Sang Pangeran

Sang Pangeran
51. Mau Ibu.


__ADS_3

Sahabat itu, saat kedua kedua insan saling mengerti dan memahami, saling menerima kekurangan. Meski sudah terpisah oleh jarak dan waktu, tidak peduli bagaimana status dan keadaan mereka saat bertemu, mereka akan selalu saling support,mendoakan dan menyayangi, tanpa syarat.


Mungkin itulah gambaran yang tepat untuk Kia dan Cyntia. Meski tujuh tahun mereka tak saling memberi kabar, kasih sayang mereka tetap sama. Meski Kia dan Cyntia berbeda kasta itu tak mempengaruhinya. Dan bagaimanapun kesalahan masalalu mereka mereka saling memaafkan dan menerima.


Belum beruntung dan dikatakan hidup yang sebenarnya jika seseorang belum menemukan arti sahabat dalam hidupnya. Kia dan Cyntia sama- sama beruntung memiliki satu sama lain. Meski Kia sudah tak punya orang tua dan keluarga membuangnya, Kia masih punya tempat pulang yaitu Cyntia.


Cyntia melemparkan senyum hangatnya dan menutup pintu kamar Kia. Kia pun membalasnya. Tapi selepas Cyntia pergi Kia kembali setres. Kia berusaha mengusir penatnya, membersihkan diri dan mngambil air wudhu dan menunaikan sholat isya.


“Apa Ipang menanyakanku? Dia nangis nggak ya?” batin Kia.


“Ya Tuhan apa Ipang sudah tidur? Apa dia sudah menggosok gigi? Apa Ipang sudah sholat isya. Apa dia tidak disakiti?”


“Bagaimana kalau Paul mengutuknya dengan kata- kata kasar?”


“Ipang kan paling tidak bisa dikasari, bagaimana ini?


Kia mondar mandir di kamar,seakan di dalam dirinya ada banyak kembaranya dengan semua pertanyaan sendiri-sendiri yang hanya bisa dijawab ketika dia berhasil menghubungi Aslan.


“Apa aku tanya saja ya? Tapi tanya ke siapa? Memangnya aku punya nomer ponselnya?”


“Ck!” Kia hanya berdecak merutuki kebodohanya.


Kia menyerah tidak ada solusi, meninggalkan rumah itu sudah menjadi pilihanya. Lalu merebahkan tubuhnya ke  kasur.


Bayangan wajah Aslan datang. Saat pria tampan itu terlelap, memeluk Ipang dengan tangan kuatnya. Tatapannya


begitu tulus dan hangat saat Aslan menggendong dan memangku Ipang.


“Dia memang ayahnya. Aku yakin dia menjaga anakku dengan baik” batin Kia memandang langit-langit kamar.


Lalu Kia memiringkan tubuhnya masih gelisah, wajah tampan Aslan datang lagi. Kata- kata Aslan muncul kembali ke telinga Kia seperti ada yang membisikanya dan menyuruhnya agar Kia mengingatnya.


“Paul yang menghianati pernikahan kami... hanya Pangeran satu-satunya anakku... bagaimana jika aku bisa buktikan ke kamu kalau aku tidak bersalah... maukah kau menikah denganku... menikahlah denganku... Pangeran butuh aku...”


“Hah” Kia bangun dari berbaringnya dan duduk bersandar batal. Lalu Kia menampar pipinya sendiri ke kiri dan ke kanan.


“Sadar Kia sadar, hubungan Kita hanya hubungan satu malam. Dia punya istri, dia punya keluarga, status kita juga jauh berbeda. Aku tidak boleh memikirkanya” gumamya sendiri.


Lalu Kia bangun,mengambil air mineral yang tersedia di nakas kamar Cyntia.


“Glek...glek..” Kia meminum habis satu botol penuh air mineral 300 ml itu.


Kia memejamkan matanya lagi dan berusaha berbaring, wajah Aslan kembali muncul. Wajah tampan yang mendekat ke wajahnya, kemudian tanganya meraih dagunya, menempelkan bibirnya pada bibir Kia, memaksa Kia membuka bibirnya, sampai mereka merasakan sesuatu yang tak biasa di balkon asrama siang itu.


