Sang Pangeran

Sang Pangeran
113. Kesal


__ADS_3

“Bagaimana saksi? Sah?” tanya Penghulu. 


“Sah” jawab semua yang ada di situ. 


"Alhamdulillah"


Semuanya mengucap syukur, bahkan beberapa orang seperti Mbok Mina dan Cyntia meneteskan air mata kelegaanya. Terselip doa yang tulus mengiri jalan Kia dan Aslan. Pernikahan yang seharusnya terlaksana beberapa tahun lalu akhirnya kini tiba juga. 


Di antara semua senyum yang ada di hari itu, tentu saja senyum terlebar adalah senyum yang tercipta dari dua bibir Aslan. Aslan  sangat lega, meski belum ada kekuatan hukum negaranya setidaknya Aslan bisa terus ada di samping Kia dan Ipang. 


Ipang yang sejak awal acara diasuh Manda bersama Daffa, begitu kata sah terucap, langsung berdiri, berlari dan menghambur ke ayahnya yang duduk di kursi sakralnya.


Aslan yang duduk dengan jas hitam pun menyambut hangat Ipang. Aslan langsung membawa Ipang dalam pangkuanya. 


Kia yang dulu bertekad untuk tidak pernah menikah, dan tidak pernah menyangka bertemu dengan ayah dari anaknya, menangis haru.


Entah kenapa mendengarkan laki-laki yang kini menjadi suaminya mengucapkan ijab, dada Kia bergemuruh, tidak bisa diungkapkan rasanya. Semua ingatan masalalunya datang, sedih, sakit, rindu, bahagia semua bercampur jadi satu. Bayangan ibu dan bapaknya yang sudah tidak ada pun selalu datang. 


Tidak peduli air matanya merusak riasan matanya, Kia membiarkannya lolos begitu saja. Saat Ipang berlari dan memberikan senyum bahagianya, hal itu menjadi kekuatan Kia kembali tersenyum.


Kia sadar, meski Kia merindukan kasih sayang orang tua, tapi sekarang bukan masanya mengharapkan itu, karena rasa itu percuma, Kia tidak akan pernah dapatkan lagi.


Kia sekarang harus fokus menjadi orang tua yang harus menyayangi dan memberikan kasih sayang pada anaknya sebagai orang tua. Dan harapan kasih sayang Kia sekarang dari Aslan.


“Kok ibu nangis lagi? Nanti nggak cantik lagi lhoh” ucap Ipang di depan penghulu melihat ibunya ternyata menangis.


Mendengar pertanyaan anaknya, Kia malu, Kia memalingkan wajahnya sejenak mengelap air matanya. Aslan kemudian menoleh ke istrinya, mengulurkan tanganya mengelus bahu Kia memberi kekuatan. 


"Kenapa nangis terus sih Yang? Aku kan nggak jahatin kamu," bisik Aslan ke Kia.


Kia tidak menjawab hanya berusaha membetulkan duduknya agar tidak terlihat oleh teman-temanya. Bagaimana Kia tidak ingin menangis dan bersedih, selama ini Kia menjalani hidup dengan keras, sendirian selalu dihina dan dikatai.


Penghulu yang supel dan biasa menemui berbagai macam pernikahan tersenyum dan menetralkan suasana. 


“Nggak apa- apa ibu menangis sekarang, besok gantian adik bayi yang menangis, ini tangis bahagia,” tutur Penghulu membuat suasana jadi hangat. Aslan sendiri tersenyum malu, dan Kia menunduk tersipu.


Mendengar adik bayi Ipang ikut girang dan semangat. 


“Apa adik bayi suka menangis? Kalau adiku menangis akan Ipang gendong. Adik Ipang tidak Ipang biarkan menangis Pak," jawab Ipang polos, membuat Kia dan Aslan tersenyum bangga.


“Ya, cah bagus,” ucap Penghulu mengelus rambut Ipang. “Kita berdoa dulu ya, buat ayah ibu dan keluargamu!” lanjut Pak Penghulu.


“Ya Pak!” jawab Ipang lalu mengikuti arahan ayahnya, menengadahkan tangan dan mengaminkan doa. 


