Sang Pangeran

Sang Pangeran
187. Kecurigaan Mbok Mina


__ADS_3

Cyntia langsung berubah ekspresi seketika itu, yang tadinya cengengesan bercerita dengan Mbok Mina dan Mbok Narti sambil nonton tivi sekarang langsung diam salah tingkah dan memalingkan muka dari Rendra. 


Rendra pun melanjutkan langahnya turun mendekati rombongan ibu- ibu itu. 


“Oh mobil di depan mobil Den Rendra to? Sejak kapan Den Rendra di sini?” tanya Mbok Mina. 


“Dari sebelum Aslan pergi Mbok!” 


“Duh. Maaf Den, mbok nggak tahu kalau ada Den Rendra!” ucap Mbok Mina ramah. 


“Nggak apa- apa Mbok!” jawab Rendra dingin. 


“Mbok buatkan minum ya Den!” 


“Boleh!” jawab Rendra. 


“Kopi atau teh Den?” 


“Kopi Bu!” 


“Kopi pahit kan Den?” 


“Ya seperti biasa!” jawab Rendra. 


Mbok Mina kemudian bangun bersiap ke dapur membuaat minuman untuk tamu tuanya yang Mbok Mina juga tau itu adik sepupu Aslan. 


Mbak Narti pun ikut bangun. 


“Mau kemana Mbak?” tanya Cyntia.


“Katanya suruh siap- siap Non! Non Cyntia tunggu di sini!” ucap Mbak Narti. 


“Udah nanti aja nggak apa- apa temani aku dulu!” jawab Cyntia mencegah Mbak Narti pergi yang benar saja Cyntia mau ditinggalin lagi. 


“Bantuin Mbok Mina bentar ya!” jawab Mbak Narti nekad bangun dan buru- buru menyusul Mbok Mina. 


Cyntia hendak ikut bangun tapi keki banget karena ada Rendra berdiri di jalan ke arah dapur. Cyntia kemudian menunggu Rendra pergi dan pura- pura tidak mengenal Rendra dengan meluruskan pandangan ke tv. 


Sayangnya Rendra yang dari pagi susah payah, nunggu berjam – jam  ingin bertemu Cyntia tidak pergi. Rendra justru mendekati Cyntia. 


Suasana pun menjadi mencekam. Ada hawa gerah menyerang, seakan seluruh jendela rumah Kia tertutup dan AC mati. Pokoknya Cyntia jadi gemetaran dheg- dhegan dan bingung mau ngapain. Cyntia benci banget, masih sakit hati dan nggak ingin lihat Rendra. 


“Ehm!” Rendra mendekat ke Cyntia dan tahu- tahu sudah duduk di belakang Cyntia. 


“Ih kok malah nggak pergi sih? Pasti ngajak ribut nih!” batin Cyntia. 

__ADS_1


“Lo ngapain di sini?” tanya Rendra pelan membuka pembicaraan. 


“Huft males banget gue ngomong dan ngeladenin orang syaraf kek dia!” batin Cyntia diam tidak menjawab. 


Rendra yang tadinya mau baik dan mau minta maaf jadi sedikit kesal karena dicueki , bahkan pertanyaanya nggak dijawab. 


“Ehm!” Rendra berdehem lebih keras berharap direspon. 


Sayangnya Cyntia tetap diam. Cyntia bertahan dengan posisinya duduk tegap di atas karpet bulu memegang remot tv dan menghadap lurus ke depan. 


“Please wahai tubuh, bertahanlah, jangan dengar, jangan toleh dan jangan jawab pertanyaannya, biar aja dia mikir!” batin Cyntia. Tapi sesungguhnya posisi Cyntia saat itu sangatlah menyiksanya, Cyntia tidak rilek sama sekali. 


“Fokus amat nonton apa sih?” tanya Rendra lagi berbosa- basi ingin direspon. 


“Bertahan Cyntia. Jangan jawab, biar dia pergi. Sayang energi kalau harus nanggepin dia!” batin Cyntia lagi. 


“Ehm! Budeg apa gimana sih?” tanya Rendra akhirnya gemas dan emosi karena dicueki. 


“Kan dia ngajak ribut! Sabar Cyntia sabar, anggep lo nggak denger!” batin Cyntia mode cemberut maksimal.


Karena masih juga tidak direspon Rendra pun semakin jengkel dan emosi. Rendra semakin ingin menyakiti Cyntia. 


“Lo ngikutin gue  ya?” tanya Rendra memulai. 


“Hoh!” Cyntia menghela nafas emosinya mulai terpancing tapi Cyntia tetap bertahan untuk tidak menoleh. 


“Huuft!” Cyntia mengehmbuskan nafas membuang emosinya agar tidak meledak. 


