
Jeje mengedarkan pandanganya ke sekeliling. Angin berhembus kencang. Langit biru luas membentang menampakan kekuasaanya. Seharusnya itu menjadi tempat indah untuk merenung atau berkencan, sayanynya bagi Jeje menjadi tempat terkutuk.
Selain langit dan orang-orangan seram itu, di kata Jeje hanya terlihat gedung- gedung tingggi yang sejajar dengan lantai tempatnya dia berpijak sekarang. Pintu menuju rooftoop terkunci rapat dengan satu orang anak buah Aslan berdiri tegap menjaganya.
“Inikah akhir hidupku?” batin Jeje saat itu.
Aslan berdiri dengan gagahnya seakan dia yang paling tinggi. Aslan bertopang dengan kakinya, serasa hanya tinggal sejengkal lagi menyentuh langit.
“Ampuni saya Tuan! Tolong lepaskan saya!” ucap Jeje gemetaran menyadari suasana mulai mencekam.
Padahal seincipun Aslan belum menyentuhnya. Aslan tersenyum dengan penuh kasian menatap Jeje lalu melirik ke anak buahnya.
“Dia sudah minta ampun Lex, bagaimana ini? Apa kau akan melewatkan pekerjaanmu?” tanya Aslan santai pada salah satu anak buahnya yang berdiri seperti menantikan sesuatu. Pria itu berdiri tanpa ekspresi menatap Jeje.
“Tolong lepaskan saya Tuan! Maafkan saya!” ucap Jeje lagi memohon pasrah dengan kedua tanganya dicekal anak buah Aslan.
“Kamu berani menyentuh wanitaku? Siapa yang memberi ijin melakukanya? Hh!” tanya Aslan mendadak wajahnya dingin dan bengis mendekat dan menatap Jeje sangat dekat.
Ditatap seperti itu nyali Jeje semakin menciut. Aslan kemudian melirik ke anak buahnya. Aslan hanya menggerakan matanya. Kedua anak buah Aslan yang memegang Jeje langsung menyeretnya. Satu anak buah yang sedari menunggu mengambil bagianya.
Bogeman demi bogeman pun dia daratkan ke wajah Jeje yang baru saja selesai melakukan treatment perawatan wajah tempo hari. Sebagai vokalis band, Jeje memang sangat memperhatikan penampilan. Apalagi kharismanya sebagai play boy cap kadal harus dipertahankan.
Tidak membutuhkan waktu berjam- jam, wajah Jeje yang baru saja menghabiskan jutaan rupiah dalam perawatanya, kini berubah penuh lebam. Darah segar mengalir dari mulutnya, Jeje tersungkur tepat di depan sepatu mengkilat yang Aslan kenakan.
“Heh!” Aslan tersenyum kecil dengan mengulum lidahnya, telapak tanganya tersimpan rapi di saku celana mahalnya.
Aslan menatap penuh benci ke Jeje yang tergeletak tak berdaya di bawah teriknya matahari.
“Kau ingin tidur dengan istriku? Hah!” tanya Aslan dengan sangat tajam.
“Bug!” dengan geramnya Aslan menendang bagian inti tubuh Jeje yang berada di pangkal pahanya.
“Akh!” Jeje yang sudah tidak bertenaga hanya bisa menyeringai.
Jelas tergambar dari wajah Jeje yang penuh lebam itu sangat kesakitan. Entah, apa organ vital Jeje itu masih bisa digunakan atau tidak? Berapa lama mengobatinya. Aslan tidak fikirkan itu, bagi Aslan hal itu setimpal agar Jeje bisa lebih memakai otaknya menggunakan anugerah Tuhan itu.
“Rasakan apa yang seharusnya kamu rasakan, lancang sekali kamu menginginkanya. Langkahi dulu mayatku!” ucap Aslan lagi ke Jeje yang terkapar menahan sakit.
Sengatan matahari yang begitu terik tanpa penghaalang semakin membuat sempurna kesakitan Jeje. Dia seperti ikan asin yang siap kemas menunggu kering.
Aslan belum cukup sampai di situ. Saat melihat satu tangan Jeje teregeletak lemah, Aslan pun menginjaknya, tanpa ampun.
“Aaakh,” rintih Jeje lagi sangat lemah.
“Ini bayaran karena kamu, berani menyentuh istriku!” bisik Aslan pelan tapi tajam ke telinga Jeje.
Jeje tak mampu lagi berkata- kata, sekujur tubuhnya hanya bisa menahan sakit yang tak pernah dia terima sebelumnya.
Kesombonganya selama ini, saat jutaan kaum hawa memuja dan menyoraki kepiawaianya saat bermain di atas panggung, tak berguna dan menghilang. Untuk bernafas saja rasanya sangat sakit. Jeje hanya berharap dia masih bertahan dan bisa melihat indahnya dunia lagi.
Aslan kemudian mengkode anak buahnya untuk menyeret Jeje bangun. Anak buah Aslan patuh, mereka membawa Jeje ke tepian rooptoop.
“Buka matamu! Tikus!” ucap Aslan lagi.
