
“Bang! Apaan ini? Abang kenapa?” tanya Kia marah dan berusaha melepaskan cengkeraman tanganya. Apalagi Kia melihat Pangeran menangis.
“Masuk dulu, mandi sana, perhatikan pakaianmu!” jawab Aslan tidak peduli Ipang. Setelah masuk ke area dapur barulah Aslan melepaskan Kia.
“Abang keterlaluan! Oke, Fine, abis ini Kia antar Alena ke rumah Mommy nya, Abang nggak usah khawatir! Tapi Abang nggak perlu marah- marah dan kasar begini di depan anak- anak Bang!” ucap Kia dengan emosi dan marah- marah.
“What?” mendengar ucapan Kia yang marah dan salah paham menyebut nama Alena, Aslan malah jadi bingung sendiri.
Dan Alena yang namanya disebut, padahal hatinya sedang rapuh jadi sensitif dan ikut menangis, Alena jadi semakin merasa dirinya tak diharapkan Daddynya. MbakNarti dan Mbok Mina mendengar Kia dan Aslan bertengkar untuk pertama kalinya jadi ikutan takut dan mengintip.
“Bukan itu maksud Abaang!” jawab Aslan mencoba meluruskan, tapi Kia kepalang marah, Kia berjalan tergesa dan megajak Pangeran masuk.
“Ipang, ayo ikut ibu!” ucap Kia tidak mau melihat Aslan.
“Mbok urus Alena!” ucap Kia berjalan ke kamarnya.
Aslan pun mengusap kepalanya menyesal salah menyampaikan. Aslan kemudian mengejar Kia.
“Sayang, Abang minta maaf,bukan itu maksud Abang!” panggil Aslan ingin meluruskan.
“Brak!” Kia membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam tidak peduli.
“Sayang, abang minta maaf, dengerin maksud Abang dulu!” ucap Aslan menggedor pintu,tapi sayangnya Kia kapalang marah dan kecewa dengan Aslan.
“Ibu, dan Ayah kenapa bertengkar lagi, katanya kalau udah menikah nggak bertengkar lagi!” ucap Pangeran masih ingat dulu saat di Kota Y ibu dan Ayahnya juga bertengkar sampai Aslan mendobrak pintu rumahnya.
Kia menelan ludahnya bingung meyadari kesalahanya. Sebelum atau sesudga menikah mereka berdua masih melakukan kesalahan yang sama. Tidak bisa menjadi orang tua yang baik dan memberikan contoh yang salah.
“Ibu dan ayah minta maaf ya, ibu mandi dulu. Nanti kita bahas ini, oke!” jawab Kiaa mengakui kesalahanya.
“Ayah sudah minta maaf, Bu. Apa Ibu akan biarkan ayah rusakin pintu lagi!” ucap Ipang lagi.
“Ibu mau mandi dulu, setelah itu, Pangeran bisa bukakan pintunya untuk ayah! Oke!” jawab Kia lagi mengajak Pangeran bekerjasama.
“Ya, Bu!” jawab Pangeran.
Kia kemudian masuk ke kamar mandi, dan Pangeran hendak membukaan pintu untuk ayahnya. Tapi Pangeran menghentikan langkahnya saat ingat ayahnya kasar ke ibunya.
__ADS_1
“Ayah, nakal, pantas ibu marah!” gumam Ipang kemudian kembali duduk ke sofa.
****
Melihat Tuan dan Nyonyanya bersitegang, Mbok Mina dengan sigap menghampiri Alena, Alena tampak berdiri dengan tangan memegang gayung dan berderai air mata.
“Non Alena!” panggil Mbok Mina lembut dan memeluk Alena.
“Hiks.. hiks... kenapa Daddy benci Alena Mbok?” tanya Alena ambil terisak.
Mbok Mina juga tidak tahu pasti sebab Aslan marah, Mbok Mina pun hanya bisa membelai rambut Alena dengan lembut.
“Daddy lagi banyak masalah Non, jadi begitu!” jawab Mbok Mina menghibur.
“Alena buat Mommy dan Daddy bertengkar, Alena juga buat Daddy dan Tante Kia bertengkar, Alena bukan anak Daddy ya Mbok?” tanya Alena lagi sambil menangis.
Mbok Mina pun semakin tidak bisa menjawab.
