
Dalam hidup semua saling bergantung dan berkesinambungan. Saat alam berjalan dan berganti, hewan yang Tuhan lebihi dengan instingnya menjadi alarm alami, menjadi tanda hari sudah berganti.
Orang-orang pun terbangun. Hari ini Mbok Mina dan Mbak Narti tidak masak, karena Aslan sudah berpesan membelikan catering.
Kia bangun menunaikan sholat subuh. Di hamparkan sajadahnya, dalam tengadahan tanganya, air mata bening Kia menetes perlahan. Entah kenapa Kia teringat bapak dan ibunya.
Sebagai perempuan Kia ingin menemui pernikahan yang bahagia dan normal. Dengan ayah sebagai walinya dan bisa bersimpuh pada ibunya.
Tapi kenyataanya, semua itu hanya menjadi angan yang tidak akan pernah tergapai. Bahkan Kia sudah punya anak tapi tidak pernah tau seperti apa kakek neneknya.
Meski Kia tidak menyalahkan takdir, dalam hamparan sajadahnya Kia tetap menangis sesenggukan dan tidak ada yang mendengarnya.
Satu-satunya saudaranyavDanu. Tapi kenapa Danu dianugerahi istri seperti Ranti. Bukan hanya kenangan pahit saat mengusir Kia, tapi sikapnya sekarang juga membuat Kia sedih.
Dan Kia sendiri menikah dengan Aslan penuh dengan masalah. Menikah tanpa restu orang tuanya. Belum keadaan Aslan yang Kia tau sedang dalam masa sulit harus berjuang dari awal lagi. Tentu ini bukan pernikahn normal seperti pada umumnya.
"Hiks... hiks.... Ibu... Kia rindu dipeluk Ibu" lirih Kia memeluk dirinya sendiri yang masih menggunakan mukenah.
"Maafin Kia, Bu, Kia harus hidup dengan jalan seperti ini?"
"Hughs... hughs... "
Lama Kia menangis sendirian, meminta kekuatan pada Sang Pemberi kekuatan. Meyakinkan dirinya dan hatinya, bahwa Aslan adalah pilihan tepat untuknya melabuhkan perjalanan hidupnya. Menjadikanya pemimpin dan pelindung yang akan membawanya dalam kehidupan yang bahagia.
Saat Kia menunduk dan memeluk lututnya sendiri, pintu kamar Kia diketuk. Kia ingat, mengingat kelakuan Aslan yang suka curi kesempatan, Kia mengunci kamarnya. Dan Kia beranjak, membuka pintunya.
"Cyntia?" tanya kaget melihat sahabatnya pulang kerja subuh-subuh.
"Tumben pintu kamar dikunci?" tanya Cyntia heran.
"Ehm. Kamu sendiri katanya mau syuting dua hari. Kok pulang? Subuh-subuh begini lagi?" jawab Kia balik bertanya mereka berdua sama-sama melakukan sesuatu di luar kebiasaan.
"Kamu nggak suka aku balik? Jawab dulu pertanyaanku, tumben kamar dikunci? terus kok di depan banyak sandal? Di depan mobil siapa?" tanya Cyntia lagi.
Cyntia sebenarnya sudah menebak ada Aslan. Tapi menurut Cyntia rasanya aneh. Selama ini kan Kia selalu jual mahal. Apalagi kata Kia hampir 3 bulan ini mereka tiada jumpa.
"Singa gila itu ada di sini. Kakakku dan Iparku juga di sini. Pangeran juga!" jawab Kia tidak berani menatap Cyntia karena Kia belum cerita apapun.
"Hooh!! Gue nggak ngimpi kan? Pukul tanganku!" ucap Cyntia berespon terkejut menatap Kia dengan mata menelisik dan mengulurkan tanganya.
"Apa sih? Nggak ngimpi. Makanya kukunci pintunya. He.. aku takut Aslan masuk!" jawab Kia menangkis tangan Cyntia. Lalu Kia membuka mukenanya dan kini Kia hanya memakai piayama stelan pendek dengan rambut dibiarkan terurai.
"O maigat. Jadi ini alasan Pak Satya menunda syuting, sumpah ini gila dan gue nggak ngira!" jawab Cyntia berbicara sendiri.
"Maksudmu apa sih?"
