Sang Pangeran

Sang Pangeran
105. Ambil barang


__ADS_3

Kia berjalan mengikuti Aslan masuk. Dan Ipang bergelayut manja dalam gendongan ayahnya. Ruang tamu yang luas melebihi aula balaidesa dengan plafon yang tinggi mereka masuki. Di tengah ruang tamu itu terpajang satu set sofa dengan ukiran cantik.


Di atasnya menggantung lambu hias cantik betingkat dan berkilauan. Di setiap sudutnya pun terdapat hiasan vas mahal dan barang, lukisan-lukisan langka dan bernilai tinggi pun terpajang rapi di dinding.


Kia gerogi, Kia masuk dengan berjalan menunduk. Aslan kemudian menoleh ke Kia, berhenti dan memberikan dukungan.


"Wajahnya tegang banget? Nggak sabar yah buat jadi istri Abang?" ledek Aslan ke Kia.


"Abang apaan sih? Nggak ya" jawab Kia tersipu.


"Tenang aja. Papaku nggak akan makan atau gigit kamu. Kamu hanya boleh digigit Abang. Sabar ya, habis kamu nanti abang gigit" ucap Aslan lagi malah bicaranya ngelantur


"Jangan digigit ibu Ipang, Ayah. Kasia ibu nanti berdarah" sahut Ipang memukul dada Aslan, ternyata Ipang dengar gurauan Ayah dan Ibunya.


Kia melotot dan mencubit pinggang Aslan. Sementara Aslan menelan ludahnya kejedoran.


"Hehe, ayah bercanda Nak" jawab Aslan.


Lalu dari arah dalam Daffa dan Manda ibunya datang. Mereka berdua saling menatap bahagia.


"Ipaang" teriak Daffa.


"Daffa" jawab Ipang. "Ayah, Ipang mau ketemu Daffa" jawab Ipang memegang tangan Aslan beringsut dan meminta diturunkan dari gendongan Ayahnya.


Setelah diturunkan mereka berdua saling berlari dan berpelukan. Aslan Kia dan Manda tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka.


"Selamat datang Kak Kia, akhirnya kalian sampai di sini" ucap Manda dengan tatapan sendu.


"Iyah" jawab Kia tersenyum mengangguk canggung. Selama ini kan Kia jaim dan malu-malu tapi endingnya jadian juga.


"Dimana Papah?" tanya Aslan menyela.


Bukan menjawab Manda malah menatap Kia dengan tatapan khawatir.


"Kak Kia yang kuat ya, omongan Papa jangan diambil hati, harus semangat demi Pangeran ya" bisik Manda ke Kia.


Dan Kia hanya mengangguk masih belum mengerti apa maksud Manda.


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Aslan jengkel udah syukur Kia mau diajak ke rumah malah ditakut- takuti.


"Papah di ruangan favoritnya Kak. Dia sudah menunggu Kak Aslan.

__ADS_1


"Oke" jawab Aslan mengangguk.


Lalu mengajak Kia dan Ipang.


"Pangeran. Mainya nanti lagi. Kita temuikakek dulu ya!" ucap Aslan mengajak Ipang.


"Tapi Pangeran mau ke kamar Daffa ayah, Ipang mau lihat mobil-mobilan Daffa" jawab Pangeran polos sedang bersemangat mengikuti ajakan Daffa dan ingin melihat semua yang Daffa ceritakan tentang koleksi mainanya.


"Mainya nanti lagi sekarang ke kakek dulu"


"Iya udah Pang, ke Opa dulu aku temani deh. Boleh kan Uncle?" jawab Daffa.


"Oke" jawab Pangeran mengangguk.


Mereka kemudian ikut Aslan ke ruangan kerja Tuan Agung. Dan ketika mereka hendaj melangkah, pelayan yang membawa koper Aslan kembali dengan masih membawa koper Aslan. Semua kemudian menatap kecewa dan penuh tanda tanya.


"Kenapa dibawa balik Pak?" tanya Aslan.


"Mohon maaf Tuan. Kunci kamar Tuan Aslan dikunci, dan kunci nya ada di tangan Nyonya Wina" jawab pelayan


Mendengarnya Aslan mengeratkan rahangnya. Dia tau kemungkinan apa yang mereka temui.


Pelayan kemudian membawa koper Aslan keluar. Aslan maju melangkahkan kakinya hendak menuju ke lift. Tapi belum jadi dia melangkah langkah mereka terhenti. Lift terbuka, dan seorang perempuan paruh baya keluar mendorong kursi roda Papa Aslan.


"Ke-kem-bali. Kau jangan masuk. Cukup di sini kau, menginjakan kakimu di sini!" ucap Tuan Agung terbata.


