
Meski sudah bukan CEO anak buah Aslan masih setia terhadap Aslan. Pagi-pagi pengacara Aslan dan sopirnya sudah patuh mengambilkan mobil Kia yang terparkir di apartemen Rendra.
Cyntia yang sekarang tinggal di apartemen Kia pun melihatnya. Cyntia hafal betul itu mobil Kia, plat nomer dan warnanya. Secara, Cyntia kan yang make pertama kali ngajarin Kia.
"Wait, itu kan mobil Kia, siapa yang bawa?" gumam Cyntia gusar.
"Waaah bahaya, jangan-jangan itu pencuri. Tapi kenapa mobil Kia ada di sini?"
"Apa Kia ke Rendra, laki-laki songong itu kan asisten lakinya Kia. Apa Kia ke sini. Waah gawat. Aku harus bilang ini!" batin Cyntia panik dikira sopir Aslan itu pencuri.
Masih dengan pakaian tidur yang seksi, karena Cyntia hanya memakai piyama lengan pendek dengan setelan celana di atas lutus bermotiv buah strobery dengar warna dasar abu. Paduan warna yang pas untuk kulit mulus Cyntia. Cyntia keluar apartemen berlari dengan terburu-buru.
"Bug"
Saat membuka pintu apartemen dan belari, Cyntia menabrak Rendra. Rendra yang tidak siap terhuyung jatuh, sehingga tubuh mereka berhimpitan. Bukan hanya berhimpitan, Rendra bisa merasakan dirinya ditimpa dua benda besar di dadanya yang sekarang sudah terbungkus rapi dengan kemeja dan Jas.
Rendra hari ini mewakili Aslan menemui pihak kontraktor yang akan membangun kantor dan pabrik Aslan. Rendra juga sudah wangi, sementara Cyntia baru bangun belum sempat sikat gigi.
"Dheg"
Mereka berdua terdiam sejenak. Mendadak Cyntia merasakan debaran panas di dadanya, mereka berdua juga sama-sama bisa merasakan de*ahan nafas masing.
"Ehm!" sory ucap Cyntia segera bangun.
Cyntia bisa merasakan ada sesuatu yang tadinya kecil tiba-tiba terasa bergerak membesar di bawah sana.
"Kalau jalan pakai mata! Ouh... S*it!" ucap Rendra kesal.
"Sory. Please ini gawat. Lo harus bantu gue!" tutur Cyntia tergugup pas ingat tujuan dia berlari.
Rendra yang berusaha bangun dan mengelus pinggang karena merasa pegal memandang heran ke Cyntia. "Kenapa harus bantu? Segawat apa?" batin Rendra dalam hati, enggan tapi penasaran.
"Ayo buruan keburu mereka pergi! Bahaya!" ucap Cyntia spontan menarik tangan Rendra.
Rendra tidak menjawab dan menatap Cyntia dingin tapi tidak menolak juga. Rendra kemudian ikut Cyntia ke lift. Mereka berdua berada di lift berdua.
Rendra diam seribu bahasa tidak melihat Cyntia. Bahkan bertanya ada apa, tidak. Hanya ikut Cyntia saja.
Saat terdiam, Cyntia kemudian tersadar. Kalau Kia atau Aslan menemui Rendra harusnya kan Rendra bersama mereka. Kenapa Rendra sendirian.
"Ehm!" Cyntia berdehem berusaha menarik perhatian Rendra agar menoleh ke arahnya.
Tapi Rendra tetap diam. Cyntia kemudian nekat tanya.
"Apa Kia dan Aslan pagi ini ke sini?" tanya Cyntia
"Tidak!" jawab Rendra dingin
"Benarkah?" tanya Cyntia lagi.
"Ya!"
"Kenapa mobil Kia ada di depan? Ada yang mencuri mobil Kia, pasti sekarang sudah kabur, tolong hubungi security secepatnya! Jangan sampai mobil Kia dibawa!" tutur Cyntia menggebu-gebu.
"What!" tanya Rendra tersentak.
"Iya aku lihat dari jendela ada dua orang berusaha buka mobil Kia dan masuk ke dalamnya! Aku yakin itu mobil Kia. Kita harus cegah maling itu!" ucap Cyntia lagi mempertegas.
"Haish!" Rendra malah mendesis dan menatap Cyntia dengan senyum mengejek. Bahkan Rendra menggelengkan kepala.
"Wuooh!" Cyntia sendiri merasa kesal ke ekspresi Rendra.
__ADS_1
Rendra tidak memperdulikan ekspresi Cyntia dan memencet tombol lift balik ke lantai apartemen mereka.
