggil Bu Arini tau anak angkatnya cemburu ke Kia.
Sebenarnya Kikan bukan cemburu, tapi Kikan tau perangai Paul. Kikan mengira Aslan akan terikat dengan perempuan yang sama seperri Paul. Kikan jadi benci pada istri Aslan.
"Ya Umma!" jawab Kikan.
"Tadi kan Kak Aslan sama Umma udah kasih tau kan? Ayo lakukan, sekarang ada Kak Kia!" tutur Bu Arini lembut.
Ternyata seusai sholat maghrib berjamaah. Aslan menyampaikan persis seperti mau Kia. Memberi pengertian ke Kikan, kalau Aslan sekarang punya istri yang Aslan sayangi dan istri Aslan yang sekarang sangat pencemburu, tidak suka Aslan berdekatan dengan perempuan lain.
"Ya Umma!" jawab Kikan menatap Kia.
Kia menelan ludahnya malu karena Umma dan Kikan menoleh ke Kia semua, Kia jadi pusat perhatian sekarang.
"Ada apa ini?" batin Kia dheg-dhegan.
Ummanya Kikan bahkan memanggil Aslan Kak. Berarti Bu Arini dan Kikan tau Kia cemburu. Aslan sungguhan cerita mau Kia. Meski tadi Kia menggebu dan sangat kesal, Kia sekarang merutuki dirinya sendiri.
"Ah betapa memalukanya ini, segitu cemburuanya aku?" batin Kia lebih dulu menerka. Sekarang Kia berada di tingkat kewarasan yang utuh tidak diliputi cemburu.
"Ayo minta maaf ke Kakak Ipar!" tutur Bu Arini lagi.
"Ya Umma!" jawab Kikan lagi, Kikan menatap Kia tulus. Kia pun jadi canggung.
"Kak Kia. Kikan minta maaf ya, sudah bersikap tidak baik ke...ke Kak Aslan!" tutur Kikan patuh pada Ummanya. Kikan mengubah panggilan ke kakak angkatnya itu, Kak. Kikan tetap belajar meski terdengar ragu dan aneh.
"He... iyah!" jawab Kia mengangguk. "Ya Tuhan malunya aku. Bang Aslan sungguhan cerita!" batin Kia mengigit bibirnya.
Kia benar-benar malu. Kini Kia merasa image dirinya sudah hancur, pasti bibi mertua dan sepupu angkatnya itu memandang Kia tidak dewasa dan sangat cemburuan.
"Aku juga tidak akan sentuh- sentuh Kak Aslan lagi!" ucap Kikan lagi jujur.
Gleg.
Kia semakin pucat dan tidak berani mengangkat mukanya. Rasanya Kia seperti ingin menenggelamkan diri ke bumi.
"Tapi Kak Kia janji ya. Jangan sakiti Kakakku yang baik ini. Kak Kia harus bahagiakan Kakakku! Kalau sampai Kak Kia seperti istri pertamanya. Kikan akan bunuh Kak Kia" lanjut Kikan lagi dengan polosnya mengancam.
Dheg.
Kia langsung mendongakan kepala menatap Kikan. Sungguh Kia menyesal sudah berfikir buruk ke Kikan. Perempuan yang baru mau meninggalkan masa remaja ini ternyata sangat sayang pada suaminya dengan perasaan tulus.
Umma dan Aslan justru tersenyum mendengar penuturan Kikan. Aslan lalu mengelus kepala Kikan, Kikan terlihat sangat manis. Aslan duduk di ujung meja tengah sebagai pemimpin. Kikan dan Bu Arini di sisi kanan meja dan Kia di sisi kiri.
"Sekarang udah nggak salah paham lagi kan, Sayang? Kikan ini adik kita yang manis." tutur Aslan ke Kia dengan hangat.
Kia pun mengangguk dan menatap suaminya merasa bersalah. Kia sangat kekanakan, tapi Aslan malah terlihat senang. 7
"Kak Kia juga minta maaf ya ke Kikan. Maafin Kakak ya, udah salah paham! Maafin Kak Kia sudah berfikir buruk!" tutur Kia berbesar hati mengakui kesalahanya.
"Iyah, Kikan juga!" jawab Kikan
"Alhamdulillah, sekarang udah nggak diem-dieman lagi ya. Nak Kia jangan sungkan. Umma malah senang lho. Tandanya Kia beneran cinta sama Aslan!" jawab Umma lagi dengan lembut.
"He..." Kia hanya nyengir dan mati kutu, wajah Kia langsung memerah sempurna. Kini di mata keluarga Aslan terlihat Kia yang sangat bucin ke Aslan.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo dimakan! Pasti lapar kan?" tutur Bu Arini lagi tidak mau Kia semakin canggung.
Bu Arini masak banyak dengan menu andalan Bu Arini, kacang merah dibumbu hitam (Kluwek) dicampur dengan hati ayam (Brongko). Bu Arini juga menyajikan sambal belut. Tidak lupa, Bu Arini membuat asinan mangga. Itu semua masakan yang Aslan dan Kia tidak temukan di ibukota.