Aslan kemudian menghentikan langkahnya. Tanganya mengepal. Rasanya sakit, bahkan Aslan tidak boleh masuk dan kopernya dikembalikan.


Bu Wina mendorong Tuan Agung melewati Aslan, tanpa menoleh ke Kia dan Ipang sedikitpun. Lalu mereka ke sofa di ruang tamu itu.


"Duduklah!" ucap Tuan Agung memperlakukan Aslan sebagai tamu.


Aslan tau situasinya tak bersahabat. Aslan kemudian membiarkan Ipang bermain bersama Daffa dulu.


"Pangeran anak Ayah. Tunggu ayah ya. Bermainlah bersama Daffa tapi di depan saja jangan ke kamar" bisik Aslan ke anaknya.


"Kenapa?" tanya Pangeran.


"Biar tidak jauh- jauh dari ayah. Ke kamar Daffanya bareng ayah aja!" ucap Aslan.


"Yaa ayah" jawab Ipang.

__ADS_1


Begitu melihat Bu Wina dan Tuan Aslan. Kia paham, situasinya memang sesuai dugaanya. Tak sebaik yang Aslan kira. Kia pun bersiap-siap dengan segala apa yang akan dia hadapi.


"Apa aku perlu ikut Abang? Atau aku ikut Manda aja Bang?" tanya Kia.


"Kalau kamu kuat hadapi Papa Abang, ikut. Kalau tidak, tunggu Abang" jawab Aslan tidak mau Kia tersakiti. Aslan tau, ternyata Papanya mengundangnya untuk memamarahinya.


"Kia ikut Abang" jawab Kia semangat. Sejak diberitahu Mbok Mina tekad Kia adalah mencintai Aslan. Mengobati sakitnya, menjadi kekuatan untuknya, dan memberikan cinta yang banyak.


"Makasih Sayang" jawab Aslan tersenyum.


Mereka kemudian duduk menghadap ke Tuan Aslan seperti hendak disidang. Dan Nyonya Wina seperti Satpam yang membuntuti dan terus menunggui Tuan Aslan.


Jangan kan Aslan yang sudah tau sifat Asli Nyonua Wina. Kia yang baru pertama sudah bisa menebaknya. Hanya bertatapan sekali saja Kia sudah sesak dan sebel, bagaimana Aslan yang selama ini hidup denganya. Menjadi anak tirinya. Kia kemudian menatap Aslan kasian.


"Kamu sudah bukan anakku lagi!" ucap Tuan Agung tanpa ada pendahuluan dan bosa-basi, melemparkan berkas entah apa isinya.


Aslan diam, wajahnya biasa saja. Tapi justru Kia yang merasakan sakit dan hunjaman yanh begitu besar. "Ya ampun ada ya Bapak seperti Tuan Agung" batin Kia dalam hati.


"Bukankah dari dulu Aslan memang bukan anak Papah. Kapan papah pernah mengerti dan posisikan Aslan sebagai anak Papah?" jawab Aslan santai.


"Jadi dia perempuan yang membuatmu tuli?" tanya Tuan Agung lagi orang yang dia maksud adalah Kia.


"Dia yang membuat Aslan sadar dan bangun dari tidur Aslan Pah, Kami akan menikah, secepatnya" jawab Aslan tegas.


Tuan Agung kemudian tertawa sinis.


"Papah sudah bekerja keras mempertahankan Perusahaan Nareswara agar menjadi milikmu. Dan karena kebodohanmu, kamu melepaskanya? Kamu bukan anak Papa lagi!" ucap Tuan Agung.


"Pah. Yang buat Nareswara jatuh ke tangan Paul bukan Aslan, tapi papah sendiri yang membuat perjanjian konyol itu dengan orang tua Paul" jawab Aslan.


Mendengar ucapan Aslan, Tuan Agung yang kaki kananya masih belum sembuh total langsung marah. Dia kemudian menggertak dan melempar vas bunga yang ada di meja. Kia kaget dan menegang.


Daritadi Kia menyimak, membiarkan Aslan berbicara dengan ayahnya membelanya. Kia tanganya mengepal ingin mengatai Tuam Agung. Tapi Aslan menahanya.


"Anak tak tahu diuntung. Sudah kukatakan. Kamu boleh menikah dengan siapapun. Tapi jangan ceraikan Paulina!" ucap Tuan Agung lagi.


"Kenapa Pah? Kenapa? Kenapa Papah tidak jelaskan alasanya?" tanya Aslan lagi.


"Kamu sudah bukan keluarga Nareswara lagi. Pergi dari rumahku. Dan ambil barang-barangmu!"


Kemudian Bu Wina memanggil pelayanya. Ternyata Aslan dipanggil ke rumahnya hanya untuk mengambil barang-barangnya

__ADS_1


__ADS_2