Sang Pangeran

Sang Pangeran
92. Aslan Malu.


__ADS_3

Hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong, kedua laki-laki itu bersantai. Jika dilihat dari luar mereka berdua tampak membujang. Ya bujang tapi bukan perjaka. 


Tepat setelah tegukan terakhir dan saat Marcel mematikan puntung rokoknya, Rendra datang. Kali ini Rendra pun tidak lagi menggunakan kemeja atau jas. Rendra mengunakan sepatu cat pria, celana tiga perempat dan hoody. 


“Selamat malam Tuan” sapa Rendra. 


“Malam” jawab Marcel mengangguk dingin, karena Marcel belum kenal Rendra.


“Lama banget sih lo!” gerutu Aslan masih sempat ngomel ke mantan sekertarisnya itu. 


“Hmm” batin Rendra masih untung Rendra mau jemput. 


“Kenalin, dia Rendra, adik sepupu gue” ucap Aslan mengenalkan Rendra ke Marcel sebagai saudaranya bukan sekertarisnya. 


Rendrapun mengangguk tersenyum lalu mengulurkan tangannya bersalaman dan berkenalan dengan Marcel. 


“Rendra” tutur Rendra. 


“Marcel” jawab Marcel. 


“Udah ngopi belum? Gue pesenin?” tawar Aslan ke Rendra. 


“Nggak gue kenyang” jawab Rendra. 


“Ya udah Bro, gue mau istirahat ke hotel aja. Besok pagi gue harus terbang Singapore. Dan Lo kan udah ada yang jemput, gue cabut dulu” pamit Marcel.


Sebelum ke tujuan utamanya, ke perusahaan papaanya, Marcel singgah dan istirahat di hotel dekat bandara. 


“Oke Bro, gue cabut, see you next time ya. Thank you so much atas semuanya” ucap Aslan.


"Yoi. Ini sudah selayanya" jawab Marcel.


Setelah saling menggenggam tangan tanda persahabatan mereka berpisah. Marcel pergi bersama asistenya, dan Aslan pergi bersama Rendra.


“Kita kemana Bos?” tanya Rendra di mobil.


“Gue kangen anak gue?” jawab Aslan spontan tidak peduli jam berapa sekarang. 


Rendra yang matanya masih pedas karena dini hari terpaksa harus bangun demi menjemput mantan bosnya itu, dan masih dicela menatap kesal ke Aslan, menatap kesal ke Aslan.


“Lo jangan gila dong Bro, lo liat jam lah ini jam 4 pagi” jawab Rendra. 


Karena menggunakan pesawat pribadi Aslan tiba lebih cepat. Tapi kan tetap saja waktu di negara Aslan dan negara Marcel berbeda waktu. Jadi Aslan tiba di jam petang. 


“Bentar lagi kan pagi. Lo bawel banget sih. Gue kangen sama anak gue, gue pengen peluk dia, ke tempat karantina sekarang!” jawab Aslan masih dengan gaya nya sebagai atasan yang suka memerintah. 


“Haish!” desis Rendra kesal. “Bukanya pergi terus berubah tapi tambah ngeselin lo!” cibir Rendra ke Aslan. 


“Lo ngatain gue? Mentang- mentang lo ya gue pergi? Lo sekarang berani ke gue?” tanya Aslan menantang malah ngajakin berantem. 


“Nggak Bos, nggak, iya ini ke tempat karantina” jawab Rendra lebih baik mengalah. Gila aja di dalam mobil berdua berantem. 


Melewati jalan gelap yang sepi Rendra mengantarkan Aslan ke tempat Ipang di karantina. Karena beberapa hari terakhir ini Rendra sibuk, pengawasan Rendra ke Kia dan Ipang kendor.


Rendra tidak tahu apapun tentang hal yang terjadi pada Ipang dan Kia. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit mereka sampai di tempat karantina. 


Pagar tertutup rapat. Lampu ruangan dan kamar-kamar pun terlihat gelap. Hanya lampu depan lobi dan papan nama hotel convinient yang tampak menyala. 


“Yakin mau masuk Bos?” tanya Rendra ke kakak sepupu rasa musuh dan bos itu. 