Karena masih malu dan canggung Kia makan dengan pelan dan fokus tanpa berani menoleh ke Bu Arini atau ke Kikan. Sementara Bu Arini dan Aslan mengobrol sesekali setelah menelan makanan.
"Umma dan Kikan, besok datang ya ke resepsi Aslan!" tutur Aslan
"Umma dan Kikan pasti akan datang!" jawab Umma.
"Acaranya dimana Kak?" tanya Kikan.
"Di pulau "D" di resort teman Kakak! Kakak udah siapin kamar buat Umma dan kamu!" ucap Aslan memberitahu.
"Waah, Kikan pasti datang. Kebetulan banget. Kikan pengen berlibur ke sana Kak!" jawab Kikan bahagia.
"Berliburlah sesukamu!" jawab Aslan lagi.
"Apa kita akan satu hotel?" tanya Kikan lagi.
"Bukan hotel sih penginapan di pinggir pantai. Tapi nyaman kok!" jawab Aslan lagi
"Yeeeyy. Makasih Kak. Kikan boleh kan berlama-lama di sana?" tanya Kikan lagi.
Aslan mengangguk boleh. Tapi Umma mereka melarang.
"Hush! Kakakmu kan mau bulan madu! Kita nggak boleh lama-lama di sana! Jangan ganggu!" lerai Bu Arini.
"Hummm, katanya kan Kakak udah punya anak. Kok masih bulan madu!" ceplos Kikan protes.
"Uhuk!" Kia yang belum selesai makan langsung keselek mendengar ucapan Kikan.
Bu Arini langsung menyenggol Kikan dan Aslan memberikan minum ke Kia membantu agar tidak tersedak.
"Hati- hati, Sayang!" bisik Aslan ke Kia.
"Jaga omongan kamu Kikan. Meski merek sudah ad anak. Kakakmu dan Iparmu itu terpisah selama 7 tahun. Mereka baru bertemu sekarang! Mereka butuh waktu melepas rindu! Kamu nggak boleh ganggu mereka!" tutur Bu Arini menasehati Kikan.
"Maaf Umma!" jawab Kikan.
"Minta maaf ke Kak Kia!" tutur Umma lagi.
"Maaf lagi ya Kak!" ucap Kikan.
Kia mendengar penuturan Bu Arini merasa bersyukur. Ternyata orang- orang di belakang Aslan sangat baik. Hanya mertua tirinya saja yang jahat.
Kia sendiri tidak tahu. Kapan Aslan menceritakan tentang dirinya ke bibinya ini. Kok Bu Arini seperti tau banyak dan perhatian ke Aslan.
"Oh iya apa kabar Rendra, Nak? Kapan dia nikah udah punya pacar?" tanya Bu Arini lagi setelah suasana kembali kondusif untuk ngobrol.
Mendengar pertanyaan tentang pasangan Rendra Kia menatap Aslan. Aslan yang kesal ke Meta juga menatap Kia.
"Besok Umma tanya sendiri aja ke Rendra!" jawab Aslan singkat.
"Kalian selalu bersama kan? Masa nggak tahu?" tanya Umma lagi.
"Aslan nggak mau mencampuri urusan pribadi Rendra Umma. Itu kan pribadi Rendra!" jawab Aslan lagi.
"Ya ya, Umma mengerti biar besok Umma yang tanya. Sudah berapa tahun ya Umma tidak bertemu denganya? Hhh!" ujar Bu Arini menghela nafas mengingat Rendra.
Rendra memang hampir tidak pernah berkunjung ke kampung halaman ibunya itu. Aslan setahun sekali di hari kematian ibunya datang, kalau Rendra makam orang tuanya ada di ibukota jadi jarang berkunjung.
"Maafkan kami jarang berkunjung, Umma!" jawab Aslan.
"Nggak apa- apa. Terima kasih kamu sudah kirim Kikan buat Umma. Yang terpenting buat Umma, kalian bertiga hidup bahagia, tertata hidupnya, menemukan pasangan yang tepat. Satya sudah. Kamu sebentar lagi nyusul. Tinggal Rendra!" tutur Umma tulus mendoakan keponakanya.
"Doakan kami, ya Umma!" jawab Aslan lagi.
"Tentu saja Umma selalu berdoa untuk kalian!" ucap Umma tulus.
"Oh iya. Kikan udah ujian belum? Mau kuliah dimana?" tanya Aslan mengalihkan pembicaraan tentang Rendra dan bertanya ke Kikan.
"Kikan baru selesai ujian Kak! Tugas Kikan kan jaga Umma, jadi Kikan kuliah di dekat sini saja!" jawab Kikan tahu diri. Kikan tahu kalau dirinya adalah anak pungut yang diselamatkan Aslan bertugas menemani Umma dan menempati rumahnya.
"Anak pintar, berarti sekarang waktunya liburan?" tanya Aslan lagi.
"Iya. Kikan libur sebulan. Makanya Kikan pengen, besok sekalian liburan di pulau D! Boleh ya Umma" tutur Kikan merayu.
"Hmmm!" Umma hanya berdehem.
