Sang Pangeran

Sang Pangeran
33. Kopi


__ADS_3

****


Kota Y


Pemberitahuan pesawat landing berbunyi. Pramugari berbaris rapih, berdiri di depan pintu keluar, memasang senyum terindah mereka sebagai tuntutan kerjanya. Mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pelanggan tempat mereka bekerja.


"Sayang, bangun Nak, udah sampai, turun yuk!" ajak Kia ke Ipang.


"Emmmpt, Iya Bu"


Ipang membuka matanya malas. Pesawat landing. Kia mengambil barang-barang nya dan mengajak Ipang turun.


"Alhamdulillah" tutur Kia lega dan tersenyum setelah menginjkan kaki di tanah rantaunya lagi.


Sementara Ipang berjalan cemberut mukanya ditekuk. Dunia dan mimpi Ipang masih tertinggal di Ibukota. Merasakan dekapan dada bidang ayah biologisnya, tertawa dan bercanda dengan sahabat barunya.


Tapi Ipang tetaplah anak kecil. Ibunya tetap yang berkuasa dan menjadi pripritasnya. Berpisah dari ibu yang selalu menjaganya tetap menjadi mimpi paling buruk.


Ipang masih ingin Kia menyayanginya, jadi Ipang menurut saja. Lalu mereka segera keluar bandara mencari taksi.


"Sayang, sebelum pulang kita cari makan dulu ya. Ipang mau makan apa?" tanya Kia ke Ipang.


"Terserah ibu saja!" jawab Ipang ketus masih belum terkumpul mutnya.


Kia menelan salivanya, diberi perlakuan ketus oleh anaknya tetap membuat sakit. Kia paham ekspresi Ipang. Tapi Kia sebagai ibu nggak boleh terpancing apalagi baper. Kia harus sabar.


"Mau ayam? Bakso atau makan burger?" tanya Kia lagi memaksa berwajah ceria agar Ipang juga bersemangat.


"Ipang sudah bilang, terserah ibu!" jawab Ipang lagi dengan nada sedikit keras menunjukan kekesalanya lagi.


"Ehm" Kia berdehem menetralkan ras sesak.


"Sabar Kia, Ipang 6 saja belum genap, sabar" batin Kia lagi.


"Ya udah, beli bakso aja ya. Nanti beli bakso yang di dalamnya ada bakso kecil-kecilnya. Di pasar deket rumah itu" jawab Kia lagi mengajak Ipang.


"Ya Bu" jawab Ipang.


"Oke"


Lalu mereka mendapatkan taksi. Mereka pulang menuju rumah kecilnya di kampung. Kia dan Ipang turun di pasar tradisional dekat denga rumahnya.


Karena sudah mulai sore, suasana pasar terasa sepi. Beberapa ruko tutup, hanya ada 2 toko sembako yang buka.


Dan di pojok pasar ada ruko kecil dengan dinding kayu usang. Aroma kuah bakso dan mie ayam menyebar menggugah kelenjar saliva mengeluarkan airnya.


Meski sempit motor-motor berjajar memenuhi depan warung bakso itu. Ya, bakso jajanan mewah di kampung Kia, jadi banyak peminatnya.


"Tempatnya sepertinya penuh Sayang" tutur Kia memberitahu Ipang saat mereka turun dari taksi melihat ke warung bakso favoritnya.


"Hmm" Ipang masih malas bicara.


"Makan soto aja ya!"


"Ya Bu!"


Lalu mereka masuk ke tukang soto ayam.


"Dhek Kia?" sapa seseorang yang baru selesao melahap soto. Lalu mendekat ke meja Kia.


"Mas Radit" jawab Kia balas menyapa.


"K, ata Fatimah kalian ke Ibukota? Kok di sini? Dari kemarin aku ke rumah kalian, rumah kalian kosong" tutur Radit.


"Ah iya, kemarin sempat di ke Ibukota Mas, tapi nggak betah, lebih nyaman hidup di sini, lebih tenang" jawab Kia bosa basi.


"Syukurlah aku senang mendengarnya" jawab Radit


"Ibu Ipang betah kok di Ibukota" celetuk Ipang tidak senang melihat ibunya ramah terhadap laki-laki yang merupakan keponakan yayasan Srikandi dan calon lurah di desanya.


Radit dan Kia saling pandang canggung, mendengar perkataan Ipang. Karena Ipang berbalik pendapat dengan Kia.