"Ya gue pulang mendadak. Karena Pak Satya bilang syuting diliburkan untuk hari ini. Katanya, ka_kak nya mau nikah!!" ucap Cyntia dengan nada penekanan dan dieja menyindir Kia.
"He... " Kia hanya nyengir. Merasa bersalah tidak cerita ke Cyntia.
"Hhh dunia emang udah gila yaa? Dan sepertinya untuk bahagia memang harus gila! Kakaknya Pak Satya kan Singa kesayangan temen gue. Tentu saja nikahnya sama temen gue. Omaigat Kiaa. Gila gila gilaa" ucap Cyntia lagi dengan histeris dan ngelantur bicaranya. Bahkan Kia mencengkeram kedua lengan Kia dan menggoyangkanya seperti mendapat kejutan besar.
Masih dengan mata sembab dan basah, Kia mengernyitkan dahinya mendengar kata Cyntia. Merasa tidak nyaman dengan cengkeraman tangan Cyntia.
"Iiih, ck! Kamu aja yang gila aku nggak!" jawab Kia.
"Kiaa hello. Yang gila itu kalian. Coba cubit tangan gue. Ayo coba tepuk pipi gue!"
"Ih. Apa sih aneh banget? Kamu salah minum obat apa gimana? Kok aneh gini?" tanya Kia merasa Cyntia aneh.
Tapi Cnytia malah langsung peluk Kia erat. Setelah itu melepasnya.
"Yang aneh dan nggak masuk akal itu kalian. Perasaan kemarin kamu masih uring-uringan telpon lo dicueki. Kapan kalian jadianya? Kalian bener mau nikah kan?"
"Siri dulu. Akta cerai Aslan belum keluar!" jawab Kia lagi.
"Ya tapi kalian mau nikah kan?"
"Iya"
"Bener lo nikah hari ini kan?"
"Iyah." jawab Kia pelan
"Iih yeyeyeye!" Cyntia memeluk Kia lagi. Tapi tiba-tiba Cyntia melepaskan pelukanya, menghela nafasnya dan tampak berfikir. Kia pun menatapnya bertanya.
__ADS_1
"Kenapa lagi? Kamu nggak seneng ya aku nikah?"
"Ya senenglah. Seneng banget malah. Tapi nggak pernah gue bayangin secepat ini? Gue kan belum beli rumah atau dapet kontrakan. Hah berarti gue harus cari kontrakan dulu sebelum beli!" ucap Cyntia memikirkan nasibnya.
"Kok bahas rumah dan kontrakan?"
"Ya kali, gue numpang lo di sini terus padahal lo punya laki?"
"He... nggak apa-apa kamu di sini aja, tidur sama aku, sampai aku nikah KUA yaa! Please, jangan pergi dulu!" jawab Kia merasa butuh Cyntia. Kia masih belum ikhlas dengan pernikahanya yang hanya siri.
"What? Ki gue bukan obat nyamuk! Nggak mau, dosa malah nanti aku ganggu kalian!"
"Cyntia. Aku nggak mau tidur sama dia sebelum nikah KUA, tolongin gue!" tutur Kia memelas berharap Cyntia tahu posisinya.
"Nah, siapa suruh lo mau dinikah siri sama dia? Lo nikah nunggu berapa jam lagi. Mau siri mau Negara. Lo sebentar lagi jadi istri, lo jadi istri Aslan. Catet itu! Dan lo pernah makan bangku kuliah kan? Lo tau artinya jadi istri itu harus gimana? Selesai ijab. Gue ajak Narti pergi. Ogah gue jadi obat nyamuk!" terang Cyntia tegas menolak permintaan Kia.
"Kok gitu?" tanya Kia sedih temanya mau pergi.
"Kok gitu? Ya nggak gitu-gitu lah. Udah ih buru mandi! Gue emang harus pergi dari sini. Lo harus hidup dengan keluarga lo bukan sama gue!"
"Ciin!"
"By the way, pokoknya selamat yaa. Akhirnya lo nikah juga. Meski gue kaget dan nggak ngira gue ikut seneng dengernyah! Maaf belum siapin kado, Nyonya Aslan, hehehe!" ledek Cyntia centil ke Kia.
"Aaah Cyntia. Jangan pergi!" rengek Kia lagi.
"Bikin adek yang banyak buat Pangeran. Kalau lo nggak mau rawat buat gue mau ngrawat kok!" ledek Cyntia lagi tidak menghiraukan rengekan Kia.
