Sang Pangeran

Sang Pangeran
160. Terpaksa Bantu.


__ADS_3

Di tempat lain.


Rendra, menghabiskan satu botol minuman mahal yang kata Kia itu haram.  Rendra merasa kepalanya sedikit pening, tapi dia merasa dirinya masih sadar dan masih bisa mengendalikan dirinya.


Meski sudah habis, nyatanya, sakit hatinya masih berasa, malah minuman itu membuat Rendra samakin merasa tidak nyaman, karena Rendra memang tidak bakat minum. 


Rendra sendirian, otak sadarnya kemudian membuatnya mengambil keputusan pulang. Malam itu jam sudah menunjukan pukul 22.30, belum terlalu malam untuk ukuran pengunjung bar di ibukota. Apalagi untuk laki- laki sedewasa Rendra yang sudah berkepala tiga dan yang seharusnya sudah punya buntut. 


Rendra memutuskan untuk pulang sebelum dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Rendra membayar apa yang dia pesan, kemudian menuju ke mobilnya. 


“Haish... kenapa kepalaku pusing begini sih, s*ialll!” gerutu Rendra merutuki dirinya. Minum-minuman keras ternyata bukan solusi menyelesaikan masalah.


Cinta terkadang memang membuat seseorang menjadi bodoh jika salah menempatkanya. Ya iya lah Rendra pusing, orang Rendra tidak pernah minum- minuman keras, tiba- tiba nekat minum- minuman. 


Rendra diam sejenak memejamkan mata dan menggelengkan kepala berharap pusingnya hilang. Untuk mengobati pusingnya Rendra kemudian mampir beli wedang jahe dan camilan berharap badanya jadi segar dan perutnya terisi.


Ide konyol sebenarnya, tapi yang ada di pikiran Rendra, Rendra harus istirahat dulu sebelum menyetir ke apartemen. Rendra harus bisa pulang.


Setelah makanan dan minuman habis Rendra masuk ke mobilnya dan bersiap pulang. Saat minum jahe anget itu, memang kepala Rendra agak segar sedikit, tapi sekarang saat Rendra sudah di mobil dan menggerakan stirnya, kepala Rendra kembali terasa pening. 


Sebenarnya salah apa yang dilakukan Rendra sekarang. Mengemudi saat nyetir jelas sangat berbahaya.


Sebagai sarjana yang memiliki IPK hampir sempurna, dan lulusam S2 yang mendapatkan rangking nomer dua setelah teman perempuan Rendra dari negara lain, Rendra sangat tahu apa yang dilakukan Rendra, salah. 


Akal sehat dan kepintaran Rendra itu pergi karena keadaan. Rendra sendirian, mau tidak mau Rendra harus menguatkan tubuhnya. Rendra melawan segala resiko dan nekat memaksakan diri mengendarai mobilnya. Untung saja jalanan malam itu sepi. 


*****


“Ikut naik yuk!” ajak teman Cyntia. 


Acara Steve sekarang tinggal party dance, teman Cyntia mengajak Cyntia ikut dansa menikmati musik. 


Cyntia bukan tidak mau atau tidak bisa dance, tapi Cyntia ingat, besok kan ada janji bersama Pak Dewa sutradara impianya. Kontrak kerja dengan Satya pun masih ada PR. Cyntia datang ke pesta itu hanya untuk menjaga eksistensinya sebagai artis pendatang baru. 


“Sory ya! Gue lagi nggak enak badan, gue cabut dulu ya!” ucap Cyntia berpamitan. 


“Ah, nggak asik lo! Masih jam 10 lho Cyn!” tutur teman Cyntia. 

__ADS_1


“Iya, tapi gue nggak enak badan, besok masih ada kerjaan!” jawab Cyntia lagi. 


“Lo ah kerja mulu sih!” ejek teman Cyntia lagi. 


“He... healing pun butuh Cuan, Say!” jawab Cyntia tersenyum. 


“Oke, titi di je ya!” ucap teman Cyntia dengan bahasa akrabnya. 


“Yok! Daah, sory ya!” jawab Cyntia dan minta maaf lalu segera pergi. 


Cyntia memang perempuan wonderwoman, meski di usia mudanya sudah menjadi janda, dia tidak patah dalam mengepakkan sayapnya untuk terbang meraih mimpi. Meski orang tuanya kaya, Cyntia juga tidak mau bergantung pada mereka, Cyntia memilih berjuang sendiri, dan justru memilih hidup bersama Kia. 


Kia kini sudah ada Aslan, mau tidak mau Cyntia sendirian. Sahabat baru Cyntia yang satu tower Shella, tapi Shella masih hidup dengan orang tuanya.


Bohong kalau Cyntia tidak merasa sedih. Meski hanya sedikit persen, kalau dihitung ya sedihnya 30 persen, bahagianya 70 persen. Cyntia merasa kesepian dan ada kehampaan di hatinya. Sesukses apapun sekarang Cyntia, tetap ada yang kurang di hatinya. 


