
Acara akad dan resepsi Kia dan Aslan berjalan lancar dan khidmat. Kia benar- benar menjadi ratu sehari, bahkan teman- teman Aslan yang dari luar negeri tidak ada yang percaya kalau anak laki- laki yang berdiri di depan mereka adalah anak Kia.
“She is so beatiful!”
“Yeah, she is my queen!” jawab Aslan percaya diri.
Aslan dan teman- temanya saling berbisik sambil berpegangan tangan di pelaminan memuji Kia.
Kia hanya melirik dan merasa tidak nyaman karena sudah berjam- jam memakai gaun kebesaran ala princess itu. Rasanya Kia ingin segera ganti dengan gamis sederhana, tapi kata pihak MUA nya Kia akan ganti kostum masih setengah jam lagi di waktu sholat dzuhur.
Kia juga melihat barisan kolega Aslan masih banyak.
“Bang Aslan katanya sederhana dan orang terdekat? Kenapa seramai ini?” batin Kia tidak menyangka ternyata resepsinya benar- benar meriah.
Sedikit versi Aslan dan versi Kia berbeda. Teman Aslan kan banyak, dari berbagai negara dan pulau. Apalagi di jaman modern sekali tekan di media sosial atau sambungan telepon kabar pernikahan kedua Aslan langsung terhubung ke sahabat Aslan.
Sahabat yang mengenal baik Aslan dan berhutang budi pasti akan menyempatkan waktunya untuk datang.
“Itu Daffa!” ucap Pangeran menggoyangkan gaun Kia.
Satya meski adik Aslan, dia yang sedang menunggu Tuan Agung di rumah sakit dan mempunyai pekerjaan lain memang sengaja terbang sendiri di waktu yang berbeda.
Pangeran dan Alena didandani layaknya Pangeran kecil dan putri kecil ikut naik ke pelaminan berdiri menemani ayah ibunya.
Alena yang sudah lelah turun lebih dulu minta minum dan makan bersama Mbok Mina. Sementara Pangeran masih betah berdiri di antara Kia dan Aslan dengan bahagia menyalami tamu- tamu ayahnya.
Begitu melihat Daffa, setelah mendapat anggukan Kia. Ipang berlari menghampiri Daffa.
Satya langsung mengucakan selamat ke kakak dan iparnya itu, hanya saja dari raut wajah Satya menyiratkan beban yang tinggi, kantung matanya tebal. Satya juga terlihat lesu seperti memendam sesuatu.
Saat mengucapkan selamat juga terkesan dongkol. Bahkan jika di berdiri bersebelahan, Satya terlihat lebih tua dari Aslan, padahal Satya adiknya, tapi memang mereka kan terlahir dari bibit yang berbeda. Tuan Agung dan Tuan Surya memang lebih tampan Tuan Surya.
“Selamat Kak! Aku bahagia, kakak bahagia!” lirih Satya dengan wajah datar.
“Bagaimana kabar Papah?” jawab Aslan lirih.
“Baik. Satya tunggu di rumah Kak, Satya tunggu semua penjelasan Kakak!” lirih Satya lagi merasa tidak nyaman.
Semenjak Aslan berpamitan ziarah ke makam ibunya, Aslan tak lagi datang ke rumah sakit dan tiba- tiba muncul berita penangkapan Tuan Alex atas pembunuhan Tuan Surya.
Awalnya Satya tak mau ikut campur, berhubung Alex masih terhitung kerabat, Satya mencari informasi dan ternyata ada hubunganya dengan Aslan, bahkan polisi sempat mendatangi Satya menanyakan Tuan Agung guna penyelidikan.
Satya kemudian menyuruh anak buahnya mencari tahu. Semua menjawab kuncinya ada di Aslan.
Sejak saat itu, Satya pun menjadi merasa tidak nyaman pada Aslan. Apalagi saat ada yang memberitahu Tuan Surya adalah ayah Aslan. Satya pun dibuat bingung.
Satu hal yang pasti, apapun yang terjadi mereka satu ibu, dan harus tetap saling menjaga dan menyayang. Begitu pikir Satya sehingga Satya tetap menjaga pikiran baik ke Aslan.
“Temui Umma dan Kikan! Kaka akan jelaskan semuanya, tunggu kakak pulang!” jawab Aslan. Satya mengangguk.
