
"Seksi banget sih Cyn?" komen Kia melihat ke kaca.
Cyntia yang memang lebih suka berpakaian seksi sedikit mempunyai baju panjang. Baju muslim yang dia punya kaftan untuk lebaran, sangat tidak pas untuk Kia pakai ke kafe.
Baju panjang yang ada kemeja atasan dan celana kain. Memang panjang, tapi ukuranya slim pas body, dan kemejanya di atas pantat. Berbeda dengan pakaian Kia biasanya, meski sama-sama celana dan tetap tomboy. Kia banyak mengenakan tunik dan celana kulot atau kain longgar.
"Lo berisik banget sih. Adanya itu ya udah pakai aja itu. Nggak mau ya udah nggak usah pakai baju sekalian"
"Ck. iya ya" jawab Kia akhirnya memakai baju seadanya.
Tubuh Kia yang tinggi dan berisi itu terlihat nyata. Bahkan buah melon Kia yang ranum terlihat tegas, karena jilbab Cyntia kali ini bukan yang besar seperti punya Kia.
Sementara Cyntia yang berbahagia karena hendak mendapatkan pekerjaan berdandan maksimal dengan pakaian seksi. Setelah mereka selesai berdandan mereka cuss.
"Cyn!" panggil Kia ke Cyntia.
"Apa?" jawab Cyntia menoleh ke Kia setelah merasa yakin rambutnya rapih.
"Suami lo sampai sekarang belum pulang? Lo nggak tanya dia kemana? Lo nggak ijin ke suami Lo?" tanya Kia merasa rumah tangga sahabatnya itu benar-benar aneh. Meski Kia belum pernah merasakan menikah tapi Kia tahu seperti apa idealnya berumah tangga itu.
"Udah dibilang nggak usah urusin dia. Bentar lagi gue jadi janda!" jawab Cyntia enteng, tidak menampakan kesedihan sedikitpun.
"Kok lo gitu sih?" tanya Kia lagi.
"Hah...." Cyntia menghela nafas sebentar dengan pandangan kosong, seperti hendak melepas semua beban.
"Gue udah nikah lama Ki. Dan gue belum punya anak. Gue tahu kelemahan itu dari gue. So. kalau suami gue memilih pergi buat dapetin anak. Gue ikhlas, gue bukan perempuan yang egois, kalau dia mau cari kebahagian lain, ya itu hak dia karena gue nggak bisa kasih itu" tutur Cyntia mencurahkan isi hatinya. Cyntia tampak berbicara serius dan membuat Kia iba.
"Cyntia!" panggil Kia.
Spontan Kia memeluk Cyntia. Tidak menyangka hidup Cyntia begitu memprihatinkan. Tapi Cyntia tetap terlihat bahagia.
Hidup mereka seperti kebalikan. Cyntia yang udah nikah belum dikasih anak. Sementara Kia yang punya anak nggak menikah.
"Nggak usah lebay. Make up dan rambut gue berantakan nih!" ucap Cyntia tidak mau dikasihani Kia karena nasibnya.
"Ishh" desis Kia. Dasar Cyntia.
"Gue aja yang ngejalanin happy kok. Gue bertahan sama dia karena gue masih butuh duit dari dia. Sebentar lagi gue akan jadi artis, gue punya duit. Dan gue akan gugat cerai dia. Doain gue dapet jodoh yang baik ya!" jawab Cyntia lagi realistis
"Hah... ck. Iya.. iyaa" jawab Kia masih tidak percaya ada orang berhati sekuat Cyntia.
Hanya diuji dengan belum hadirnya anak saja seharusnya Cyntia sudah lemah. Ditambah dia tau suaminya tidak respek lagi ke dia. Pasti hatinya hancur. Tapi Cyntia tetap bahagia dan berdiri kokoh. Kia semakin bangga punya sahabat seperti Cyntia.
"Ya udah berangkat yuk!" ajak Cyntia.
"Ayuk!" jawab Kia.
Lalu mereka berdua berangkat ke kafe galaksi. Cyntia berniat mengantar Kia menjemput Ipang. Dan setelah itu datang ke studio untuk memulai karirnya di dunia seni peran.
