Sang Pangeran

Sang Pangeran
130. Mau Kia


__ADS_3

Menurut Kia jawaban Aslan sangat menyebalkan. Kia hanya punya Aslan sebagai rumah dan tempatnya bergantung. Tapi kenapa Aslan malah berespon enteng.


"Abang tuh nggak tahu segimana gilanya dia Bang! Makasih apaan? Kia aja nyesel nggak bunuh dia dari dulu!" ucap Kia menampakan muka serius dan garang.


Aslan yang baru tahu istrinya bisa semarah itu malah tersenyum mengejek. Aslan belum tahu pokok pangkalnya.


"Widih, istri Abang ternayata serem amat sih!"


"Ih Abang, Kia serius!" jawab Kia sambil meneteskaj air matanya lagi.


Aslan benar-benar tidak sesuai ekpektasi Kia. Menyebalkan sangat menyebalkan.


Setelah puas melihat istrinya manengi dan bersungut - sungut, Aslan mendekat ke Kia. Diusapnya air mata Kia lembut.


"Maafin Abang, Abang cuma bercanda, Abang pengen kamu ketawa dan santai lagi. Jelasin dong ke Abang ada apa?" tanya Aslan lagi.


Kia masih sesenggukan dan menatap suaminya polos. Kia benar- benar menampakan sisi lemahnya pada Aslan.


"Kia sebbel sama Abang!" ucap Kia lagi.


"Tuh kan! Ya Abang nggak pernah tau Sayang. Kalau kamu nggak cerita, katakan pada Abang makanya, cerita yang lengkap!"


"Kia takut dia nyakitin Ipang, Bang!"


"Nyakitin gimana? Kamu ngomongnya kok semakin nggak jelas gini? Yang jelas!"


"Jeje Bang, yang suka latian dan pernah duet sama Pangeran. Dia yang udah lecehin Kia!" tutur Kia.

__ADS_1


"Lecehin?" tanya Aslan kini ekspresinya mulai berubah.


"Dia teman kuliah Kia. Dia mantan Kia. Dia yang jadiin Kia bahan taruhan. Dia juga yang bawa uang kampus dan yang buat Kia terpaksa temuin Abang!" tutur Kia menggebu.


"Kamu pacaran sama dia?" tanya Aslan malah salah paham. Aslan menelan ludahnya menatap Kia sangat serius.


"Kia nggak tahu kalau Kia dijadikan bahan taruhan Bang!"


"Apa dia pernah menyentuhmu? Kamu tidur denganya?" tany Aslan lagi sangat cemburu.


"Nggak lah Bang. Kia cuma tidur sama Abang, Abang tau itu kan?!" jawab Kia menggelengkan kepalanya.


Aslan kemudian melonggarkan nafasnya merasa lega.


"Apa dia laki-laki yang diceritakan Rendra?" tanya Aslan ingat laporan Rendra, Kia pernah dilecehkan oleh seseorang.


Aslan mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya.


"Shi*" umpat Aslan.


Dengan cepat dan spontan, Aslan merengkuh tubuh Kia masuk dalam pelukanya.


"Maafin Abang, Abang janji, berani dia menyentuh istri Abang. Abang patahkan tanganya!" tutur Aslan lagi sambil menepuk bahu Kia pelan.


"Dia ngancem Kia Bang!" ucap Kia lagi kini merasa sangat nyaman bersandar pada dada bisang suaminya.


"Ngancem gimana?"

__ADS_1


"Video percakapan Kia dulu sama Cyntia masih dia simpan. Dia ancam Kia, mau up video itu, Kia nggak mau Bang Ipang tau itu. Kia nggak mau orang hujat Ipang!"


"Jadi kamu nangis karena ini?"


"Huum!"


"Apa perlu kita jemput Pangeran sekarang!" tanya Aslan mengelus rambut Kia.


"Jemput?"


"Biar Abang bilang ke Alvin. Ipang nggak usah latian! Biar saja Alena yang jadi juaranya! Yang kita butuhkan kan Ipang bersama kita!" ucap Aslan


Sebenarnya Kia juga ingin begitu. Tapi Kia kemudian berfikir, jika Kia dan Aslan melakukan itu. Artinya Kia mengajari Ipang sesuatu yang salah. Memanfaatkan ketenaran ayahnya. Tidak sportif dan tidak disiplin


"Kia nggak setuju Bang!" ucap Kia.


"Kenapa? Bukankah itu bisa membuat kamu tenang?"


"Acara Ipang tinggal 3 hari lagi. Kia nggak mau buat anak kita jadi pecundang!" jawab Kia.


"Lantas apa mau kamu? Apa Abang harus bunuh laki-laki bernama Jeje itu?"


"Kia cuma mau pastikan video itu aman Bang! Kia nggak mau masalalu kita kebuka!"


****


Maaf episode kali ini pendek.

__ADS_1


__ADS_2