
Masih dengan tanpa pakaian, Aslan menikmati waktunya bersama anaknya. Tidak peduli ada jadwal meeting yang harus dia tunda.
Tidak peduli berkas tanda tangan menumpuk di meja. Aslan sangat bahagia sekarang. Apalagi dia tau Kia juga datang.
Aslan kini bisa tertawa, bercengkerama, menyentuh, memeluk, dan mencium Ipang dengan leluasa. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kini di depanya ada miniatur dirinya.
Andai Aslan bisa lebih dulu mengenali Ipang, Andai Aslan dulu tetap mencari Kia. Pasti Aslan sudah bahagia sejak lama.
Tapi ya sudahlah, percuma berandai-andai tentang waktu yang lalu. Aslan hanya ingin menikmati waktunya sekarang.
"Ayah" panggil Ipang mengusap air di wajahnya sambil berpegangan di dinding kolam.
Ipang cepat menangkap pelajaran renang dan mulai bisa mengambang di tepian.
"Iya Jagoan kenapa?" tanya Aslan mendekat.
Sementara Daffa masih nyaman menengadahkan tubuhnya ke langit di atas air dengan bantuan ban air, sangat nyaman.
"Sepertinya ibu marah padaku" tutur Ipang mengadu dengan muka cemberut, Ipang sangat peka terhadap perasaan ibunya. Ipang juga takut membuat ibunya sedih.
"Kan ada ayah, tidak perlu khawatir, apa ibumu sering marah?" tanya Aslan dengan wajah gantengnya, mencoba mengorek Ipang, seperti apa ibu dari anaknya itu.
"Ibu selalu baik pada Ipang. Tapi ibu sudah berpesan, Ipang tidak boleh dekat-dekat ayah" tutur Ipang polos.
"Hemmm begitu? Kalau gitu, biar ayah aja yang temui ibu" jawab Aslan manggut-manggut tenang, menemui Kia sangat menyenangkan buat Aslan.
"Rupanya kamu sengaja membuat anak kita, menjauh dariku, liat saja nanti" batin Aslan menggigit bibirnya sambil membayangkan wajah Kia yang sangat imut jika marah dan tersipu malu.
"Tapi Ipang juga kangen ibu, Ipang saja yang temui ibu" jawab Ipang.
"Tenang saja Ipang, kalau ibumu marah, kamu pura-pura menangis saja. Sepertiku, kalau mommy marah, aku menangis, maka mommy akan berhenti memarahiku" celetuk Daffa dengan polosnya.
"Dasar kau ya" ucap Aslan menyentil Daffa.
"Itu benar Uncle" jawab Daffa percaya diri. Ternyata Daffa banyak akalnya.
"Yaya!"
"Uncle si payah, seharusnya Uncle jangan biarkan mommy Ipang marah" tutur Daffa lagi sok menasehati.
"Iya, seharusnya ayah jangan buat ibu marah, ayah jangan kasar ke ibu seperti waktu itu" sahut Ipang.
Aslan hanya mendengarkan dua bocah itu manggut-manggut. Aslan memang sangat sombong pada pertama bertemu, sampai waktu itu tidak menyadari kalau Ipang sangat mirip denganya.
"Daddy Daffa selalu cium mommy dan peluk mommy kalau mommy marah, setelah itu mommy berhenti marah" ceplos Daffa memberi tahu.
"Begitukah? Jadi mommymu tidak akan marah lagi jika dipeluk dan dicium dadymu?" tanya Ipang.
"Iya" jawab Daffa percaya diri.
"Ayah buat ibu jangan marah lagi ya!" pinta Ipang polos ke Aslan.
"Hmm" sementara Aslan hanya garuk-garuk kepala.
"Siap Boss!" jawab Aslan asal mengangguk.
Bagaimana menjelaskanya ke Daffa dan Ipang, kalau hal itu bisa dilakukan jika mereka menikah. Sementara sekarang bisa ngobrol dengan Kia saja sudah kesempatan emas buat Aslan.
****
"Ipaaang!"
Perempuan berjilbab voal dengan menggunakan tunik warna coklat muda bermotif bunga dipadu dengan celana kain berwarna putih tulang berjalan panik mendekati Ipang.
Ipang, Daffa dan Aslan menoleh ke Kia santai. Aslan juga hanya menatap dengan tatapan cool. Mataya tidak lepas dari bibir Kia yang tampak menggemaskan.
Aslan menyender di sisi kolam dengan tangan di letakan di sisi kolam. Dada bidangnya tampak sempurna, rambut basahnya pun menambah kegagahanya.
"Ibu" panggil Ipang senang.