Pesenan soto ayam datang mengalihkan kecanggungan Kia. Lalu Kia mulai menuangkan kecap ke mangkuk soto Ipang, mencicipinya lalu meniupnya pelan dan menyuapi Ipang. Dan Radit duduk di depan mereka memandangi Kia dengan tatapan cinta.


"Ibu Ipang makan sendiri" tutur Ipang menarik mangkoknya dan menatap Radit dengan tatalan benci.

__ADS_1


"Tapi ini panas Nak, Ibu bantu ya? Ibu suapi" tutur Kia lagi dengan nada lembutnya.


"No. Tidak!" cegah Ipang menutup mulut dan mangkoknya.


"Oke" jawab Kia menyerah. "Makan yang rapih ya. Hati-hati ini panas, makanya pelan-pelan" tutur Kia menasehati.


"Iya Bu" jawab Ipang.


Lalu Kia makan sendiri.


"Anakmu sangat pintar Dhek" ucap Radit memuji Kia.


"Iya Mas, Alhamdulillah"


"Umur berapa tabun sih?"


"6 tahun jalan Mas"


"Apa kamu tidak kasian ke dia?" tanya Radit lagi mau pedekate.


"Kasian? Apa yang harus dikasihani dari Ipang Mas?"


"Apa kamu tidak ingin, Ipang punya ayah?" tanya Radit lagi.


"Uhuk uhuk" Kia tersedak mendengar pertanyaan Radit. Radit dengan segera memberikan air dan tisu.


"Hati-hati makanya Dhek. Ini tissuunya!" ucap Radit memajukan tubuhnya.


Kia menerima tissunya tidak menjawab pertanyaan karena masih sulit bernafas dan tersedak.


Di saat yang bersamaan tanpa dilihat Kia dan Radit, Ipang menumpahkan sotonya, sehingga airnya mengalir ke kaos radit karena mejanya kecil, dan radit tampak berusaha membatu Kia dan memajukan badanya menempel meja.


"Ipang" panggil Kia menoleh ke Ipang. Meja tempat mereka makan penuh isian soto panas.


"Maaf Om, Maaf Bu!" ucap Ipang menunduk.


"Kenapa sotonya bisa tumpah Nak? Ibu udah bilang hati-hati"


"Maaf kesenggol tangan Ipang, tadi soalnya panas jadi tumpah"


"Nggak apa-apa Dhek" jawab Radit menahan rada kesalnya.


"Ipang sudah kenyang Bu, ayo pulang" ajak Ipang tidak suka Ibunya di dekati laki-laki.


"Iya Nak, Ibu bayar dulu ya!" jawab Kia.


"Nggak usah Dhek, biar Mas yang bayar"


"Ah nggak usah Mas, Kia bayar sendiri aja" jawab Kia tidak enak.


"Udah mas aja" jawab Radit kekeh.


"Ya sudah terima kasih Mas, sekali lagi mohon maaf karena anak saya" jawab Kia sungkan.


"Ya nggak apa-apa, kalian naik apa?"


"Jalan kaki Mas"


"Tunggu! Mas antar"


"Nggak usah, Mas! Kita jalan kaki aja" jawab Kia menolak.


"Nggak apa-apa Mas antar Dhek, kasian kan Ipang abis perjalanan jauh jalan kaki" tutur Radit merayu.


"Ipang nggak apa-apa kok jalan kaki. Ipang seneng" celetuk Ipang mematikan Radit lagi.


"He... permisi ya Mas, anak saya lebih suka jalan" jawab Kia pergi.


Raditpun segera membayar soto. Lalu memaksa Kia ikut naik motornya.


"Naiklan Dhek. Tasmu berat, wajah Ipang pucat dan keringetan begitu?" ucap Radit di atas motor menyusul Kia.


Mereka berhenti dipinggir jalan. Rumah Kia memang masih 1 km lagi. Karena Ipang memang terlihat pucat Kia mengiyakan.


"Iya Mas" jawab Kia.

__ADS_1


"Sudah ayo naik! Ipang di depan ya" ucap Radit mengarahkan Ipang berdiri di depan karena motor Radit matic.


"Nggak mau, Ipang mau di tengah" ucap Ipang menolak. Tidak mau Ibunya dan laki-laki ini berdekatan


"Oke, ya udah yuk naik yuk" jawab Radit mengangguk. Daripada gagal mengantar, mending ikut mau Ipang aja.


