Sang Pangeran

Sang Pangeran
172. Penangkapan Polisi.


__ADS_3

Malam itu, di depan gedung yang megah dan berdiri kokoh dengan lampu kemerlapan yang menjelaskan kegagahanya, manusia berlalulalang memenuhi parkiran stadion ITV. Mereka berbondong- bondong ingin menikmati hiburan final Bintang Kecil. 


Selain penampilan apik dari Pangeran dan Alena, tentu saja akan ada banyak bintang tamu dari penyanyi papan atas yang ikut memeriahkan. Dengar- dengar, Tim Kreatif Satya juga mengundang, kelompok penyanyi dari negeri ginseng yang diganderungi jutaan wanita di negaranya.


Hal itu juga yang membuat daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang meski harus menyebrang lautan dan menempuh perjalanan panjang bagi banyak orang dari berbagai daerah. 


Satya juga memberikan harga tiket yang murah sehingga masyarakat dari segala golongan bisa masuk. Tentu saja dengan berbagai kelas, kalau mau masuk ke studio dan duduk di depan membayar lebih mahal. Yang lain bisa nonton di kursi belakang atau lewat layar lcd di berbagai sudut luar stadion.


Separuh dari pendukung Pangeran meninggalkan Pangeran dan balik membencinya. Mereka dari golongan ibu- ibu penentang pelakor garis keras.


Sisanya lagi masih tetap setia dan objektif, menyukai seseorang dari karyanya, sebagian dari mereka berfikir positif, karena belum ada klarifikasi resmi siapa ayah Paengeran. 


Hal itu membuat angka perolehan dukungan sementara Alena jauh di atas Ipang. Alena 70 %, Pangeran hanya 30%. Padahal sebelumnya Pangeran 60%, Alena 40%.


Poster- poster pendukung Alena pun tampak memenuhi lingkungan studio ITV. Bisa diperkiran dari banyaknya penonton yang membawa poster Alena, kalau malam ini Alena yang akan menang. 


“Papa harus tampil gagah malam ini sebagai kakek dari Alena!” tutur Tuan Alex Johan Abigail di depan cermin. 


“Iya Pah. Popularitas keluarga kita akan semakin naik karena Alena, Mama bangga punya Alena! Dia memang cucuku!” jawab Nyonya Jessy ikut membantu merapihkan kerah pakaian Tuan Alex. 


“Pah, Paul udah siap!” panggil Paul dari luar kamar Papa Mamanya. 


“Ya, Nak!” jawab Bu Jessy.


Keluarga itu pun segera bergegas. Mereka erjalan dengan langkah tegap penuh keangkuhan, sinar matanya penuh dengan keserakahan. Sang sopir yang mengabdi penuh iba, sudah bersiap di mobil besar nan mengkilap membukakan pintu ketiga Tuanya. 


Tidak menunda waktu, mereka segera melesat ke studio ITV, membelah jalan malam yang gelap. Tuan Alex pun terus memperhatikan jalan, tidak sabar segera tiba.


Di otak Tuan Alex sudah tersusun rapi barisan kata indah yang hendak ia lontarkan pada para awak media agar namanya semakin melambung tinggi. Tuan Alex yakin pasti dirinya akan diserbu dengan banyak pertanyaan. 


Tuan Alex juga sudah menggambarkan bagaimana dia akan berpose, berfoto dengan cucunya di atas panggung. Dalam sekejap wajahnya akan terpampang dan terlihat di seluruh penjuru negeri.


Tuan Alex akan menyandang sebagai Kakek yang sempurna. Dia akan menjadi pimpinan masa depan yang ideal. Pasti banyak yang simpati.


Sepersekian menit, mobil mereka tiba di depan gedung besar yang tertera tulisan besar ITV. Tuan Alex pun merapihkan rambut dan jasnya melihat halaman aula itu penuh sesak. Petugas Parkir segera menyambut mobil mengkilap dan besar itu agar mendapat tempat yang layak. 


Benar saja, begitu turun, saat ada yang mengenali Paulina dan Tuan Alex, massa langsung mengelilingan. Tuan Alex menyambutnya bahagia. Hal ini menjadi kampanya gratis untuknya.


**** 


Beralih ke Kia dan Aslan. 


Berbeda dengan Aslan dan Kia. Aslan meminta akses khusus pada karyawan Satya. Aslan mau agar tak bertemu massa. Aslan bahkan meminta Kia memakai masker dan jaket.


Aslan menggenggam tangan Kia erat. Mereka memasuki pintu tercepat, menemui putranya. Mereka ingin menonton dan memberi support anaknya dari balik layar.


