Sang Pangeran

Sang Pangeran
95. Bertemu Aslan


__ADS_3

Delvin diam menunggu jawaban Kia. Sementara Kia tampak salah tingkah. 


“Ya.. kok lo tanya ke gue? Mana gue tau? Tanya lah sama mereka” jawab Kia mengalihkan. 


“Oh..., denger- denger sih Tuan Aslan punya hubungan dengan salah satu pegawai di kantor sini” sindir dan bisik Delvin lagi. 


“Huh?” tanya Kia kaget. 


“Huum,” Delvin mengangguk menelisik ekspresi Kia.


“Oh begitu ya? Kamu tau siapa dia?” jawab Kia balik bertanya dan entah kenapa Kia malah jadi nyesek sendiri.


Jangan- jangan benar kata Delvin, tapi siapa? Apa ada perempuan lain selain dirinya dan Paul di hidup Aslan. Dan wajah Kia kini memerah seperti kepiting rebus. Tidak-tidak apa jangan-jangan jangan Delvin tau Rahasia Kia.


“Entahlah, bukan kamu ya?” jawab Delvin balik bertanya menohok.


"Glek," Kia langsung membulatkan matanya.


"Ngawur kamu!" jawab Kia tetap mengelak, menyadari banyak anak lain di ruangan Itu. Meskipun mereka berdua berbisik Kia tetap harus hati-hati. Lalu Kia menghindar dari Delvin.


Delvin pun tidak mau bertanya lebih jauh. Daripada nanti Kia jadi curiga darimana Delvin tau. Dan bisa ketahuan dulu Delvin pernah memata-matai Kia.


Sepertinya rencananya mengorek dan menangkap basah Kia mengaku tidak berhasil. Delvin kembali fokus ke pekerjaanya. 


Tapi Delvin yakin, Kia punya hubungan khusus dengan Aslan. Apalagi dalam waktu dekat Kia bisa cepat punya mobil dan rumah bagus.


Mereka kemudian memulai bekerja. Tumpukan naskah sudah menggunung di depan Kia. Kia mulai mengedit dengan profesional.  Dan waktu pun berlalu cepat. 


**** 


Di aula yang besar dan megah di lantai ke 30. Para petinggi, pemegang saham dan dewan direksi perusahaan Nareswara berkumpul. Di situ berjajar kursi-kursi besar dan meja kaca yang melingkar.


Tuan Agung didampingi Bu Wina istrinya duduk di depan sebagai mantan pemilik Narewara Grup. Meski masih menggunakan kursi roda, tapi kesehatan Tuan Agung sudah banyak berubah. Raut wajah Tuan Agung tampak menegang.


Jelas terpancar kesedihan dan kekecewaan. Kenapa putranya mengambil keputusan tanpa ijinya. Dan kemana perginya anak nakal itu. Kenapa tidak menemuinya.


Meski entah bagaiamana perasaan Tuan Agung ke Aslan sesungguhnya. Tapi tetap saja, menyerahkan perusahaan ke orang lain yang tidak ada hubungan darah denganya itu berat.


Rendra sudah duduk rapih di tempatnya begitu juga dengan Satya dan Manda. Satya yang tau orang terdekat Aslan adalah Rendra, mendekat ke Rendra.


"Apa Kakak akan datang?" tanya Satya berbisik.


"Entahlah!" jawab Rendra frustasi.


Rasanya sulit sekali ngobrol dan mengerti maksud Aslan. Dia selalu bertindak sesuka hatinya dan tidak bisa ditebak.

__ADS_1


"Hhhh" Satya pun hanya menghela nafas sama-sama pusing dengan kakanya itu.


Acara pun dimulai. Pertama sambutan sambutan. Rendra dan Satya tampak panik melihat jam tangan mahal mereka. Kenapa si Kakak mereka tidak kunjung menampakan hidung.


"Benar-benar, si Aslan itu!" batin Rendra kesal. Padahal selama Aslan menjabat sebagai petinggi. Dia paling getol menegakkan disiplin. Karyawan yang telat bisa kena sanksi. Katanya waktu semenit itu berharga. Apalah ini? Dia molor berjam jam.