Semua mendengarkan dan mengaminkan doa dari Pak Kyai dengan hikmad. Setelah selesai do'a, tamu berniat memberi salam dan selamat ke mempelai.

__ADS_1


Aslan melirik ke Kia yang tampak menunduk malu dan masih diliputi rasa sedih, meski begitu Kia tetap mempesona dimana Aslan. Kia tampak sangat cantik seperti barby berhijab, meski matanya sempat basah tak mengurangi kecantikanya sedikitpun.


"Ipang turun dulu, ikut Om Satya dulu yaa! Ayah jagain ibu dulu, biar nggak nangis lagi" bisik Aslan ke Ipang, tanpa di dengar Kia. Aslan ingin segera menyentuh Kia dan membuatnya bahagia.


Ipang kemudian mengangguk setuju. Ipang cukup pengertian ingin ibu dan ayahnya dekat.


Tidak menunggu lama, Aslan mengulurkan tanganya. Tangan Kia yang tadinya bertumpuk di atas pahanya diraihnya, digenggamnya hangat.


Mendapatkan sentuhan Aslan yang lembut dan hangat membuat Kia kaget dan semakin gerogi. Meski sebelumnya mereka pernah bersentuhan, tapi kali rasanya berbeda.


Kini Aslan menyentuhnya dengan hati yang tulus dan penuh cinta, dengan kondisi halal dan penuh dengan do'a. Sentuhan itu seperti mengandung energi yang menjalar. Membawa rasa hangat yang tidak bisa diungkapkan sampai menyentuh hati Kia.


Kia pun menatap Aslan dengan tatapan yang berbeda. Aslan menganggukan wajahnya dan menyunggingkan senyumnya.


"Ayo bangun, nggak usah gerogi gitu. Kita sekarang suami istri!" bisik Aslan ke Kia karena teman-temanya sudah menunggu.


Kia mengangguk dan melihat genggaman tangan Aslan.


"Iya, Bang"


"Ya Tuhan. Singa gila ini sungguh sekarang sudah menjadi suamiku?" batin Kia masih merasa semua seperti mimpi dan berjalan begitu cepat.


Aslan kemudian menggandeng Kia, berjalan ke tempat yang di dekor sebagai pelaminan sederhanyanya. Mereka pun, menyalami teman-temanya.


"Siap!" jawab Aslan dengan gaya dinginya.


"Selamat ya Kak. Welcome ke Nareswara Family," ucap Satya ke Kia.


"Iya" jawab Kia tersenyum, tapi dalam hati membatin, Nareswara Family apanya, ayah dan ibu Aslan tidak datang.


Selanjutnya Manda.


"Akhirnya kita resmi jadi kakak adek," tutur Manda tersenyum setelah cipika cipiki. "Kita bisa jadi tim kuat buat lawan mamah Wina, Kak!" bisik Manda lagi.


Kia pun tersenyum mengangguk saja. Kalau perkataan Manda baru masuk akal menurut Kia.


Manda mundur dan berganti Cyntia. Terhadap Aslan Cyntia hanya menganggukan senyum dan mengatupkan kedua tanganya. Tapi terhadap Kia, Cyntia memeluknya erat. Bahkan Cyntia terisak, air matanya lolos. Untung riasan Kia sederhana jadi meski dipeluk tidak rusak.


"Gue seneng banget Ki, Ipang sekarang punya bapak dan lo nggak sendirian lagi," bisik Cyntia terisak.


"Semoga lo juga cepet nemuin jodoh ya!" ucap Kia melirik ke Meta dan Rendra.


"Gampang. Ingat, meski siri lo udah jadi istri dia!" bisik Cyntia lagi.


"He.. iya!" jawab Kia nyengir dan melirik ke lelaki di sampingnya salah tingkah.

__ADS_1


Di belakang dilanjut Rendra dan Meta pacarnya. Tapi sayang Meta tampak sangat dingin dan memandang Kia dengan tatapan mengejek. Kia dan Aslan pun menanggapi dengan dingin.


Aslan sangat jengah melihatnya. Dikira Aslan Rendra putus, tapi malah dibawa ke acaranya. Melihat Meta merusak mut Aslan saja.