Satu persatu tamu undangan naik, berfoto, mengucapkan selamaat dan doa, menikmati jamuan makanan dan hiburan setelah itu mereka pulang.
Waktu yang Kia tunggu datang juga. Akhirnya Kia terbebas dari baju kebesaranya. Aslan dan Kia kemudia sholat dzuhur bersama, lalu mengenakan gaun sederhana dan menikmati makan siang bersama keluarga inti.
__ADS_1
Satya, Manda, Kikan, Umma dan Rendra satu meja saling melepas rindu sebagai keluarga Aslan. Putri, Delvin, Radit dan Fatimah di meja yang lain. Cyntia kemudian memilih bergabung bersama Mbak Narti, Mbok Mina dan Alena. Dhanu dan Ranti memisahkan diri satu meja sendiri.
Aslan dan Kia menyapa semuanya kemudian memilih bergabung bersama Ranti dan Dhanu. Sementara Daffa, Ipang dan Rafli seperti sebelumnya setelah kenyang disuapi lebih dulu mereka asik bermain sendiri.
Makan siang selesai mereka kembali ke kamar masing- masing, penerbangan untuk kembali ke Ibukota sore ini, mereka semua pun bersiap- siap.
“Sayang!” panggil Aslan ke Kia menuju ke kamarnya.
“Ya, Bang!” jawab Kia menoleh ke Aslan lalu berinisiatif menggandeng tangan Aslan.
“Kita pulang 1/ 2 minggu lagi ya!”
“Maksud, Abang?”
“Kita bulan madu dulu!”
“Hemmm, bulan madu? Perlukah?”
“Iya, pengantin baru kan akan menghabiskan waktu beberapa hari untuk bulan madu!”
“Baang... tapi kita udah bukan penganten baru!” jawab Kia tetap saja masih berfikir kolot.
“Baru lah!” jawab Aslan ngotot.
“Kita udah punya Ipang dan Alena! Nggak usah bulan madu - bulan madu. Di rumah aja, kan bisa!” jawab Kia lagi berfikir, berhubungan suami istri kan fleksibel bisa dimana saja.
“Nggak! Abang pengen nikmati waktu pacaran dan berdua dengan kamu! Abang juga ingin lihat ada Kiara junior, Sayang!” jawab Aslan mengutarakan keinginanya.
“Hemmmm!" Kia diam dan berfikir, mereka kan memang belum pernah pacaran, selalu ada masalah. Sekarang juga sebenarnya masih punya masalah. Sepertinya tidak ada salahnya menyenangkan hati Aslan.
“Terserah kamu. Di sini boleh. Keluar negeri boleh. Abang akan beritahu mereka. Biar Rendra yang jaga Pangeran, Alena Mbok Mina yang jaga!” jawab Aslan memberi solusi.
“Kia ikut Abang mau kemana? Tapi kalau Paul ambil Alena gimana?”
“Ya kan Paul memang ibunya, Sayang!”
“Tapi Kia takut Alena disakiti lagi, Alena belum sembuh sempurna Bang!” jawab Kia lagi.
“Baik, biar Abang yang atur. Mereka tidak akan ambil Alena” jawab Aslan tersenyum menenangkan Kia. Kia pun patuh saja.
Aslan kemudian membiarkan Kia siap- siap sendiri. Aslan meminta keluarganya kumpul dan meminta Rendra mengaturnya. Setelah diberi pengertian Pangeran dan Alena mengerti.
“Jadi ayah dan ibu mau pergi dulu dan nanti pulangnya bawa Adik cantik?” tanya Pangeran polos.
“Ya!” jawab Aslan mengangguk senang.
Sementara Alena sudah langsung paham maksud Aslan.
Setelah rundingan bersama. Rendra meminta Kikan dan Umma tinggal di apartemanya merawat Ipang. Sementara Alena bersama Mbak Narti dan Mbok Mina di apartemen Cyntia. Di apartemen mereka akan aman dari Paulina. Kikan pun menyanggupinya sangan bahagia. Itu artinya kan Kikan dekat dengan Cyntia.
Waktu pun terus berlalu, kini waktunya berangkat. Aslan dan Kia pun mengantar keluarganya ke bandara.
“Sayang, jadi anak baik ya... patuh sama Umma dan Tante Kikan. Patuh juga sama Om Rendra!” tutur Kia memeluk Pangeran dan memberi pesan.
__ADS_1
“Iya Bu! Ibu janji ya, kasih Ipang adik yang cantik!” jawab Pangeran pintar.
