Sang Pangeran

Sang Pangeran
35. Nanti Wudzunya Batal.


__ADS_3

Udara sejuk menyeruak memasuki celah-celah udara rumah kecil di pojok desa itu. Suara adzan memanggil mereka yang masih bergelung di balik selimut.


Ipang dan Kia langsung bangun. Memaksa jiwanya bangun. Membasuh wajah mereka dengan air wudzu, mengisi jiwanya yang tertidur kembali hidup.


Mereka berjalan bersama menenteng tas berisi sajadah dan alat sholat lainya. Di dekat rumah Kia, masjid memang dekat dan menjadi tempat yang ramah untuk beribadah.


Kia dan Ipang rutin jamaah subuh jika di kampung. Tidak seperti ketika di ibukota, masjid jauh. Kia dan Ipang juga belum kenal penduduk setempat.


"Dhek Kia" panggil laki-laki gagah dengan koko putih dan sarung rapih.


"Eh Mas Radit" jawab Kia menoleh.


"Assalamu'alaikum Dhek" sapa Radit


"Waalaikum salam Mas" jawab Kia.


Radit sangat bahagia di subuh itu bertemu Kia, lalu Radit mensejajari Kia dan Ipang.


Ipang langsung mencengkeram tangan ibunya dan memasang wajah cemberut. Ipang benci sekali dengan pria di samping ibunya itu.


Sementara Radit berusaha menyapa Ipang, sebagai bentuk pedekate mau jadi calon ayahnya.


"Hai anak sholeh, Assalamu'alaikum" sapa Radit ke Ipang.


Ipang tetap diam.


"Om Radit ucap salam lho Nak, kalau denger salam wajib apa hayo? Dijawab salamnya!" tutur Kia menasehati anaknya.


Ipang menahan nafasnya kesal. Ipang tidak peduli teguran ibunya. Tatapanya tertuju ke arah masjid banyak teman-temanya berlarian.


Ipang ingin lari menjauh dari Radit itu. Tapi Ipang ingat pesan ayah Aslan.


"Jaga ibumu untuk ayah ya"


Kata- kata Aslan terpatri di otak Ipang sebagai acuan harapan mereka akan bersama. Ipang akhirnya tidak berlari dan menatap ke atas, ke wajah ibu yang menggandengnya.


"Ayo jawab salam Om Radit" tutur Kia lagi.


"Waalaikum salam" jawab Ipang malas. Lalu Ipang berpindah tempat ke tengah Radit dan Kia.


"Om Radit jangan dekat-dekat Ibu Ipang, nanti kalau tanganya senggol tangan ibu, wudzunya batal lhoh!" ucap Ipang tegas karena Radit berjalan di dekat Kia.


Radit dan Kia kemudian tersipu dan saling pandang.


"Iya anak sholeh. Om Radit nggak senggol tangan Ibu Ipang kok!" jawab Radit malu sambil mengusap tengkuknya.


"Ipang kok ngomong gitu?" tutur Kia malu.


"Ipang benar kok Bu. Ayo Ibu masuk lewat pintu sini, Om Radit sana kesana jangan dekat-dekat Ibu Ipang!" ucap Ipang lagi saat sampai di pintu samping masjid.


Ipang mau ibunya segera masuk ke serambi tempat jamaah putri, agar terpisah dari Radit.


"Iya Nak. Nanti pulangnya bareng lagi ya!" ucap Radit tersenyum menatap Kia, dia masih semangat pedekate.


"He..." Kia hanya nyengir bingung jawab iya atau tidak.


Sementara Ipang cemberut dengan tatapan membunuh tidak menjawab.


"Ayo Bu masuk! Jangan di luar. Ipang nggak mau ibu diliatin Om Radit terus!" ucap Ipang menarik Kia masuk ke masjid.


"Baiklah, ayo masuk!" jawab Kia.


Lalu merka masuk ke sisi sebelah kiri masjid tempat jamaah putri yang ditutup tirai sehingga tidak dapat melihat jamaah pria.

__ADS_1


"Ipang kan anak putra juga. Ipang ikut Om Radit ya!" bisik Kia menasehati Ipang sholat di shaf pria.


"Nggak!" jawab Ipang tegas.


"Kenapa? Kan sini shafnya jamaah putri"


"Ipang mau jagain ibu" jawab Ipang.


"Hmm. Ibu nggak hilang sayang, ini di masjid tempatnya orang ibadah! Ya. Mengertilah, orang sholat, putri bareng sama putri, putra bersama barisan putra" tutur Kia menasehati.


"Ipang nggak mau liat Om Radit" tolak Ipang lagi beralasan.


Kia menelan salivanya, menahan sabar. Lalu menggelar sajadahnya dan memakai mukenahnya. Kia mendapatkan shaf terdepan.


Karena imam belum datang Kia menunaikan sunah qobliah subuh. Kia juga membiarkan Ipang duduk di sebelahnya.


Di tempat mic, sambil menunggu Imam datang, beberapa orang tua melantunkan sholawat thibil qulub.


"Itu sholawatnya salah" celetuk Ipang mendengar orang tua salah bershalawat.Di saat seharusnua wa dawa iha. Orang tua salah wa wawa iha.


"Kalau salah, dibenarkan sayang, kakeknya sudah tua, jadi ucapanya sering keliru, sana Ipang yang puji-pujian" tutur Kia sambil tersenyum.


Karena gatal mendengat sholawat salah, kali ini Ipang luluh. Ipang berlari ke tempat jamaah putra dan mendekat ke bapak yang memegang Mic.


"Pak, bapak salah bacanya. Boleh nggak Ipang yang sholawatan" bisik Ipang sopan dan berani ke bapak tua itu.