“Oh ya Tuhan, astaghfirulloh, apa-apaan ini? Kia sadar, sadar Kia, dia pria kurang ajar. Ini salah, ini dosa” ucap Kia mengacak-acak rambutnya sendiri.


Seperti yang diajarkan Fatimah, Kia kemudian ke kamar mandi, mengambil ai wudzu, dan membaringkan tubuhnya, berdoa agar bisa tidur berdoa agar Ipag baik- baik saja dan tidak menemui sesuatu yang menyakitkan. Kia kemudian memaksa dirinya,dan tubuhnya untuk tidur.


****

__ADS_1


Cahaya bintang mulai memudar. Di beberapa sudut kota, suara adzan menggema. Meski Aslan masih terlelap di dalam alam bawah sadarnya. Tapi Ipang yang sudah dliatih Kia untuk bangun subuh terbangun. Ipang membuka matanya perlahan.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Ipang, membuka mata mendengarkan dengkuran halus dari sesosok ayahnya. Meski Ipang sempat kecewa dan kecarian ibunya, tapi Ipang tetap tersenyum, ada tangan ayahnya yang memeluknya hangat.


Lalu Ipang memiringkan tubuhnya dan memeluk ayahnya kuat. Memencet hidung ayahnya dengan iseng.


“Emmmptt” Aslan menggeliat masih belum sadar dan menepis tangan mungil dari jagoanya itu.


Ipang tidak berhenti lalu memainkan bulu mata ayahnya.


“Eemmpt apa sih?” gumam Aslan juga belum sadar.


Bangun tidur ditemani anaknya juga hal baru buat Aslan. Bahkan Aslan juga tidak ernah berfikir kalau tiba- tiba ada anak kandungnya yang sudah melewati balita.


Masih belum mendapatkan respon dari ayahnya, Ipang naik ke pinggang Aslan karena Aslan tidur miring.


“Ayah bangun Ipang lapar” rengek Ipang membangunkan ayahnya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Aslan seperti Ipang naik kuda.


Aslan pun membuka mata, dan barulah dia sadar kalau diatas tubuhnya ada jagoan kecilnya. Saat Aslan hendak terlentang Ipang hampir terjatuh terjatuh, tapi reflek dipegangnya.


“Pangeran, apa yang kamu lakukan, ini masih petang Nak, huaam” tanya Aslan masih sambil menguap.


“Ini sudah subuh Ayah, ayo bangun kita sholat. Kata ibu, kalau kita berdoa di waktu subuh doa kita didengar  malaikat” rengek Ipang masih belum turun dan duduk manja di atas perut Aslan.


Dheg


Mendengar kata sholat, sekali lagi hati Aslan tersentuh dan terketuk. Aslan tidak bisa berkata apa-apa, rasanya sangat malu diingatkan anaknya. Seharusnya Aslan yang mengajari banyak hal ke Pangeran,bukan sebaliknya.


“Ibu tidur dimana Ayah?” celetuk Ipang  saat mereka selesai wudzu.


Aslan menelan salivanya. Tidak menjawab.


“Jamaah,atau sendiri?” tanya Aslan mengalihkan pembicraan.


“Jamaah” jawab Ipang semangat.


“Oke Siap” jawab Aslan menggelar sajadahnya.


Dengan kemampuan yang pas- pasan, di depan anaknya Aslan memaksakan diri menjadi Imam. Tapi Aslan memilih bacaan surahnya yang pendek-pendek saja, itupun sedikit tersendat, karena Aslan lama sekali tidak sholat, baru kemarin karena diingatkan Kia.


Aslan meneteskan airmatanya, ada sesutu yang menyentuh relung hatinya di setiap bacaan sholat yang dia lafalkan. Ada hunjaman rasa yang begitu besar, yang tidak bisa dia tafsirkan apa artinya. Seketika bayangan ibu dan ayah Aslan datang. Ada kerinduan yang membuncah dan mengoyak hatinya, kehidupan yang penuh  kedamaian sudah lama dia tinggalkan.


Yang pasti merasakan sholat bersama anaknya, itu hal yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi. Selama ini hidupnya penuh dengan kehampaan, amarah, kesepian, dan selalu berkutat pada target mendapatkan uang. Aslan terjebak dalam hidup penuh dengan keduniaan.


“Ayah menangis?” tanya Ipang melihat Aslan menundukan kepala dan terisak.


