
"Kalian saling kenal?" tanya Cyntia. Melihat teman dan asisten rumah tangganya saling menyebutkan nama.
"Iya Nyonya" jawab Mba Narti mengangguk. narti sedikit heran melihat perubahan Kia dan kenapa bisa kenal dengan majikanya.
"Kenapa dia bersamamu Cyn?" tanya Kia.
"Dia asisten rumah tanggaku. Apa kau lupa? Apa waktu menginap kau tidak melihatnya? Ah iya waktu itu kamu libur ya?" ucap Cyntia bertanya sendiri dan menjawab sendiri.
"Oh" Kia hanya ber oh ria saja mengetahui mantan tetangganya menjadi asisten rumah tangga temanya.
"Mbak Narti, dia yang punya rumah ini dia temanku. Kita akan tinggal di sini" ucap Cyntia memberi tahu.
"Hah?" spontan Mbak Narti kaget.
Lalu Mbak Narti menelan ludahnya dan melihat penampakan rumahnya dari luar. Bahkan Nyonya Cyntia yang kaya dan jadi menumpang di rumah Kia. Gadis di kompleknya yang sempat menghebohkan warga karena diusir katanya hamil duluan.
"Kalian saling kenal? Kenal dimana?" tanya Cyntia.
"Ehm" Kia hanya berdehem. Bertemu dengan Mbak Narti membuatnya ingat kakak ipar dan kakak Kia. Kenapa semakin lama kehidupan lama Kia semakin datang kembali.
"Neng Kia, dulu tetangga saya Nyonya" jawab Mbak Narti bosa basi, Mbak Narti harus baik ke Kia sekarang agar diijinkan tinggal dan bekerja.
"Oh. Bener Ki?" tanya Cyntia.
"Iya," jawab Kia mengangguk getir.
"Syukurlah kalau begitu, lo ijinin dong dia kerja di sini. Dia pelayanku" ucap Cyntia mengerlingkan mata.
Mbak Narti pun tersenyum dengan harap- harap cemas. Lalu Kia menatap Mbak Narti canggung. Sejujurnya Kia merasa tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi.
"Gue yang bayar dia," imbuh Cyntia.
"Oke" jawab Kia akhirnya.
"Terima kasih Neng Kia," ucap Mbak Narti.
"Iya," jawab Kia mengangguk. "Ayok masuk!" ajak Kia.
"Yok!" Cyntia pun mengajak Mbak Narti masuk. Mereka bertiga masuk ke rumah Pangeran.
"Aku juga bawa Mbok Mina. Nanti Mbak Narti sekamar ya sama Mbok Mina!" ucap Kia lembut ke Mbak Narti.
"Mbok Mina?" tanya Cyntia lalu dari dalam Mbok Mina keluar.
"Nah itu dia?" ucap Kia menunjuk Mbok Mina. "Kemari Mbok, ini temanku yang kuceritakan, Cyntia. Dan ini Mbak Narti. Nanti sekamar sama Mbok" ucap Kia.
Mbok Mina mengangguk tersenyum dan mendekat. Mereka kemudian bersalaman dan berkenalan. Lalu masuk ke dalam.
Mbak Narti pun sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Mbak Narti pun kaget melihat foto Aslan Kia dan Ipang. Mbak Narti kira Aslan suami Kia. Dan Mbak Narti tau siapa Ipang.
"Jadi benar Pangeran anaknya Neng Kia?" tanya Mbak Narti kegirangan.
Kia dan Cyntia menoleh ke Mbak Narti mengangguk.
__ADS_1
"Iya Mbak, kenapa?"
"Waah senengnya? Jadi nanti saya bisa ketemu Pangeran setiap hari? Saya ngefans Neng sama Pangeran. Aduh bangganya. Adik-adiku, saudaraku dan tetanggaku pasti pada iri" celetuk Mbak Narti dengan ekspresi bahagia.
"Ehm" Kia justru berdehem dengan ekpresi masam. Tetangga Mbak Narti itu berarti keluarga kakaknya, sepupu Ipang.
Melihat ekspresi Kia, Mbak Narti pun langsung klakep terdiam.
"Mbok Mina, Narti sekamar sama Mbok ya! Ajak dia ke kamar ya Mbok" ucap Cyntia.
Mbok Mina mengangguk dan mengajak Mbak Narti. Kini tertinggal Kia dan Cyntia.
"Mba Narti tunggu"
"Iya Neng?"
"Ikut saya bentar!" ucap Kia.
Lalu Kia dan Mba Narti ke ruang tamu untuk ngobrol.
"Apa kabar kakakku Mbak?" tanya Kia kemudian.
"Ehm" Mbak Narti diam menunduk, tatapanya tampak sayu.
"Katakan!" ucap Kia.
"Apa bayi itu Pangeran, Neng?" tanya Mbak Narti kemudian.
"Iyah" jawab Kia mengangguk.
"Keponakanku meninggal?"
