
Mobil Cyntia melaju dengan kencang, membelah jalanan malam yang gelap, hanya sinar lampu yang seidikit membantu. Di dalam mobil, di samping sahabatnya itu, emosi Kia yang daritadi dia tahan sekarang waktunya diluapkan.
“Hiks hiks... hegh hegh huaa huaa...”
“Haishh” desis Cyntia jengah melihat Kia menangis lalu melemparkan tissu ke Kia.
Kia pun mengambil tissue dan mengelap air mata dan air liurnya.
“Awas ya, jangan sampai mengotori mobilku” ucap Cyntia berdecak.
“Ihh lo jahat banget sih sama gue, huaaa” Kia justru memukul mukul lengan Cyntia dan menghamburkan tissuenya.
“Hmmm, lo udah punya anak ternyata masih sama ya! Ya lo cerita dong, kok lo bisa di rumah bos itu? Terus kok Lo udah di sini aja? Lo kan baru aja mudik beberapa waktu lalu? Terus anak lo dimana? Terus lo nangis bombay begini nangisin apa? Kenapa?” tanya Cyntia panjang.
“Pertanyaan Lo banyak banget sih? Kaya koran kaya wartawan, satu- satu napa? Hughs” jawab Kia sambil terisak.
“Ya udah lo ceritain dari awal!”
“Gue masih mau nangis, gue belum mut buat cerita” jawab Kia sambil menangis dan mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah sok weeh nangis sepuas lo, tapi jangan kotori mobil gue” jawab Cyntia sambil menyetir mobil pasrah.
“Hiks hiks” Kia melanjutkan meluapkan emosinya sambil menatap jalanan yang lengang dan gelap.
Meski Kia nekat pergi dari rumah Aslan, tapi hatinya sakit. Sebagai seorang ibu, Kia tidak bisa berpisah dari anaknya.
Ipang adalah hidupnya, saat Ipang di asrama saja, yang sudah pasti dalam kebaikan dan terjaga, Kia tidak bisa tidur, selalu menghubungi dan menelponya.
Sekarang, Ipang berada di tengah orang Kia belum tahu. Meski Aslan ayah kandung Ipang, tapi Kia sendiri belum tahu dan belum kenal, lelaki seperti apa Aslan itu. Meski tubuh mereka pernah menyatu, mereka tidak saling kenal, semua karena kesepakatan uang.
Dan yang lebih kacau lagi, bayanga Paul. Kia taunya suami istri itu tidur dalam satu ranjang. Kamar Aslan berarti kamar Paul, itu sebabnya Kia sebagai perempuan baik-baik tidak mau menyusul Aslan. Kia juga khawatir, apa respon Paul saat masuk kamar dan melihat Ipang.
Ahh pokoknya mau dipikirkan, dari sudut pandang manapun, menurut Kia, Aslan orang yang sangat ngawur, jalan pikiranya tidak bisa dimengerti Kia. Kia benar- benar frustasi dibuatnya.
Tanpa meminta ijin ke suaminya, Cyntia berniat menampung Kia di rumahnya. Toh kalaupun ijin suami Cyntia juga tidak peduli. Rumah Cyntia juga hanya seperti terminal buat suami Cyntia itu.
****
Rumah Aslan
Dengan senyum nakalnya, Aslan mengibaskan rambutnya yang masih basah, dan menampakan dada bidangnya yang menurutnya sangat mempesona itu. Aslan membuka pintu kamarnya.
Glek
Aslan menelan salivanya sendiri, wajahnya yang berbinar dan bersemangat seketika berubah muram. Bayangan wajah Kia yang imut, dan bibirnya yang mengerucut karena kesal tapi menggemaskan lenyap. Kini di depanya berdiri istri palsunya dengan wajah merah padam.
“Ngapain lo ke kamar gue?” tanya Aslan tidak nyaman. Lalu menyempitkan pintu agar Ipang tidak melihat Paul.
“Gue rasa kita perlu ngobrol” ucap Paul memperhatikan tubuh Aslan yang memang menggoda.
“Gue harap lo nggak lagi mau buang waktu gue” jawab Aslan dingin.
“Lo harus jelasin ke gue, tentang perempuan itu!”
“Oh itu, emang lo masih peduli?”
“What? Kau tanya itu ke gue?”
“Gue tau ekspresi lo cuma sandiwara, so nggak usah histeris atau kaget begitu, lo liat kan gue nggak pakai baju. Gue pakai baju dulu!” jawab Aslan kesal.
