Sang Pangeran

Sang Pangeran
149. Meta ke Terkam Harimau


__ADS_3

Di kediaman Paul. 


“Papi Mami!” ujar Paul membuka pintu. 


Orang tua Paul, tuan Alex dan istrinya, datang dari luar negeri. 


“Kenapa wajahmu sangat pucat, Sayang?”` tanya Nyonya Jessy. 


“No Mom, Paul baik- baik aja, masuk  Mom!” ucap Paul mempersilahkan kedua orang tuanya masuk. 


Nyonya Jessi ternyata tidak berhenti di situ, dia tetap merasa Paul berbeda. Apalagi Tuan Alex, mata galaknya langsung terpucat pada bibir Paul yang tampak membiru. 


Tangan Nyonya Jessi langsung mendarat ke pipi Paul yang kusam. 


“No, Momy tau, kamu tidak sedang dalam keadaan baik- baik saja, darling!” ucap Nyonya Jessy. 


“Dimana Aslan? Dimana Alena?” tanya Tuan Alex. 


“Papii, Paul kan udah bilang, Paul dan Aslan kan sudah resmi berpisah Paps!” jawab Paul mengingatkan. 


Tuan Alex mengira,Tuan Agung masih berhasil memaksa dan mengatur Aslan untuk tetap mempertahankan perusahaanya, tapi ternyata semua itu di luar dugaan Tuan Alex. Tuan Alex mengeratkan rahangnya geram. 


“Berani menantangku dia!” gumam Tuan Alex. 


Paul dan Nyonya Jesi tidak memperdulikan Tuan Alex. Paul mengantar mereka kamarnya. Saat mereka sampai, pelayan baru Paul yang baru selesai membersihkan kamar lewat. Tuan Alex dan Nyonya Jesy kemudian ikut heran. 


“Kemana Mbok Mina?” tanya Tuan Alex. 


“Dia pergi bersama Aslan Pap!” jawab Paul lagi. 


“Apa mereka kembali ke rumah Agung?” tanya Tuan Alex. 


“No. Mereka pulang ke rumah istri barunya!” 


“Istri baru?” tanya Nyonya Jessi 


Di saat orang tuanya mengorek keadaan Paul, tiba- tiba serangan mual Paul datang. 


“Mmm” Paul mnahan muntahnya. 


Ny. Jessi dan Tuan Alex jelas melihatnya. 


“Are you oke, Baby? Are you sick?” tanya Ny. Jesy memegang pundak Paul. 


“I am oke Mom! Papi Mami istirahatlah dulu, Paul ke kamar, kita sarapan bersama setelah ini!” ucap Paul sendu. 


Tuan Alex dan Nyonya Jesy saling pandang dan curiga dengan keadaan anak semata wayangnya itu. 

__ADS_1


“Apa dia sakit karena Aslan?” tanya Nyonya Jesi. 


“Kurang ajar, aku akan membuat peringatan pada anak angkuh itu!” ucap Tuan Alex mengepalkan tangan. 


“Mami rasa, Paul sakit Pap. Kita harus tanya lagi!” ucap Nyonya Jesy yakin. 


Kedua orang tua Paul belum tahu kalau Paul hamil. Mereka lebih tidak tahu lagi kalau anaknya hamil bukan dengan Aslan. Tuan Alex merasa yakin Aslan yang menyakiti anaknya. 


*****


Di sebuah hotel berbintang. 


“Emmmt” seorang perempuan cantik yang bagian tubuhnya sudah banyak diperbaiki meggeliat. Disingkapnya selimut tebal yang membalut tubuh polosnya. 


“Morning Baby!” sapa pria kekar bertato di sampingnya, yang hanya mengenakan celana pendek. Dia juga menghisap rokok dan di tanganya memegang segelas wine merah. 


“Will?” pekik Meta menarik selimutnya. 


“Thanks Baby, permainanmu sangat memuaskan!” ucap Will pada Meta. 


“What! Kamu melakukan ini padaku?” bentak Meta pada Will


“Hey... kita melakukannya dengan happy!” jawab Will tidak terima disalahkan Meta.


“Sh*t! You are F*ck!” teriak Meta tidak terima dirinya disetubuhi laki- laki bule yang menurutnya tidak pantas dia jadikan pasangan. Meta tau Will laki- laki hidung belang yang tidur dengan banyak perempuan. 


“Hooh!” Meta menghela nafasnya dan mengusap rambutnya kasar. 


Meta mengingat apa yang dia lakukan semalam. Meta kesal dengan Rendra. Meta langsung pergi menuju ke Bar dan menemui teman- temanya. Meta minum- minuman keras, berpesta dan mabuk. 


“Apa yang kamu inginkan hah? Akan aku belikan, tinggalah di apartemenku satu minggu!” ucap Will dengan mata play boy nya. 