Fatimah dan yang lain langsung Aslan tunjukan jalan menemui salah satu pegawainya, agar diantar ke tempat duduknya. Para kru pun patuh, mereka masih tetap memperlakukan Aslan sebagai bosnya meski saat ini sudah bukan lagi.


Sepanjang jalan, meski lewat pintu belakang yang gelap dan sepi. Kia terus menundukan kepala dan berpegangan tangan mengikut kemana Aslan berjalan. 


“Itu dia putra kita, Sayang!” bisik Aslan tersenyum ke Kia melihat Ipang dari kejauhan.


“Apa Kia sudah boleh buka masker, Bang?” tanya Kia berbisik. 


“Di sini aman Sayang, tidak ada wartawan, tidak ada orang yang berani menggangguku juga! Tapi buat kejutan Pangeran, tidak apa- apa, pakai saja maskernya!” jawab Aslan lagi.


Mereka pun tetap memakai masker. 


Sayangnya Pangeran tidak bisa ditipu. Pangeran tau, bahkan meski dari jauh, hanya dari cara berjalanya Pangeran tau mereka orang tuanya. 


“Ibu... Ayah!” seru Ipang kegirangan.


Ipang berlari beranjak dari tempat duduknya, dengan senyum yang merekah sempurna. Ipang menyambut ibu dan ayahnya. 


“Sayangnya ibu!” jawab Kia tidak sabar memeluk Ipang.


Kia melepaskan masker dan genggaman tangan suaminya. Kia langsung merentangkan tangan memeluk putranya. Para kru pun langsung menoleh ke mereka.


Mereka saling berbisik dan tidak menyangka tentang identitas Pangeran, tapi mereka tidak berani berbuat banyak, karena pengaruh Aslan yang disegani masih kuat. Yang pasti mereka mengagumi, jika dilihat dari dekat, ternyata Ibu Pangeran sangat cantik. Pantas saja Aslan lebih memilih Kia. Kia juga terlihat ramah dan teduh.


“Kenapa ibu bisa masuk ke sini? Yang boleh masuk ke sini kan hanya kru dan artis Bu!” tanya Ipang polos mulai sedikit menyombongkan diri ke ibunya. Ibunya kan bukan artis seperti Ipang. 


“Ayah kan punya pintu doraemon, yang bisa kemana saja, Nak!” jawab Kia dengan kerlingan matanya. 


Aslan pun mendekat ke putra dan istrinya itu. Tanpa ragu, Aslan menjongkokan badanya, dan dengan tangan kekarnya, Aslan langsung menggendong Ipang yang masih mungil ke dadanya. 


“Ayah rindu anak ayah!” bisik Aslan hangat ke Ipang. 


“Ipang juga rindu ayah. Mmuah!” jawab Ipang, spontan. Ipang mengalungkan tanganya ke leher ayahnya dan mencium pipi ayahnya tanpa canggung. 

__ADS_1


“Isshh kalian curang, Ibu nggak dikasih kiss!” cibir Kia mesra selalu merasa dicueki jika Aslan dan miniaturnya itu sudah bercumbu hangat. 


“Hehehe!” Aslan dan Kia justru terkekeh senang melihat ibunya cemberut. 


Aslan kemudian menurunkan Ipang, mereka saling melemparkan pelukan dan ciuman hangat tanpa malu dan canggung. Mereka tidak memperdulikan sekitar. 


“Lakukan yang terbaik, menyanyilah dengan hati yang gembira ya! Ibu tidak minta anak ibu menang, ibu mau anak ibu happy, oke?” tutur Kia membelai kepala miniatur suami yang dia besarkan itu. 


“Iya. Bu!” jawab Ipang. 


“Anak ayah, yang tebaik buat ayah!” sambung Aslan lagi menyemangati. 


“Dengarkan ibu ya, jangan perdulikan apa kata orang tentang penampilanmu di atas panggung saat anak ibu menyanyi,  fokus keluarkan kemampuan terbaikmu, mengerti!” 


“Iya Bu, Ipang selalu ingat kata ibu!” jawab Ipang lagi. 


“Bagus, Sayang! I love you, anak ibu!” jawab Kia tersenyum sangat manis dan ramah sehingga menenangkan siapapun yang melihatnya. 


Ipang pun mengangguk. Kia langsung membelai kepala Ipang dan menciuminya dengan hangat.


Aslan di sampingnya melihat dengan penuh syukur seakan dirinya sekarang dikelilingi malaikat dan Mereka berkata, semua impian Aslan sudah nyata, dunia Aslan ada di genggamanya. 