Di saat yang bersamaan, acara tivi yang Cyntia tonton menampilkan adegan sesnsor karena kebetulan Cyntia menoonton acara drama India. 


“Wooh fokusnya. Pantas kau begitu ahli begini ternyata tontonanmu, apa kau sekarang sedang berguru, lalu dengan siapa kamu akan praktek?”ejek Rendra lagi semakin ngelantur. 


Pertahanan emosi Cyntia akhirnya jebol. 


“Prak!” Cyntia membanting remote dan langsung menoleh ke belakang! 


“Shut up! You are crazy!” pekik Cyntia keras dan emosi. 


“Prang, astaghfirulloh!” 


Sayanganya saat Cyntia membanting remote, yang kaget dan takut bukan Renndra, tapi Mbok Mina yang membawa kopi panas, Mbok Mina kaget melihat Cyntia yang emosi dan kopinya jatuh. 


Rendra dan Cyntia kemudian menoleh ke Mbok Mina. Mereka  berduapun reflek bangun dan mendekat ke Mbok Mina, karena Mbok Mina terlihat mengibasakan tanganya. 


“Mbok Mina, maaf!” ucap Cyntia. 

__ADS_1


“Mbok Mina baik- baik aja kan. Nggak ada yang luka kan Mbok?” tanya Rendra. 


Langsung meraih tangan Mbok Mina dan meniunya. 


“Agak panas sedikit Den, soalnya kebetulan ini air mendidih yang langsung mbok tuang!” jawab  Mbok Mina membiarkan tanganya dipegang pemuda tampan di depanya itu. 


“Mbok Mina kaget ya mbok denger ada suara nenek sihir?” tanya Rendra masih sempat menyindir Cyntia dan memancing emosinya. 


“Huh?” pekik Cyntia lirih. 


Mbok Mina kemudian melirik ke Cyntia. Mbok Mina jadi curiga, ada apa dengan Cyntia dan Rendra, mereka kan jarang ketemu, apa mereka saling kenal dan punya hubungan? Cyntia tidak mungkin berani membentak Rendra kalau mereka tidak akrab. Rendra pun posisinya terlihat sedikit mendekati Cyntia dan tampak iseng tersenyum. Fiks Mbok Mina curiga ada hubungan di antara Rendra dan Cyntia.


“Sudah Mbok nggak apa- apa. Mbok malah ganggu Den Rendra dan Non Cyntia” ucap Mbok Mina menarik tanganya. Cyntia pun hanya bisa berdiri mematung dengan rasa malu dan kesal.  


“Bentar Mbok, tangan Mbok Mina merah lho, diobati dulu ya!” ucap Rendra 


“Nggak apa- apa ini biasa, nanti sembuh sendiri kok!” jawab Mbok Mina. Berjongkok dan hendak mengumpulkan pecahan cangkirnya. Tapi Rendra menahan Mbok Mina. 


“Jangan, biar dia yang tanggung jawab!” jawab Rendra melirik ke Cyntia.


“Lo punya mata kan? Ambil sapu sama alat pel!” perintah Rendra.


“Mbok saja!” jawab Mbok Mina. 


“Mbok, dia lebih muda tenanganya lebih kuat, biar dia yang bersihkan. Sini aku obati dan bersihkan dulu tanganya!” ucap Rendra mengacuhkan Cyntia dan memapah Mbok Mina duduk.


“Ishhh!” Cyntia hanya mendesis kesal kemudian berjalan ke belakang dan mencari alat pell.


Sementara Rendra mengambil tissu dan es batu membantu Mbok Mina. 


“Saya jadi nggak enak Den!” ucap Mbok Mina. 


“Nggak apa- apa Mbok!” 


“Saya tadi ganggu Den Rendra dan Non Cyntia ya? Maaf, Den Rendra sama Non Cyntia ada masalah ya?” tanya Mbok Mina berbisik. 


“Nggak Mbok, Mbok Mina gak ngganggu! Mbok Mina malah selamatin aku dari terkaman nenek sihir” ucap Rendra masih terus memancing- macing emosi Cyntia. 


“Den Rendra suka ya sama Non Cyntia, kalau suka bilang aja Den, kalau nggak nanti Mbok bilangin ke Non Kia!” ucap Mbok Mina nyeletuk. 


“Hush jangan mbok! Dia bukan tipeku! Dia galak mbok!” jawab Rendra 


“Galak karena Den Rendra nakal mungkin!” jawab Mbok Mina lagi. 


“Nggak Mbok, sungguh! Jangan ngomong macem- macem sama Bu Kia!” jawab Rendra menuntaskan memberikan salep ke Mbok Mina. 

__ADS_1


“Bilang macem- macem apa?” tanya Kia tiba- tiba sudah di belakang  Mbok Mina dan Rendra. 


__ADS_2