Sang Pangeran

Sang Pangeran
58. Sepatu.


__ADS_3

Karena naskah Kia sudah lama dibaca bu Rosa saat seleksi lomba dan Bu Rosa juga menyeleksi bersama Satya. Meski rapat finaslisasi naskah baru beberapa hari, Satya sudah mantap menentukan pemainya, dan sudah masuk ke tahap Reading.


Bahkan Satya sudah melakukan survey tempat. Estimasi biaya dan waktu syuting juga sudah Satya bahas sejak Kia belum datang ke ibukota.


Dan pagi itu Satya mengumpulkan semua aktor dan aktris, sebagian pemain lama sebagian pemain baru. Tapi kesemuanya mempunyai latar belakang ilmu dan pengalaman dalam dunia seni peran. Sehingga kemampuanya tidak diragukan. 


Dan Satya yakin, orang pilihanya itu akan membawanya dalam kesuksesan.


Dengan percaya diri dan balutan pakaian mahalnya Cyntia berjalan masuk ke ruangan rapat. Yang di ruangan itu sudah tersusun meja dan kursi. Dan di masing- masing meja sudah terdapat naskah skenario.  Tentu saja, artis- artis terkenal seperti Paul dan Nicholas sudah duduk di tempatnya.


Kesemuanya menampakan keeksistensianya sebagai artis. Menampakan penampilan terbaiknya.


Cyntia sendiri, meski bukan artis dan ini pengalaman pertama. Sebagai seorang istri pengusaha Niko Darmawan Setiaji, Cyntia ikut berdandan gaya sosialita. Cyntia dengan mudah menyesuaikan diri sebagai pendatang baru. 


Bahkan kecantikan Cyntia cukup menarik perhatian pemain lama tidak terkecuali Nicholas. Pandangan nicholas tidak luput dari paras molek dan tubuh tinggi Cyntia yang berjalan dengan anggun mengambil tempat duduknya. 


Karena orang baru dan belum kenal, jadi dia tidak banyak say hello dan menyapa akrab.


Cyntia hanya melemparkan senyum dan anggukan kepalanya pada sesama calon terpilih, sebagai tanda hormat.


Karena Cyntia terpilih jadi pemeran utama, dia duduk di kursi depan berjejer dengan lawan mainnya. David. 


“Hai kenalin gue David” tutur David mengulurkan tanganya. 


David merupakan artis layar lebar yang masih baru juga, bahkan usianya 2 tahun di bawah Cyntia. Dia idola baru buat para kaum hawa. Dia juha masih jomblo.


Tapi karena postur tubuhnya yang tinggi dan berkulit sawo matang dia tampak maco dan gagah. Dia cocok berperan sebagai laki- laki dewasa. Dan di situ lebih tepatnya menjadi ayah. 


Kemudian Cyntia melirik ke sampingnya. Perempuan yang sempat menjadi bahan ghibahan Cyntia tadi pagi tepat berada di samping Cyntia.


Rasanya seperti mimpi buat Cyntia. Cyntia bisa melihat langsung artis idolanya ini. Bahkan menjadi lawan main. Yang notabenya nanti akan lebih tinggi Cyntia peranya.


Entahlah apa kata manager Paul, tapi Paul sendiri yang ingin terlibat di garapan adik iparnya itu. Meski jadi antagonis.


Paul benar- benar sangat cantik, lebih cantik dari di foto instagram. Kulitnya bener- benar glow up seakan tidak ada noda setitikpun di wajahnya.


Semua yang melihatnya dalam hati akan bilang, betapa beruntungnya laki- laki yang bisa memperistri dia. Lebih tepatnya menikmati tubuhnya. 


Kalau dibanding Kia, jauh glow up nya. Kia memang cantik, tapi Kia terlihat sederhana. Entahlah kenapa Aslan tidak tergoda pada Paulina Abigail ini. Padahal Aslan bisa menidurinya kapan saja.


Baju dan barang Paul brandid semua. Tapi satu hal yang aneh menurut Cyntia, tak ada cincin pernikahan tanganya. Berarti benar tebakanya, Paul dan Aslan memang tidak baik- baik saja. 