"Iyah, tapi sudah hamil lagi. Tapi kasian kakakmu"
"Oh, syukurlah, gimana kabar kakak?"
"Ponakanmu yang kedua sakit. Tiap bulan harus kontrol ke rumah sakit. Sementara kakakmu sekarang hanya jadi penjaga toko"
"Ehm," Kia diam.
Hatinya rasanya masih sakit mengingat perlakuan kakaknya. Tapi kenapa mendengar kabar ponakanya, hati Kia lebih tersayat lagi.
Kini Pangeran hidup sehat pintar dan bahkan menjadi bintang. Tinggal Kia bilang ya, ayo kita menikah, Kia bersuami tampan, gagah dan terhormat. Kia sendiri bekerja.
"Makasih informasi, kamu di sini bersama Cyntia jadi aku mengijinkanmu. Tapi tolong rahasiakan semua tentangku. Jika sampai apa yang ada di rumah ini sampai terdengar di luar. Aku tidak segan mengusirmu" tutur Kia berwajah serius.
"Saya sudah bekerja sebagai pelayan lama. Mulai sekarang kamu Tuanku Nyonya Kia. Aku butuh pekerjaan ini. Nyonya bisa tanyakan ke Nyonya Cyntia bagaimana saya," tutur Mbak Narti tau diri dan menjelaskan.
"Aku percaya padamu dan Cyntia," ucap Kia kemudian.
Mbak Narti pun mengangguk dan undur diri. Sementara Kia masih diam duduk di sofa depan. Kia memikirkan kakaknya. 7 tahun Kia meninggalkan tanah kelahiranya ini. Haruskah Kia menemui kakaknya?
Melihat Kia melamun Cyntia datang menghampiri Kia.
__ADS_1
"Lo nggak suka ya sama Narti?" tanya Cyntia ikut duduk di samping Kia.
"Gue nggak masalah ko Cyn. Gue percaya sama lo. Dia tetanggaku, aku juga tahu dia orang baik" jawab Kia.
"Terus kenapa ekspresi lo gitu?"
"Gue keingat kakak Gue. Rumah Narti di belakang rumah kakak gue" jawab Kia sendu.
"Gue hargai keputusan lo, lo masih mau ketemu kakak lo atau nggak. Itu hak lo"
"Gue butuh waktu buat berfikir," jawab Kia.
"Secepatnya, gue akan cari rumah Ki. Doain gue ya. Setelah gue punya naungan managemen dan gue bisa dapet job lagi," tutur Cyntia.
"Lo apaan sih? Udah lo tinggal di sini aja"
"Nggak lah Ki, masa gue numpang terus. Oh ya. Mbok Mina itu siapa?"
"Dia Mboknya Aslan. Panjang ceritanya"
"Oh, lo dah ketemu Aslan? Ciee"
"Belum kok, apaan sih lo?"
"Kalau lo udah nikah sama Aslan, otomatis gue juga harus keluar dari rumah ini, tapi gue tetep pengen dan doain lo cepet nikah ma Dia" jawab Cyntia.
"Ck. Sukanya ngelantur deh. Aslan dimana aja gue nggak tau Cyn" jawab Kia.
"Hemm, sibuk kali. Kamu tadi berarti jadi ke rumah Paul?"
"Jadi, makanya gue bawa Mbok Mina. Ternyata Paul parah Cyn!" ucap Kia dengan ekspresi sendu.
"Parah gimana?" tanya Cyntia antusias.
Kia melihat sekeliling memastikan tidak ada Mbok Mina dan Mbak Narti. Kia pun menceritakan tentang Aslan dan Paul.
"Woah. Fiks Ki... gue dukung Lo Ki. Terima Aslan. Sekarang nggak ada alasan buat lo nolak dia." tutur Cyntia menasehati Kia.
"Gue bukan pelakor kan Cyn?"
"Pelakor atau bukan itu terserah masing-masing orang. Tapi yang pasti pernikahan mereka tanpa kamu pun udah toxic. Kamu nggak usah mikirin katan orang. Tapi pikirin Pangeran Ki. Gue sih setuju sama Mbok Mina,"
"Apa gue bisa cinta sama Aslan? Apa Aslan cinta sama gue?" tanya Kia polos.
Lalu Cyntia tertawa.
"Lo bego apa pura-pura bego sih. Lo nggak nyadar apa? Pipi dan hidung lo selalu berubah saat bahas Aslan. Lo kangen kan sama dia? Tiap hari lo telponan sama senyum-senyum sendiri. Lo nggak nyadar sama perasaan lo?" tanya Cyntia.
Kia pun diam, omongan Cyntia benar adanya.
"Iyah" jawab Kia akhirnya. "Tapi gue malu. Lo jangan bilang Aslan"
"Haishhh, perjuangin Kii"
__ADS_1
"Hmmm. Gue harus kasih pelajaran ke Paul"
"Siiip!" jawab Cyntia mengacungkan jempol.