“Ampun Tuan!” lirih Jeje sangat lemas berada dalam anak buah Aslan.
“Buka matamu!” ucap Aslan lagi memaksa sambil menendang kaki Jeje yang sangat lemah, untuk berdiri saja Jeje masih dibantu anak buah Aslan.
__ADS_1
Bukan Jeje tidak mau membuka mata, tapi kelopak matanya sudah bengkak dan kebiruan. Cahaya matahari begitu menyilaukan dan membuat tambah perih matanya. Tidak mau disiksa lebih banyak lagi, meski melawan perih, Jeje membuka matanya perlahan.
“Kamu liat apa yang ada di bawah sana, dan betapa tinggi gedung ini?” bisik Aslan ingin memberitahu Jeje.
“Sampah sepertimu, sama rendahnya dengan sesuatu yang ada di bawa sana, jangan bermimpi kamu berani menyentuh istriku! Mengerti!”
“Am... pun... Tu... an!” ucap Jeje sangat lemah.
“Kamu tahu apa yang akan terjadi denganmu jika sekarang kulempar kau ke sana?” tanya Aslan lagi mengeluarkan sisi terseramnya.
Sambil menahan sakit dan kengerian yang luar biasa, Jeje menelan ludahnya getir. Saking takut dan menyesalnya, Jeje mengeluarkan air matanya.
Jeje dipastikan akan meninggal, saat anak buah Aslan melepaskan tanganya.
Aslan pun tersenyum mengejek melihat Jeje menangis ketakutan dan memohon ampun.
“Karena kau yang membuat istriku menemuiku, aku mengampunimu dan membuatmu tetap hidup kali ini! Sekali saja kau berani menatap dan mendekati istriku, habis kau!” bisik Aslan untuk yang terakhir kalinya.
Aslan kemudian mengambil ponsel Jeje yang terjatuh saat Jeje dipukuli.
“Urus dia!” ucap Aslan ke anak buahnya.
Sekejam- kejamnya Aslan, sebagai manusia yang beragama dan berhati nurani Aslan masih mempunyai belas kasihan. Aslan meminta anak buahnya mengurus Jeje agar tak ada orang lain yang tahu dan tetap mempertahankan bahkan membantu Jeje tetap hidup.
Aslan hanya ingin memperkenalkan diri pada Jeje, agar Jeje tau siapa Aslan. Aslan kemudian berlenggang pergi meninggalkan atap gedung itu.
Sesuai janjinya pada perempuan yang kini memegang tahta di hidupnya. Aslan tidak menyentuh dan mengotori tanganya sedikitpun, untuk menyentuh Jeje.
Aslan melesat dengan mobil mewahnya tanpa sopir. Aslan menemui pengacaranya. Setelah itu melanjutkan pekerjaanya dengan menghadiri beberapa agenda penting. Aslan kini sudah menyepakati beberapa kontrak kerja meski bangunan kantornya belum berdiri sepenuhnya.
*****
Hari ini Tuan Alex berpidato dengan sangat apik mengeluarkan kata- katan indah dan menebar racun pada setiap orang yang mendengarnya. Tuan Alex memaparkan beberapa visi misinya pada rekan- rekan partai yang hendak mengusung namanya menjadi calon gubernur.
Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi aula kantor pusat sebuah partai besar di negaranya itu mengiringi Tuan Alex mengucapkan salam penutupnya. Saat dia berjalan menuju tempat duduknya senyum kekaguman pun terlempar dari banyak koleganya.
Tuan Alex pun membalasnya dengan senyum keangkuhan. Senyum itu terlempar mengerikan dari wajah tuanya yang penuh duri dan mengenang banyak darah yang tumpah karenanya.
“Papa hebat! Pidato Papa sangat keren,” bisik Nyonya Jessy menyambut suaminya duduk kembali.
Tuan Alex kemudian duduk tegap di kursi dengan kegagahan yang masih tersisa.
“Papa yakin, Papa akan terpilih Mah!” bisiknya percaya diri.
Bu Jessy pun mengelus tangan suaminya bangga, mereka kembali duduk mendengarkan acara musyarawarah besar partai yang menaungi Tuan Alex tersebut.
Setelah beberapa waktu berlalu, acara tiba di penghujungya. Wartawan yang awalnya hanya menyoroti Tuan Alex dalam pidatonya, kini pun memburu Tuan Alex dengan niat yang berbeda. Mereka kini mengulik tentang rumah tangga anaknya.
Tuan Alex yang sedang mencari popularitas tidak menyiakam kesempatan itu. Dia menyambut ramah para awak media yang mengelilinginya. Tentu saja Tuan Alex kembali menebar racun lewat mulut busuknya.
“Saya percaya, Tuhan tidak tidur. Sebagai seorang ayah, tentu saya sangat sakit mengetahu putri semata wayang disakiti oleh pria yang saya percayai. Saya merelakan putri saya jatuh ke tanganya dulu untuk disayangi bukan disakiti. Saya juga yang menyuruh putri saya untuk melepasnya. Biar saya saja yang urus putri dan cucu saya sekarang, saya tidak butuh pria seperti dia lagi, biarkan saja!”