Paul tidak banyak beramah tamah terhadap sesama, seakan menunjukan bagaimana posisinya. Dia memang berkelas.  Karena Cyntia junior, Cyntia mengalah menyapa duluan, meski tidak tahu apa respon  Paul, yang penting Cyntia mau nyapa. 


“Hai Kak Paul? Senang bisa bertemu dengan anda” sapa Cyntia. 


“Hai” jawab Paul dengan senyum mahalnya. 


“Kenalin Cyntia, aku penggemar Kak Paul lhoh” tutur Cyntia sok akrab padahal Paul terkesan enggan dan dingin. 


“Terima kasih” jawab Paul mengangguk. 


“Ajari dan bimbing aku ya Kak!” 


“Ya, kamu pemeran utamanya?” tanya Paul tetiba antusias. 


“Iya Kak” 


“Pernah syuting dimana? Sama PH apa?” tanya Paul dengan nada seperti merendahkan.  


“He.... ini pengalaman pertama saya” jawb Cyntia jujur.


“Oh pengalaman pertama?” jawab Paul merespon lalu melihat Cyntia dari atas sampai bawah. 


“Iya Kak, mohon bimbinganya ya Kak!” jawab Cyntia lagi.


“Ya” jawab Paul manggut- manggut. “Kenapa tertarik main perann?” tanya Paul lagi. 


“Saya dulu aktif main teater waktu kuliah, bosan jadi ibu rumah tangga jadi pengen balik main lagi, nyoba aja ikut casting” 


“Yayaya, udah nikah ternyata?” 

__ADS_1


“Udah Kak” 


“Udah punya anak?” 


“Belum” jawab Cyntia dengan nada sedih. 


Lalu obrolan mereka terpotong. Satya dan Manda diikuti beberapa kru  masuk. 


Tujuan utama mereka kumpul hari itu dimulai. Satya memperkenalkan diri, sebagai formalitas, Satya memberikan sedikit pidato motivasi agar semua tim dan pemain bisa semangat dan kompak melakukan pekerjaan ini. 


Beberapa awak media pun tidak mau melewatkan kesempatan, mengintip proyek baru Satya untuk dibocorkan pada penikmat hiburan dan peselancar dunia maya.


Berita dengan tema daftar pemain dan bocoran isi drama juga bisa mereka angkat menjadi topik hangat yang akan mendatangkan uang. Satya membiarkan mengambil berita dan gambar sekaligus mempromokan. Toh awak medua penyiaran juga punya Aslan kakaknya.


Proses reading pun dimulai, semua membaca kisah drama mereka dan skenario mereka. Setelah itu Satya memberikan jadwal kapan mereka mulai menggarap pekerjaan itu. Setelah saling berkenalan. Satya berpamitan dan membubarkan acara. 


****


Dengan langkah tanpa semangat dan hilang arah. Karena semua perjalanan hidup tidak sesuai rencananya. Kia masuk ke ruang kerjanya, masih bersama tim Delvin. 


Dan seperti sebelumnya, hanya Delvin yang mau menyapa Kia. Yang lain memandang Kia sinis, bahkan mencibirnya. 


“Waah dia datang lagi, enak banget kerjanya” 


“Nggak tau malu, udah telat bolos” 


“Kok nggak ditegur sih? Dia sebenarnya siapa sih?’” 


“Entahlah” 


Karyawan lain semua kesal ke Kia karena Kia bekerja tidak disiplin dan dianggap semaunya.


Kia diam tidak menjawab. Mereka tidak tahu, kalau sebenarnya keberadaan Kia di situ bukan untuk bekerja, tapi dipenjara agar tidak pergi dari Aslan. Pekerjaan Kia adalah penulis, yang bebas menulis dimana saja seharusnya. 


“Hai Ki? Akhirnya lo berangkat lagi? Gue kira lo beneran resign?” sapa Delvin menyambut Kia.


“Hehehe, nggak. Cuma katanya aku mau dipindahin” tutur Kia beralasan.


Waktu berdiskusi dengan Aslan, Kia kan meminta agar Kia dipindah ke kantor yang tidak satu gedung dengan Aslan.


“Entah, soalnya kan aku cuma lulusan SMA , aku nggak ngerti sebenarnya harusnya gue kerja dimana?” jawab Kia curhat ke Delvin sambil melirik ke teman yang selalu menggunjingnya.