Aslan kemudian mengangkat wajahnya dan menoleh ke anaknya, pura- pura tersenyum dan berkata tidak.


“Ayah tidak usah malu, kata ibu, menangis di hadapan Tuhan menyesali kesalahan kita itu baik, Tuhan suka pada hamba yang memohon dan berdoa padaNya” ucap polos.

__ADS_1


Spontan Aslan langsung memeluk Ipang dan air matanya keluar lagi. Ada rasa hangat dan nyaman yang tercipta di sana.


“Sesak Ayah, Ipang lapar” ucap Ipang berusaha lepas dari pelukan ayahnya.


Aslan baru ingat dari kemarin siang Ipang tertidur dan menangis karen aorang tuanya bertengkar sampai sekarang memang belum makan.


“Ataga, ayah lupa jagoan ayah belum makan ya?”tanya Aslan merasa bersalah.


“Iya, Ipang sangat lapar” ucap Ipang lagi.


Meski masih petang Aslan kemudian mengajak Ipang turun dan mencari bahan makanan. Mbok Mina yang naik ke atas untuk mematikan lampu dan membuka tirai tersenyum melihat Tuanya. Untuk pertama kalinya Mbok Mina melihat Tuanya itu keluar kamar sepagi itu memakai baju koko dan sarung.


Di sudut ruangan tanpa diketahui siapapun, sambil mengintip, Mbok Mina meneteskan air matanya. Ada doa tulus yang keluar darinya. Mbok Mina yang tahu pasti perjalanan Aslan merasa sangat bahagia melihat Ipang di dekat Aslan,


“Terima kasih Gusti, Nyonya Andini, Den bagus Aslan sekarang punya putra yang tampan, semoga dia membawa kebahagiaan” batin Mbok Mina sambil mengelap air matanya.


Mbok Mina kemudian membiarkan Aslan dan Ipang berdua tanpa bertanya dan membantunya.


Aslan dan Ipang sampai di dapur, ternyata hanya ada nasi sisa. Aslan garuk- garuk kepala karena  tidak pernah mengerti urusan dapur. Lalu Aslan melirik Ipang tampak kelaparan dan menunggu.


“Haishh bagaiamana ini? Apa yang harus aku lakukan?” batin Aslan menggaruk- garuk kepala. Aslan kemudian berjalan hendak memanggil pembantunya.


“Ayah mau kemana? Mana makananya? Ipang lapar” rengek Ipang lagi dengan muka cemberut.


“Ayah tidak bisa masak My Boy, Ayah panggilkan bibi yang masak ya!” tutur Aslan merasa lemah dan tidak mudah merawat anak.


“Tidak mau, ayah payah, ayah tidak seperti ibu, panggilkan ibu saja” rengek Ipang lagi.


Aslan meneln ludahnya bingung menghadapi Ipang yang mulai rewel.


“Panggil ibu?” tanya Aslan bingung.


“Iya mana ib Ipang mau ibu!” rengek Ipang semakin menjadi.


Aslan duduk mendekati Ipang hendak menjelaskan kalau ibunya pergi. Aslan sadar, anaknya butuh ibunya.


“Maafkan Ayah, Nak, karena ayah dan ibu belum menikah, ibumu tidak tidur di sini?” tutur Aslan lembut.


“Terus ibu kemana?” tanya Ipang dengan mata berkaca-kaca, menyadari  ibunya tidak bersamanya.


“Nanti kita temui ibumu ya!”


“Ibu...ibu...hu hu hu...” tangis Ipang pecah, Aslan kebingungan menenangkannya.


“Iya Nak, iya, ayah antarkan ke ibu tapi nanti, jagoan nggak boleh nangis”


“Ipang mau ibu...Ipang mau ibu, ibu....” rengek Ipang lagi dan tangisanya semakin menjadi.


Mendengar tangisan anak kecil Mbok Mina mendekat, Aslan merasa terselamatkan. Dengan hati lembut dan penuh kasih sayang Mbok Mina mendekati Ipang, memberitahunya pelan, merayu agar bertemu ibunya nanti siang. Kemudian membuatkan nasi goreng untuk Ipang.

__ADS_1


Aslan menjadi sadar, dirinya tidak akan bisa menjauhkan Ipang dari ibunya, jika ingin Ipang, Aslan juga harus takhlukan Kia.


__ADS_2