"Apa sih?" jawab Kia tersipu.
"Ayo mandi! Lo dulu apa gue dulu nih yang mandi?"
"Hhh"
Di saat Kia dan Cyntia sedang bercanda. Pintu kamar Kia diketuk. Cyntia dan Kia menoleh ke pintu. Dan di balik pintu terlihat tangan anak kecil.
"Ibu..." panggil Ipang. Mengetahui Ipang yang datang Kia bahagia dan langsung menyuruh masuk tanpa khawatir.
"Ya Nak. Masuk!" jawab Kia, tapi Ipang bukanya masuk malah tampak bicara pada orang di belakangnya.
Mendengar ucapan Ipang Kia dan Cyntia saling pandang. Kia yang masih dengan pakaian pendeknya gelagapan. Kia malu sekali hanya menggunakan piyama dengan celana pendek. Dan rambut berantakan.
"Jangan masuk!" teriak Kia.
Tapi Aslan sudah di depan pintu dan melihat Kia, Aslan malah tersenyum senang melihat calon istrinya tanpa hijab dengan rambut gelombang panjangnya itu. Badan Kia tampak segar dan seksi, rasanya ingin segera memeluknya.
"Abang jangan lihat Kia ih!" seru Kia membalikan badan membelakangi Aslan.
"Abang cuma mau bilang periasnya udah datang, Sayang. Cepat mandi dan temui mereka!" ucap Aslan malah masuk karena di seret Ipang.
"Ayo, Yah, masuk aja!" ajak Ipang lagi.
"Jangan ajak ayah masuk Nak. Kamu aja! Ayah biar di luar. Ibu pake baju pendek!"
"Kan kita keluarga Bu!" jawab Ipang belum paham, perbedaan keluarga dan bukan dengan jelas.
Aslan hanya mengikuti Ipang, masuk dan duduk di tepi ranjang di dekat Kia. Hal itu sangat menyenangkan buat Aslan. Tapi tidak untuk Kia.
Cyntia yang mendengarkan panggilan abang dan sayang itu melongo dan bergidik geli sendiri. Kia dan Aslan yang terakhir kali mereka ketemu masih jaim-jaiman, nggak ketemu tiga bulan, tau-tau menikah dan panggilanya berubah.
"Oh ya Tuhan. Benar-benar keputusan yang salah aku pulang kesini!" batin Cyntia.
"Ehm!" Cyntia langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Kia gerogi sendiri ketika anak dan calon suaminya ada di dekatnya. Bahkan Kia tidak berani menatap suaminya. Tapi Ipang langsung menghambur ke pelukan ibunya itu dan minta dipangku.
"Ibu!" panggil Ipang melihat ke wajah ibunya sambil menyibakan rambutnya.
"Ibu matanya merah? Habis menangis lagi?" tanya Ipang.
Mendengar pertanyaan Ipang Aslan ikut menoleh dan melihat Kia.
"Benar kamu menangis? Kenapa?"
"Nggak Bang. Abang keluar sana ih!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kia malu pakai baju begini, kita belum halal!"
"Kamu lupa? Abang udah lihat semuanya?" bisik Aslan ke Kia.
"Tetap aja Bang. Keluar sekarang! Tunggu selesai ijab! Kalau nggak Kia ngambek nih!"
"Hemmm, Pang, ayah keluar dulu. Ibumu, ngambek. Katakan pada ibu ya. Suruh mandi, udah ditunggu perias wajah dan tamu akan datang" ucap Aslan ke Ipang padahal didekat Kia. Ipang pun hanya tertawa apa bedanya ngomong sama Ipang dan Kia mereka kan sama-sama berdekatan.
"Tamu? Siapa yang diundang?" tanya Kia spontan tidak mengira ada yang diundang.
"Abang boleh di sini? Apa harus keluar?" ledek Aslan ke Kia. Katanya diusir tapi malah ditanya-tanya.
"Abang buat Kia dosa. Masuk kamar perempuan tanpa permisi! Sana keluar. Kia nggak jadi tanya"
"Hemmm, yaya!" jawab Aslan tersenyum lucu mendengar Kia bersungut-sungut.