“Yakinlah, bangunin satpamnya!” perintah Aslan seenaknya. 


“Hmmm” Rendra kembali berdehem kesal.

__ADS_1


Males banget malam-malam dingin, seharusnya masih bergelung di bawah selimut harus kelayapan gedor- gedor pagar. 


“Udah sono turun” perintah Aslan lagi sangat nakal mengerjai adiknya. 


Rendra pun terpaksa turun.


"Aneh kok digembok sih?" gumam Rendra.


Lalu Rendra memukulkan gembok kunci pagar agar menghasilkan suara yang membuat penjaga mendekat. Setelah beberapa kali, sampai Rendra kesal sendiri akhirnya keluar seorang laki- laki yang mengalungkan sarung di lehernya. Laki- laki itu berjalan dengan sedikit menggerutu. 


Aslan yang melihat pemadangan itu pun mendelik. Apa iya semenjak Aslan mengundurkan diri, managemen pegawainya kacau. Masa pegawai hotel berjalan dengan celana kolor dan sarung. 


“Maaf Tuan, kami tidak menerima tamu” ucap pria itu ngasal. Mengira Aslan dan Rendra tamu yang hendak menginap. 


“Saya Rendra, sekertaris Tuan Aslan” 


“Haah? Sialan?” tanya laki- laki yang ternyata sudah mulai memasuki usia paruh baya. 


“Haiish” desis Rendra kesal, membawab nama Aslan bukanua dihormati dan dibukakan pintu malah dikatai sialan.


“Tuan Aslan, saya dan Tuan Aslan mau menemui anaknya, peserta bintang kecil, Pangeran” teriak Rendra. 


“Bintang kecil?” tanya bapak itu lagi. Dan Rendra semakin dibuat kesal. 


“Ya... kita mau bertemu Pangeran. Panggilkan Bu Gita!” teriak Rendra lagi. 


“Oh Bu Gita?” tanya Pak Tua akhirnya paham. 


“Ya.. panggilkan Bu Gita” ucap Rendra. 


“Ditunggu ya Pak!” jawab Pak Tua.


Aslan yang memperhatikan di dalam mobil ikut keluar dan terpancing emosinya. 


“Kurang ajar ya, bapak itu? Dia ngerjain kita apa gimana sih?” gerutu Aslan marah- marah ke Rendra.


Aslan kedinginan karena tidak memaki pakaian panjang seperti hoody Rendra. Belum lagi celama Aslan yang basah.


“Gue ragu bapak itu pahaam maksudku, dia bolot” ucap Rendra. 


“Ck. Udah subuh lagi, sial” gerutu Aslan lagi marah- marah. 


Tidak lama dari arah dalam barulah keluar lelaki muda berseragam mendekat ke arah gerbang. Rupanya dia satpam yang berjaga malam.


Karena tadi siang diinformasikan peserta bintang kecil bubar ke rumah mentor, malam itu pun tutup. Para pegawai libur, dan satpam bebas tidur di dalam. Dan bapak yang tadi adalah tukang laundry yang tidak sengaja keluar setelah buang air besar. 


“Selamat pagi Tuan, mohon maaf tempat kami tidak melayani tamu menginap” tutur satpam ramah belum mengenal wajah Aslan. Satpam masih berbicara di balik pagar. 


“Buka pintu gerbangnya” perintah Aslan. 


“Kami tidak menerima tamu Tuan, mohon maaf” jawab satpam lagi. 


“Denger nggak, buka pintunya!” bentak Aslan lagi galak. 


Satpam sedikit terpancing emosinya, tapi Rendra segera menebangkan. Sepertinya itu satpam baru yang belum kenal Aslan. Rendra pun maju dengan kepala dingin. 


“Kami bukan mau menginap. Kami orang tua peserta bintang kecil, boleh kami masuk?” tanya Rendra ramah. 


“Oh orang tua bintang kecil?” tanya Satpam mulai konek. 


“Ya” jawab Rendra mengangguk. 


“Baik Tuan, tunggu sebentar” jawab Satpam lalu satpam mengambil kunci dan membukakan gerbang. 

