Sang Pangeran

Sang Pangeran
70. Studio ITV


__ADS_3

“Kenapa muka lo ditekuk gitu?” tanya Cyntia melihat Kia duduk di depan tv, yang mau tidak mau mereka dihadapkan dengan foto Aslan.


Kia tampak diam dan melamunkan sesuatu entah apa itu.


“Nggak apa- apa” jawab Kia lesu. 


“Hhhh” Cyntia menghela nafas kemudian duduk di samping Kia mendekat. Cyntia hafal gelagat Kia. 


“Ehm, gimana tadi?” tanya Cyntia mulai menggelitik penasaran sejauh mana perkembangan Kia dan Aslan. Melihat niat baik Aslan Cyntia merasa sebenarnya dua orang ini memang seharusnya bersama.


“Gimana apanya?” tanya Kia dengan mata melotot mulai salah tingkah. 


“Jadi ketemu dan membuat kesepakatan berdamai?” tanya Cyntia. 


Cyntia tau setelah membaca memo Aslan kemarin. Laku mereka saling curhat. Dan Cyntia juga memberi saran agar Kia berbaikan, bersama- sama Aslan mengasuk Ipang.


“Gue nggak ketemu dia” ucap Kia lirih dan menyiratkan kesedihan.


“Yahh nggak ketemu” ucap Cyntia ikut kecewa kemudian membaringkan tubuhnya ke karpet di samping Kia. 


“Cyn” panggil Kia menoleh ke sahabatanya yang rebahan. 


“Hemm” Cyntia hanya berdehem.


“Menurut lo apa alasan Aslan dulu bayar gue? Kalau melihat usia Alena, dia seumuran dengan Ipang. Berarti saat dia make gue, dia penganten baru dong! Berarti gue hamil bareng dengan Paul hamil” tanya Kia akhirnya tidak bisa menyembunyikan kegundahakanya.


Foto Aslan yang terpampang membuatnya terus memikirkanya. 


“Hmm” Cyntia menoleh ke Kia sejenak kemudian berfikir. 


“Iya yah? Dulu dia juga nyari lo tau! Kalau dia kebiasan one night stand dan hanya mencari kesenangan, kayaknya dia nggak bakal nyari lo deh, atau dia jatuh cinta sama lo dari dulu?” jawab Cyntia kemudian. 


“Ehm. Kalau jatuh cinta dari dulu kayaknya enggak deh” jawab Kia lagi degan muka merah, tiba- tiba ingatan malam panas dan menyakitkan itu datang lagi. Malam itu Aslan memperlakukan Kia dengan brutal tidak dengan cinta.


“Terus kamu pengen aku jawab apa?” tanya Cyntia dengan muka centilnya liat ekspresi muka Kia.


Cyntia sangat suka mengerjai Kia. Entah Kia yang jarang jatuh cinta atau emang sifatnya yang polos. Kia sangat terlihat kalau sedang jatuh cinta. 


“Lu apaan sih? Gue tanya beneran!” tanya Kia.


“Hemmmm, meskipun selingkuh itu salah. Tapi setiap perselingkuhan selalu ada alasanya Ki” ucap Cyntia. 


“Nah iya apa? Gue juga tau kali, gue kan lagi tanya itu” 


“Biasanya yang jajan itu karena emang mereka hoby senang- senang dan maniak se**. Tapi gue liat dia bukan tipe yang begitu deh” jawab Cyntia lagi. 


“Berarti dia ada masalah sama istrinya” ucap Cyntia lagi. 


“Apa perlu gue cari tau ya kebenaranya” tanya Kia tiba- tiba.


“Ehm.. ehm” mendengar pertanyaan Kia. Cyntia merasa bahagia sampai Cyntia bangun dari rebahanya buat duduk. 


“Buat apa lo nyari tau masalah Aslan sama istrinya? Lo berubah pikiran? Lo mau nikah sama dia?” tanya Cyntia antusias.


“Ish, kita teman! Teman! Hhh, gue tanya karena kan gue harus hati- hati Cyn, untuk memutuskan berhubungan dengan dia. Secara kan ada Ipang di antara kita. Aku harus pastikan sebenernya bagaimana dia dengan istrinya itu. Ada sesuatu yang gue penasaran” 


“Apa?” 

__ADS_1


“Gue kemarin liat di meja dia kaya lagi urus perceraian gitu” 


“Waah bagus dong!” 


“Kok bagus sih?” 


“Ya biar kalian cepet nikah!” 


“Apaan sih? Apa dia cerai karena gue dan Ipang?” 


"Ya bisa jadi. Bisa juga enggak. Ya udah sih itu urusan mereka"


"Gue nggak mau dituduh"


"Yang penting kan kenyataanya lo nggak ikut campur di urusan mereka"


"Iya sih. Tapi beberapa kali Aslan ngajak gue nikah. Apa dia benar-benar mau nikahin gue makanya dia ceraiin istrinya?"


"Mungkin. Makanya lo terima dia aja"


"Ck... kok gue mendadak pusing ya?"


“Kia, Kia, kasian anak lo! Dia butuh keluarga dan ayah. Lo nggak bisa kan terima cowok lain? Apa lo mau cowok kaya Jeje? Udah sih kalau dia lamar lo terina aja lagi” 


“Kenapa bahas Jeje sih? Gue takut nikah, lo aja mau cerai kan?” jawab Kia membela diri.


