
Sepanjang jalan dari rumah sakit ke rumah, Kia diam seribu bahasa. Perjalanan ke rumah menjadi hening dan terasa lama. Aslan dibuat sangat tersiksa dan terpenjara tanpa kata.
Jika dulu melihat Kia cemberut, begitu menggemaskan dan menyenangkan, karena dirinya bisa memancing Kia lebih banyak interaksi dan menyerangnya. Kini Aslan tidak bisa berkutik. Kia benar- benar marah.
Aslan benar- benar tercekik dan tidak bisa berkutik didiamkan begitu. Marahnya sebagai istri ternyata lebih mengerikan dari saat masih sendiri.
Setelah beberapa puluh menit mereka sampai di rumah. Kia segera melepas seat beltnya hendak turun tanpa menoleh ke Aslan.
Sebagai laki-laki, Aslan tidak tahan didiamkan meski hanya sebentar. Aslan dengan sigap menarik tangan Kia mencegahnya turun.
Kia diam dan menatap tangan suaminya dengan tatapan bencinya.
“Lepas!” ucap Kia dingin
“Duduk!” balas Aslan masih dengan suara rendah tapi penuh tekananan.
Meski suasana memanas, sebagai pemimpin Aslan berusaha membuat suasana tenang, tapi dia juga tidak mau terintimidasi istri, walau bagaimana pun harus Kia yang patuh.
“Kia mau masuk!” jawab Kia masih ketus
“Duduk!” ucap Aslan lagi semakin meninggi. Menunjukan statusnya sebagai suami.
“Lepas!” Kia tidak mau kalah.
“Hhhh!” Aslan menghela nafas, mengalah. Tidak mungkin kan mereka bertengkar sengit lagi, di rumah.
“Abang mau ngomong!” ucap Aslan suaranya lebih pelan berharap Kia bisa mengerti.
“Kia nggak mau ngomong sama laki- laki yang nggak punya hati kaya Abang!” ucap Kia benar- benar sudah sangat gemas ke kelakuan suaminya, yang menurutnya tidak bisa ditolelir.
Aslan tercekat dan melotot tidak menyangka mendengar pernyataan istrinya.
Kia menghempaskan tangan Aslan dan langsung menutup pintu kasar masuk ke rumahnya.
Aslan hanya memaandang perempuan cantiknya yang begitu galak kalau marah. Aslan tidak mau menyerah, dia berjalan cepat, menyusul Kia.
Di ruang tamu keluarga mereka, Aslan berhasil menghentikan langkah Kia. Aslan meraih tangan Kia, menariknya cepat dan memeutar Kia agar terkunci di tembok di bawah kungkungan tanganya.
Kini mereka berhadapan, Kia menatap Aslan kesal sekilas lalu membuang muka dengan mulutnya yang terkunci rapat memendam emosi yang menggunung.
Sementara Aslan berdiri tegap berusaha mengunci Kia agar tidak pergi dengan tatapan mata elangnya.
“Jadi kamu mau kita bertengkar gara- gara anak orang? Bagaimana kalau Paul tau ini? Kamu senang?” tanya Aslan pelan ke Kia berniat memberi peringatan ke Kia.
“Bang!” pekik Kia menengadahkan mukanya masih kecewa dengan pemikiran Aslan, kenapa Aslan tidak juga mengerti apa mau Kia.
“Kamu pikir kamu benar, jadi istri bersikap begini sama suami? Hah?” tanya Aslan lagi merasa sikap Kia salah.
__ADS_1
“Astaghfirulloh Abang!” pekik Kia lagi masih menahan emosi yang membuncah. Membuat orang saling memahami dan mengerti hati masing-masing memang tidak mudah dan menjengkelkan.
“Yang harusnya Astaghfirulloh itu kamu! Kasar sama suami, lawan suami! Diemin suami begini. Apa menurutmu ini benar? Hah!” tanya Aslan lagi.
“Abang, Kia nggak pernah ngajak Abang bertengkar. Abang sendiri yang buat begini! Kia cuma mau Abang itu melakukan sesuatu itu pakai hati. Instropeksi juga kesalahan Abang. Tapi Abang nggak juga ngerti! Kia baru tahu kalau ternyata Abang tuh benar- benar laki- laki egois nggak punya hati, Kia kecewa samaa Abang!” jawab Kia akhirnya, mengeluarkan emosi yang dia tahan dengan mata nanarnya, bahkan di akhir kalimatnya Kia meneteskan air matanya dan terisak.