"Temui ibumu dulu, kalau dia marah, panggil ayah, oke?" bisik Aslan lirih ke Ipang. Aslan membantu Ipang naik dan membiarkan menghampiri ibunya.
Ipang berlari dengan badanya yang hanya memakai celana pendek. Mendekati Kia yang berada di dekat pintu.
Kia menatap Ipang khawatir dan segera meraihnya. Meski tahu ada Aslan Kia tidak menghiraukan.
__ADS_1
"Kemari Nak" ucap Kia meraih tangan Ipang.
"Dimana bajumu, kenapa kamu tidak ikut kelas dan malah main di sini? Heh!" tanya Kia ke Ipang, ingin marah tapi tidak tega.
"Baju Ipang ada di sana" jawab Ipang menunjuk Kaos dan celana Ipang di dekat kolam.
Itu artinya kalau mau mengambil berarti Kia harus mendekat ke Aslan dan Daffa.
Kia menoleh ke arah yang ditunjukan Ipang, dan tatapan Kia bertemu dengan tatapan tajam Aslan.
"Ehm" Kia membuang muka dan menelan ludahnya menghindari tatapan Aslan.
"Iyuuuuh, apa yang sudah singa gila itu lakukan?" batin Kia geram.
"Ambil bajumu! Kembali ke kamar oke" ajak Kia tegas ke Ipang.
"Ipang nggak mau!" jawab Ipang untuk pertama kalinya menolak ucapan Kia.
"Ipang!" ucap Kia terhenyak. Ipang tampak cemberut ke ibunya.
"Ipang anak ibu, bukankah Ipang ke sini mau belajar jadi bintang kecil iya kan? Kenapa Ipang malah main di kolam begini? Kenapa kamu bolos?" tanya Kia ke Ipang.
"Ipang nggak suka di dalam Bu. Ipang suka main air di sini, Ipang ingin main" jawab Ipang lagi.
Kia menelan salivanya menahan sabar, lalu Kia berjongkok mensejajari Ipang. Kia memegang kedua pipi Ipang agar menatapnya.
"Dengarkan ibu Nak, Ipang nggak boleh main dengan sembarangan orang! Ibu kan sudah bilang jauhi orang itu!" tutur Kia mempengaruhi Ipang agar tidak dekat-dekat Aslan.
"Kenapa Bu?"
"Pokoknya Ipang sekarang ambil bajunya. Ikut ibu!"
"Kemana Bu?"
"Kamu bilang kamu nggak suka kan ikut kelas, di sini? Ayo kita keluar, dan pulang ke kampung!"
"Nggak Bu. Ipang suka di sini? Ipang hanya tidak suka pelajaran menari" tolak Ipang lagi.
"Ipang! Kenapa anak ibu sekarang pandai membantah?"
"Ayah?" tanya Kia kaget, benar dugaan Kia. Aslan sudah meracuni otak Ipang.
"Iya. Ipang mau sama ayah" ucap Ipang lagi, lalu Ipang lari menjauhi Kia dan mendekat ke Aslan.
"Hoooh" Kia terbengong merasakan sakit yang amat sangat, karena diacuhkan anaknya. Pikiran buruk tentang ancaman ibu tiri dan kecaman pelakor datang ke otak Kia.
Kia kemudian menatap lelaki yang sedang berendam di kolam itu. Ipang tampak mengadu pada ayahnya manja. Entah apa yang Ipang adukan. Sepertinya Aslan berhasil merebut hati Ipang.
Tanpa malu, Aslan keluar dari kolam. Sesaat mengibaskan rambutnya yang basah, menambah ketampanan Aslan.
Aslan berjalan hanya dengan celana pendeknya mendekati Kia di dekat pintu hotel.
"Bisa-bisanua dia mengaku-ngaku jadi ayah Ipang tiba-tiba. Ini tidak bisa dibiarkan, mau apa dia?" batin Kia geram.
Kia menelan salivanya dan mengalihkan padanganya agar tidak bertatapan dengan Aslan. Kia malu sendiri melihat Aslan tanpa baju. Tapi Aslan sudah ada di depanya.
"Mau apa kamu?" tanya Kia tidak berani menatap Aslan
"Dasar tidak tahu malu. Bisa-bisa nya dia tidak berpakaian begini" batin Kia menundukm
Sementara Aslan justru menatap senang ke Kia. Jika gugup dan salah tingkah Kia terlihat sangat imut dimatanya.
Ditatap dekat dalam, Kia menjadi semakin gugup dan salah tingkah.
"Anngkat wajahmu, jawab pertanyaanku!" ucap Aslan menatap Kia.
"Menyingkirlah dariku! Tidak tahu malu!" jawab Kia memundurkan langkah menjauhi Aslan dan mengejek Aslan
"Kenapa?"