Di belakang mereka, berbaris, Mami Asha, Ranti, Mbak Narti, Mbok Mina, dan karyawan kepercayaan Aslan lain. Memang tidak banyak yang datang yang diundang.


Setelah selsai bersalaman Aslan mempersilahkan tamunya makan dengan makanan yang sudah tersedia di teras.


Sambil menikmati makan mereka karaokean bersama, karena Aslan menyiapkan piano dan teman Mami Asha yang berprofesi sebagai penyanyi.


Saat mengambil tempat makan, tanpa di sengaja Cyntia duduk di belakang Rendra dan Meta. Secara otomatis, Cyntia mendengar percakapanya.


"Hhh... menyedihkan sekali istri bosmu ini Yang. Udah diusir dari istri pertama nikahin perempuan yang nggak punya suami, siri lagi, dan mau numpang lagi, kok mau sih nerima benalu kaya dia. Kamu lagi mau- maunya tetap kesini, nyesel gue kesini!" gerutu Meta tidak tahu menau tentang Aslan.


Rendra meletakan sendok dan menghela nafasnya menahan sabar, tapi Rendra cinta.


"Sayang jangan bicara begitu, Tuan Aslan dan istrinya tidak begitu," tegur Rendra lirih tidak ingin didengar teman yang lain.


"Kamu selalu saja membelanya, pernikahan macam apa begini doang? Murahan kampungan. Ayo pulang!" ucap Meta lagi.


Sumpah setia Rendra memang tidak membocorkan kehidupan pribadi Aslan pada siapapun. Mendengar percakapan dua sejoli di depanya Cyntia mengepalkan tangan dan sikap yang tadinya simpati ke Rendra berubah kesal. Cyntia menganggap Rendra laki-laki payah tidak bisa mendidik wanitanya.


"Bukan begitu, Yang. Tuan Aslan memang tidak begitu. Kamu tidak tahu apapun tentang mereka!" bisik Rendra lagi menasehati pacarnya.


"Aku udah nggak betah di sini! Ayo cepat pulang!" ucap Meta merasa level pesta Aslan terlalu norak karena hanya karaokean Mami Asha, Satya dan temanya.


"Tunggu sebentar!" ucap Rendra mengalah pada Meta dan berniat pamit ke Aslan.


Saat Rendra pergi, Cyntia pun mencengkeramkan cakarnya. Dia yang berjiwa nekat dan kasar langsung mendorong kursi Meta. Meta yang merasakan gerakan kursinya langsung menoleh.


"Kau!" tanya Meta sombong.


"Eh selebgram sok asik. Jaga bicara mu ya!" labrak Cyntia lirih tapi dengan mata tajam.


"Wow. Kamu mengancamku? Eh artis pendatang baru. Jangan belagu lo ya! Gue selebgram hits followerku banyak. Lo jangan macam-macam sama gue!" jawab Meta tidak kalah galak dengan Cyntia.


"Dasar palsu. Semua hidupmu itu palsu. Dengar gue. Kia dan Aslan tidak seperti yang kamu tuduhkan. Tanya sama pacarmu. Rumah ini bahkan Tuan Aslan yang belikan! Harusnya pacarmu yang tau semuanya. Bisa- bisanya kamu mengatai orang yang memberi pekerjaan dan rejeki ke pacarmu begitu? Tidak tahu malu!" umpat Cyntia lagi.


Mendengar penjelasan Cyntia, Meta terdiam dan kelabakan mau jawab apa. Dia juga kesal pada Rendra pacarnya. Melihat Meta terdiam Cyntia tersenyum puas.


"Tempatmu bukan di sini. Selebgram gadungan. Sekali lagi kamu hina temanku tamat riwayatmu!" ancam Cyntia lagi.


"Aku tidak takut. Dasar artis pendatang baru belagu. Gue juga nggak betah di sini!" jawab Meta sombong.


Meta kemudian mengeratkan rahangnya. Melihat ke Rendra yang justru ditarik Satya untuk menyanyi bersama, Meta kesal dan mengangkat tasnya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2