
"Kalian mau kemana sih?" tanya Cyntia di telepon ke Kia.
"Lebih tepatnya kemana? Aku juga nggak tau Cyn. Ini aku di bandara. Aku ikut suamiku aja. Aku mau urus surat-suratku biar kita bisa nikah sah!" jawab Kia memberitahu.
"Hmmm, yaya. Oh iya? Mobil lo amankan?"
"Aman, kenapa?"
"Ceritanya panjang. Gara- gara mobil lo tuh. Gue jadi muka tembok sama sekertaris suamimu!" ucap Cyntia menceritakan kejadian memalukan dirinya dan Rendra.
"Loh kok mobilku? Sekertaris suamiku? Maksud kamu? Rendra?" tanya Kia tidak tahu kalau apartemen Rendra dan Cyntia bersebelahan.
"Ya. Aku ma Rendra itu tetanggaan!" jawab Cyntia.
"What?" pekik Kia sambil tersenyum. Kia bahagia mendengar sahabatnya dan saudara suaminya tetanggan.
"Udah sih nggak usah ketawa. Jadi Mbak Narti nggak usah aku jemput nih?" tanya Cyntia menegaskan.
"Iya nggak usah. Eh tapi cerita dulu. Apa hubunganya Rendra sama mobil gue?" tanya Kia penasaran.
"Kapan-kapan deh kuceritakan!" jawab Cyntia malu cerita kalau dirinya salah kira sampai tabrakan dengan Rendra.
"Ya udah kapan-kapan aku main ke apartemen kamu. Maaf ya, Mbak Narti di rumahku dulu!" ucap Kia lagi.
"Oke, tapi jangan lama-lama! Bete gue sendirian!"
"Iya nggak. Aku kan juga mau datang ke Ipang. Udah dulu ya, suamiku udah cemberut tuh. Mau berangkat juga keknya!" jawab Kia mengakhiri telepon.
"Ya ati-ati penganten baru!" ucap Cyntia meledek Kia.
"Apaan sih?" jawab Kia tersipu menutup telepon.
Benar saja Aslan dudukcemberut merasa dicueki istrinya. Untungnya Aslan memakai topi dan masker jadi wajah garangnya tertutupi. Mata tajamnya juga tertutup kaca mata hitam.
"Asik banget sih telponan sama temen? Sama Abang aja, suka galak! Katanya cuma mau ngabarin Mbak Narti nggak jadi datang? Panjang amat ngobrolnya?" sindir Aslan, ngomel ke Kia.
"Hemmm!" Kia hanya cemberut. Suaminya ternayata amat manja.
"Tutup telponya. Kalau sama Abang sekarang nggak boleh mainan hape apalagi galak!" ucap Aslan lagi.
"Kata siapa Kia galak, Bang? Perasaan Kia biasa aja. Sama Cyntia juga biasa kok! Iya inih Kia kantongi ponselnya." jawab Kia memasukan ponselnya ke kantong.
"Hemmm, nggak galak cuma suka nampar orang! Cuma kamu lho yang berani nampar Abang" jawab Aslan lagi menyindir Kia waktu bertemu di kantor dan di tempat karantian nampar Aslan.
"Ihh.. Abang! Ya abis Abang dulu kurang ajar ke Kia. Main cium aja!" jawab Kia cemberut manja. Kia malu mengingat Aslan yang mencuri cium Kia.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan?" tanya Aslan iseng dan senang melihat Kia tersipu.
"Nggak!"
"Nyatanya ada Ipang!" bisik Aslan lagi menggoda Kia.
"Abang!" pekik Kia memukul paha Aslan. "Nggak usah bahas itu Bang. Itu aib!" jawab Kia lagi wajahnya mendadak merah dan menundukan kepala.
Mengingat peristiwa di tempat karantina Ipang Kia saja malu malah diingatkan yang di hotel 7 tahun lalu. Kia tambah malu.
Meski itu semua takdir yang menyenangkan bagi Aslan, tapi buat Kia yang anak baik-baik terlebih sekarang sudah lebih mengerti agama dari sebelumnya, Kia merasa perbuatanya memalukan, dan menyakitkan.
Berbalik dengan Aslan. Aslan yang suka iseng dan merasa beruntung bertemu Kia, terlebih merasa sudah memiliki Kia tersenyum. Aslan kemudian menggenggam tangan Kia lembut.
"Itu bukan aib. Itu takdir!" bisik Aslan mencoba membuat Kia membiasakan diri dekat dengan dirinya dan berdamai dengan masalalu.
"Itu aib Bang. Walau bagaimanapun kita salah sudah melakukan itu. Kita harus banyak memohon ampun atas kesalahan kita, dan tutup aib kita. Jadi nggak usah dibahas!" tutur Kia menatap Aslan dengan tatapan tulusnya. Kia mempunya pandangan berbeda menanggapi masalalu mereka.
Aslan yang memang bawel dan dalam pergaulan teman-temanya one night stand biasa, memandang Kia santai. Padahal Kia benar-benar tulus menasehati Aslan.
"Iya, Sayang iya. Tapi kalau bukan karena malam itu, Abang nggak akan pernah punya anak seganteng Pangeran. Abang juga nggak punya istri secantik dan sebaik kamu!" ucap Aslan lagi.
"Stop Bang! Stop! Meski kenyataanya begitu. Tapi Kia mohon ke Abang. Jangan ingat-ingat malam itu. Kita harus ada rasa bersalah, Bang. Kita salah, kita dosa. Bersyukur Bang sama Alloh, karena aib kita ditutup sama Alloh. Jadi kita kubur malam itu. Jangan dibahas! Kia takut Alloh murka kalau Abang nggak menyesali hal seperti itu. Kasian Ipang lho Bang!" jawab Kia lagi. Prinsip Kia dan Aslan jauh berbeda.