"Pakai handuk dan bajumu, Tuan Aslan" jawab Kia tidak berani menatap Aslan.
Saat Kia menunduk ke bawah, Kia malah mendapati pemandangan yang menggelikan. Karena basah dan tidak begitu longgar. Kia melihat ada sesuatu yang menonjol di antara dua paha Aslan.
"Bukanya kamu sudah melihat semuanya dari yang kupunya, kenapa aku harus pakai handuk?" tanya Aslan malah menggoda Kia dengan senyuman nakalnya.
__ADS_1
Akhirnya Kia memilih menatap Aslan meski sambil tergugup.
"Apa yang kamu katakan ke Ipang, kenapa di melawan kataku!" tanya Kia marah.
"Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kamu katakan ke anakku, kenapa dia menangis? Sudah cukup kamu bohongi dia, dia tau siapa aku sekarang" tanya Aslan ke Kia.
"Hoh? Anakmu? Dia anakku! Bisa-bisanya kau tiba-tiba mengaku-ngaku. Aku yang mengandungnya, membesarkanya. Sudah kukatakan, jangan dekati dia, dan biarkan kami hidup tenang!" jawab Kia lagi.
"Sudah ku katakan, dia anakku, dia butuh aku, aku akan membesarkanya dan memastikanya hidup dengan baik! Jangan bohongi dia lagi!"
"Tidak ada yang bisa mengambil Ipang dariku!" jawab Kia lagi.
Tiba-tiba Daffa berteriak.
"Uncle aunty, Help..."
Aslah dan Kia menoleh ke kolam, karena belum benar-benar pandai. Ipang tampak gelagapan di tengah kolam hampir tenggelam. Daffa yang masih kecil tidak bisa menolongnya hanya kebingungan.
Sontak Aslan dan Kia langsung berlari.
"Ipaang!" teriak Kia histeris sambil menangis.
Aslan langsung nyebur ke kolam menolong anaknya. Meski sebentar ternyata Ipang lumayan banyak menelan air.
Aslan pun memposisikan Ipang dengan tubuh terbalik agar airnya keluar. Kemudian berusaha menepuk-nepuk dan menyadarkanya. Kia berdiri menangis.
"Uhuk Uhuk" Ipang berhasil sadar, tapi tetap saja Kia dan Aslan masih khawatir.
"Ipang" Kia langsung mendekat dan memeluk Ipang.
"Ayo kita kerumah sakit!" ajak Aslan dengan nada lesu.
"Daffa, naiklah, pakai pakaianmu! Kembali ke kamarmu ya" ucap Aslan memerintah Daffa dan mengambil pakaian Aslan sendiri.
"Baik, Uncle" jawab Daffa menurut. Daffa juga terlihat ketakutan.
"Sudah jangan menangis, ayo kita priksakan Ipang, pakaiakan ini" tutu Aslan memberikan baju Ipang dan mengajak Kia memeriksakan Ipang.
Aslah mengambil bajunya, Kia juga memakaiakan Ipang baju. Ipang sudah sadae tapi masih lemas dan syok.
Untuk pertama kalinya, Aslan dan Kia berjalan beriringan sebagai orang tua lengkap. Mereka berdua sama-sama mencemaskan Ipang. Kia menggendong Ipang mengikuti Aslan.
"Biar aku yang gendong" ucap Aslan mengulurkan tangan.
"Aku saja" jawab Kia dingin kekeh ingin menggendong Ipang.
"Ipang mau sama Ayah" ucap Ipang lirih.
Akhirnya Kia diam dan membiarkan Aslan menggendong Ipang. Lalu mereka bertiga menuju ke klinik terdekat memeriksakan Ipang.
"Tuan Nyonya, saya ingatkan ya. Lain kali harus hati-hati menjaga anak kalian. Untung anak ibu cepat tertolong. Kalau tidak kalian bisa menyesal" tutur Dokter setelah memeriksa Ipang.
"Iya Dok. Maafkan kami" jawab Kia menunduk.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Aslan
"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Dia hanya masih syok, biarkan dia istirahat, dan sebaiknya buat dia melupakan traumanya" tutur Dokter lagi.
"Bagaimana caranya Dok?" tanya Aslan peduli.
"Ajak dia bermain sehingga dia lupa akan kejadian tadi. Tapi sekarang biarkan dia istirahat dulu"
"Baik Dok!" jawab Kia dan Aslan mengangguk.
****
Terima kasih sudah baca karya author yg amatir ini.
Semoga sukak.
Buat semangat author, selalu tinggalin like, koment membangun dan vote ya.
Happy reading.
😍
__ADS_1