Teman-teman Kia menganggap remeh Kia karena Kia hanya lulusan SMA. Tidak tahu mereka siapa Kia. 


“Bukanya lo emang pengen jadi editor?” tanya Delvin.


“Iya sih, tapi....” jawab Kia terpotong. Karena pacar Delvin datang. 


“Hai Kia, kemana aja lo kemarin?” sapa Putri datanf membawa berkas banyak.


“He...” Kia hanya tersenyum, tidak mungkin Kia bercerita siapa dirinya dan keadian yang dia alami beberapa hari lalu. Bisa gawat kalau teman-teman kerjanya tau Kia dijemput Aslan.


“Malah ketawa” jawab pacar Delvin lalu memberikan beberapa pekerjaan. 


Siang itu kemudian Kia kembali bekerja dengan baik. Meski Kia lulusan SMA, sebenarnya Kia juga menguasai pekerjaan yang ada di hadapanya itu.


Dulu Kia juga kuliah jurusan sastra. Bahkan Delvin kagum, Kia bekerja dengan sangat baik. Pantas saja Bu Rosa merekrutnya tanpa tes.


Pikiran Kia kemudian hanyut dalam dunia kata yang dia hadapi. Kia sangat menikmati pekerjaanya sampai waktu berlalu tanpa terasa. Dan jam istrihat makan siang tiba. 


Kia kemudian meregangkan tanganya untuk relaksasi setelah berjam- jam berkutat dengan komputer. Tiga teman Kia berangkat ke kantin lebih dulu.


Tinggal Delvin dan Kia, lalu tetiba pacar Delvin datang menghampiri, rupanya mereka hendak makan di luar. 


“Ikut yuk!” ajak pacar Delvin.


“Nggak ah, aku nggak mau jadi obat nyamuk!” jawab Kia. 


“Aiiih  kamu ini, gabung kita aja” jawab Delvin. 


“Beneran, aku makan di kantin aja” jawab Kia tetap menolak. 

__ADS_1


“Oke, kita cabut ya!” 


“Ya... hati-hati, enjoy ya!” jawab Kia melambaikan tangan sambil tersenyum.


Jika tidak mengingat kekhawatiran dan ketakutan Kia, apa akibat berurusan dengan Aslan. Sebenarnya dunia bekerja Kia sangat menyenangkan. Kia juga bahagia bisa berada di posisinya sekarang.


Kia kemudian berjalan sendiri, Kia menuju ke masjid kantor, karena sudah waktunya sholat dzuhur.


Beberapa karyawan tampak datang dan pergi dari masjid kecil yang berada di lantai 10 gedung itu. 


Tapi sayang, sepertinya yang mendatangi tempat ibadah itu tidak sebanding dengan jumlah karyawan yang bekerja.


Bahkan tampak lengang, padahal tempatnya sangat bersih dan nyaman. Apalagi itu hanya di khususkan untuk karyawan. 


Entahlah, mungkin karena mereka punya tempat sholat sendiri- sendiri, atau mungkin sebagian dari mereka bukan beragama muslim. Atau mungkin mereka memang tidak memperhatikan waktu sholat. 


Kia mengambil air wudzu, lalu masuk ketempat ibadah yang di dalamnya terbagi menjadi dua sekat. Dan dibalik sekat itu Alhamdulillah masih ada rombongan jamaah, meski tidak banyak. Entah berapa orang. Mengandalkan suara imam, Kia kemudian bergabung ikut jamaah.


Setelah jamaah selesai, beberapa karyawan pergi. Tapi Kia memilih masih stay di situ. Jam makan siang masih lama, Kia males ke kantin bertemu dengan teman kerjanya yang suka mencibir itu. 


Daripada kesepian Kia memilih bersua dengan Tuhanya. Delam balutan mukenah putih dan hamparan sajadahnya itu.


Kia merendahkan dirinya, memohon ampun atas segala dosanya, dan memohon petunjuk agar bisa ditunjukan jalan yang baik untuk hidup ke depanya. Toh satu-satunya yang Maha Penolong dan tempat mengadu setiap masalah memang hanya Tuhan.