Kia hanya tersenyum tersipu dan mengangguk. Setelah itu Kia memeluk Alena dan menitipkanya pada Mbok Mina dan Cyntia.
"Dengar ibu ya. Everything will be ok. Tinggalah bersama aunty Cyntia dan Mbok Mina. Ok?"
"Oke Bu!" jawab Alena paham.
“Meski aku tidak selalu di apartemen, percayalah, apartemenku aman, Alena akan aman bersamaku. Bersenang- senanglah. Selamat ya. Kini kalian sah, baik secara agama dan negara. Nggak ada yang bisa pisahin kalian lagi!” tutur Cyntia ke Kia di samping Mbok Mina dan Alena.
“Makasih, Sayangku, ini semua berkat doa kamu dan dukungan kamu!” jawab Kia memeluk Cyntia.
“Kalian berhak bahagia!” jawab Cyntia tersenyum.
“Kalau aku berhak bahagia, kamu juga wajib bahagia Cyn, gue sangat berharap Lo juga segera menemukan pasangan lo!” tutur Kia lagi sambil memegang lengan Cyntia.
Cyntia kemudian hanya tersenyum. Cyntia melirik ke Rendra yang tampak menyambut Ipang dan menggendongnya. Entah kenapa saraf Cyntia menyuruhnya begitu.
“Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang!” jawab Cyntia dingin. Kia mengangguk senyum.
Pemberitahuan pesawat akan segera terbang, terdengar.
Keluarga Kia berangkat dan Kia hanya tersenyum melambaikan tangan ke putra dan putrinya sampai mereka menghilang.
Ipang dan Rendra tampak sangat kompak dan Cyntia melihat itu semua, karena kebetulan kursi Rendra ada di samping Cyntia berjarak jalan. Sementara Cyntia bersebelahan dengan Kikan.
“Kenapa dia terlihat jadi pria waras kalau sedang bersama orang lain dan bersama anak kecil begitu? Tidak bisa dipercaya, ternyata dia pandai bersandirwara jadi ayah!” batin Cyntia dalam hati, melihat Rendra begitu luwes mengasuh Ipang.
“Kak Kikan takut melihat luar, tuker duduk ya Kak!” ucap Kikan meminta Cyntia duduk di dekat kaca membuyarkan lamunan Cyntia. Cyntia pun setuju.
Kikan memilih menikmati perjalananya tidur, sementara Cytia menatap awan dengan kekosonganya. Entah kenapa saat melihat pemandangan sendiri begitu, pikiran Cyntia jadi kemana- mana. Bahkan tidak ada angin tidak ada hujan di pesta Kia tadi Cyntia menangis, entah terharu atau karena hal lain.
Sekarang pun sambil melihat langit, Cyntia tiba- tiba menangis.
“Punya tissu nggak? Nih tissu buat kamu!” ucap Rendra tiba- tiba berdiri di jalan sela- sela bangku membuyarkan lamunan Cyntia. Cyntia terlihat menatap pemandangan dengan derai air mata.
Cyntia kemudian buru- buru menyeka air matanya, untung Kikan dan Pangeran tidur. Padahal kan di antara Cyntia dan Rendra ada Kikan.
“Siapa yang nangis gue nggak nangis kok!” jawab Cyntia tegas tidak ingin terlihat lemah.
“Oh terus itu apa keluar air dari mata kamu?” tanya Rendra menyangkal.
“Kelilipan!” kelilipan jawan Cyntia asal.
“Kelilipan kok berulang-ulang, nggak malam nggak pagi nggak sore! Kelilipan terus!” jawab Rendra mencibir tetap meletakan tissu di dekat Cyntia. Rendra kemudian berjalan ke arah pantri.
“Hoh...!” Cyntia pun hanya menghela nafasnya sambil berfikir. Saat makan malam, saat resepsi, dan sekarang, Cyntia memang rasanya ingin menangis terus.
“Haish... dia ternyata melihatku menangis?” batin Cyntia kesal.
Padahal saat resepsi tadi, Cyntia sudah berlari menyingkir dari keramaian membetulkan make upnya karena menangis.
“Kenapa gue jadi sensi gini sih? Perasaan gue udah selesai mens, apa aku mau mens lagi?” batin Cyntia kesal.
__ADS_1
Cyntia kemudian ikut bangun dan berniat mencuci mukanya ke toilet.