“Oke gue tunggu!” jawab Paul mengangguk dan menelan ludahnya.
__ADS_1
Tidak dipungkiri jika melihat wajah dan rupa Aslan yang tampan, sebenarnya Paul juga tertarik. Meski hanya sekali saat malam pertama, tujuh tahun lalu itu, mereka juga pernah melakukan penyatuan.
Paul pun sempat menaruh perasaan ke Aslan, begitu juga Aslan, sempat menerima dan belajar mencintai Paul.
Dalam lubuk hati kecil Paul, Paul pun masih ingin mendapatkan pengakuan dan sikap baik Aslan. Hanya saja kekecewaan Aslan begitu besar dan tak termaafkan. Aslan bersikap baik ke Paul hanya saat bersama orang tua mereka dan khalayak ramai.
Paul keluar menunggu di sofa dekat dengan tangga. Aslan kemudian masuk dan berniat memakai pakaian.
Aslan kini menyadari, meski dia hidup berasa membujang dan jomblo, tapi nyatanya dia masih terikat dengan Paul secara hukum negara. Karena di antara mereka belum ada yang mengajukan gugatan. Meski perceraian sudah menjadi topik sehari-sehari saat mereka bertengkar.
“Mana ibu Yah?” tanya Ipang sudah rapih.
Aslan tersenyum mulai bingung. Aslan kurang
perhitungan, bagaimana menjelaskan ke Ipang tentang Paul.
“Tunggu sebentar ya. Ayah mau ada urusan dan turun sebentar” jawab Aslan mengalihkan.
“Ipang mau ke ibu Ayah, ayah mau kemana?” tutur Ipang mulai cerewet menanyakan ibunya.
Walau bagaimanapun, ibu dan anak memang satu kesatuan.
“Oke, nanti ayah panggilkan ibu setelah pakai baju, ayah pakai baju dulu dan turun ke bawahya!”
“Ayah dan ibu tidak bertengkar lagi kan? Jangan buat ibu marah lagi ya?! Buat ibu mau menikah dengan ayah, ya!” ucap Ipang polos.
Dheg
Hati Aslan bergetar mendengar perkataan Ipang. Aslan mulai menyadari taktiknya yang licik dan grusa grusu ternyata tak akan seindah mimpinya.
Bahkan di kepalanya akan terbayang keruwetan menghadapi kerasnya Kia dan culasnya Paul.
“Janji?”
“Ummmt” jawab Aslan mengangguk merapihkan kaosnya. Aslan berganti pakaian di depan Ipang tanpa malu.
“Tunggu di sini ya, ini remote tvnya, anak ayah mau nonton apa? Kartun? Dongeng atau mau main ps?” tanya Aslan hendak membuat Ipang tidak bosan dan tidak keluar kamar.
“Ipang mau buku Ayah” jawab Ipang.
Ajaran Kia, jika mendekati waktu tidur Ipang harus menyempatkan membaca satu buku cerita yang mendidik.
“Ehm” Aslan mendehem bingung, dia baru menyadari dia belum mengerti dan mengenal Ipang dengan baik.
Ipang tidak seperti anak- anak lain yang taunya ps saja. Lalu Aslan mengusap tengkuknya berfikir. Tapi belum Aslan memberikan alasan, Ipang sudah tanggap, di sekeliling kamar tidak ada buku.
“Kalau tidak ada buku, Ipang ke ibu saja!” ucap Ipang semakin membuat bingung.
Jangan sampai Ipang keluar dan bertemu Paul.
Aslan menelan ludahnya berfikir.
“Ibu kan nanti kesini Nak. Ipang tunggu di kamar saja ya. Biar ayah yang jemput ibu, hemm kau mainan hp ayah saja, kan di situ banyak buku online, anak ayah mau baca buku apa biar ayah carikan” jawab Aslan mencari ide.
“Ya sudah Ipang tidur saja, nanti bangunkan kalau ibu sudah datang ya Ayah” jawab Ipang pintar.
Aslan langsung tersenyum sangat lega. Masalah satu sudah teratasi. Lalu Aslan keluar kamar dan menutup pintunya dari luar. Aslan berjalan menemui Paul.
“Jelasin apa maksud lo bawa tu perempuan ke rumah kita?” tanya Paul tanpa bosa basi dengan tangan besedekap.