__ADS_1


Rendra masuk ke mobil dan menyalakan mesin untuk memasukan mobilnya. Sementara Aslan tidak sabar langsung masuk tanpa bertanya. Satpam pun bingung dengan tingkah Aslan. 


“Pak tunggu, anda mau kemana?” tanya Satpam mencegah langkah Aslan yang mau langsung masuk ke kamar Ipang. 


“Mau ke anak gue lah. Lo belum tau siapa gue?” tanya Aslaln emosi.


“Maaf Tuan tapi,” ucap satpam lagi mau menjelaskan. Tapi Aslan malah salah paham. 


“Denger ya. Meskipun gue udah mengundurkan diri, gue masih anak bokap gue. Dan awas aja lo ya!” omel Aslan kesal meras dilecehkan. Satpam muda pun semakin bingung. Dan untung saja satpam senior keluar dan melihat Aslan. 


Satpam itu langsung mendekat dan memberi hormat, sementara Rendra masih memarkirkan mobil dan berniat mengambil oleh- oleh buat Ipang sesuai dengan perintah Aslan. 


“Selamat pagi Tuan Aslan, ada yang bisa saya bantu” sapa satpam senior. 


Dengan gaya sombongnya dan tangan dimasukan ke saku celana, Aslan melirik kesal ke satpam muda. 


“Siapa rekan kerjamu ini, beritahu dia siapa aku?” tutur Aslan. 


“Maafkan rekan saya Tuan, dia anak baru” jawab Satpam senior. 


Lalu Rendra mendekat membawa bingkisan oleh- oleh Ipang. 


“Benar yang ini kan Bos? Oleh- oleh buat Tuan Muda Pangeran?” tanya Rendra membawa paper bag. 


“Iya” jawab Aslan. Mendengar percakapan Aslan dan Rendra satpam senior pun paham. 


“Mohon Maaf Tuan Aslan, apa kedatangan anda kemari untuk menemui peserta bintang kecil?” tanya satpam Tua. 


“Iya, Pak” jawab Rendra ramah, karena Aslan tampak diam dan merasa pertanyaan satpam retoris. 


“Bintang kecil mulai hari ini tidak menginap di sini lagi. Hari ini penginapan tutup, pegawai libur” jawab Pak Satpam menjelaskan. 


“Hah!” Rendra dan Aslan terbengong. 


“Maksudnya apa ini?” tanya Aslan emosi.


“Mulai hari ini kelas peserta bintang kecil dilakukan terpisah di rumah mentor masing- masing. Itu yang saya dengar. Selebihnya bisa ditanyakan ke Bu Gita. Tapi beliau libur Tuan” tutur satpam lagi menjelaskan. 


“Ck” Aslan berdecak dan memicingkan mata merasa kerja Rendra tidak benar. 


“Kenapa tidak adaa yang laporan?” tanya Aslan marah.


“Ehm... ehmm... mungkin laporan tapi tidak ke kita lagi” Rendra berdehem mengingatkan ke Aslan, kan Aslan sudah bukan atasan mereka lagi. Ya jelas mereka lapornya ke Satya bukan Aslan. 


Aslan pun hanya menelan ludahnya menyadari kini dirinya bukan siapa-siapa di perusahaan Nareswara.


“Ya sudah terima kasih informasinya. Mohon maaf mengganggu Pak” tutur Rendra menengahi dan mengajak Aslan pulang ke apartemen Rendra saja. 


Lalu dengan perasaan malu dan kecewa Aslan masuk ke mobil dan ikut Rendra.


"Ck. Gue harus tanya Satya, lo gimana sih kerjanya?" gumam Aslan masih sempat ngomel ke Rendra.


"Gue sibuk Bos. Menyelesaikan pr sebelum resign. Makanya pergi jangan lama-lama"jawab Rendra.


"Hemmm"


"Bener kan kata gue? Udah pulang istirhat dulu. Ketemu Pangeran dan Bu Kianya besok aja!" sindir Rendra lagi.


"Lo nggak tahu sih rasanya jadi bapak" jawab Aslan.


"Ya ya. Jadi suami juga gue belum tau" jawan Rendra.


 

__ADS_1


__ADS_2