Mereka bertiga kemudian menuju ke rumah Kia. Kia kembali ke rumah kecilnya yang beberapa hari dia tinggal. Mereka bertiga turun.


"Saya tadi lupa minum, boleh minta minumnya kan?" tanya Radit bosa basi masih ingin ngapeli Kia.


"Iya Mas. Mari silahkan duduk dulu" ucap Kia mempersilahkan Radit duduk di ruang tamu.


Ipang nyelonong masuk dengan muka ditekuknya. Kia menyusul Ipang masuk ke dalam rumahnya.


Kia langsung menyalakan kompor dan merebus air. Tidak lama air yang Kia rebus mendidih, lalu Kia membuatkan kopi untuk orang yang sudah membantunya.


Dalam diam dan balutan wajah polosnya, Ipang memperhatikan ibunya. Otak cerdas Ipang bekerja, memikirkan sesuatu di luar nalar dan perkiraan Kia.


Dan tanpa sepengetahuan Kia, saat Kia ke kamar mandi mencuci tangan dan buang air, Ipang memasukan bubuk cabe bahkan sampai 5 sendok ke kopi Radit. Setelah merasa cukup Ipang masuk ke kamarnya.


"Awas aja berani dekati ibuku, ayahku ayah Aslan, aku tidak mau ayah yang lain" batin Ipang tersenyum


Setelah mencuci tangan, Kia membawa minuman untuk tamunya.


"Silahkan Mas" ucap Kia sopan dengan senyum manisnya.


Radit yang sudah lama naksir Kia bahagia sekali, dibuatkan kopi dan ditemani senyum manis Kia. Perpaduan yang pas batinya, kopi hitam yang nikmat dengan ciri pahitnya dan keindahan dari rekahan bibir Kia.


"Makasih ya Dhek, saya minum kopinya ya" tutur Radit bangga.


"Iya Mas, silahkan!"


Pelan-pelan, Radit menyeruput kopi Kia, dan srup.


"Uhuk uhuk" Radit langsung memuntahkan kopi Kia.


"Kenapa Mas?" tanya Kia kaget.


"Nggak-nggak apa-apa, mungkin karena masih panas jadi di bibir rasanya agak pedas" jawab Radit mengipasi bibirnya dengan tanganya.


"Saya ambilkan piring kecil ya biar nggak panas" tutur Kia pamit ke belakang.


Radit hanya manggut-manggut masih merasakan kejontoran bibirnya.


Tidak lama Kia kembali membawa piring kecil. Memberikanya sebagai tempat mendinginkan kopi. Radit kemudian mengikuti saran Kia.


Sambil menunggu dingin, Radit mencuri-curi pandang ke Kia. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang beberapa hari tidak dilihatnya itu.


"Jadi ceritanya gimana kemarin di Ibukota?" tanya Radit bosa basi.


Kia terdiam, apa iya Kia cerita kalau dia bertemu ayah Ipang. Ah malas sekali.


"He.. Ibukota bukan rejeki saya Mas, jadi saya balik ke sini"


"Baguslah. Nggak usah pergi-pergi di sini saja. Penjualan online mu kan juga sudah jalan, lanjutkan saja!"


"Iya Mas"


"Oh iya, yang omonganku di tukang soto dipikirkan lagi ya"


"Yang apa ya Mas?"


"6 tahun bukan waktu sebentar Dhek. Kasian lho Ipang nggak punya ayah, apa kamu nggak mah buka hatimu?"


"Ah iya! Hehehe... saya belum kepikiran Mas, saya masih ingin sendiri" jawab Kia nyengir.


"Ya makanya dipikirkan, jangan sendiri terus, Mas mau lho nemenin"


"Ehm, ehm" Kia berdehem tidak nyaman.


"Saya berdua kok Mas sama Ipang, oh iya sepertinya kopinya udah dingin diminum Mas" ucap Kia lagi


Radit kemudian menyeruput lagi dengan jumlah yang lebih banyak, dan..


"Hoeek" Radir kembali memutahkan kopinya. Rasanya sangat pedas campur pahit. Bibir Radit langsung jontor. Kemudian Radit segera pamit dan undur diri.

__ADS_1


Kia dibuat bingung melihat tamunya. Apa yang salah dengan kopinya. Sementara di dalam kamar, Ipang tersenyum bahagia.


__ADS_2