“Tadi, Daffa dan Aunty Manda kesini juga, Bu!” tutur Ipang. 


“Oh ya. Kemana mereka?” 


“Tante Manda pergi ke tempat duduknya setelah Ipang dipanggil om kreatif! Daffa sedang latihan, Daffa juga nanti menyanyi lagi!” tutur Ipang bercerita dengan semangat.


“Oh ya! Ibu jadi tidak sabar melihatnya!” jawab Kia. 


“Ayah dan Ibu mau nemuin Kak Alena juga?” tanya Ipang tulus dengan hati yang murni. 


Dheg


Aslan dan Kia menelan ludahnya lalu saling pandang. Aslan tampak diam tak peduli, berbeda dengan Kia tampak gusar. Jika Alena bersama ibunya, pasti akan ada pertengkaran mengingat apa yang terjadi sekarang dan yang sudah- sudah. 


Apa yang akan Kia katakan jika bertemu Paul setelah dia memfitnahnya?"


“Dimana Alena?” tanya Kia pelan.


“Di sana!” tunjuk ke Ipang ke ruang rias dimana tempat Alena menunggu panggilan.


Kia dan Ipang menoleh ke Alena. Saat itu juga jantung Kia seperti teriris, Kia duduk dengan deraian air mata, bahkan riasan di mata Alena rusak. 


“Alena!” pekik Kia tercekat, lalu Kia menatap suaminya. 


“Bang!” panggil Kia meraih tangan suaminya agar menoleh dan peka. 


Sayangnya Aslan diam dalam dinginya. Aslan sangat kesal mengingat Paul sudah membuat semua orang memberi label Pangeran anak haram, padahal tak ada beda dengan Alena. 


Melihat respon Aslan yang diam termangu. Kia langsung bangun dan menghampiri Alena. Kia juga tidak peduli bagaimana respon Alena, Kia langsung menangkup kedua sisi pipi Alena lembut. 


“Anak cantik, hey... kenapa menangis?” tanya Kia lembut dan menyeka air mata Alena dengan tangan lentik dan halusnya. 


Kini kedua wajah itu berhadapan mereka saling tatap. Alena menyiratkan kebencian. Kia membalasnya dengan tatapan kasih sayang dan ketulusan yang begitu kuat.


Alena tak bisa melawan itu. Ketulusan Kia mengetuk hati Alena yang sedang rapuh dan kosong. 


“Kenapa Mommy Ipang terlihat sangat cantik dan baik begini?” batin Alena gemetar merasakan hangat tangan Kia yang menyentuhnya.


“Jangan nangis Cantik, bulu mata Alena jadi geser nih, tante betulkan ya!” tutur Kia lembut.


“Jangan sentuh aku!” ucap Alena masih belum mengakui kebaikan Kia. Alena teguh pada pandangan awalnya, kata ibunya perempuan ini perempuan sampah dan tidak pantas dijadikan teman. 


“Baik! Tante nggak akan sentuh Alena. Tapi sepertinya acara pembuka sebentar lagi usai lho! Sebentar lagi giliran Alena keluar. Alena mau tampil seperti ini? Huh!?” tanya Kia lembut. 


Alena diam dan cemberut. Alena tidak mengatakan iya atau menolak. 


Kia tersenyum dan mengambil tisu dari tasnya. Kia kemudian menepuk pipi Alena pelan, tanpa persetujuan Kia membubuhkan bedak lagi, Kia meratakan bedak ke pipi Alena yang sedikit rusak karena air matanya. 


“Tutup matamu ya! Biar tante betulkan bulu matanya!” tutur Kia lembut  mengambil alat make up yang ada di dekatnya. 


Kia pun mendandani Alena hati – hati dan telaten. Alena tidak menolak, atau menepis Kia. Alena hanya diam melawan hatinya. Alena memang belum pernah kontak langsung dengan Kia. Alena hanya mendengar apa kata Mommynya. 


“Andai Mommy seperhatian Ibu Ipang ini? Kenapa Mommy  tidak kunjung kesini? Kenapa harus Ibu Ipang yang lakukan ini?” batin Alena dalam beku nya. 


Aslan dan Ipang masih di tempatnya terpaku. Ipang setuju dan sangat senang Alena menurut pada Kia. Bagi Ipang Alena itu kakaknya, tapi buat Aslan, apa yang dilakukan Kia tidak ada guna. 


“Udah cantik lagi sekarang!” Ucap Kia ramah melihat wajah Alena. 

