
****
Rumah Besar Aslan.
Dunia memang terbalik, di pinggiran kota bahkan di kolong- kolong jembatan banyak orang berdesakan mencari tempat tinggal.
Banyak orang juag berjuang berhutang susah payah agar punya rumah. Kadang dalam satu rumah reot berisi lebih dari satu Kk. Tidur dilantai dalam satu tikar bersamaan.
Berbeda dengan rumah orang kaya. Rumah besar dua lantai dengan banyak kamar dan halaman itu tampak sepi. Bahkan pemiliknya hampir tidak pernah beraktivitas di dalam rumah itu.
Rumah yang begitu besar dan mewah itu lebih mirip seperti rest area. Tempat mereka numpang mandi dan istirahat sebentar.
"Aslan kemana Bi?" tanya Paul ke Bu Mina, Paul baru pulang di jam 6 pagi seperti biasanya.
"Semalam Tuan tidak pulang Nyonya" jawab Bu Mina seperlunya.
"Kemana dia?" tanya Paul penasaran.
"Saya kurang tau, Nyonya, mungkin Nyonya bisa hubungi nomer ponselnya atau sekertarisnya" jawab Bu Mina memeberi saran.
"Hemmm" Paul hanya diam.
Kemudian Paul duduk di meja makan. Wajahnya tampak panik, kontrak sineteron Paul sudah habis malam ini. Paul tau Aslan sedang merilis drama series bertemakan ibu dan anak dari naskah Kia.
Paul berharap dirinya bisa dapatkan kontrak itu. Meski dia istri Aslan, Paul tetap ingin selalu eksis.
Paul berniat mengambil hati Aslan. Dan harus baik- baik dengan Aslan dan Satya. Karena sutradara yang menggarapnya adalah Satya.
"Bagaimana caranya aku bisa dapatkan peran utama?" gumam Paul berfikir.
"Gue nggak mau karatan dan jamuran di rumah ini"
Tiba- tiba ponsel Paul berdering. Paul menyunggingkan senyum dan mengangkatnya.
"Halo Honey" sapa Paul meninggalkan ruang makan.
"Halo, Baby, hari ini casting untuk pemilihan pemeran utama"
"Oh iya?" tanya Paul antusias.
"Kemon Baby, aku ingin punya banyak waktu denganmu. Kamu harus dapatkan peran ini bersamaku" ucap seseorang di balik telepon.
"Oke, gue akan segera ke situ" jawab Paul menutup telepon
Meski baru pulang, Paul segera mandi dan hendak pergi lagi. Bu Mina hanya geleng- geleng kepala melihatnya.
"Kasian Tuan Aslan. Kenapa mereka tidak cerai saja? Ya Tuhan, semoga Tuan Aslan segera menemukan jodoh yang baik untuknya" gumam Bu Mina memandang iba ke foto pernikahan Aslan dan Paul.
****
Dengan mata telanjang dan kesadaran penuh, Radit dan Fatimah melihat Aslan dan Ipang saling memeluk. Merak tampak sangat dekat, entah sejak kapan mereka berkenalan. Tapi mereka memang seperti ayah dan anak.
Radit langsung lemas, harapanya pupus, cinta yang dipendam bertahun- tahun tidak kunjung mendapat signal. Kuncinya ada di Ipang, dan Ipang dipegang orang lain.
"Pantas bocah nakal itu mengerjaiku, ternyata aku punya saingan" gumam Radit dalam hati nyalinya menciut.
Sementara Fatimah tersenyum lega dan terharu. Kini Kia bukan sainganya lagi. Fatimah juga bahagia ayah Ipang terlihat mapan dan tampan. Fatimah kemudian memilih pergi dan tidak mau ikut campur dulu.
Aslan dan Ipang bangun dan duduk di bangku. Sekarang saatnya Aslan memulai rencananya, mengerjai Kia.
"Sudah jangan menangis My Boy. Ada ayah di sini. Apa kau sudah siap untuk ikut Ayah?" tanya Aslan sedikit keras menyiratkan pemberitahuan ancaman untuk Kia kalau Ipang akan dia bawa.
"Sudah Ayah, Ipang sudah berkemas" jawab Ipang bahagia.
"Bagus, mulai sekarang, ayah pastikan kalau Ipang akan tetap bersama ayah. Dont cry my Boy. Ok" ucap Aslan lagi memberikan tanganya untuk bertos ria ala laki-laki.
"Ok, Ayah" jawab Ipang.
Mendengarnya Kia langsung naik pitam. Matanta penuh kebencian. Kia benar- benar merasa disingkirkan.
"Ipang apa yang kamu katakan? Ipang mau tinggalin ibu?" tanya Kia penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Nyonya Kia silahkan duduk" ucap Aslan bernada pelan dingin dan sok jual mahal. Padahal dalam hatinya Aslan sangat gemas dan ingin melahap Kia hidup-hidup.
