
Pangeran yang terbiasa tanpa saudara tampak asik bermain dengan Mbok Mina. Pangeran asik dengan hayalan dan dunianya sendiri membuat cerita memainkan mainan wayang mini hadiah dari orang yang pernah dia kerjai. Mbok Mina pun mendengarkanya dengan baik dan senyum- senyum sendiri, anak majikanya sungguh cerewet ternyata, padahal kalau tidak kenal, Pangeran hanya diam dengan tatapan tajam mirip ayahnya.
“Mbok, Ipang haus. Ipang mau ke dapur dulu!” ucap Pangeran pamit ke Mbok Mina.
“Mbok Mina ambilkan Den!” jawab Mbok Mina perhatian.
“Ipang kan sekarang sudah besar sebentar lagi Ipang mau sekolah lagi. Jadi Ipang ambil sendiri saja!” jawab Pangeran pintar.
“Masya Alloh... cucu Mbok, meni pintar! Den Pangeran juga belum makan siang lho, biar mbok ambilkan ya.” jawab mbok Mina.
“Mbok istrihat aja di sini! Ipang kan tadi udah makan roti, nanti saja makanya lagi,” jawab Ipang.
Ipang kemudian berjalan sendiriak ke dapur rumahnya yang sekarang besar, rapih serba ada, bahkan tempat makanya dibuat seperti minibar kafe. Selain perabotan dapur di sudut ruangan juga ada aqurium dan tanaman cantinyanya, tempat dispenser airnya pun dibungkus dengan hiasan cantik.
Ipang mengambil segelas air kemudian meminumnya sembari duduk. Selesai minum, Ipang melirik ke kamar ibunya, sudah hampir 5 jam bahkan sekarang sudah lewat waktu dzuhur ibunya belum keluar kamar, Ipang kan rindu ibunya.
Ipang pun ingin ke kamar ibunya tapi mengingat beberapa waktu lalu ayahnya pernah mengajarinya, setelah ibunya menikah Ipang harus ketok pintu dulu, Ipang jadi takut. Ipang pun pamit ke Mbok Mina dengan polosnya.
“Mbok!” panggil Ipang sedih.
“Iya Den ada apa?”
“Ibu kok nggak keluar- keluar kamar ya? Ibu kenapa ya Mbok?”
“Mungkin Ibu Den Pangeran capek, kan habis dari rumah sakit!”
“Oh gitu, Ipang boleh ke ibu dan masuk ke kamarnya nggak ya Mbok?” tanya Pangeran lagi.
“Lho ya tentu saja boleh dong, Pangeran juga sebelumya tidur bareng Ibu dan ayah kan?” jawab Mbok Mina.
“Tapi kan ayah pernah bilang, kalau mau masuk kamar ibu, lain kali harus ketok pintu dulu!” jawab Pangeran polos, pesan ayahnya selalu dia ingat.
Mbok Mina pun tertawa, melihat kepolosan Ipang, bagus tapi kasian. Kalau ada ayahnya, Ipang memang harus ketok pintu, sekarang kan ibunya sendirian, Mbok Mina kemudian membiarkan Ipang ke kamar ibunya.
"Nggak apa- apa Den, kalau nggak dikunci, Den Pangeran ucapin salam dan panggil ibu aja!" ucap Mbok Mina memberitahu.
"Ya Mbok!" jawab Pangeran langsung berlari ke kamar ibunya.
Pangeran kemudian mengetuk pintu kamar ibunya pelan.
"Ibu....Ibuu...," panggil Ipang.
Kia yang sedang tidur kemudian terbangun, kaget menyadari dirinya ketiduran.
"Iya Sayang!" jawab Kia kaget dan langsung bangun.
"Masuk Nak!" jawab Kia merasa bersalah kenapa anaknya sekarany jadi terlihat ada jarak.
"Ipang tidak ganggung ibu kan?" tanya Pangeran sopan.
"Nggak dong, Sayang! Kemari Nak!" jawab Kia duduk dan merentangkan tanganya sebagai tanda dirinya menunggu pelukan Ipang.
Pangeran pun tersenyum bahagia dan langsung naik ke kasur menghambur ke Kia, Kia membalasnya mendekap dengan kedua tanganya penuh cinta dan menghujani Pangeran ciuman yang hangat.
__ADS_1
"Ayahmu dimana? Sudah selesai mainya sama ayah huh?" tanya Kia sambil mengelus kepala Ipang.
"Lhoh, kan ayah udah kerja dari tadi pagi, Bu!" jawab Pangeran lagi.
"Oh ya?" tanya Kia sedikit terkejut tidak menyadari dirinya tidur terlalu lama, sekarang bahkan lewat wakti dzuhur.
"Ibu tidur ya? Ibu sangat ngantuk ya? Makanya tidur lama sekali?" tanya Ipang dengan polosnya semakin membuat Kia malu.
Sebagai ibu, Kia sudah nengacuhkan Pangeran. Bahkan Kia tidak tahu Aslan pergi, Kia juga mengabaikanya, padahal di rumah sakit Kia tahu pasti suaminya belum makan. Kia juga belum berbaikan, kalau dipikir- pikir suaminya tak sepenuhnya salah.
"He... Maafin ibu ya Nak! Apa ayah tadi menanyakan ibu?" tanya Kia lagi, takut Aslan masih marah. Meski Kia tadi marah dan mengancam Aslan sesungguhnya Kia juga menunggu Aslan merayunya lagi.