__ADS_1


Alena tetap diam membisu dan menunduk. 


“Kenapa kamu menangis? Huh? Alena kan mau jadi juara, jadi harus happy dong, mana smile nya?” tutur Kia lagi. 


Mendengar ucapan Kia yang bilang Alena akan menang, Alena tersentak. 


“Kenapa Tante bilang Alena yang akan menang? Bukankah Tante ingin Pangeran yang menang?” tanya Alena akhirnya membuka mulutnya. 


Mommy Alena selalu mengatakan Alena harus mengalahkan Pangeran. Alena berfikir, ibu Ipang juga begitu. 


“No! Bagi tante, baik Alena atau Pangeran yang menang, Tante akan dukung dan bahagia, karena tante percaya, Penonton dan Juri itu adil, Allah juga penentu yang terbaik. Sampai di final itu juga udah hadiah sangat luar biasa buat tante. Tante juga ingin lihat kamu menang, Sayang. Semangat ya!” tutur Kia lembut masih selalu diiringi senyum menawanya. 


Alena pun menatap Kia dengan tatapan tak bisa diartikan. Alena melirik ke Daddynya. 


“Apa kamu kamu menunggu Mommy mu? Atau Daddy mu? Daddymu juga mendukungmu kok!” 


“Benarkah? Daddy mendukung Alena?” tanya Alena getir. 


“Tentu dong!” jawab Kia. Kia kemudian bangun menghampiri Aslan. 


“Abang, kasihan Alena sendirian!” bisik Kia ke Aslan. 


“Apa peduliku?” 


“Dia anakmu kan?” 


“Dia bukan anakku!”


“Tapi dia hanya tau kamu Daddynya!” bisik Kia merayu Aslan. 


Aslan diam melengos. 


“Dia anak yang tidak tahu apa- apa. Dia butuh Abang, demi aku, demi Ipang, bantu dia ya!” bisik Kia menggenggam tangan suaminya dengan kerlingan manjanya.


Aslan pun luluh dan mengangguk memberikan dukungan ke Alena. Kia menggandeng Ipang ikut mendekat ke Alena juga. 


“Daddy...” panggil Alena lirih. 


“Hai... cantik, kenapa kamu murung? Apa kamu gugup?” tanya Aslan berbasa basi tapi sangat kaku. 


“Apa Daddy mendukungku?” tanya Alena. 


“Tentu, do the best ya!” ucap Aslan mengelus kepala Alena pelan dan memberikan senyum mahalnya. 


Alena mengangguk. Meski Alena tetap meras getir karena Daddynya tak menggendong Alena seperti saat menggendong Ipang, Alena cukup bahagia karena Aslan mendekat dan menemaninya. 


Sementara Paulina, Oma dan Oppanya tidak kunjung tiba.


Sambil menemani anak- anaknya ponsel Aslan menyala. Aslan membuka laporan dan pesan dari anak buahnya. Aslan mengembangkan senyum membacanya. 


“Ada apa Bang?” tanya Kia lembut. 


“Nggak apa- apa, nanti kamu akan tahu!” ucap Aslan dingin.


“Hhhh!” Kia hanya menghela nafasnya pelan. Entah apa yang dipikirkan Aslan. 


*****


Di luar gedung.


“Kok ada polisi sih?” gumam Cyntia yang baru datang bersama Shella. 


“Penjagaan kali!” jawab Shela asal. 


“Nggak deh, orang mereka menggiring seseorang masuk ke mobil!” jawab Cyntia mengelak. 


Cyntia dan Shela belum berani turun karena penonton terlihat ramai. Cyntia dan Shela mau memakai masker dulu. Pasti akan diserbu tanda tangan dan minta foto. 


Sayangnya Cyntia disuguhkan dengan pemandangan segerombolan polisi terlihat menangkap seseorang dan diikuti banyak wartawan. 


“Masa sih? Ada pencopetan kali? Apa rusuh?” tutur Shela menebak.


“Kayaknya bukan deh, ini kan bukan konser di lapangan terbuka, harusnya kan tertib, terus wartawan kek menyorot banget, siapa orang itu?” jawab Cyntia masih memperhatikan dari mobil. 


Rombongan polisi itu terlihat pergi setelah memasukan seseorang. Yang membuat Cyntia tercengang, ada mobil mewah yang mengikuti mobil polisi itu pergi meninggalkan area stadion milik ITV itu. 


“Itu mobil Paulina bukan sih?” gumam Cyntia.


 

__ADS_1


__ADS_2