"Heii.. apa maksudmu balik ke apartemen, kita tinggal keluar. Ini harus segera dilaporkan!" ucap Cyntia geram.
"Jadi kamu menabrakku dan menyeretku ke sini hanya untuk mengurusi hal konyol begini?" tanya Rendra emosi.
"Konyol? Wah. Sekertaris dan saudara macam apa kamu ini? Mobil istri saudaramu mau dibawa orang, dan kau diam saja?" seru Cyntia lagi semakin kesal ke Rendra.
"Mereka sopir Aslan. Dia Pak Heri. Aslan yang menyuruhnya mengantar mobil ke rumahnya. Paham?" ucap Rendra memberi tahu dengan muka datarnya.
Gleg.
Cyntia menelan ludahnya dan menunduk memanyunkan bibirnya. Sekilas Rendra menatap Cyntia, Cyntia tampak lebih muda jika tidak memakai make up, jika sedang manyun begitu Cyntia juga tampak polos dan manis.
"Tidak bisa dipercaya, buang waktu saja!" gerutu Rendra kemudian mengalihkan pandangan dari Cyntia.
"I am sorry, i don't know about it! Lagian kamu nggak tanya dan kasih tau aku!" jawab Cyntia lagi membela diri.
Mereka kembali saling diam dan memandang ke arah berlawanan lagi.
Tidak lama lift sampai di lantai apartemen mereka. Mereka pun keluar sama-sama keluar tanpa kata. Berjalan ke apartemen masing-masing.
****
Di rumah mewah bergaya modern yang diliputi kebahagiaan itu para penghuninya sibuk sendiri-sendiri. Danu yang tidak jadi pulang karena kemarin hujan, dan Aslan membatalkan anak buahnya mengantar pagi ini sudah siap pulang.
"Ranti mah masih betah di sini, A'. Rafli juga terlihat bahagia bareng Pangeran. Siapa tahu kan nanti Rafli ketularan Pangeran. Kamu kan kakaknya, bilang lah kita tinggal di sini saja!" ucap Ranti masih terus tidak tahu diri.
"Kita pulang sekarang titik. Aa malu pada suami Kia dan Kia!" jawab Danu menolak tegas.
"Hhhh, pengen ngrasain jadi orang kaya juga, susa amat!" gerutu Ranti.
"Pangeran akan kembali ke karantina. Rafli harus berobat, aku juga harus bekerja, kita tidak bisa di sini terus!" ucap Danu lagi.
"Kemasi barang kita. Ayo kita pamit!" jawab Danu .
"Eh A' kenapa Aa nggak minta pekerjaan ke suami Kia?" ucap Ranti lagi masih kekeh dengan keinginanya.
"Ranti!" bentak Danu ke Ranti merasa keterlaluan.
"Hemm yaa!" jawab Ranti manyun, kalau Danu membentak Ranti menciut. "Aku akan tetap usaha. Liat aja nanti!" batin Ranti dalam mulut manyunya masih tidak menyerah. Entah terbuat dari apa hatinya, Ranti tidak tahu malu.
Danu kemudian menggendong anaknya dan menyeret tas nya keluar kamar.
****
Di kamar Ipang, Ipang dan Daffa sudah siap dengan bantuan Mbak Narti. Awalnya Ipang merasa risih dilayani selain ibunya. Tapi semenjak tinggal di karantina Ipang mulai mengerti. Mbak Narti pun membantu Ipang menyisir rambutnya.
"Kalau orang sudah menikah, tidak urusin anaknya lagi ya Mbak?" tanya Ipang lirih ke Mbak Narti.
Jika orang lain menikah dulu, mengurus suami mempunyai anak, setelah itu fokus mengurus anak. Sementara Kia, punya anak dulu baru punya suami. Jadi kini anaknya yang merasa aneh karena ibunya berbeda. Meksipun Aslan ayah kandung Ipang, tapi Ipang tetap belum terbiasa dan butuh adaptasi.
"Ehm.... "
Mbak Narti jadi bingung sendiri. Mbak Narti mencoba mengerti maksud dan perasaan Ipang. Ipang merasa diacuhkan dan kehilangan perhatian ibunya.
"Bukan begitu Den! Ibu Den Pangeran bukan nggak urusin Den Pangeran lagi!" jawab Mbak Narti pelan
"Nyatanya, ibu nggak mandiin Ipang lagi, Ibu juga nggak pilihin baju Ipang dan sisirin rambut Ipang malah suruh Mbak Narti!" jawab Pangeran mengeluarkan kecemburuanya.
Mbak Narti menghela nafasnya menatap Ipang penuh perhatian.