Hal itu pun menyayat hati Aslan dan membuatnya merasakan pedih. Tetesan air mata Kia yang ada di depanya lebih tajam dari sembilu.
“Bagaimana kamu bisa bilang Abang nggak punya hati, Abang mau yang terbaik buat kamu dan Pangeran, Abang lakuin semuanya demi kalian, hati Abang buat kalian?!” jawab Aslan membela dirinya.
“Hoh? Oh ya? Demi Kia dan Pangeran?” tanya Kia dengan mata mendelik berani.
“Sayang, kamu harus ingat, tanggung jawabmu itu mengurus Pangeran anak kita. Alena itu anak orang. Sudahlah kita sudah cukup baik menjaganya di rumah sakit, kenapa kamu malah begini!” jawab Aslan lagi masih merasa benar, dan merasa bingung dengan sikap istrinya.
“Abang!” pekik Kia lagi benar- benar gemas, Aslan benar- benar berfikir tanpa perasaan.
“Alena punya ibu, Alena punya Paulina dan!” ucap Aslan terpotong Kia.
“Dan Kia tahu, semua orang tahu Bang, Alena anak Paul , Pangeran anak Kia. Tapi lihat Bang, dia anak kecil! Dia anak kecil Bang!! Dia sakit, dia sakit!!” ucap Kia menggebu- gebu tanpa sadar Kia masih meneteskan air mata, tidak membiarkan Aslan menjawab Kia menyambung perkataanya lagi.
“Apa Abang pernah berfikir, kenapa Alena begitu? Apa Abang pernah bayangin apa yang sudah Alena jalani? Apa Abang pernah berfikir bagaimana perasaan Alena? Bagaimana dan apa yang terjadi dengan Alena setelah ini? Hah?” tanya Kia sangat emosi ke Aslan.
Aslan terdiam mau menjawab tapi diserobot Kia lagi.
“Satu lagi Bang! Apa Abang pernah ngerti bagaimana Pangeran selaama ini selama bertahun – tahun....” ucap Kia terbata dan berhenti mengambil jeda nafasnya karena Kia tak bisa membendung air matanya. Setelah nafasnya kembali normal Kia melanjutkan perkataanya meski sambil terisak.
“Abang sekarang ada buat kalian, abang sekarang ada untuk Pangeran!” jawab Aslan lagi.
“No Bang! No! Bukan itu!” jawab Kia langsung memotong Aslan lagi. aslan terdiam.
“Abang sadar? 6 tahun, Ipang harus menerima kehidupanya yang berbeda dari anak seusianya karena siapa? Karena Abang, maaf tidak seluruhnya karena Abang tapi karena Kia juga!”
“Abang akaan tebus semua kesalahan Abang sayang! Abang sekarang ada buat kalian!” jawab Aslan lagi.
“Menebus kesalahan kata Abang? Abang obati luka ke Pangeran tapi Abang menyakiti dan mengorbaankan perasaan orang lain? Begitukah maksud Abang?” tanya Kia menatap Aslan.
Aslan diam.
“Bang! Jangan buat anak kita dan Kia jadi orang jahat karena kesalahan Abang. Abang sadar nggak sih? Ketidaktegasan abang dari awal itu sudah mengorbankan dua orang anak yang tidak tahu apa- apa! Oke dia bukan anak Abang, tapi Abang yang biarkan dia anggap Abang sebagai Daddynya selama bertahun- tahun! Abang sadar nggak sih? Alena begitu itu salah Abang juga!” Kia terus mengatai Aslan sampai Aslan menyadari kesalahanya.
“Kia tahu Bang bagaimana kesakitanya Alena, karena itu juga yang anak Abang rasakan selamaa ini? Alena juga pasti kebingungan siapa ayahnya? Alena juga ingin rasakan kasih sayang dari ayah. Dan lebih sakitnya lagi, Alena merasakan sakit karena dia dibohongi, Abang negrti nggak sih!”
“Kalau Abang begini? Abang hapus kesalahan Abang, tapi Abang buat kesalahan yang lebih besar lagi! Abang sama aja, Abang ayah jahat! Abang egois dan nggak punya hati! Ngerti” ucap Kia dengan suara tertahan.
Aslan wajahnya memerah dan terpaku tidak bisa menjawab. Aslan langsung memeluk Kia menyembunyikan rasa bersalahnya. Bahkan mata Aslan nanar merasa payah sebagai laki-laki.