"Ya ya!" jawab Aslan mengangguk, mengalah. "Tapi sekarang kamu cinta kan sama Abang? Sekarang kan kita udah halal, Sayang jangan ketus-ketus lagi ya!" sambung Aslan lagi.
Aslan pun hanya ketawa nakal. Aslan kan memang nakal.
"Ya udah yuk. Tuh udah dipanggil!" ucap Aslan mengajak Kia bangun, karena peringatan pesawat take off terdengar.
"Ayuk!" jawab Kia mengangguk
Aslan bangun. Satu tangan menarik koper mereka dan satu tangan menggandeng tangan Kia erat dan mesra. Meski ditutup kacamata, garis wajah pria berumur tigah pulu dua tahun itu tampak sangat bahagia.
"Abang kok rapet banget sih? Pakai masker sama kacamata masih pakai topi?" tanya Kia polos melihat penampilan Aslan yang tak biasa.
"Ini tempat umum Sayang. Katamu sampai anak kita selesai acara bintag kecil kita harus lindungi dia!" jawab Aslan sudah mempersiapkan semuanya.
"Maksud Abang?"
"Kamu nggak mau kan foto kita berdua besok berseliweran di media sosial dan anak kita dipermalukan di penampilan terakhirnya?" bisik Aslan lagi.
"Nggak!" jawab Kia menggelengkan kepala.
"Ya udah, bersikap manis dan ikuti Abang aja. Oke?"
__ADS_1
"Ya!"
Aslan tau sebenarnya sejak Paul tertangkap wartawan datang ke Pengadilan untuk sidang, sudah ada beberapa media yang mulai ingin mengangkat berita tentang Paul ke media. Untungnya anak buah Aslan segera menangkap berita itu dan menariknya.
Hanya saja, media pemberitaan yang dulu dipegang dan dikendalikan Aslan sudah menjadi kuasa Paul sekarang. Aslan kini harus berhati-hati melindungi istri dan anaknya. Aslan melindungi wajahnya agar tidak dikenal khalayak umum.
Mereka pun masuk ke pesawat khusus first class yang sudah Aslan pesan khusus agar mereka berdampingan. Kia yang baru pertama naik kelas kelas paling mahal itu hanya menunduk patuh dan mengikuti suaminya.
"Maaf ya, sekarang Abang nggak bisa pakai jet pribadi!" tutur Aslan setelah mereka duduk santai dan pramugari pergi.
Aslan pun melepas semua pelindung mukanya itu. Kini wajah tampan Aslan dan mata tajamnya kembali terlihat.
Kia tertegun dan menatap suaminya nanar ingin menangis. Kia menatap sekeliling, bagi Kia, naik kelas bisnis saja sudah keberatan. Ini kelas utama yang pelayananya mirip privat jet. Tentu saja Kia sangat terharu, tapi Aslan masih sempat meminta maaf.
"Abang!" ucap Kia lirih dan mata berkaca- kaca.
"Heii... kenapa malah menangis sih?"
"Ini berlebihan Bang. Abang pakai uang darimana buat bayar semua ini? Abang kan udah diusir Papa Abang?" tanya Kia terbata sambil terisak karena air matanya tetap lolos saking terharunya.
Aslan kemudian memajukan badanya mendekat ke Kia. Diraihnya dagu dan wajah Kia, diusapnya lembut air mata Kia yang menetes di pipi mulus Kia.
"Ssstt. Don't cry, Sayang. Abang udah bilang kan? Sahabat dan saudara Abang banyak. Apa kamu ragu sama suamimu ini? Hah? Usaha Abang nggak hanya di Nareswara. Kamu tenang aja. Oke!" ucap Aslan lembut.
Kia hanya menganggukan kepala.
"Abang hanya ingin istri Abang menikmati perjalanan dengan nyaman. Istirahatlah dengan tenang, ya?"
"Makasih ya Bang!" ucap Kia lembut.
"Cup!" Aslan kemudian mengecup kening Kia basah dan lama.
"I love you!" bisik Aslan dengan tatapan dalamnya ke Kia.
Kia tersenyum haru mendengar ucapan cinta dari Aslan, tapi bibir Kia kelu untuk membalas ucapan cinta Aslan. Kia malah meneteskan air matanya lagi. Saat mens, Kia jadi sesensitif itu.
Kia benar-benar tidak pernah bermimpi akan mendapatkan cinta sebesar ini setelah bertahun-tahun diterpa cacian dan sakit hati. Bahkan Kia sempat pobia laki-laki.
"Makasih Bang!" ucap Kia lagi dengan lirih.
Aslan kemudian mengelus tangan Kia lembut.
"Tidurlah!" ucap Aslan tersenyum.
Jika menurut Kia ini berlebihan, menurut Aslan sangat kurang. Aslan merasa apa yang dinikmati Paul selama ini seharusnya Kia yang merasakanya.
__ADS_1
Kia dan Ipang yang justru anak kandung Aslan selama ini hidup susah dan menderita, penuh dengan cacian dan dibenci banyak orang. Melalui masa sulitnya sendirian. Terasingkan dari keluarganya. Sementara Paul dan Alena menikmati semua kemewahan Nareswara.
Meski tak semewah Paul, dan Aslan tak sekaya dulu. Aslan bertekad dengan kerja kerasnya sendiri akan menebus semua kesalahanya. Aslan akan memuliakan Kia dan membahagiakan Ipang sekuat tenaga Aslan.