
Di rumah sakit.
Kata orang, siapa yang menabur dia yang menuai. Di dalam hidup ini juga selalu ada hukum sebab akibat, tidak ada satu hal kecilpun yang terjadi tanpa seijiNya, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan setiap hal yang terjadi, pasti akan selalu ada maksud yang Allah tunjukan agar umatnya berfikir.
Itulah yang terjadi pada Paul. Sayang nya sampai detik sekarang dan di posisinya sekarang, setelah banyak hal buruk yang menimpanya, Paul belum juga sadar.
Nyonya Jessy yang semalam sakitnya kambuh kini sudah membaik. Perempuan paruh baya yang berdandan sosialita itu tampak duduk termenung dengan seragam rumah sakit. Selang infus tampak tepasang di pangkal lenganya. Canul nasal oksigen juga terpasang di hidungnya yang tersambung ke humidifier.
“Mah, siapa Tuan Surya?” tanya Paul membuyarkan lamunan Nyonya Jesy.
“Mama pusing, tolong jangan bahas apapun!” jawab Nyonya Jesyy malah kembali merebahkan kepalanya dan tidur miring membelakangi Paul yang duduk di samping ranjang.
“Mah! Paulina tau, kata dokter Mamah baik- baik saja! Mamah nggak usah pura- pura!” jawab Paulina mulai pusing dan geram ke orang tuanya.
Tapi Nyonya Jessy justru terlihat pengecut dan bersembunyi dibalik selimut.
Paulina sendiri hanya tahu kalau ayahnya pengusaha dan dulunya, ibunya seorang model. Paulina juga banyak hidup diasuh oleh pengasuh yang sekarang sudah meninggal. Itu sebabnya Paulina juga hidup cenderung bebas.
Paulina tidak mengerti tentang urusan orang tuanya. Nama Tuan Surya juga baru Paulina dengar sekarang. Paulina butuh kabar itu demi menyelamatkan Papanya dari tuntunan penjara. Tapi saat bertanya pada mamanya, mamanya hanya bisa marah- marah menyalahkan keadaan dan sakitnya kambuh lagi.
Paul dibuat bingung sendiri. Permasalahan Paulina sendiri cukup membuatnya pusing. Orang tua nya pulang yang Paul harapkan bisa membantunya justru menambah semakin pusing. Apalagi membuat Paulina terjerat masalah polisi yang notabenya masalah yang sangat besar.
“Mamah sudah katakan ke kamu, mamah juga tidak tahu!”
“Bohong, Paul lihat mata mamah dan Paul yakin mamah tau, siapa Tuan Surya Mah? Kenpa Papah dituduh membunuhnya?” tanya Paul lagi.
“Oke, kalau mamah nggak mau cerita. Paul juga nggak akan peduli mamah dan papah. Paul pulang aja!” jawab Paul.
“Kamu tega ke mamah! Kamu pikir ini semua karena siapa? Ini semua karena kebodohanmu!” jawab Nyonya Jessy.
Ibu dan anak itu malah bertengkar. Lontaraan kata bodoh yang ditujukan Nyonya Jessy pada Paul pun membuatnya meradang.
“Bodoh, Mah! Paul bodoh? Apa salah Paul? Kenapa mamah bodohin Paul?” jawab Paul tidak terima.
“Ya, kamu bodoh, papa mamah sudah memikirkan yang terbaik untukmu dan masa depanmu, kamu hanya cukup menjadi istri Aslan satu- satunya dan membuatnya jatuh cinta padamu, kenapa kamu tidak mendengarkan mami, kamu malah tidur dengan artis miskin itu. Liat apa yang terjadi!” jawab Nyonya Jesy dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Maksud mamah,kehamilanku, oke. Akan Paul gugurkan! Secepatnya!” jwab Paulina.
“Bukan dia, tapi Alena!” jawab Nyonya Jessy tiba- tiba.
“Alena, Mah?” pekik Paul.
“Ya, kalau saja kamu tidak hamil Alena lebih dulu dan tidak ketahuan Aslan, kamu akan hidup tenang menjadi ibu dari anak- anaknya. Dia tidak akan melakukan hal sejauh ini, dia akan mencintai kamu. Tapi lihatlah sekarang apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi?” omel Nyonya Jessy dengan wajah sangat stress.
“Melakukan ini? Apa maksud mamah? Apa hubungan Tuan Surya dengan masalalu Paul Mah?”
“Tuan Surya adalah, ayah kandung Aslan, dan ini pasti ulah Aslan!” jawab Nyonya Jessy akhirnya.