“Apa yang bisa Abang lakukan?” bisik Aslan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Aslan, Kia langsung menjauhkan tubuh suaminya dan menatap Aslan dengan mata merahnya.
“Bersikaplah sebagai seorang ayah yang baik, kalau Abang tidak mau jadi Daddy Alena, setidaknya jadilah orang yang bertanggung jawab! Jadilah ayah yang bertanggung jawab sebagai panutan Pangeran kelak Bang! Jika dulu Abang terpaksa berbohong menjadi Daddynya karena Papa Abang. Bertanggung jawablah pada Alena karena Abang sudah membohonginya, berikan kejujuran ke Alena, siapa ayah Alena?” ucap Kia tegas.
“Kia mau suami Kia tanggung jawab dengan perbuatanya. Kia nggak mau jadikan anak Kia anak yang egois, Kia nggak mau buat Pangeran jadi anak yang nggak punya hati bahagia di atas penderitaan orang lain. Baik Pangeran atau Alena, mereka sama- sama merasakan sakit karena ulah Abang! Kalau Abang mau perbaiki kesalahan Abang ke Pangeran, Abang juga perbaiki kesalahan Abang ke Alena. Abang ngerti kan maksud Kia?” lanjut Kia lagi sekarang air matanya sudah berhenti menetes.
Aslan menelan ludahnya terdiam. Kia pun mendorong Aslan agar memberinya ruang berjalan masuk ke rumahnya meninggalkan Aslan.
“Assalamu’alaikum. Sayang, Ibu pulang!” panggil Kia mencari Pangeran.
Pangeran yang sedang bermain bersama Radit dan Fatimah langsung menoleh dan berlari memeluk ibunya.
“Ibuu!” panggil Ipang manja.
“Maafin ibu ya, dari kemaarin tinggalin kamu. Gimana semalam? Nyenyak tidurnya?” tanya Kia berjongkok mensejajari Pangeran dan menagkup kedua pipi anaknya.
“Emem, nyenyak sekali!” jawab Ipang.
“Tidur sama siapa?”
“Sama Ummi Faatimah sama Tante Cyntia, tapi Tante Cyintia udah pergi katanya mau kerja!” jawab Ipang polos.
“Nanti kalau udah sekolah tidur sendiri ya!”
“Iya, Bu! Oh ya, kok Ibu pulang? Memang Kak Alena sudah sembuh? Kak Alena sakit apa Bu?” tanya Pangeran dengan polosnya.
Dheg.
Kia terdiam, mata Kia yang baru saja kering seperti ada magnet yang menaarik air mataa Kia untuk naik lagi. Di saat bersamaan Aslan masuk menyusul Kia dan mendengar pertanyaan Ipang.
Aslan terdiam, Pangeran sama sekali tidak marah ibunya tidak pulang. Pangeran justru mengkhawatirkan kawanya.
“Ibu semalam nggak bisa tidur ya, nungguin Kak Alena? Kok Kak Alena nggak ikut pulang?” tanya Pangeran lagi.
Kia pun tak mampu membendung air matanya lagi. Kia bersyukur diberi anak dengan perasaan yang begitu murni seperti Pangeran. Cyntia memang memberitahu Pangeran ayah dan ibunya tidak pulang karena menunggu Alena yang sakit.
“Kenapa ibu menangis? Eh ada ayah jug!” tanya Pangeran lagi, dan Pangeran tersenyum ceria melihat ayaahnya datang. Kia mengelap air matanya menunduk, tidak mau menoleh ke Aslan
“Ibu capek sayang, jadi matanya begini. Kak Alena udah baikan kok. Sekarang udah ada mbaknya, ya udah Ibu mandi dulu ya!” jawab Kia malas karena tahu Aslan di belakangnya. Kia kemudian bangun daan berjalan ke kamar.
Aslan tersenyum menyapa Pangeran, melihat istrinya berjalan cepat masuk ke kamar. Setelah menyapa Pangeran, Aslan memilih masuk ke ruang kerjanya. Aslan diam memikirkan perkataan Kia. Setelah beberapa menit merenung. Aslan kemudian meraih ponselnya.
“Bawa semua bukti, kita buka konferensi Pers hari ini! Aku juga ingin bertemu denganya...” ucap Aslan pada anak buahnya.
“Baik, Tuan!”
Selama beberapa hari terakhir memang banyak wartawan yang mencari dirinya, wajah Aslan juga terpampang dimana- manaa. Kini saatnya Aslan memutuskan untuk buka suara.
__ADS_1