Meta menelan ludahnya kesal. 


“You are crazy!” jawab Meta. 


“Kemon Baby, aku suka permainanmu! Apapun yang kamu mau akan aku berikan!” ucap Will lagi. 


“Gue punya pacar, gue nggak suka lo!” ucap Meta dengan percaya diri mengakui Rendra pacarnya. 


Meta tau meski tak sekaya Will, Rendra jauh lebih bisa membawa Meta merasa dilindungi dan terhormat. Rendra lebih mempunyai pamor yang baik untuk meningkatkan citranya ketimbang Will. 


“Apa pacarmu akan tetap menerimamau jika dia melihat ini?” ucap Will menunjukan sebuah video di ponselnya. 


Ternyata Will sangat licik, saat Meta bertelanjang bulat, bahkan saat Meta bermain dengan liar dan bergulat panas, Will merekamnya. 


“Hooh!” Meta menelan ludahnya sangat kesal.

__ADS_1


Meta membuang kucing yang manis dan penurut tapi jatuh ke kandang harimau yang kasar dan seram. 


“Lo br*ngsek ya Will! Lo sangat breng*ek!” umpat Meta ke Will. 


“Ayolah. Aku ingin bermain lagi! Setelah itu kita shopping, oke?” ucap Will licik. 


Will meneguk segelas wine di tanganya, setelah itu meletakan di meja. Will kemudian berjalan mendekat ke Meta lagi.Will mengulum lidahnya dengan ekspresi nakal. Will kemudian duduk di sebelah Meta, memebelai rambut Meta dan mencium ujungnya. 


“Rambutmu sangat wangi Meta! I love You!” bisik Will dengan tatapan iblisnya. 


Meta mengibaskan rambut dan menariknya. 


“Jangan sentuh aku! Serahkan ponselmu! Hapus nggak!” ancam Meta. 


“Jadilah bidadariku!” bisik Will lagi meraih pundak Meta dan menciumi leher Meta dari belakang. 


“Anj*ng tau nggak Lo!” umpat Meta lagi. 


Will tersenyum semakin mendekat ke Meta dan meruskan bakat ke cassanova-anya. 


Metta bangun dan berusaha menghindar, tapi Will yang bertangan kuat dan kekar meraih tangan Meta dan menariknya kasar. Meta langsung terjatuh. Will langsung mengungkung Meta di bawahnya. Karena meta belum sempat bengun dan memakai pakaian, Will langsung menarik paksa selimut Meta. Meta tidak berdaya. Pagi itu, Meta kembali habis di terkam harimau besar itu. 


Di saat yang bersamaan Rendra terus menghubungi Meta. Rendra sampai kesal karena teleponya tidak kunjung diangkat. 


***** 


Pagi itu Cyntia sudah siap berangkat kerja. Cyntia memakai dress cantik dan press body berwarna hitam. Seperti sebelumnya, Cyntia memoleskan warna merah muda di bibir seksinya, Cyntia juga menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya. Tidak lupa flat shoes manis yang tidak berlebihan tapi berkelas. Perfect Cyntia pagi itu menjadi janda kembang yang sangat cantik dan elegan. 


Cyntia membuka apartemenya, kemudian menguncinya kembali. Saat Cyntia sedang mengunci pintunya lagi, terdengar suara pintu dibuka dari unit apartemen di sampingnya. 


“Empt!” 


Rendra yang sedang sangat dongkol membuka pintu. Cyntia menoleh sehingga mereka saling tatap. 


Dheg 


Jantung Cyntia langsung berdebar kencang meyadari kebodohanya semalam. Cyntia langsung membuang mukanya menghindari Rendra. Suasana canggung kemudian tercipta di antara mereka berdua. Cyntia terdiam menunggu Rendra pergi lebih dulu. Cyntia tidak mau mati kutu jika harus berdua dengan Rendra di lift. 


Di luar dugaan Cyntia. Saat Cyntia terpaku, diam membisu menunggu Rendra pergi. Rendra justru mendekat ke Cyntia. 


“Kamu sungguh menguntitku?” tanya Rendra lagi. 


“Mbuah, menguntitmu?” pekik Cyntia lagi, kenapa Rendra terus menuduhnya menguntit. 


"Dimana kamu letakan kamera pengintai di kamarku hah?" tanya Rendra lagi semakin ngawur.


"Woaah! Kamera pengintai?" pekik Cyntia sangat gemas ke Rendra. Bisa-bisanya Rendra menuduh Cyntia sampai menaruh kamera di kamar Rendra.

__ADS_1


"Eh. Tuan Rendra yang terhormat, sebaiknya anda perlu dibawa ke psiakiater deh!" ejek Cyntia.


__ADS_2