
Kia berjalan cepat sambil membawa rasa kesal. Sudah diberitahu, Kia malu dan tidak nyaman tidak mengerti juga.
Kenapa juga Aslan selalu membuatnya kesal saat bersama, tapi membuat rindu saat tidak ada.
Merasa ditinggalkan dan tidak tau kenapa Kia marah- maraah terus, Aslan berjalan mengekori Kia. Dan tentu saja, beberapa pegawai kantor semakin banyak yang melihatnya.
“Jangan cepat- cepat jalanya, nanti nabrak lho” seru Aslan berusaha mengejar saat di parkiran.
“Hhh” Kia hanya menghela nafas kesal ke Aslan, kesal- kesal tapi cinta. Kia sampai di mobilnya dan hendak membukanya.
“Aku kangen Ipang, ayo kita jenguk dia, dia pasti akan bahagia kalau kita datang bersama!” tutur Aslan dan memegangi pintu mobil Kia mencegah Kia masuk dan pergi.
Mereka berhadapan sangat dekat, hal itu membuat jantung Kia berdegub kencang dan panas dingin.
“Apa kau tau dimana Ipang sekarang?” tanya Kia.
“Ke apartemen Rendra sekarang” ucap Aslan mengajak Kia. “Tidak usah beralasan, ikutlah, dan patuhlah!” lanjut Aslan berbicara pelan karena melihat Kia diam dan hendak beralasan.
“Ya!” jawab Kia akhirnya menurut.
"Kita tanya Rendra Ipang dimana, aku juga punya hadiah untuk Pangeran" imbuh Aslan memberitahu.
Lalu Aslan pun berjalan ke mobil mewahnya. Mereka berdua kemudian mengendarai mobilnya sendiri- sendiri, berjalan beriringan menuju ke apartemen Rendra. Aslan ke apartemen Rendra hendak mengambil hadiah untuk Ipang dan menitipkan mobil Kia.
Aslan berjalan di depan, dan Kia mengekor di belakang. Setelah melalui jalan dan menembus kemacetan mereka sampai di pelataran apartemen mewah di ibu kota itu. Aslan memarkirkan mobilnya lebih dulu.
Kia hendak memarkirkan mobilnya mengikuti Aslan. Tapi parkiran penuh dan sempit. Karena belum terlalu pintar, Kia tidak berani, apalagi samping kanan kirinua mobil bagus dan mengkilap. Kia takut menggores mobil orang lain.
Aslan pun keluar dari mobilnya dan mendekat ke Kia. Mengetok pintu mobilnya dan menyuruh Kia keluar.
“Keluar Sayang” ucap Aslan mesra.
“Ehm” Kia berdehem malu dan mengikuti kata Aslan sambil menundukan kepalanya.
“Biar Abang yang parkirkan” ucap Aslan percaya diri menamai panggilan dirinya Abang.
“Hoh? Abang?” Kia terbengong dan geli sendiri, tapi tidak dihiraukan Aslan. Aslan kan muka tembok.
“Mobilnya udah dipilihin yang kecil lho, kenapa masih belum bisa markir sih?” ucap Aslan mencibir Kia.
“Ish... kan belum terbiasa. Bisa aja baru,” jawb Kia ngeles.
“Masuk!” ucap Aslan menyuruh Kia masuk lagi.
“Hoh?” tanya Kia terbengong kenapa disuruh masuk lagi. "Tadi turun? Sekarang masuk?" cibir Kia lagi.
“Bawel ya! Sini abang ajari!” ucap Aslan bermaksud mereka disuruh duduk di dalam dan Aslan mengajari Kia cara memarkirkan dari dalam mobil.
“Ya!” jawab Kia nurut.
Lalu dengan pelan dan penuh kasih sayang, Aslan mengajari Kia cara memarkirkan mobil.
__ADS_1
“Besok praktek sendiri, tanpa Abang” ucap Aslan.
“Ya” jawab Kia mengangguk.
Mereka berdua kini berada di dalam mobil, Aslan kemudian menatap ke samping menghadap ke Kia, di tatapnya dalam Kia.
“Kau belum jawab pertanyaanku. Apa perkataanmu terhadap Paul artinya kau bersedia menikah denganku?” tanya Aslan intens.
Kia menatap Aslan. Deguban jantungnya terasa lebih cepat, dan bibirnya terasa sangat berat untuk mengucap. Padahal hanya tinggal bilang iya.
“Diammu berarti iya” ucap Aslan lagi.
“Mbok Mina sudah ceritakan semua” ucap Kia memulai, Kia tidak menjawab iya tapi dengan membuka pembicaraan tentang Mbok Mina Artinya iya. Lalu Aslan tersenyum mendengar Kia menyebut nama Mbok Mina.
“Si Mbok memang terbaik” gumam Aslan menyimpulkan Kia jadi jinak karenanya.
“Apa begitu sakit dan menyiksa? Bagaimana kamu bisa menahanya selama ini?” tanya Kia lembut menatap Aslan.
Kini tatapan Kia tatapan sayang, mendengar cerita Mbok Mina Aslan selama ini kesepian dan dikekang Kia jadi iba.
Mendengar pertanyaan Kia, sisi lembut Aslan keluar. Aslan menghela nafasnya, wajahnya menghangat.
“Semua sakit itu pergi saat kamu datang ke hidupku” jawab Aslan singkat tidak mau terlihat sedih.
“Apa kau meninggalkan Nareswara demi kami? Aku dan Pangeran” tanya Kia lagi.
Aslan mengangguk.
“Sejak kapaan kau mencintaiku?” tanya Kia.