Cyntia berjalan cepat menuju ke mobilnya. Cyntia mengemudikan mobilnya sendiri dengan berani, itu memang sudah kebiasaan Cyntia sejak kuliah. Pulang dini hari juga sudah biasa baginya, jadi tidak ada ketakutan di hati Cyntia.


“Duh, minum apa sih gue tadi, kok gue gerah gini sih?” batin Cyntia merasa ada hawa panas di tubuhnya, yang tidak bisa Cyntia jelaskan. Cyntia tadi diberi minuman oleh  temanya Si Ben.


Cyntia mengemudikan mobilnya cepat agar segera sampai di apartemenya. Cyntia ingin segera ganti pakaian, berendam air hangat, dan merebahkan tubuhnya. Cyntia juga tidak membuka ponselnya. Cyntia hanya menolehnya.


"Kalau gue kirim lewat wa, nggak asik dong! Gue nggak lihat kehancuranya, besok aja gue tunjukan. Moga aja gue ketemu lagi!" batin Cyntia tidak sabar melihat Rendra malu dan hancut sudah mengatai Cyntia.


“Ciiiit!” Cyntia menginjak pedal rem cepat. Lamunan tentang Rendra pergi.


Saat sudah hampir sampai di apartemen, di jalan pelataran masuk ke wilayah apartemen ada mobil berhenti di tengah jalan. Lampunya menyala, tapi mobil itu tampak menabrak tanaman yang tertata rapi di bahu jalan. 


“Haiish! Mobil siapa sih? Berhenti sembarangan gitu?” batin Cyntia kesal melihat mobil terparkir sembarangan menghalangi jalanya. 


“Thin thin!” Cyntia membunyikan klakson mobilnya, Cyntia ingin memberitahu agar mobil itu minggir. 


Sayangnya mobil itu tidak bergerak, padahal lampunya nyala. 


“Ck... iihh! Resek banget sih!” gumam Cyntia kesal. 


“Thin thin!” Cyntia kembali membunyikan klakson lagi. 

__ADS_1


Mobil itu tetap tidak bergerak maju ataupun mundur. 


“Iiih, satpam dimana lagi? Ck! Nyebelin banget!” gerutu Cyntia kesal. 


Cyntia kemudian memperhatikan mobil itu dengan seksama. 


“Kaya kenal gue ama mobil itu?” gumam Cyntia. Cyntia memarkirkan mobilnya dengan baik. Tidak berfikir buruk, atau curiga apapaun, Cyntia turun memastikan ada penumpang atau tidak di dalam mobil itu. 


“Wah, parah, itu orang tidur apa gimana?” gerutu Cyntia lagi melihat mobil itu ada orangnya. 


“Prak prak!” Cyntia menggedor mobil itu keras.


“Permisi, Pak, mobil anda mengehalangi mobil saja, bisa minta tolong ditepikan dengan benar?” ucap Cyntia masih sopan. 


Sayang nya si penghuni mobil yang dari luar tampak menunduk diam saja. 


“Parah banget sih ini orang?” gerutu Cyntia lagi saat melihat dari kaca luar si laki- laki pengemudia itu diam saja. 


“Perlu dikasari ni orang! Lo pikir gua takut!” batin Cyntia lagi. Cyntia kemudian menggebrak pintu mobil itu keras. Si pengemudia kemudian menoleh. 


“Ahh berisik sekali!” ucap si Pengemudi meracau. 


“Pak! Mobil anda menghalangi jalan saya! Tolong tepikan!” teriak Cyntia kesal dan menggedor pintu mobil lebih keras. 


Si pengemudi malah membuka kaca mobilnya tanpa turun. 


“Berisik banget si Loh!” ucap Si Pengemudi dengan nada bicara tidak jelas. 


“Eloh!” pekik Cyntia melotot. Cyntia langsung memicingkan mata, mengeratkan rahangnya, mengepalkan tangan dan mengambil nafas bersiap memaki. 


“Hmmm eeuggh!” Rendra justru melenguh dan seperti orang nge_Fly. 


“What? Lo mabuk!” pekik Cyntia lagi sangat kesal, dari pandangan mata Rendra dan matanya yang merem melek sangat terlihat kalau Rendra mabuk. 


“Iiiiiiihhh!” Cyntia kemdian mengepalkan tanganya sangat kesal dan gemash. Kenapa juga harus nemuin Rendra dalam keadaan begini. 


Cyntia melihat sekeliling tidak ada orang. Cyntia melihat jam tangan ternyata sekarang sudah dini hari. 

__ADS_1


“Errrrgggghhh!” keluh Cyntia kesal. “Gue harus bantu dia ini mah!” batin Cyntia. 


__ADS_2