Dan tibalah ke acara inti. Sekarang waktunya para petinggi memberikan vote siapa yang akan menjadi penggati Aslan. Mereka diberi waktu berfikir 15 menit. Tentu saja itu sebagai formalitas saja. Karena nya pemberitahuan itu sudah lama. Dan mereka pasti sudah punya pilihan sendiri.


Para pendukung Aslan menjatuhkan pilihan pada Satya. Termasuk Rendra, tapi entah para petinggi yang lain.


Rendra dan Satya kembali panik melihat jam tanganya. Kenapa Aslan tidak datang juga. Bagaimana ini?


"Apa iya Aslan masih molor juga? Oh ya Tuhan" batin Rendra semakin gemash.


Dan waktu habis. Lalu vote dihitung dan ditampilkan. Dan ternyata hasilnya fifty fifty. Jumlah dukungan Satya dan Paul sama.


Hasil vote masih belum bisa disimpulkan. Lalu mereka berunding lagi. Dan jalan keluarnya adalah masih ada Aslan yang mempunyai hak pilih. Karena Aslan juga punya saham di situ.


Dan di saat para peserta rapat panik membicarakan Aslan. Semua mata pun menoleh ke arah pintu.


Pintu Aula terbuka, masih dengan aura kepemimpinanya, dengan badan tegap dan rahang tegasnya. Ditambah dengan sorot mata tajamnya yang biru. Aura Aslan tidak berkurang sedikitpun.


Aslan berjalan menatap ke depan dengan fokus. Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri atau memperdulikan sorot mata banyak orang yang tertuju padanya. Aslan duduk di bangkunya dekat dengan Tuan Agung. Aslan kemudian membetulkan jasnya dan duduk tegap. Kegantenganya terpancar, tidak berkurang sedikitpun meski sudah bukan apa-apa lagi.


Rendra pun menjelaskan ke Aslan tentang permasalahan yang terjadi. Aslan mengangguk dan membuka suara. Di depan semua dewan direksi. Aslan meminta kesepakatan.


Setelah saling berdiskusi semua petinggi pun setuju. Tuan Agung dan Satya sendiri heran kenapa Aslan memilih jalan itu. Kenapa Aslan tidak menjatuhkan pilihan mendukung Satya sepenuhnya agar Satya yang memimpin.


Atau kalau Aslan tidak suka dengan Satya kenapa tidak memilih Paul. Tapi walau bagaiamanapun juga, keputusan Aslan terdengar bijak. Jadi baik Paul atau Satya tetap sama-sama berkuasa, hanya saja kini Narewara terbelah menjadi dua.


Dan anehnya meski hari ini Aslan resmi tidak menjadi apa-apa, saat Aslan berbicara semua masih patuh dan tunduk. Semua pun tersenyum dengan keputusan akhir.


Aslan maju ke podium sekaligus meminta maaf dan menyampaikan harapan untuk kemajuan Nareswara dan ITV ke depanya. Setelah Aslan mundur para petinggi bersalaman dan membubarkan diri.


Kini tersisa keluarga inti Nareswara dan Rendra. Paul dan Aslan saling tatap dengan sorot mata saling bermusuhan. Begitu juga Tuan Agung, menatap Aslan penuh tanda tanya.


"Pa_pa mau bicara denganmu. Datanglah ke rumah sore ini" ucap Tuan Agung terbata ke Aslan.


"Ya Pah" jawab Aslan singkat. Mereka berdua tampak seperti bukan anak dan ayah.


Nyonya Wina kemudian dengan peran apiknya membawa Tuan Agung pergi. Dan Paul pun berbosa basi menampakan peranya sebagai menantu yang baik ikut mengantar mantan mertuanya.


Aslan bersikap tidak peduli seakan mereka tidak pernah saling kenal. Kini hanya tertinggal Rendra, Manda, Satya dan Aslan. Lalu mereka berempat berdiskusi dan menanyakan apa rencana Aslan ke depanya.


****

__ADS_1


Meski sedikit kecewa karena Paul tidak jadi memimpin semua aset Nareswara. Tapi Paul sedikit menyunggingkan senyum, kini dia tidak hanya menjadi artis ternama, tapi seorang Presdir.