“Sejak malam itu” jawab Aslan mengingat 7 tahun lalu.
“Malam itu?” tanya Kia dengan wajah tidak nyaman mendengar Aslan membahas 7 tahun lalu dan susana di mobil itu tiba- tiba menjadi panas padahal ac menyala maksimal.
“Iya, sejak malam itu, aku terus mengingatmu, aku tahu aku yang pertama buatmu. Aku merasa bersalah melihatmu menangis dan ketakutan. Apa sakit sekali?” tanya Aslan lembut.
“Ehm” Kia berdeham.
Kia tidak menjawab, seharusnya Aslan tidak perlu bertanya, karena malam itu Kia juga sempat berteriak dan merintih mengungkapkan rasa sakitnya, bahkan Kia menangis.
Sekujur tubuh Kia seketika terasa panas, kenapa pembahasan mereka tiba- tiba mengarah ke kegiatan bersejarah mereka yang panas. Banyangan 7 tahun lalu kemudian datang ke ingatan Kia dengan jelas dan orangnya ada di depan Kia. Kenapa tiba-tiba mendatangkan perasaan yang aneh.
“Aku minta maaf” ucap Aslan lagi menyadari Kia menunduk.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Kia lagi, Kia masih penasaran, kata Mbok Mina , Aslan laki- laki setia, tapi kenapa menyewanya di saat Aslan beristri.
Aslan diam sesaat, mencoba mengingat dan membuka lembaran lamanya yang menyakitkan. Kemudian Aslan membuka suaranya dan bercerita.
“Sejak, awal dan masih sekolah SMP, Papah dan orang tua Paul sudah merencanakan pernikahanku dan Paul. Tapi aku lama tinggal di luar negeri, aku kuliah di Amerika dan tinggal di sana. Aku tidak cukup mengenal Paul. Karena sudah menjadi kesepakatan Papah, aku pun ikut saja. Toh buatku Paul cantik” tutur Aslan jujur.
“Oh jadi Paul cantik” sela Kia sedikit cemburu Aslan menyebut Paul cantik.
__ADS_1
“Tapi kamu tetap yang paling cantik, Sayang. Lanjut cerita nggak nih?” jawab Aslan.
“Hmm”
“Semua berjalan lancar, kami bertunangan, aku pun berharap pernikahanku berjalan sesuai harapan seperti pasangan lain. Hingga tiba waktunya kami menikah, dan di malam pengantinku, aku menemukan hasil periksa kehamilan Paul” tutur Aslan sendu.
“Hoh? Hasil periksa kehamilan?” tanya Kia.
Aslan mengangguk.
“Paul sudah mengandung Alena saat kita menikah, dia bukan anakku, dan saat itu, aku merasa ditipu, aku merasa dihianati, itulah sebabnya aku melampiaskannya padamu” tutur Aslan lagi.
“Kalau memang benci ke Paul, seharusnya kau langsung kau tanyakan pada Paul dan bicarakan pada keluargamu saat itu” jawab Kia menyalahkan sikap Aslan.
“Situasinya tak sesimple itu. Papah sakit, dan nasib Nareswara diperataruhkan, kala itu Satya belum siap memegang perusahaan” jawab Aslan membela diri disalahkan Kia.
“Hmm beralasan” jawab Kia mencibir.
“Apa kau sedang menyalahkanku? Heh? Semua sudah beralalu, kalau jalanya tidak begitu, aku tidak bertemu denganmu dan tidak ada Pangeran di antara kita.” Balas Aslan membela diri lagi.
“Hemm ya ya, tapi kan tetap saja aku ingin tahu, apa kamu pernah mencintainya?” tanya Kia menelisik.
“Tidak” jawab Aslan tegas.
“Bohong”
“Sungguh”
“Buktinya apa?” tanya Kia. Kia sebenarnya sudah tau. Tapi Kia ingin memuaskan hatinya mendengar sendiri dari Aslan menceritakan bagaimana dirinya dan Paul dulu.
“Kenapa kamu sekarang terkesan sedang menghakimiku sih? Kan sudah kukatakan, ada papah, Papah sakit, apa kau cemburu?” jawab Aslan malah emosi.
“Tidak!”
“Tenang saja, sejak malam itu, aku tidak menyentuh Paul lagi, temanku pernah bilang, karena Paul menikah saat sedang hamil pernikahan kami tidak sah. Tapi buku nikah sudah tercetak, pesta sudah terlaksana, jika aku membocorkan rahasia Paul, kelaurgaku akan menjadi korban. Akhirnya aku membuat kesepakatan denganya. Dan kau tau? Sejak bertemu denganmu, jagoanku hanya berdiri saat mengingatmu” ucap Aslan tersenyum menyeringai membuat Kia salah tingkah.
“Ish” Kia mendesis dan cemberut.
“Kamu tidak percaya? Bahkan dia sekarang juga sudah berdiri” imbuh Aslan lagi.
“Ih jorok!” jawab Kia memukul Aslan lengan atas Aslan malu kenapa Aslan berani-beraninya bahas itu.
“Hehe” Aslan malah tertawa. “Waktu itu aku mencarimu, tapi aku tidak tahu namamu, dan saat aku menemukanmu kamu sudah pergi” tutur Aslan lagi.
“Benarkah kau mencariku?”
“Tentu saja, kan sudah kubilang, dia hanya mau denganmu!” ucap Aslan lagi melihat ke arah bawah tubuhnya memberi kode ke Kia.
Kia pun menelan salivanya kesal dan geli sendiri.
“Stop bahas itu, atau aku keluar” ucap Kia ngambek.
__ADS_1
“Yaya, nggak!"