****
Setelah melewati perjalanan yang lumayan padat dan mengulur waktu, mereka sampai di kafe galaxy. Kafe yang berdinding kaca dengan hiasan tanaman hias mahal. Didekorasi seindah mungkin.
Kia sedikit tertegun melihat deretan mobil yang terparkir. Lalu mengedarkan pandanganya, mencari buah hati kesayanganya.
__ADS_1
"Ck. Anakku masih kecil sudah diajari nongkrong di tempat seperti ini. Didikan macam apa ini?" batin Kia tidak suka dengan gaya hidup Aslan.
"Masuk yuk!" ajak Cyntia.
Lalu mereka masuk.
"Dimana katanya?" tanya Cyntia ke Kia.
"Nggak tau" jawab Kia.
"Hemm, bos kaya Aslan biasanya punya ruang privat. Keknya di lantai dua deh. Ke atas yuk!" tutur Cyntia yang sudah pengalaman memberi tahu.
Dan benar saja, meski di lantai bawah pengunjung tampak ramai berdesakan. Di lantai atas tampak lengang seperti sudah di booking.
Mata Kia langsung berbinar melihat anak kecil sedang sibuk menyantap kentang goreng didampingi Rendra. Dan mulut belepotan seperti beberapa waktu lalu baru saja memakan sesuatu. Sepertinya Aslan menyuap anaknya dengan banyak makanan agar tidak rewel mencari ibunya.
Di meja yang berbeda. Aslan tampak berbicara serius dengan pengacaranya. Kia yang tidak kenal dengan orang itu mengira, Aslan mengasuh Ipang sambil bekerja.
"Ipang!" panggil Kia.
Semua yang ada di situ tidak terkecuali Aslan menoleh ke Kia dan Cyntia. Mereka berdua tampak cantik, membuat Rendra kembali menelan ludahnya.
"Ibu" panggil Ipang kegirangan lalu segera turun dari kursinya dan berlari memeluk Kia.
"Sial. Kenapa dia selalu cantik sih? Sampai kapan aku bisa menahanya dan bisa menikahinya?" batin Aslan menatap Kia sejenak.
Tapi dia ingat pesan Rendra. Harus jaga image dulu. Aslan kemudian memasang muka dingin bersikap tidak ada peristiwa-peristiwa sebelumnya.
"Ibu kenapa ninggalin Ipang?" tanya Ipang ke Kia.
Kemudian Kia berjongkong mensejajari anaknya. Meraih kedua pipi Ipang menatapnya dengan penuh kehangatan
"Maafin ibu ya Nak. Ibu semalam menginap di rumah tante Cyntia. Ibu kira anak ibu sudah tidur. Ibu menunggu lama, tapi Ipang tidak kunjung keluar" jawab Kia beralasan.
"Oh gitu. Ipang juga menunggu ibu"
"Apa semalam anak ibu bisa tidur? Apa ada yang Menyakitimu? Kamu tidur dengan siapa?"
"Ipang tidur sangat nyenyak. Setelah mandi Ipang langsung tidur. Tidak ada yang menhakiti Ipang, ayah dan nenek itu sangat baik ke Ipang. Tapi Ipang rindu ibu. Karena ibu pergi"
"Maafkan ibu ya Nak" ucap Kia memeluk anaknya.
"Ehm. Nyonya Kia silahkan duduk ada yang perlu saya sampaikan" ucap Rendra menghampiri Kia dan mempersilahkan Kia duduk.
Cyntia dan Rendra saling pandang sejenak. Merasa tidak berkepentingan dan masih punya urusan. Cyntia pamit, "Ki... gue cabut ya. Kalau urusan lo udah selesai telpon gue" bisik Cyntia.
"Oke" jawab Kia mengangguk.
Lalu Kia mengikuti Rendra. Mereka duduk di meja pojok. Kia melirik ke Aslan. Tumben Aslan tidak bergeming dan menyapanya.
"Ini surat kesepakatan perjanjian kerja untuk Nyonya Kia" ucap Rendra menyodorkan kertas.
"Apalagi ini?" tanya Kia. Sementara Ipang duduk ikut mendengarkan.