“Ya Alloh, aku tidak menginginkan bertemu lagi dengan ayah dari anakku, tapi Engkau buat kami bertemu. Aku tidak pernah tau apa rencanaMu , Tuhan, tapi aku mohon beri jalan terbaik untuk kami. 


“Tunjukan jalanMu, jauhkan aku dari jalan yang bawa aku dalam lubang kesalahan yang sama. Bimbing aku agar mendapatkan tempat terbaik.


“Jika memang takdir  pertemuan ini baik untuk anakku. Maka bimbing kami untuk mendekat pada kebaikan, bukan jalan saling menyakiti dan membawa keburukan” 


“Aku hanya ingin hidup tenang, menjaga titipanmu dengan baik. Menjadi ibu yang engkau ridzoi, membimbing anakku agar mejadi hamba yang berguna” 


“Jaga anakku Ya Alloh, bahagiakan dia, sehatkan dia bimbing dia, jauhkan dia dari segala hal yang menyakitinya” 


"Jadikan kami hamba yang penuh dengan kasih dan ampunanMu. Bimbing kami, ampuni kesalahan kami.


Karena Kia perempuan Kia berdoa lirih dalam diamnya. Dengan ketulusan dan penug pengharapan, Kia  meneteskan air matanya  tanpa ada yang tahu. 


Dan setelah merasa cukup mengeluarkan isi hatinya. Kia melepas mukenahnya. Menempatkan kembali pada lemari mukena yang tersedia di masjid itu.


Kia memang datang ke masjid karena dia tidak membawa mukenah. Kia kan ke ibukota hanya dengan baju yang melekat di badanya.


Setelah merapihkan penampilanya, Kia berbalik badan dan hendak keluar. Saat di depan pintu hendak mengambil sepatu, Kia terpaku.


Dheg 


Langkah Kia terhenti, tepat di depanya, di dekat sepatu Kia, seseorang sedang mengambil sepatu hendak memakainya. Padahal saat Kia masuk tadi tidak ada sepatu laki-laki di samping sepatunya.


Orang itu menunduk dan berjongkok membelakangi Kia, sehingga tidak terlihat wajahnya, tapi Kia hafal punggung itu, kemeja itu, rambut itu. 


Tadi pagi Kia melihatnya. Ya, di kafe galaxy saat dia menjamput Ipang Kia melihatnya. Dia Aslan, seketika jantung Kia berdetak kencang tidak karuan. 


“Aku tidak salah lihat kan? Dia sholat, dia sungguhan sholat” batin Kia tidak menyangka.


Di masjid itu hanya tinggal mereka berdua. Kia ingin membalik badan agar mereka tidaj beradu pandang dan bertemu. Entah kenapa tubuh Kia menjadi panas dingin.


Kia mau ngumpet dulu dan menunggu Aslan pergi. Tapi saat Kia hendak berbalik, dia malah keseleo dan hampir membentur jendela karena gugup.


“Au” pekik Kia reflek. 


Aslan yang sudah selesai memakainya langsung menoleh. 


“Ehm” Kia berdehem membetulkan berdirinya, Kia menunduk ketangkap basah hendak menghindari Aslan. 


"Ya Tuhan kenapa aku segugup ini?” batin Kia menggigit bibirnya. 


Kia bersiap menunggu Aslan mengatakan sesuatu, atau sekedar menyapanya seperti sebelumnya.


Tapi anehnya, Aslan sangat dingin, Aslan hanya diam memperhatikan Kia sejenak lalu pergi begitu saja tanpa satu kata pun.


“Hooh! Itu benar dia kan?” ucap Kia bengong. Kia benar- benar tidak menyangka Aslan akan secuek itu padanya. Padahal jelas- jelas hanya ada mereka berdua di situ.

__ADS_1


“Benar- benar tidak bisa dipercaya, kenapa dia berubah secepat ini, padahal semalam dia sangat cerewet dan menyebalkan. Kenapa dia? Apa aku berbuat Salah? Apa dia marah? ” batin Kia berfikir sendiri. 


Tapi entah kenapa, Kia merasa kecewa dengan sikap Aslan yang dingin dan mendiamkanya. Kia menelan ludahnya sendiri, mengambil sepatunya dan kembali ke ruangan kerjanya. 


__ADS_2