Tuan Alex berbicara lantang di depan awak media, menunjukan betapa bertanggung jawab dan sayangnya dia terhadap putri dan cucunya sehingga membuat semua orang memojokan Aslan dan Kia.
Padahal selama ini Tuan Alex tinggal di luar negeri. Alena saja tidak pernah digendongnya. Wartawan pun terus mengejarnya dengan berbagai pertanyaan.
“Sudah ya, saya masih banyak agenda. Doakan ya, doakan saja yang terbaik untuk putri dan cucu saya. Terima kasih – terima kasih!” ucap Tuan Alex sok jual mahal tidak mau diwawancarai lagi.
__ADS_1
******
Di rumah Ipang.
“Hiks hiks....”
“Sabar Kia...”
“Sabar Non!”
Kia yang baru saja menyambut kedatangan Fatimah dan Radit menangis sesenggukan. Niat Kia mengajak sahabatnya yang baru tiba itu beristirahat di ruang tengah. Kia menggelar karpet tebal dan lembut.
Mereka hendak menyatap es buah dan camilan lezat yang Mbok Mina hidangkan. Mereka berselonjor kaki dan menyandar punggungnya ke sofa, bersantai, bercengkerama dan menonton televisi.
Semua niat Kia hilang. Semua hancur lebur, tivi yang seharusnya menjadi teman bersantai siang itu menjadi benda iblis yang ingin Kia hancurkan. Bisa- bisanya ada yang mau meliput manusia berperut buncit dan penuh tipu muslihat itu.
Mendengar penuturan Paul di media apalagi, Kia menggenggam tanganya. Seharusnya dari kemarin – kemarin dia cabik- cabik saja mulut si Paul itu. Paul benar - benar perempuan berbisa.
Mbok Mina dan Mbok Narti pun hanya bisa memberikan tissu ke Kia. Mbok Mina Sang Saksi kunci pembuka topeng Paul ikut mengepalkan tangan meremas tissu. Dia pantas diberi piala citra karena keahlianya berakting, sayang salah tempat.
“Kia tahu Mbok, jauh sebelum Bang Aslan mengenali Kia, hari ini pasti akan tiba!” ucap Kia membuka mulut setelah banyak menghabiskan tissu.
Jauh- jauh hari sebelum memutuskan untuk menerima kehadiran Aslan, Kia memang sudah memikirkan konsekuensinya. Kia memang bisa menebak, julukan pelakor akan melekat di dirinya, seperti apapun kenyataan rumah tangga Aslan.
Tapi tetap saja, kata orang fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kia tetap sakit saat tuduhan jahat dari segala penjuru tertuju padanya.
Kia tetap merasa tertekan dan terkoyak batinya. Meski nanti Kia akan bangkit melawanya, tetap ada sesak yang menerpa dan memenuhi dadanya. Kia tidak sejahat dan sekeji yang Paul tuduhkan.
Bahkan Kia hidup bertahun- tahun seorang diri tanpa ingin tahu siapa ayah dari bayinya. Kia hidup sendiri menopang hidup dan menelan semua kepedihanya. Tidak sedikitpun Kia mengiba cinta, apalagi harta dari suami orang.
Kia bersusah payah lari dan menghindar dari Aslan. Aslan lah yang memang mengejarnya karena memang Kia berhak mendapatkanya. Itupun dengan pengorbanan besar yang diperjuangkan keduanya.
“Kamu harus lawan Kia!” tutur Fatimah menasehati.
Kia menatap Mbok Mina dengan tatapan nanarnya, kemudian Kia menatap Fatimah lagi. Kia mengusap air matanya ingin bangun.
“Ipang Fat. Bagaimana dengan dia. Aku harus temui Ipang sekarang, aku harus jemput dia. Ipang harus segera pulang, Ipang nggak boleh denger ini! Apa yang akan orang lakukan ke Ipang!” jawab Kia gusar denagn tatapan kacaunya. Kia kembali meneteskan air mata beningnya.
Mbok Mina dan Fatimah pun langsung meraih bahu Kia dan menenangkanya.
“Sabar Kia... kita telpon suamimu dulu ya!”
“Ipang nggak boleh denger ini, Gimana kalau orang bully Ipang? Aku harus jemput Ipang, ayo jemput Ipang!” rengek Kia hilang kenddali.
“Kia!” Fatimah langsung merengkuh tubuh Kia.
Fatimah tau Kia hilang kendali mengetahui dirinya menjadi buah bibir di jagad maya. Posisi Ipang berada sekarang juga sangat rentan terhadap perundungan dan pujian. Ipang bisa langsung terbang berada di puncak dan disanjung. Ipang juga bisa dijatuhkan dalam sekejap dengan penuh cacian.
Kia mencemaskan Ipang lebih dari apapun.
****
Mau tanya Kak. Masih sayang Ipang kaan?
Pengen tamat atau sampai happy semua?
hehehe
__ADS_1
maafkan ya kelemahan othor belum bisa bikin cerita padat