Sementara Ipang duduk tenang mendengarkan ayah dan ibunya itu berseteru.
"Hah. Kau menyuruhku duduk? Ingat ya! Ini rumah saya. Seharusnya saya yang berhak mengatur siapa yang duduk!" omel Kia ke Aslan merasa Aslan semena- mena dan semaunya mentang- mentang dekat Ipang.
"Haduh, susah sekali ya berbicara pada orang yang bodoh dan ceroboh" jawab Aslan mengejek.
"Woaah. Kau mengataiku? Dasar Singa Gila!" ucap Kia gemash balas menghina tidak peduli ada Ipang di depanya.
Ipang masih tetap cool mendengarkan.
"Attitude mu benar- benar buruk Nyonya Kia. Kau tidak lihat anakmu menangis tersedu- sedu begini? Bagaimana kau akan memberi contoh yang baik pada anakmu? Bahkan kau mengataiku? Hah. Begini caramu mengajarkan anakmu menerima tamu?" ucap Aslan lagi semakin memancing emosi Kia.
"Issshh kau pandai sekali memutar balikan fakta. Saya lebih tau bagaimana mendidik anak saya" jawab Kia emosi.
"Benarkah?" tanya Aslan meledek.
"Ipang masuk ke kamar!" ucap Kia emosi malu bertengkar di depan Ipang.
"Biarkan Ipang di sini" ucap Aslan.
"Aku mau sama Ayah Bu" sela Ipang memeluk tangan Aslan dan berpindah ke pangkuanya.
Kia hanya menatap getir pemandangan di depanya. Dirinya diacuhkan oleh anak yang sembilan bulan dikandungnya dan 6 tahun dibesarkanya.
"Apa maksud anda datang ke sini? Apa mau anda?" tanya Kia geram.
"Tentu saja aku ingin menjemput anakku, aku tidak mau dia dibesarkan ibu yang ceroboh dan bodoh" jawab Aslan lagi menyindir.
"Jemput? Anda pikir anda siapa? Tidak ada bukti kalau dia anakmu. Dia anakku dan hanya aku yang tahu siapa ayahnya" jawab Kia lagi.
"Ck ck. Baiklah, besok kita buktikan dengan tes DNA" jawab Aslan tenang sangat yakin Ipang anaknya.
"Tetap saja. Aku tidak akan biarkan dia kamu bawa"
"Nyonya Kia. Kau urus saja masalahmu, bukankah polisi sudah sampaikan surat itu, biarkan Ipang bersamaku" ucap Aslan lagi dengan tatapan smirk dan kemenangan ke Kia.
"Oke lakukan kalau bisa. Mau kutunjukan apa kesalahan anda Nyonya Kia?"
"Aku tidak beralah"
"Rendraa." Aslan memanggil seketarisnya di luar.
Rendra dengan wajah lemasnya karena bayangan fortunernya sepertinya akan sirna masuk.
"Iya Tuan" jawab Rendra patuh.
"Tunjukan mana surat perjanjian kontraknya" perintah Aslan ke Rendra.
"Baik Tuan" jawab Rendra lalu masuk mengambil berkas. Rendra berjalan dengan lemas, satu minggu ke depan dia akan sibuk dengan jadwal meeting yang padat.
"Semoga Nyonya Kia menolak Aslan" begitu pikiran jahatnya. Ya meski untuk hari ini saja. Karena Rendra juga ingin Aslan bahagia.
"Gleg"
Kia langsung pucat saat Rendra menyerahkan surat perjanjian kerjanya. Sesungguhnya Kia tidak tahu apa isi kontrak yang dia tanda tangani.
"Ini Tuan" ucap Rendra.
"Nyonya Kia, apa ini tanda tangan Anda?" tutur Aslan menyodorkan tanda tangan Kia dan bubuhan materai.
"Ehm!" Kia berdehem malu.
"Ini materai 10 ribu, anda tau apa artinya?" tanya Aslan lagi. Tapi Kia tidak bergeming.
"Tolong anda bacakan dengan keras apa yang sudah anda setujui dan tanda tangani" ucap Aslan lagi menyerahkan bagian penting yang harus Kia baca.
Di situ tertulis, jika pihak kedua (Pekerja) mengingkari kontrak kerja sebelum waktunya harus membayar denda 5 M. Atau bersedia dilaporkan ke pihak yang berwajib.
Mata Kia langsung membulat sempurna. Mulutnya tercekat, merutuki kebodohanya dirinya sendiri. Kenapa Kia tidak membaca point penting itum
__ADS_1
"Hah, ini kontrak macam ini. Ini gila, aku tidak terima" ucap Kia emosi tidak membaca keras tapi dalam hati langsung melempar ke meja.