__ADS_1
"Kan sekarang ada ayah, Tuan Aslan ayahnya Den Pangeran juga kan? Ibu Den Pangeran sekarang selain urusin diri sendiri juga sebagai istri, berkewajiban menyiapkan keperluan ayah Den Pangeran. Ibu den Pangeran kan tanganya cuma dua tubuhnya cuma satu. Kalau harus urus semuanya nggak bisa, jadi bagi tugas dengan Mbak Narti"
"Ayah kan sudah besar, kenapa harus diurusi ibu?" jawab Ipang lagi.
Mbak Narti semakin pusing dengan pertanyaan Ipang.
"Justru karena ayah Den Pangeran sudah besar dan dewasa, yang harus dipersiapkan untuk bekerja itu buanyak, susah lagi. Makanya harus dibantu ibu. Kalau Den Pangeran kan masih kecil, tinggal mandi dan siap-siap pakai baju. Den Pangeran bisa sendiri. Jadi Mbak Narti tinggal bantu dikit. Makanya ibu nggak bantu Den Pangeran lagi!" jawab Mbok Narti menemukan ide menjelaskan ke Ipang.
"Oh gitu?" tanya Ipang mengerti.
"Iya! Ibu Den Pangeran masih perhatin kok ke Den Pangeran." jawab Mbak Narti lagi.
Ipang mengangguk mengerti. Ipang kemudian mendekat ke Daffa yang sedang asik video callan dengan Daddy dan Mommynya.
****
Di kamar Aslan.
Kia yang mandi terakhir keluar dengan handuk kimononya, rambutnya yang basah karena dikeramas digulungnya dengan handuk. Leher Kia yang putih dan dada yang mulus tertangkap mata telajang Aslan. Sangat menyegarkan dan membuat Aslan semangat meski semalam kurang tidur.
Kia menuju ke meja riasnya, melepas gulungan handuk di kepalanya dan mencari hair dryer. Aslan yang sudah mengenakan kemeja dan wangi karena mandi duluan tidak menyiakan kesempatan. Aslan berjalan maju mendekati Kia.
Dengan cepat, dari belakang Kia, Aslan mengajak kedua tanganya menyusuri bahu Kia, kemudian ke bawah dan melingkarkan tanganya ke pinggul dan perut Kia. Tidak lupa Aslan memberikan kecupan-kecupan kecil dan basah ke bahu Kia.
"Wangi banget sih istri Abang?" bisik Aslan ke Kia.
"Ehm... " Kia berusaha melonggarkan pelukan suaminya karena kegelian.
"Kia mau keringin rambut. Ini udah siang lho Bang, kasian Daffa kalau sekolahnya telat, lepas dulu ya!" jawab Kia pelan berusaha melepas pelukan suaminya.
"Abang cuma pengen peluk istri sebentar masa nggak boleh?" jawab Aslan menolak melepaskan pelukanya.
"Bukan nggak boleh Bang, waktunya nggak pas. Kia kan harus antar Daffa, antar Ipang juga. Oh iya mobilnya gimana Bang?" jawab Kia tiba-tiba ingat mobilnya ditinggal di apartemen Rendra.
"Bentar lagi nyampe!" jawab Aslan santai.
"Oh iya? Rendra yang bawa?"
"Bukan!"
"Terus?"
"Sopir Abang!"
"Abang punya sopir?" tanya Kia heran.
"Punyalah. Kenapa emangnya?"
"Abang kan katanya sekarang udah nggak kerja. Ingat Bang, kita mau usaha dari Nol. Uangnya diirit- irit. Mau bayar sopir pakai apa nanti? Nggak usah pakai sopirlah!" tutur Kia polos mengira Aslan beneran sudah miskin.
Mendengar perkataan Kia Aslan tersenyum. Tidak berkata- kata, Aslan meraih dagu Kia. Tidak menunggu ijin dan persetujuan, Aslan mendaratkan bibirnya ke bibir Kia. Dikecupnya hangat, berlanjut menjadi ciuman lama dan dalam, menyatukan nafas dalam pagutan kasih. Saling mencium dan menggigit.
"Ibu, Ayah, Ipang sudah siap. Ayo sarapan!" panggilan Ipang kemudian menghentikan aktivitas mereka.
Kia segera melepaskan tangan dan bibirnya, mengatur nafasnya.
"Abang nggak semiskin itu Sayang." bisik Aslan ke Kia yang tampak mengusap bibirnya dan bernafas tersengal.
Aslan kemudian menjawab panggilan anaknya.
"Ya, Nak!" jawab Aslan sambil berjalan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Sementara Kia melanjutkan mengeringkan rambutnya dan berdandan.