"Kikan janji nggak akan ganggu Kak Aslan dan Kak Kia. Katanya kan aku punya ponakan. Biar Kikan main bareng sama ponakan Kikan aja!" ucap Kikan merayu lagi.
__ADS_1
"Ya boleh!" jawab Aslan mengangguk. Aslan memang sayang ke Kikan.
"Yey! Makasih Kak" jawab Kikan bahagia kegirangan.
Tangan Kikan hampir mau menyentuh tangan Aslan lagi memeluk, tapi Kikan langsung berhenti dan menoleh ke Kia canggung.
Kia pun menjadi tidak enak. Melihat kecanggungan itu Mbok Arini memecahkan susana.
"Ya sudah, kalau mau liburan berarti pekerjaan rumah harus diselesaikan cepat. Kamu masih utang kan sama Umma untuk bantu Bi Ina di Ladang? Besok harus sudah dipanen semua sebelum pergi!" ucap Umma memberitahu dan mengerjai Kikan.
Meski mereka orang kaya di desa itu, tapi Umma melatih Kikan ikut bekerja di kebun bersama para pekerja. Sebenarnya Umma tidak setega itu, tapi Umma hanya ingin melatih Kikan bertanggung jawab dan bekerja keras.
"Iya Umma, besok Kikan bantu memanen. Emang kapan sih resepsinya?" tanya Kikan.
"Kalau urusan surat-surat pindah Kia lancar, Aslan ingin seminggu lagi. Nanti Aslan kabari!" jawab Aslan.
"Semoga lancar ya Kak!" jawab Kikan bersemangat.
Kia dan Aslan kemudian tersenyum mengangguk. Mereka bertiga selesai makan. Karena Kia melihat tidak ada orang lain di rumah itu, Kia berinisiatif membereskan piring kotor dan membawanya ke dapur.
"Lhoh. Kikan, kok malah Kak Kia yang beresin sana dibantu!" tutur Bu Arini.
"Ya Umma!" jawab Kikan ikut bangun dan membereskan sisa makanan.
"Nggak apa-apa, Kia sendiri aja. Kia biasa kok beresin begini!" jawab Kia ramah menolak bantuam Kikan.
"Beneran Kak Kia bisa cuci piring?" tanya Kikan polos mengira Kia seperti Paul
"Iyah, udah biar kakak aja, segini sedikit!" ucap Kia tersenyum membawa piring kotor ke belakang.
"Oke. Kak Kia ternyata cantik dan keren deh. Kikan suka, jangan seperti Kak Paul ya!" ungkap Kikan polos.
Kia mengangguk tersenyum mengerti mau Kikan.
"Umma, Kikan. Kalian kan tadi udah masakin buat Aslan dan Kia. Sekarang gantian Aslan dan yang beresin! Kalian istirahatlah!" ucap Aslan menambahi.
"Ya sudah. Kalau sudah selasai, kalian istirahat ya. Umma mau ngaji!" pamit Umma pergi.
"Ya Umma!"
Aslan kemudian bangun dan bantu Kia, membawa sisa makanan ke tempat penyimpanan makanan sisa, dan merapihkan meja makan.
Meski saat Aslan di ibukota menjadi sesosok yang terlihat galak dan antidapur. Demi Kia dan di kampung ibunya, Aslan menampakan sisi lain dari dirinya yang tidak ada orang yang tau.
"Abang mau ngapain?" tanya Kia kaget Aslan di belakangnya.
"Bantuin kamu!"
"Emang bisa?"
"Ajarin lah!" jawab Aslan tersenyum nakal.
"Udah, Abang duduk aja, atau sana temenin Umma!"
"Umma mau ngaji. Abang mau bantuin istri Abang aja!"
"Sempit tempatnya Bang! Kotor malah nanti!" lerai Kia sambil menggosok sabun di piring.
"Abang pingin bantuin, Sayang!"
"Ya udah bilas ini!" ucap Kia akhirnya menunjukan jatah pekerjaan ke Aslan.
Mereka berdua pun membereskan bekas makan mereka bersama.
"Cup! Wangi banget sih?" Aslan mencium rambut Kia yang berdiri di sampingnya di depan wastafel itu.
"Abang ih. Hati-hati ada Kikan nanti!"
"Kikan udah ke kamarnya kok!"
"Abang, Kia jadi malu. Abang gimana ceritanya ke Kikan dan Umma?" tutur Kia cemberut mengingat tadi.
"Cerita apa? Malu gimana?"
"Pasti Umma dan Kikan jadi memandang Kia buruk ya? Kia sangat pencemburu dan kekanakan ya Bang?" tanya Kia.
Aslah tertawa mendengar penuturan Kia. Lalu Aslan meraih kepala Kia dan menciumnya lagi. Menghirup aroma tubuh Kia sangat menyenangkan buat Aslan.
"I love you. Nggak ada yang bilang begitu. Ke kamar yuk!" ajak Aslan kemudian.
Kia mengangguk, karena pekerjaan sudah selesai. Mereka berjalan ke kamar yang ternyata dulu itu kamar Ibu Andini.
__ADS_1
"Bang, Kia nemuin sesuatu di kamar! Abang harus liat!"
"Apa?"