"Ingat Nyonya Kia masih punya hutang kontrak satu tahun ke perusahaan kami, silahkan dibaca baik-baik!" ucap Rendra lagi.
__ADS_1
Ternyata Aslan menyuruh Rendra membuat peraturan baru lagi agar Kia tidak pergi. Dan peraturan itu isinya sangat aneh.
Ada point yang mengatakan selama bekerja pada Aslan, Kia dilarang dekat dengan laki-laki ataupun menikah. Jika Kia melanggar aturan itu atau berhenti sebelum kontrak habis Kia didenda.
"Ck" Kia menggenggam kertas itu dan berjalan menghampiri Aslan tidak peduli Rendra di depanya.
"Ini apa maksudnya?" tanya Kia melabrak Aslan.
"Sebentar ya" ucap Aslan menghargai pengacaranya dan meminta ijin untuk berbicara dengan Kia dulu.
Tanpa sengaja Kia melihat berkas-berkas Aslan di meja. Ada judul perjanjian pra nikah, dan permohonan perceraian.
"Apa Aslan sungguh akan bercerai?" batin Kia.
Lalu Aslan mengajak Kia duduk, menjauhi pengacaranya.
"Aku tidak punya banyak waktu berdebat denganmu Nyonya Kia" ucap Aslan dengan bahasa formal wajah serius membuat Kia sedikit deg degan. Aslan bersikap seperti bos dan orang asing.
"Kalau kau tidak setuju dengan perbaikan surat kontrak ini. Kau bisa pilih. Bayar penalti kontrak yang kemarin atau saya laporkan ke pihak yang berwajib lagi. Kontrak kedua ini sangat menguntungkanmu! Baca saja dengan teliti" tutur Aslan lagi dengan serius.
Di bagian belakang ada pernyataan Aslan akan menyediakan inventaris kendaraan dan tempat tinggal.
Kia terdiam merasa Aslan sangat berbeda.
"Tapi kenapa ada aturan aku tidak boleh menikah dan dekat dengan laki-laki? Apa ini tidak berlebihan dan melanggar hak asasi manusia" tanya Kia dengan nada melemah, karena sikap Aslan yang serius.
"Kenapa aneh? Banyak perusahaan yang mencantumkan syarat itu. Beberapa bagian pekerjaan di kantorku juga ada syarat harus single. Itu semua agar kinerjamu tetap optimal dan tidak terganggu. Perempuan yang sudah menikah akan hamil dan banyak cuti. Aku tidaj mau itu" jawab Aslan beralasan. Padahal sebenarnya niatnya bukan itu.
"Hmmm, setelah satu tahun. Semua perjanjian konyol ini akan berakhir kan?"
"Ya!" jawab Aslan singkat.
"Surat perjanjian yang kemarin apa aku boleh mengambilnya?"
"Tanda tangani yang ada di depanmu dulu"
"Ya baiklah" jawab Kia pasrah. Toh Kia memang butuh pekerjaan. Lalu Kia menandatanganinya.
"Bekerjalah dengan profesional. Antarkan Pangeran ke karantina lagi" bisik Aslan pelan saat Kia sedang tanda tangan.
"Hoh?" tanya Kia menatap Aslan memastikan.
"Aku tidak mengulangi perkataanku. Rendra akan mengantar kalian" ucap Aslan lagi, lalu Aslan bangun mengambil surat perjanjian dari Kia dan kembali ke meja sebelumnya hendak berdiskusi dengan pengacaranya.
"Kenapa dia hari ini sangat aneh. Aku jadi tidak berani memakinya. Kenapa aku jadi takut begini?" batin Kia melihat Aslan berjalan menjauh.
Kia benar-benar dibuat heran dengan sikap Aslan. Lalu Rendra datang dan mengajak Kia untuk segera pergi.
"Mari Nyonya saya antar anda ke tempat karantina" ucap Rendra.
"Ayo Bu. Besok Ipang akan tampil! Ipang kangen Dafa" ajak Ipang ke Kia.
Kia tersenyum, lalu mengangguk dan mereka pergi.
"Ayo Nak" jawab Kia.
__ADS_1