
Sebagai anak yang cerdas dididik dalam keluarga yang lengkap meski tidak harmonis dan selalu bertengkar. Pemikiran Alena tentang hubungan orang tua lebih banyak dari Pangeran.
Apalagi dengan pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat terhadap Mommy dan kekasihnya. Alena jadi ragu tidur bersama Kia.
“Maaf, Bu! Alena kembali ke kamar Mbok Mina saja!” lirih Alena.
“Kenapa Sayang?” tanya Kia lembut.
“Ini kan kamar Daddy dan Ibu! Alena tidak boleh masuk!” jawab Alena mengingat peraturan di rumah Mommynya dulu. Aslan apalagi, sangat melarang Alena, jangankan masuk, mendekat saja tidak boleh.
"Kata siapa nggak boleh, Sayang? Kan Ibu yang ajak? Ayo masuk. Di sini kan tidur hanya untuk malam ini. Nggak apa- apa!" tutur Kia merayu dengan lembut.
“Nggak apa- apa Kakak, ibu mengijinkan, malam ini kita tidur berempat, kita kan keluarga. Aku anak ibu dan ayah, Kak Alena kan juga anak Ayah, kata Daffa juga kalau sedang berlibur keluarga itu tidur bersama!” jawab Ipang memberitahu Alena. Mengingat semua cerita Daffa.
Kia pun tersenyum dan mengangguk setuju terhadap pendapat Pangeran. Alena terdiam ragu.
“Ayo... masuk, cepat kalian cuci kaki, buang air dan gosok gigi, tapi gantian ya!” ajak Kia ramah meyakinkan Alena dan kembali menggandengnya.
“Ya Bu!” jawab Pangeran semangat berjalan duluan.
Setelah dirayu. Alena kemudian ikut masuk.
“Ibu ambil pakaian Alena dulu ya!” tutur Kia berpamitan pada anaknya kini Alena dan Pangeran tinggal berdua di kamar.
Pangeran tersenyum ramah ke Alena dan menyuruhnya duduk.
“Ayo, Kak!” ajak Pangeran.
Mendapat perlakuan baik Pangeran Alena jadi teringat semua perlakuanya dulu. Alena selalu memusuhi Pangeran bahkan mengatainya anak haram.
“Kenapa kau baik padaku?” tanya Alena kemudian.
“Karena kamu kakaku!” jawab Pangeran polos.
“Apa kau tidak tahu? Aku bukan anak kandung Daddy!” jawab Alena lagi dia lebih tau banyak hal ketimbang Pangeran.
__ADS_1
“Benarkah? Tapi kata Daffa dan kata ayah, kita bersaudara!” jawab Pangeran lagi dengan polosnya. Kia selalu mengajarkan hal baik ke Pangeran jadi Pangeran selalu berfikir positif.
“Aku tidak mirip dengan Daddy! Aku bukan anak Daddy, itu kenyataanya. Apa kau akan tetap baik padaku? Padahal kan aku selalu jahat padamu?” tanya Alena lagi.
“Kata ibu, kita tidak boleh berbuat jahat, pada siapaun Kak! Berbuat jahat itu dibenci Tuhan, nanti kita akan kena hukum dan karma, begitu sebaliknya, kita harus baik. Nanti Alloh akan baik ke kita! Alloh itu MahaBaik Maha Pemberi Maha Penyayang dan akan membalas segala sesuatu yang kita kerjakan!” jawab Pangeran seperti biasa sok bijak. Meski usia Pangeran lebih muda dalam beberapa hal Pangeran seperti kakak.
“Termasuk kepadaku?”
“Ya, ke semuanya! Apalagi Kak Alena kan saudariku! Aku mau jadi anak yang disayang Alloh seperti kata ibu!” jawab Pangeran tetap ngotot menganggap Alena saudarinya.
“Aku bukan saudaramu!” jawab Alena tidak kalah juga ngotot memberitahu, kalau mereka tak ada hubungan darah.
“Terserah Kak Alena saja, yang pasti sekarang kita keluarga. Sudah ya aku capek dan ingin cepat tidur. Aku mau sikat gigi, kalau ibu kembali aku belum sikat gigi. Ibu pasti akan marah!” jawab Ipang kemudian segera ke kamar mandi menjalankan rutinitasnya.
Selain membersihkan diri, Pangeran juga menyempatka sholat Isya. Sementara Alena duduk manis memperhatikan saudaranya itu.