"Iya!" jawab Pangeran mengangguk.
"Apa kata ayah?"
"Tidak ada! Ayah hanya bilang mau bekerja!" jawab Pangeran lagi.
Kia mengangguk mengerti melirik jam dinding hampir jam dua.
Kia menelan ludahnya berfikir. "Kenapa Bang Aslan nggak ke kamar dan pamit ke aku ya?" batin Kia sedih.
"Apa Pangeran sudah makan? Sudah sholat dzuhur?" tanya Kia lagi.
"Belum, Bu, Pangeran tadi makan roti? Ipang mau makan bareng ibu!" jawab Pangeran lagi.
Dheg...
"Oke! Sayang, Maafin ibu ya Nak! Ibu cuci muka dulu ya!" jawab Kia tersenyum sembari mengusap kepala Pangeran
Kia melihat ponselnya sejenak berharap suaminya meninggalkan pesan tapi ternyata nihil. Kia kemudian berjalan ke kamar mandi dengan perasaan bersalahnya yang tambah banyak.
Meski yang Kia katakan juga benar dan membuat Aslan berfikir menemui ayah Alena, tapi perkataan Aslan juga benar, Kia tidak boleh mengabaikan Ipang. Ipang sampai belum makan.
"Apa Bang Aslan marah ya sama aku?" batin Kia.
Kia mencuci muka dan buang air. Betapa terkejutnya Kia, pembalut dan celananya bersih.
"Kok cepet sih? Biasanya lebih dari 7 hari kenapa ini udah berhenti?" batin Kia tiba- tiba dheg- dhegan.
Jika perempuan pada umumnya termasuk Kia biasanya bahagia saat tamunya pergi lebih cepat. Kia kini jadi keringat dingin dan jantungnya bedegub kencang.
"Huuuft, bagaimana ini kalau Bang Aslan tahu? Kenapa aku jadi dheg_dhegan begini? Aku tahu, ini bukan yang pertama, tapi seingatku rasanya sangat sakit, apa ini akan sama sakitnya? Tapi kan aku sudah melahirkan Pangeran? Oh tidak?"
Kia kemudian cepat- cepat membasuh mukanya dan keluar mengajak Ipang makan dan menyuruhnya sholat dzuhur.
****
Di sebuah resto elit di Ibukota
Perempuan cantik dan seksi yang berprofesi sebagai artis tampak memegang kertas dan ballpoint. Cyntia sedang meeting menandatangani beberapa kontrak iklan.
Di resto elit itu tersedia televisi besar yang terpasang di loby dekat meja minibar tempat pemesanan minum dan makanan. Meski hanya satu Tv karena letaknya tinggi besar semua orang bisa melihatnya.
__ADS_1
Para pengunjung kafe kemudian saling bercakap dan mengomentari.
"Tuan Rendra Permadi ganteng juga?" ucap salah seorang cewek kuliahan yang tampak imut dan cantik.
Seketika Cyntia langsung menoleh ke sumber suara yang ternyata matanya tertuju pada layar televisi.
"Hoh!" pekik Kia melihat orang yang pernah menidurinya itu tampak sedang berbicara di depan awak media. Cyntia jadi ikut menyimak.
"Iya, denger- denger sih dia itu adik sepupunya Tuan Aslan makanya mirip," jawab rekanya.
"Kalau aku sih pilih Tuan Rendra dia lebih cute!"
"Aku sih lebih suka Tuan Aslan tampak berkarisma dan nggak bisa ditebak, kaya adem aja gitu liatnya. Kalau Tuan Rendra kan kaya sombong gt!" jawab teman si cewek lagi.
"Nggak ah, cutean Tuan Rendra.Aku jadi fans nya. Hihi!" para perempuan itu saling menggosip.
"Isssh iyuhh,cute? Ganteng apaan?" batin Cyntia mendesis dan memanyunkan bibirnya. Bisa- bisanya di luaran sana banyak orang yang menggemari laki- laki saraf dan kepedean tingkat dewa itu. "Hoh!" Cyntia kemudian mengipas- ngipasi wajahnya benar- benar kesal tanpa sebab.
Cyntia kemudian terfokus dengan penjelasan Rendra lagi.
"Tumben dia bisa berkata- kata waras dan pintar. Kenapa nggak dari kemarin dasar!" batin Cyntia kemudian meneguh minumanya.
Para pengunjung kafe lalu bergosip lagi.
"Iya ya? Biasanya anak perempuan kan mirip ayahnya.Alena nggak sama sekali. Kalau Pangeran nah mirip banget!"
"Iya, kok kaya di dongeng- dongeng gitu ya. Kasian sih kalau dengerin cerita Pangeran pas baru datang dulu!"
"Iya. Kasian juga Bu Kia kalau beritanya benar. Terus siapa ya? Pacar Nyonya Paulina?"
"Denger- denger, Tuan Nicholas!"
"Oh yaa?? Waah!"
Kini para netizen mulai memakai otak mereka untuk menyimpulkan kekisruhan artis yang mereka senangi. Cyntia kemudian menyunggingkan senyum dan memakai kacamatanya lalu pergi.
*****
Maaf Up nya lama.
Semoga selalu betah baca..
Oh iya author mau rekomendasiin novel keren punya temen author namanya Kak SkySal.
Judul karyanya My Ustad My Husband.
Ceritanya seru.
mampir yaa...
niih kukasih sinopsis buat intip- intip
__ADS_1