Sang Pangeran

Sang Pangeran
151. Paul Depresi.


__ADS_3

Di saat Aslan dan Kia sedang harmonis dan bahagia, menyiapkan dan menunggu hari pernikahan , di tempat lain Paul kebingungan. 


"Apa yang harus aku katakan ke Papa tentang kehamilanku ini? Katakan anak Aslan atau anak Nicho?" 


"Apa biar aja, seperti kata Nicho biar semua orang tahu ini anak Aslan?" 


"Tapi aku tidak mau, nasib dia seperti Alena. Aku mau anakku disayang ayahnya! Aku mau Niko bertanggung jawab, ini anak Nicho"  


Meski Paul jahat, Paul kini menyadari kesalahanya. Seorang ibu, tetaplah ibu, meski dia jahat dia tetap ingin yang terbaik untuk anaknya. 


Paul tau, Alena kekurangan kasih sayang. Aslan bahkan sekarang meninggalkanya, Alena akan sangat sedih jika tahu. Bahkan Paul belum memberitahu Alena.


Saat Paul mau menuntut Aslan. Aslan tau itu bukan anaknya, Paul tidak punya daya. Apalagi Paul mungkin bisa menyakiti Kia dan Aslan,  atau Ipang,  tapi Paul tidak bisa memaksa Aslan memberikan kasih sayang.


Kini Paul bukan memikirkan dirinya dan hawa napsunya lagi. Paul mengkhawatirkan anak- anaknya. Paul merasakan kegelisahan lebih dari apa yang Kia rasakan dulu. 


"Thok thok!" 


Suara pintu kamar Paul di ketok. 


"Iya!" jawab Paul


"Ini mami Sayang!" tutur Ny. Jessi. 


"Bentar Mam!" jawab Paul mengambil tisu dan membersihkan air matanya. 


Setelah menata rambutnya dan menyeka air matanya Paul membuka pintu. Nyonya Jessi sendirian. Nyonya Jessi kemudian masuk ke kamar Paul. Paul pun menutup pintunya pelan..


"Papa kemana Mam?"


"Papa jenguk Tuan Agung!" jawab Nyonya Jesi.


"Duduk Mam ada apa?" tanya Paul mempersilahkan Ny. Jesy duduk karena Nyonya Jessy malah berdiri menatap foto Alena dan Paul yang tanpa Aslan.


Meski sudah dipersilahkan duduk, Nyonya Jessi tidak segera duduk. Nyonya Jessi menatap sekeliling kamar Paul. Terasa dingin dan hampa, bahkan Nyonya Jessi membuka lemari Paul dan memeriksa. 


Paul yang sudah dewasa pun merasa risih dan tidak terima Maminya begitu lancang. Paul kemudian menegur Momynya. 


"Mam! Don't open it!" panggil Paul setengah memperingatkan.


Nyonya Jessi tidak menghiraukan dan terus lancang. Nyonya Jesi malah membuka laci Paul. Paul pun tambah geram. Paul berjalan maju dan berniat mencegah Maminya mencampuri urusan nya. 


"Mami stop!" bentak Paul ke ibunya.


Sayangnya Nyonya Jesi sempat menemukan sesuatu di laci Paul. Nyonya Jesi mengambilnya dan menatap Paul dengan mata terbelalak. 


"Mami!" pekik Paul lagi merebut dua platik dan sebuah foto dari tangan Maminya. 


"Paulina Abigail!" balas Nyonya Jessi keras. 

__ADS_1


"Mam. Aku sudah dewasa! This is my privacy!" jawab Paul. 


"Plak!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Paul. 


"Mamih!" pekik Paul lagi memegang pipinya. 


Paul sudah hancur,  Paul kehilangan pegangan,  tapi kenapa malah maminya menamparnya. 


Sungguh bertahun-tahun Paul haus kasih sayang. Paul memang salah karena dulu menjalani pergaulan bebas dan hamil dengan orang yang tidak sederajat. Hubunga Paul tidak disetujui orang tuanya. Laki-laki itu tidak boleh menikah dengan Paul.


Sebenarnya jika dulu, Paul dan ayahnya tidak serakah. Menikahkan Paul dengan ayah kandungnya Alena. Paul akan berubah, Paul bisa hidup dengan baik dan tidak seperti sekarang. Alena pun akan mendapatkan sesosok ayah yang sayang padanya.


Pernikahan yang Tuan Alex rencanakan sebagai kesepakatan bisnis dan dia kira sebagai solusi ternyata hanya membuat hati Paul semakin mati. Mencintai Aslan, berambisi memiliki dan mengharapkan cinta tapi tak terbalas. Yang jadi korban adalah Alena, dan Paul sendiri, lebih dari itu menyakiti Aslan juga.


Sekarang pun Paul kembali salah jalan. Haus karena kebutuhan biologisnyan tak terpenuhi, Paul memilih tempat yang salah. Paul terbuai rayuan jahat laki-laki licik seperti Nicho. Anak dikandungan Paul lagi yang akan jadi korbannya, karena Niko justru ingin melimpahkan tanggung jawabnya pada Aslan.


Paul merasakan kesakitan itu. Paul merasakan kesepian. Paul merasa kecewa. Paul merasa gelisah dan putus harapan. Paul juga dendam dan benci melihat kebahagiaan Aslan. Paul ingin melampiaskan kekesalannya tapi tidak bisa. 


Paul marah tapi tidak bisa menyalurkan kemarahan. Kini harta,  tas mewah, ketenaran dan semua barangnya tidak berarti.perusahaan yang diperjuangkan Tuan Alex untuknya pun tak dilirik Paul. Di tempat kerja Paul jadi bahan omongan karena kerja sesukanya.