“What?” tanya Paul melotot dan tidak menyangka.
Nyonya Jesyy terdiam dengan nafas yang menderu dan tatapan mata yang kosong penuh dengan amarah dan ambbisi.
“Jadi, papa mertua? Papa Agung itu bukan ayah Aslan?” tanya Paul.
“Bukan!” jawab Nyonya Jessy singkat.
“Tutup mulutmu!” jawab Nyonya Jessy mengeluarkan kegarangannya, tapi sorot matanya mengatakan iya dan Paul bisa membaca itu.
“Apa yang bisa Paul lakukan agar bisabebaskan Papah Mah?” tanya Paulina.
“Cari, pria bernama Sentot, bunuh dia! Jika dia mati maka tak akan ada saksi lagi, Papamu bisa melimpahkan semua ini ke Agung!” jawab Nyonya Jessy otaknya masih sempat berfikir keji dan jahat. Padahal dirinya sudah di rumah sakit dan bernafas dengan oksigen. Nyonya Jessy tidak tahu saja kalau Pak Sentot sudah lebih dulu di temukan Aslan dan menyerahkan semua buktinya.
“Kemana Paul mencarinya Mah?” tanya Paul.
“Ya itu tugasmu bodoh!” jawab Nyonya Jessy lagi menepuk jidatnya.
“Siapa diaa Mah?” tanya Paulina lagi.
“Dia orang kepercayaan ayahmu. Dia saksi semua yang ayahmu lakukan 32 tahun lalu!”
“32 tahun lalu?” tanya Paulina lagi.
__ADS_1
“Ya! Seharusnya ini sudah tidak bisa diingat lagi. ini semua karena kebodohanmu! Coba saja kamu bisa membuat Aslan mencintaimu, kamu tidak akan mengalami hal ini. Dia juga tidak mau mengakui Alena sebagai anaknya. Dan lihatlah sekarang dia membencimu dan memenjarakan papamu. Coba saja dulu kau tidak hamil,Aslan akan menjadi pria yang mencintaimu dan tak perlu melakuka ini semua!” omel Nyonya Jessy lagi.
Paulina menunduk. Benar memang yang dikatakan Nyonya Jessy. Aslan dulu memang sempat membuka hati untuk Paulina. Aslan tipe laki- laki romantis yang akan menyerahkan hidup dan hatinya untuk satu wanita. Tapi Aslan juga yang bisa menutup hati, mata dan belas kasihanya pada seseorang yang menyakitinya.
Kalau saja malam itu Paulina tidak ceroboh membuang hasil test pek dan pemeriksaan kehamilan Alena di sembarang tempat, kejadianya tidak akan seperti ini. Aslan pasti akan menjadi suami yang penyayang dan mencintai Paul. Paulina juga akan hamil dan mempunyai putra dari Aslan.
“Maafkan aku Mah!” ucap Paul lirih.
“Apa di luar masih banyak wartawan?” tanya Nyonya Jessy tiba- tiba.
“Sepertinya masih Mah!”
“Ck..ah Mamah pusing, bagaimana kita harus hadapi mereka?” tanya Nyonya Jessy stress dan ketakutan.
Jika semalam mereka sangat suka sekali bertemu dengan wartawan, keadaan sekarang berbalik. Nyonya Jessy dihantui waratwan yang akan menanyai status dan permasalahan suaminya.
“Mamah pulang dengan pengawalan anak buahku Mah. Biar Paul yang hadapi!” jawab Paul.
“Kapan mamah pulang?” tanya Nyonya Jessy lagi.
“Aku akan buat sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian tentang Papah dulu Mah, Mamah di sini dulu saja sampai keadaan membaik!” ucap Paulina memberi ide.
“Mengalihkan pembicaraan bagaiamana?” tanya Nyonya Jessy.
Jika dulu test pek Alena membuat kehancuran hidup Paulina dan Aslan. Kini Paul pun berfikir akan menyelesaikan masalah dengan tespek anak kedua juga.
Setelah mendengar cerita tentang siapa Tuan Surya. Paul berfikir dirinya benar- benar akan berperang dengan Aslan.
“Mamah lihat saja nanti!” jawab Paulina.
Paulina kemudian memfoto selang infus ibunya. Paulina keluar menuju ke poli kandungan memeriksakan kehamilanya, setelah itu Paulina memfoto hasil pemeriksaan kehamilanya.
__ADS_1
“Hhh! Kamu akan merasakan rasanya dihujat dan hancur Kia dan Aslan!” batin Paul percaya diri rencananya akan berhasil.