Dengan penuh haru dan bangga bapak itu menyerahkan mic ke Ipang. Karena bapak itu juga merasa sedikit tersandat dan lupa lirik.


"Silahkan Nak"


Lalu Ipang bersholawat dengan merdu dan baik. Para jamaah ikut bersholawat termasuk anak-anak kecil lain yang berlarian ikut meriung mendekati Ipang.


Allhumma sholli 'ala Sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wa dawa-iha wa 'afiyatil abdanu wa syifa-iha wa nuril abshori wa dhiya-iha wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallim


Setelah mengucap salam, berdzikir dan berdoa bersama para jamaah bersalam-salaman.


"Kia" sapa Fatimah.


"Hehehe" Kia hanya nyengir karena pulang tidak memberi kabar.


"Ini kamu kan? Kapan pulang?" bisik Fatimah.


"Nanti deh aku cerita, udah pulang yuk" ajak Kia takut Ipang menunggu.


"Nanti aku ke rumahmu" ucap Fatimah.


"Oke"


****


Ipang kembali akrab dengan teman-teman sebayanya. Setelah mengucap aamiin mereka bergerombol langsung keluar ke halaman masjid bermain.


Sementara Radit ikut keluar duduk di serambi menunggu Kia keluar.


"Ipang, kok kamu pulang?" tanya teman Ipang yang bernama Hada tiba-tiba.


"Emang kenapa kalau Ipang pulang, aku senang Ipang di rumah" jawab Afik.


"Katanya kan Ipang ikut lomba yang di tivi. Kamu kalah ya makanya pulang?" tanya Hada lagi.


"Aku nonton kamu lho. Kan kemarin kamu menang?" bela Sidiq.


"Aku emang menang kok" jawab Ipang percaya diri.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu di sini? Kan harusnya kamu di karantina, aku menunggumu terlihat di tivi" ucap Sidiq lagi.


"Aku hanya berlibur kok" jawab Ipang.


"Berarti kamu besok ke Ibukota lagi?" tanya Afik


"Iya, aku akan ke ibukota lagi, kalian liat aku ya" jawab Ipang lantang.


"Yaa" jawab teman-teman Ipang serentak.


Dan di saat anak-anak bercerita, Kia berdiri tertegun mendengarnya. Kia meneteskan air matanya, dadanya begitu sesak mendengar jawaban Ipang.


Bagaimana Ipang bisa berkata begitu ke teman-temanya. Apa Ipang sungguh ingin kembali ke Ibukota. Itu tidak mungkin buat Kia sekarang.


Kia kan kembali ke desa untuk menetap dan seterusnya. Bahkan Kia sudah membawa kabur Ipang yang artinya Ipang sudah keluar dari peserta Bintang Kecil itu.


"Ipang" panggil Kia ke Ipang, sehingga terdengar ke semua orang yang ada di serambi dan halaman.


Radit yang menunggu Kia ikut tersenyum melihat Kia sudah keluar. Ipang dan teman-temanya juga menoleh ke Kia.


"Ipang, pulang Nak" ajak Kia ke Ipang.


"Ipang mau main dulu Bu" jawab Ipang.


"Ya sudah, jangan lama-lama ya, segera mandi dan bantu ibu bikin sarapan" tutur Kia. Lalu Kia turun memakai sendalnya dan berjalan pulang.


"Ya Bu!" jawab Ipang.


Di saat itu Radit datang menyapa Kia dan mensejajarinya lagi. Radit bahagia bisa berduaan dengan Kia. Dan Radit berjalan sedikit merapat ke Kia meski tangan Kia mendekap alat sholat.


Ipang yang sedang bermain bersama teman-temanya tanpa sengaja melihat Radit mendekati ibunya lagi. Tanpa pamit ke temanya, Ipang langsung berlari mengejar ibunya.


"Ibuuk" panggil Ipang menangis karena terjatuh mengejar ibunya.


"Ya ampun Ipaang" teriak Kia histeris melihat Ipang tersungkur di tanah.


Kia dan Radit kemudian berbalik menghampiri Ipang.


"Hu... hu... hu... " Ipang menangis tersedu-sedu.


Lalu Kia segera membantu Ipang bangun dan meneliti tubuhnya.


"Hati-hati Nak, mana yang sakit?" tanya Kia khawatir.


Lalu Ipang menunjukan kedua lutut dan bibirnya. Ternyata memang memar dan berdarah.


"Ya ampun, sudah jangan menangis, nanti ibu obati ya" tutur Kia memeluk Ipang.


"Sakit Bu... "


"Ipang gendong Om Radit ya" ajak Radit ke Ipang, berniat membantu.


Ipang cemberut dan menatap Radit penuh kebencian. Sampai Radit menelan salivanya. Tapi Ipang sambil berfikir jahat.


"Biar saya aja Mas yang gendong. Ipang udah mulai berat. Mas Radit duluan aja" jawab Kia. Kia tau anaknya tidak suka dengan Radit. Jadi tidak ingin membuat Ipang semakin kesal menyuruh Radit pergi.


"Nggak apa- apa, kasian dia sakit gitu. Mau ya Ipang?" ajak Radit sopan kekeh ingin bantu.


Kali ini Ipang mengangguk.


"Iya Om" jawab Ipang tiba-tiba.


Kia sendiri terbengong Ipang mau digendong radit. Tapi tanpa Radit dan Kia tau. Sambil bangun Ipang mengambil lumpur basah di dekatnya. Saat Ipang digendong di punggung Radir. Ipang mengoles-oleskan lumpur itu ke baju putih Radit.

__ADS_1


__ADS_2