Aslan keluar dan mempersilahkan perias duduk dulu. Ipang masih bersama Kia, bergelayut manja pada ibunya. Dengan tangan mungilnya Ipang meraih pipi ibunya lagi. Kia kemudian meraih tangan mungil itu dan menciuminya.
"Ayo, mandi Bu. Ipang sudah tidak sabar liat ibu jadi pengantin! Kata ayah, nanti ibu dua kali ya jadi pengantinya?"
"Apa ayah bilang begitu?" tanya Kia ingin tahu apa yang Aslan katakan pada anaknya.
"Iya. Katanya kalau sekarang ibu menikah pertama, buat ayah bisa tinggal di sini. Abis itu nanti ayah buat pesta, jadikan ibu princes, terus kasih Ipang adik kecil yang manis"
"Oh iya?" tanya Kia lagi tersipu. Ternyata Aslan memikirkan kata Kia kalau Kia ingin menikah sah.
"Iya Bu. Ipang sudah tidak sabar punya adik kecil Bu,"
"He.. iya sayang. Ipang minta ya sama Alloh ya!"
"Pokoknya Ipang mau adek!"
"Iya... ya udah Ipang mandi sana sama Ayah!"
"Ipang mandi sendiri aja!" jawab Ipang.
"Siip anak ibu emang pinter. Ya sudah sana ke kamar Ipang. Ibu nunggu tante Cyntia"
"Ya Bu." jawab Ipang.
Di kamar masing-masing penghuni rumah itu bersiap-siap. Setelah mandi Kia pun dirias sederhana dengan kebaya putih. Kia terlihat anggun.
Meski tidak cerita dan tidak menjawab pertanyaan Ranti semalam. Tapi Aslan sudah menghubungi anak buahnya agar menyiapkan pakaian untuk keluarga Kia.
Dengan semangat Ranti pun berdandan. Dan tidak lama saksi-saksi dan undangan, Kia dan Aslan datang.
Ipang sendiri kaget saat keluar kamar di dalam rumahnya ada banyak orang baru. Apalagi ada anak kecil.
"Ibu dia siapa?" tanya Ipang ke ibunya yang sedang dirias menunjuk Rafli.
Ranti dan Danu pun kaget melihat Ipang mirip dengan artis kecil yang mereka tonton.
"Dia saudara sepupumu Sayang. Mereka saudara ibu. Ipang salim ya sama Pak Dhe dan Bu Dhe" bisik Kia ke Ipang mengenalkan saudaranya.
Tapi Ipang terus memperhatikan Danu, Ranti dan Rafli. Padahal Danu dan Ranti tersenyum dan menyapa Ipang. Lalu Ipang berbisik pada Kia.
"Bu aku tidak suka pada tante itu. Bibirnya kaya badut"
Mendengar bisikan Ipang mata Kia langsung melotot dan memperhatikan bibir Ranti, Ranti memakai lipstik merah. Atau mungkin Ipang tau orang itu adalah orang yang ingin Ipang dulu dimusnahkan.
"Nggak boleh gitu. Salim dulu sana!" jawab Kia menasehati hal baik.
"Ipang mau main sama adik kecil aja. Nggak mau salim sama Pak Dhe dan Bu Dhe!" tolak Ipang polos dan keras.
Danu dan Ranti juga ikut Mendengar. Kia hanya nyengir merasa tidak enak. Sebenarnya Danu dan Ranti tersinggung, tapi karena Ipang anak kecil, mereka memahaminya. Selanjutnya Ipang bermain dengan Rafli dan sarapan bersama.
Sekitar pukul 8.30 tanpa disangka Kia Delvin dan Putri datang. Lalu disusul rombongan Satya, Manda dan Daffa. Ipang pun sangat bahagia temanya datang, mereka langsung berpelukan dan sama-sama mengasuh Rafli.
Tanpa sepengetahuan Kia. Entah kapan mengerjakanya. Halaman belakang rumah Kia disulap menjadi tempat akad dan pesta outdoor. Sederhana, kecil tapi cantik dan elegan. Kia terbengong dan excitid.
Bahkan saat Kia dirias, Kia tidak melihat kalau lewat pintu belakang tukang katering sudah menyiapkan makanan lezat.
Tidak lama penguhulu datang. Pernikahan pun dilangsungkan. Hari itupun menjadi hari bahagia, meski sederhana dan tertutup, kini Kia dan Aslan resmi halal menjadi suami istri.
__ADS_1