Alena sedikit tertegun melihat Ipang pandai sholat tanpa disuruh. Alena tidak pernah sholat, dia juga tidak bisa melakukanya.
Alena juga jadi merasa bersalah dan terharu ke Ipang. Ipang selalu baik padanya, padahal Alena ingat sekali pernah mencakarnya mengatainya.
Kia segera membantu Alena membersihkan diri dan mengganti pakaian tidurnya, tentunya di kamar mandi. Kia tetap mengajari Alena menjaga auratnya dari orang lain.
Setelah semua anak- anak rapih, Kia juga sudah membersihkan dirinya, Kia mematikan lampu terang mengganti dengan lampu tidur. Kia mengajak anak- anak naik ke kasur yang empuk dan luas dengan kualitas nomer satu.
Kia berada di tengah, Ipang di sisi kanan, Alena di sisi kiri. Kia menyuruh Pangeran memimpin doa tidur. Mereka bertiga kemudian memejamkan matanya.
Saat memejamkan mata, tanpa Kia dan Pangeran tahu, Alena meneteskan air mata tanpa kata dan suara.
“Andai Ibu Kia sungguhan Mommyku. Mommy, Mommy sedang apa di sana? Aku ingin Mommy seperti Ibu Kia!” batin Alena dalam doanya.
Dengan ragu dan gerakan pelan, Alena memberanikan memeluk tangan kiri Kia, Kia yang belum benar- benar terjaga merasakannya. Kia kemudian merengkuh Alena dan memeluknya membelakangi Ipang. Kia tahu Pangeran langsung terlelap begitu selesai berdoa.
Sekitar puku 01.00 waktu setempat, Aslan yang masih bau rokok setelah bersenda gurau dan berpesta, menikmati waktu berharga bersama teman-temanya masuk ke kamar. Aslan menyalakan lampu perlahan.
Aslan menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya melihat pemandangan manis di atas kasur itu.
__ADS_1
“Hhhh... entah kebaikan apa yang diperbuat Ibu dan ayahku, sehingga Tuhan beri aku bidadari sepertimu Kia. Aku laki- laki paling beruntung, mempunyai istri sebaik kamu, Sayang!” batin Aslan begitu bahagia melihat Kia memeluk Pangeran dan Alena.
Aslan kemudian segera ke kamar mandi membersihkan dirinya dan mengganti pakaian.
Kedongkolan tidak bisa mendaki dua gunung indah dan menggapai surga di gua rahasia pun terkikis habis. Diganti dengan rasa haru dan hangat penuh syukur.
Aslan memilih ikut berbaring di sisi Pangeran. Tentu saja dalam diamnya. Aslan tetap merencakan waktu honeymoonth khusus setelah memberikan pengertian ke Ipang dan Alena nanti.
Mereka akan bersama asisten rumah tangga beberapa waktu dulu. Aslan tetap ingin adil pada jagoan kecilnya yang lama berpuasa. Dia juga ingin memuaskanya tanpa ada gangguan dan hambatan untuk beberapa waktu.
Secara acak karena di sampingnya ada Aslan, Pangeran memeluk Aslan. Sementara Kia bersama Alena.
Keluarga kecil itupun menghabiskan malam itu dengan hangat hingga fajar tiba dan waktu pengesahan pernikahan mereka secara hukum negara dan diumumkan ke banyak orang, datang.
*****
Buat yang nunggu Cyntia sabar ya.
Makasih buat yang msh setia baca.
Entah ini kekuranganku atau bukan?
Bukan tidak mau belajar menulis cepat dan singkat, gaya nulisku memang begini. Pengen belajar buat lebih seru tapi mampuku begini?
Author menulis juga mencintai tokoh. Saat nulis juga membayangkan mereka dengan indah dan cinta.
Jadi kisah Aslan dan Kia tetap akan aku selesaikan dulu, tidak akan dihilangkan. Bukan mengulur waktu, Cyntia juga tetap dibereskan sesuai alur.
Semoga masih tetap betah baca ya.
Author juga sangat ingin crazy Up. Segera menyelesaikan kisah ini dan menuangkan kisah lain.
Sayangnya ada kesibukan dunia nyata yang lebih utama.
#Insya Alloh kalau ada waktu disegerakan crazy Up dan tamatkan.
__ADS_1
Di karya selanjutnya semoga aku bisa nulis dengan baik ya. Aamiin.