Saat di depan lift, Paul berpamitan pada mertuanya agar ke kamar mandi dulu dan mereka berpisah. Dan disaat yang sama, karena sudah waktunya pekerja pulang Kia berjalan keluar.


Kia sempat berpapasan dengan Nyonya Wina dan Tuan Agung di lorong. Saat hendak membuka mobilnya Kia menyadari kunci mobilnya ketinggalan. Kia pun berbalik hendak mengambil kunciya. Dan di depan lift Paul dan Kia bertemu.


Kedua perempuan itu kemudia berhenti. Berdiri tegap dengan saling tatap dan sama-sama berani.


"Kau!" ucap kedua perempuan itu bersamaan.


"Hah. Hahaha" Paul tertawa sinis melihat Kia berpenampilan pegawai kantoran.


Kia berdiri anggun, dengan heels cantik, celana kain warna krem dan tunik yang manis dipadu hijab voal yang rapih. Lalu Id card pegawai Nareswara menggantung di lehernya.


"Kenapa menertawaiku? Ada yang salah denganku?" tanya Kia menantang.


"Ternyata kau pegawai di sini?" tanya Paul mendekat dan mengambil ID card Kia, membacanya dengan sinis lalu melemparnya lagi.


Kia menelan salivanya dengan geram.


"Pegawai rendahan" cibir Paul sombong.


"Memang kenapa kalau aku bekerja di sini? Pekerjaanku halal"


"Kia, Kia, denga statusmu yang hanya pegawai rendahan. Kamu pikir kamu bisa melawanku? Apa kamu pikir dengan kamu membuatku bercerai dengan Aslan kamu akan menang dan bahagia iya? Aku akan membuatmu menyesal telah mengusik hidupku" ujar Paul lagi dengan tatapan dendam dan mengejek.


"Kamu pikir aku takut? Aku tidak pernah mengusik hidupmu atau mencampuri urusanmu. Kamu bercerai karena kesalahanmu, sendiri Nyonya Paul" jawab Kia lagi dengan berani.


"Kamu sudah memisahkan Alena dari ayahnya. Kamu harus membayar itu! Kamu akan tau akibatnya berani berurusan denganku!"


"Dia bukan ayah Alena. Dia ayah anakku, Pangeran! Camkan itu." jawab Kia berani.


"Oh iya? Siapa yang akan percaya. Semua orang tau Aslan ayah Alena"


"Aku tidak peduli orang percaya atau tidak. Kenyataan Aslan milik Pangeran. Dia ayah anakku, dan kami akan hidup bahagia, hidup bersama dengan cinta tidak seperti kalian yang hidup menyedihkan!" balas Kia semakin berani dan percaya diri mengatai Paul.


Kia sudah sangat kesal karena Paul selalu mengatai Pangeran.


"Kau mengataiku menyedihkan? Apa kamu tidak punya cermin? Kamulah yang menyedihkan. Kamu pikir kamu siapa? Dan Asal kamu tau. Aslan sekarang miskin, dan kamu pikir kalian akan bisa hidup bahagia dengan keadaan Aslan yang miskin, hah?" tantang Paul menghina.


"Ya. Kami akan tetap bahagia. Karena kami mempunyai cinta. Tidak sepertimu yang hanya peduli dengan uang. Aku, Pangeran dan Aslan akan hidup bahagia dan saling mencintai, tidak sepertimu, hidup dalam sandirwara. Silahkan saja kau ancam aku sebisamu. Aku tidak takut!" jawab Kia lagi dengan sangat tegas dan keras.


Dan tentu saja hal itu membuat Paul geregetan. Tangan Paul pun diangkat hendak menampar Kia.


"Jangan sakiti istriku. Berani menyentuhnya, kupatahkan tanganmu" ucap seorang laki-laki yang dari tadi sebenanya sudah berdiri senyum-senyum sendiri mendengar perkelahian dua wanita itu.

__ADS_1


Melihat kedatangan Aslan yang membelanya. wajah Kia memerah sempurna seperti kepiting rebus.


"Oh my God. Kapan dia tiba? Apa dia mendengar semua ucapanku? Aah bagaimana ini? Dia pasti akan ke gr an, seharusnya tidak secepat ini dia tau perasaanku" batin Kia berdiri kaku menahan malu.


__ADS_2