“Non, nggak boleh bilang begitu. Daddy marah karena mungkin Daddy lagi lelah. Sekarang Non Alena mandi saja, ya. Setelah itu, kita sarapan. Mbok masak masakan enak buat Non!” tutur Mbok Mina berusaha mengalihkan perasaan Alena.
Alena mengangguk dan menurut. Mbok Mina menggandeng Alena masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamarnya.
****
Paul berjalan keluar rumah sakit hendak pulang. Di depan rumah sakit ternyata para wartawan sudah menunggunya. Paulina pun tidak meyiakaan kesempataan.
“Bisa minta waktunya sebentar Nyonya Paulina?”
“Bagaimana kabar Ibu anda Nyonya Paulina?
“Siapa kah Tuan Surya, lalu bagaimana proses pencalonan Tuan Alex?”
“Benarkah kabar kehamila anda Nyonya Paulina?”
Wartawan pun menyerang Paulina dengan banyak pertanyaan. Paulina sebenarnya sedikit gemetaran, tapi karena sudah terhimpit dan kepepet mau tidak mau Paulina pun menjawab sekenanya.
“Saya mohon doa ya ke teman- teman semua, saya diberi kekuatan untuk menghadapi ini. Saya juga tidak menyangka ada orang sekeji ini memfitnah ayah saya. Ya mungkin ada yang ingin menggagalkan pencalonan ayah saya. Saya yakin ini adaalah fitnah.
__ADS_1
Mengenai kehamilan saya, iya itu benar. Insya Alloh saya akan baik- baik saja. Kita akan kuat menghaapi ini semuanya.
Ibu saya masih syok dia cukup terpukul. Moho doanya ya. “
Paulina bertutur kata sangat apik seakan dirinya adalah orang paling teraniaya di seluruh dunia.
“Lalu bagaiaman reaksi Tuan Aslan, Nyonya, apa tuan Aslan tau mengenai kehamilan Anda?” tanya wartawan lagi.
Dengan bermodalkan keahliannya berakting, Paulina diam dan mengerahkan tenaganya untuk mengeluarkan air mata palsunya.
“Hiks.... hiks....” Paulina menangis sesaat kemudian megelap air matanya dan kemudian menatap ke wartawan lagi.
“Suami saya sudah dibutakan oleh perempuan itu. Dia tidak peduli lagi dengan kehamilan saya, tapi tidak apa- apa, kami akan baik- baik saya. Anak- anak saya, anak- anak yang kuat kok. Mohon doanya ya!” ucap Paulina lagi.
“Benarkah, istri muda Tuan Aslan itu ibunya Pangeran Nyony?” tanya Wartawan lagi.
“Saya yakin teman- teman lebih pintar!” jawab Paul lagi. “Sudah saya, doakan saya kuat menghadapi ini, saya harus istirahat! Terima Kasih!” jawab Paulina menangkupkan kedua tanganya sambil tersenyum cantik. Paulina kemudian berjalan cepat dan masuk ke mobilnya.
“Shittttt!” umpat Paulina membanting tasnya di mobil. Paulina marah dan kesal karena merasakan tubuhnya tidak nyaman. Ekspresi ramah yang tadi dia tampaka menghilang.
Sopir Paulina diam dan mulai melajukan mobilnya.
“Kemana Nyonya?” tanya sopir.
“Ke rumah!” jawab Paulina.
Entah karena kehamilanya, atau karena sakau kecanduan obat- obatan. Saat Alena dikelilingi wartawan baru saja, tiba- tiba kepanya terasa berdenyut sakit, tubuhnya terasa dingin. Rasa itu bertambah kini badan dan tulang- tulang Paul terasa sangat sakit. Paul juga merasakan mual.
“Tambah kecepatanya Pak!” omel Paulina ke sopirnya.
“Baik Nyonya, tapi di depan ada lampu merah Nyonya!” jawab sopir Pualina merasa tertekan karena bosnya marah- marah terus.
“Taambah kecepatanya, saya harus segera sampai di rumah!” jawab Paulina.
“Tapikita bisa ditilang Nyonya !” jawab supir mengingatkan.
“Kau cerewet sekali! Pilih berhenti bekerja dan sekarang turun atau injak gasnya!” omel Paulina lagi.
__ADS_1
“Baik Nyonya!” jawab sopir memilih menginjal pedal gas dan nekat menerabas lampu merah.