"Ck. Kenapa anda baru protes? Anda sudah menandatanganinya?" jawab Aslan ingin tertawa tapi ditahan di dalam hati.
"Nggak, saya nggak terima.. Ini gila" jawab Kia lagi.
"Ck. ck. Sudah kukatakan, anda sudah menandatanganinya Nyonya Kia. Apa anda lupa? Apa perlu saya panggilkn Bu Rosa juga" tutur Aslan lagi semakin menang.
Kia diam menahan malu di depan anak dan laki- laki yang menitipkan benih padanya itu. Karena kepalang malu dan emosi, Kia mengambil surat itu dan merobeknya di depan Aslan.
"Liat Tuan Aslan. Surat perjanjianya sudah hangus nggak ada. Saya menyesal menandatanganinya. Semua batal. Nggak ada tuntutan pinalti gila ini?" ucap Kia kasar.
Ipang hanya melongo melihat ibunya marah-marah terus. Tapi Ipang paham apa permasalahanya.
"Haduuh Bu Kia. Ibunya Ipang yang cantik. Surat perjanjianya kan ada dua. Itu sudah masuk ke kantor polisi. Saya kesini berniat baik. Saya bisa cabut tuntutan saya. Mari kita berdamai. Silahlan bekerja dengan nyaman di kantor saya. Dan anda tidak kehilangan putra anda" ledek Aslan lagi memberi penawaran.
"Tidak sudi! Aku tidak mau bekerja ke kantor anda lagi" jawab Kia dengan muka cemberut merasa terjebak dengan perjanjian menyebalkan.
"Oke. Kalau begitu silahkah urus dengan polisi masalah ini dan biarkan Ipang bersamaku" ancam Aslan lagi sambil mengelus kepala Ipang.
"Tidak akan, aku akan membayar dendanya?" jawab Kia menantangm
"Kamu yakin?"
"Tentu saja aku yakin. Sangat yakin sekali"
"Apa anda sudah membacanya dengan baik berapa nominal uang harus anda bayar?"
"Ehm, aku bisa membayarnya liat saja".
"Oke baiklah" jawab Aslan manggut manggut taoi ekspresinya mengejek
"Akan aku buktikan! Aku tidak bersalah" ucap Kia lagi.
"Ipang, apa ibumu ini sangat kaya?" bisik Aslan ke Ipang berniat menyindir Kia.
"Tidak?" jawab Ipang jujur.
"Apa uang ibumu sangat banyak?"
"Tidak juga. Ibu membeli rumah dengan uang tabungan Ipang, ibu saja menabung membeli mobil belum kebeli" jawab Ipang polos
"Ipaang" tegur Kia malu.
"Ck. ck. Anakmu ingin punya mobil, Nyonya Kia. Sudahlah. Sebagai ibu yang baik, turunkan egomu, ikutlah denganku" rayu Aslan tersenyum menang menatap.
"Saya tidak menyangka anda benar-benar picik Tuan Aslan" ucap Kia mengatai Aslan.
"Ibu, Ayah benar. Sebentar lagi perform Ipang yang pertama. Ayo kita ke Ibukota lagi Bu" sela Ipang tiba-tiba.
"Dengarkan putramu Nyonya Kia. Dia ingin mengejar mimpinya. Sungguh saya tidak menyangka anda ibu yang sangat buruk" sindir Aslan lagi membercandai Kia yang semakin tersudut.
Kia sendiri seperti ingin menenggelamkan wajahnya ke tembok. Dia kehabisn kata-kata. Rasanya hanya sangat kesal dan ingin mencakar-cakar wajah pria di depanya itu.
"Ayo Bu kita berangkat saja. Ibu tidak jadi dipenjara kok. Iya kan Yah?" ajak Ipang lagi.
"Terserah ibumu saja. Kalau dia mau berngkat bareng kita ayo. Kalau nggak biarkan saja" jawab Aslan memancing Kia.
"Ibu, ayo berangkat saja!" ucap Ipang lagi.
"Bagaimana Bu Kia? Saya beri waktu sampai dzuhur ya. Silahkan dipikirkan. Kalau anda berubah pikiran saya akan cabut tuntutan saya. Jika tidak silahkan sewa pengacara untuk membantu anda. Dan biarkan Ipang bersamaku, oke? Ipang"
"Iya Ayah"
"Kaki dan tubuh ayah sakit sekali. Boleh ayah pinjam kamarmu untuk istirahat?"
"Tentu saja, ayo Ayah"
Ipang kemudian mengajal Aslan masuk ke kamarnya. Aslan berjalan dengan penuh kemenangan dan Kia terdiam. Menahan gemasnya sendiri tidak bisa berkutik.
Rendra dan sopir menunggu di mobil menikmati musik.
__ADS_1