“Rumah kita?” tanya Aslan tidak terima, rumah itu kan dibayar kontan dengan uang Aslan. Karena Aslan sudah muak bersandiwara satu kamar di depan orang tuanya dan meminta tinggal terpisah.
__ADS_1
“Iya ini rumah kita kan? Lo lupa gue masih istri Lo?” jawab Paul.
“Itu hanya di atas kertas dan itu semua palsu!” jawab Aslan merasa selama ini hidupnya terasa menjomblo.
“Oh ya? Tapi belum ada putusan pengadilan yang menyatakan kita bercerai, Tuan Aslan!” jawab Paul berani.
“Cukup Paul, saya sudah cukup bertahan dengan semua ini, secepatanya akan kukirim gugatan perceraian kita”
“Oh iya? Kamu sudah siap dengan segala resikonya? Apa kamu lupa dengan perjanjian pra nikah kita?” tanya Paul sinis.
Aslan diam mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangan.
“Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Kau sekarang sudah tidak bisa mengancamku. Ingat perjanjian itu ada di tangan Papa, dan Papa bisa merubahnya kapapun!” jawab Aslan.
“Apa kau lupa kalau ayahmu sekarang diambang sekarat, hah? Ah hahaha, Aslan, Aslan. Jangan coba- coba main- main denganku”
“Papa akan sadar dan papa akan sembuh”
“Baiklah, kita lihat saja siapa yang akan menang, ingat ya, jika kamu menceraikan aku, 40 persen saham itu akan jatuh di tanganku” ucap Paul licik.
“Itu jika papa meninggal, tidak merubah perjanjian dan tidak tahu kebusukanmu”
“Sayangnya papamu itu udah mau sekarat dan akulah menatu kesayangannya, jadi aku ingatkan ke kamu, jangan main- main denganku apalagi menyingkirkan ku”
“Kamu perempuan tidak waras Paul, kehidupan macam apa yang aku jalani hidup dengan ular sepertimu” ucap Aslan geran mata memerah.
“Kau mengataiku ular? Kau sendiri bagaiamana? Kita bisa berdamai dan menjadi keluarga yang utuh jika kau mau” jawab Paul sambil tersenyum jahat.
“Aku tidak sudi, apapun resikonya aku akan tetap ceraikan kamu dan aku akan menikahi perempuan yang aku cintai”
“Oh iya. Jadi benar dia wanitamu? Ah, rendah sekali seleramu?” ejek Paul membuat amarah Aslan membuncah dan ingin melayangkan tamparan ke Paul tapi terhenti.
“Kau!!” ucap Aslan geram ingin memukul.
“Pukul saja, aku akan sampaikan ke wartawan kalau kau melakukan KDRT, berselingkuh dan entahlah apa yang akan terjadi pada calon istrimu itu, begitu juga reputasimu?” jawab Paul berlenggang dengan tatapan berani.
Aslan hanya bernafas memburu tidak mau
salah langkah. Kemudian Aslan megingat Kia.
“Kau membuang waktuku saja, tidak ada yang bisa menghalangiku, setuju atau tidak setuju aku akan menikah denganya” jawab Aslan tidak peduli ancaman Paul. Aslan bangun hendak menghampiri Kia.
“Aku sudah mengusirnya” ucap Paul berlenggang meningalkan Aslan.
Mendengar perkataan Paul , Aslan meraih tangan Paul kasar dan mencengkeramnya.
“Kau bilang apa?” ucap Aslan geram.
“Lepaskan tanganku!” jawab Paul mencoba melepaskan cengkeraman tangan Aslan.
Karena tersulut emosi, Aslan hilang kendali dan meraih leher Paul hendak mencekiknya. Mereka berdua bertengkar hebat dengan keduanya diselimuti amarah dan seperti kerasukan setan.
Paul pun mencoba melawan dengan menendang benda pusaka Aslan. Aslan kesakitan dan melepaskan leher Paul.
Pernikahan Aslan dan Paul benar-benar pernikahan toksik yang sangat mengerikan. Hanya Bu Mina dan mereka berdua yang
tahu.
“Uhuk- uhuk” Paul memegang lehernya yang masih sesak lalu berlari ke kamar menyadari lebih lemah fisiknya.
Aslan kemudian membanting vas yang berada di dekatnya sehingga pecah. Itu adalah vas yang kesekian kalinya yang menjadi korban pertengkaran mereka. Setelah emosinya reda, Aslan turun menghampiri bu Mina.
__ADS_1