"Sejak kapan kamu konsumsi barang ini? Kamu mau menghancurkan hidupmu?" omel Nyonya Jessi menemukan sebungkus ganja di laci Paul. 


Paul sudah satu bulan ini mengkonsumsi narkoba untuk mengatasi rasa marahnya. Paul tidak tahu harus berbuat apa, ditambah Paul hamil.


"Hidup Paul udah hancur Mam!" jawab Paul menangis. Paul menangis dengan tatapannya seperti orang gila, air matanya keluar tapi mimik wajahnya tertawa.


Nyonya Jessi memandang Paul dengan tatapan Iba. Nyonya Jessi kemudian ikut menangis. Nyonya Jessi melangkah maju dan merengkuh Paul masuk dalam pelukanya. 


"Satu bulan ini Mam!" jawab Paul jujur. 


"Apa ini karena Aslan?" tanya Nyonya Jessi. 


"Jangan salahkan dia Mam!" ucap Paul berfikir waras. 


Nyonya Jessi kemudian mengelus rambut Paul, wajah Paul dan lengan Paul. Nyonya Jessy memandangi dengan rasa sedihnya.


"Apa dia masih sama seperti dulu? Apa kamu begitu mencintainya?  Apa dia tetap tidak peduli padamu?" tanya Nyonya Jessi, meski Tuan Alex tak peduli,  tapi Nyonya Jesi tau perasaan anaknya.


Sebenarnya pertanyaan Nyonya Jessi retoris, tidak perlu jawaba. Kenyataa. Aslan sudah meninggalkan Paul dan menikah itu berarti jelas Aslan tidak bisa mencintai Paul.


"Iya Mam!" jawab Paul mengangguk.


"Lalu ini hasil test pek anak siapa?" tanya Nyonya Paul lagi menunjukan hasil pemeriksaan kehamilan Paul. 


Paul diam membeku. Katakan Aslan atau bukan, tapi bersama ibunya Paul seharusnya tidak berbohong. 


"Apa laki-laki yang ada di foto ini ayahnya?" tanya Nyonya Jessi mengambil foto dari laci Paul.


Mungkin karena ikatan batin ibu dan anak. Insting Nyonya Jessi membuka laci Paul tepat. Semua rahasia Paul tertangkap oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Nyonya Jessi lagi.


"Dia Nicholas Mam!" 


"Apa Aslan tahu hal ini?" 


"Tidak Mam!" 


"Kenapa dia menceraikanmu?" 


"Mami, Mami tau kan? Aslan memang tidak mencintaiku Mam!" jawab Paul kesal.


"Apa kamu akan meminta pertanggung jawaban darinya? Laki-laki seperti apa dia?" tanya Nyonya Jessi lagi mengangkat foto Nicholas


"Dia sudah beristri Mam!" jawab Paul menangis. 


"Oh my God. Paulina apa yang kamu lakukan? Jadi karena ini kamu membeli barang haram ini?" tanya Nyonya Jesi lagi memarahi Paul.


"Paul bingung Mam!" 


"Apa yang akan kau jelaskan pada Papi mu hah? Pikirkan kandunganmu! This is so dangereous!" tanya Nyonya Jesi lagi. 


"Paul tidak tahu Mam harus berbuat!" jawab Paul. 


"Papamu pulang karena akan mencalonkan diri menjadi Gubernur tiga tahun lagi, Papa akan menetap di sini. Apa yang akan terjadi jika sampai ada orang yang tahu kamu hamil dari suami orang?" tanya Ibu Jessy marah.


"Dheg" Paul menelan ludahnya.


Mendengar penuturan Ibu Jessy Paul tambah hancur. Paul kira ibunya akan memberikan solusi untuk Paul, tapi ternyata Ibu Jessy sama tamaknya. Bu Jessy bukan ingin melindungi Paul,  tapi justru menyalahkan Paul juga. 


Apalagi ini? Ayahnya kan sudah kaya raya,  untuk apa sudah tua mau mendaftar gubernur segala. Paul tercekat dan semakin tidak mengerti harus merespon apa. 


Pertanyaan Nyonya Jessy, air mata Jessy ternyata bukan untuk Paul. Pertanyaan Nyonya Jesy untuk kelangsungan karir suaminya. Nyonya Jessi masih tidak memikirkan kebahagiaan anak dan cucunya.


"Apa aku gugurkan saja anak ini Mam?" tanya Paul depresi.


Meski Nicho merayu Paul ingin memanfaatkan kandungannya untuk menghancurkan Aslan, tapi sebenarnya Paul sudah lelah bertengkar dengan Aslan. Badan Paul sudah sangat lemah,  Paul sudah stress dan depresi. 


"Berapa usia kandunganmu?" 


"10 minggu!" 


"Kita diskusikan dengan ayahmu" jawab Nyonya Jessy


"Bagaimana kalau ayah marah Mam!" tanya Paul takut. Tuan Alex kan sangat kejam. 


"Yang terpenting. Buang barang haram ini,  dan jangan sampai ayahmu tahu!" ucap   Nyonya Jesy ingin melindungi kesalahan fatal Paul yang bisa menyeretnya ke penjara. 


"Ya Mam!" jawab Paul. 

__ADS_1


Paul kemudian membawa barang haram itu ke kamar mandi, ijin ke Maminya untuk membuangnya. Saat di kamar Mandi,  Paul bukan membuangnya, tapi Paul menghisapnya. Paul sangat kecewa pada ibu dan ayahnya itu. 


__ADS_2