“Ya karena gue salah nemuin jodoh!”


“Mungkin nggak sih, dalam pernikahan anak yang lahir itu bukan anak dari ayahnya?”


“Mungkin lah. Kok lo tanya gitu?”  


“Bisa percaya bisa nggak, menurut lo sendiri gimana? Kalau ternyata bener?” jawab Cyntia lagi. 


Kie menggaruk pelipisnya lagi. Entah kenapa saat membayangkan kalau perkatan Aslan benar ada rasa bahagia di hati Kia. 


“Ya, entahlah itu bukan urusan gue!” jawab Kia.


“Lo suka kan sama Aslan? Udah sih akui aja! Gue bantu kalau lo butuh info tentang si Paul” 


“Nggak usah! Ntar lo mau ikut gue nggak?” 


“Kemana?” 


“Studio ITV, liat Ipang” 


“Nggaklah, gue nggak mau ganggu lo. Aslan dateng kan? Lo ketemu dong?” 


“Tau deh!” jawab Kia ikut berbaring kembali menatap foto Aslan lagi. Lalu Kia memejamkan matanya dan tertidur. 


Aslan memang sengaja meletakan fotonya besar- besar di rumah itu agar Kia mengingatnya terus. Dan rencana Aslan berhasil. Mau tidak mau Kia selalu melihat dan mengingatnya. 


“Hishh dasar!” umpat Cyntia melihat Kia tertidur di depan TV. 


*****


Waktu terus berlalu, sampai langit yang biru mulai berwarna keemasan menandakan hari mulai sore.

__ADS_1


Kia bangun dari tidurnya, tentu saja yang dia lihat wajah Aslan lagi. Begitu seterusnya, dan Kia mulai terbiasa, meski tidak orangnya tapi dengan foto besarnya serasa Aslan hidup bersama Kia, terus membersamainya. 


Kia kemudian bergegas ke kamar mandi. Mengguyur air ke seluruh tubuhnya. Mencuci keringat yang menempel atas aktifitasnya. 


Setelah selesai mandi Kia menunaikan sholat. Lalu membuat makan malam untuk dirinya dan Cyntia. Setelah kenyang. Kia bersiap ke studio, menjenguk dan memberi semangat buah hatinya. 


“Lo naik apa ke sana?” tanya Cyntia. 


“Taxilah!” 


“Maaf ya, besok deh gue ambil mobil gue, nggak tega gue liat lo pergi malam- malam naik taksi” ucap Cyntia merasa kasian ke Kia.


“Lo nggak takut lo disakiti suami lo lagi? Sebaiknya lo selesein juga urusan lo deh” 


“Ya senin gue urus semuanya. Lo besok temenin gue ya!”


“Oke! Ya udah gue berangkat!”  


“Ati- ati ya, semoga Ipang menang!” 


“Gue malah berharap malam ini dia pulang” jawab Kia lesu.


“Aneh lo. Bukanya doain anak biar sukses” 


“Gue bisa sukses sendiri dan kasih makan dia”


“Ya lo ijinin dia daftar ini?” 


“Dia yang minta” 


“Ya udah sono lo berangkat!” 


“Daah!” 


Meski malam Kia pergi dengan berani. Jika peserta bintang kecil lain yang datang lengkap kedua orang tuanya besera pendukung anaknya.


Kia datang seorang diri, memakai kendaraan umum. Ipang juga tidak mempunya pendukung nyata yang dia kenal untuk menjadi tim hore. 


Studio ITV mulai tampak ramai. Banyak mobil terparkir di halaman. Tidak peduli dengan pandangan orang, Kia melangkah masuk. 


Di dalam tampak panggung megah dengan kilau lampu yang mempercantik suasana. Seketika dada Kia bergetar, anaknya akan tampil di sana. Ini pertama kalinya Kia menyaksikan pertunjukan musik secara langsung. Dan kali ini adalah penampilan anaknya sendiri. 


Anak Kia akan tampil di panggung besar disaksikan oleh banyak penonton di depanya. Dinilai oleh juri, disiarkan oleh televisi dan dilihat semua orang di negaranya. Tanpa Kia sadari mata Kia pun tergenangi air dan tumpah karena penuh haru. 


“Semoga kamu bahagia Nak dengan pilihanmu ini” batin Kia.


Kia kemudian melangkah memasuki pintu mencari tempat duduk.


“Apa dia akan datang? Dimana dia? Apa dia akan menemaniku? Tapi bahkan dia menghindar dariku? Tapi kan katanya Ipang anaknya, kalau dia sayang dia harusnya datang. Ah.. tapi dia tidak munngkin berbaur di tempat ramai begini” batin Kia celingak celinguk mencari Aslan. Entah kenapa Kia jadi rindu Aslan. 


Sret...


Tiba- tiba seseorang menarik Kia dengan kasar. Membawa Kia ke tempat gelap dan jauh dari keramaian. 


“Kau! Lepas tanganku!” pekik Kia berusaha menghindar. 


****

__ADS_1


Makasih udah baca. maaf ya author semangatnya lgi down. maaf kalau nulisnya jadi nggak jelas.


__ADS_2