Sang Pangeran

Sang Pangeran
23. Renang


__ADS_3

Meski tanpa sekertaris dan tidak memakai jas berdasi, karisma Aslan sebagai bos besar tidak surut. Aslan melangkah tegap menuju ruang cctv.


Melihat tubuh tegap Aslan, semua karyawan membungkukan badanya memberi tanda hormat. Aslan hanya terus melangkah kedepan. Ya Aslan memang sekeren itu.


Sebenarnya bukan karena berniat sombong. Tapi kalau semua sapaan karyawan dibalas dengan senyum atau anggukan yang sama, Aslan akan kelelahan setiap hari hanya untuk mengangguk dan tersenyum.


Karyawan Aslan sangat banyak. Jadi Aslan memilih bersifat cool. Aslan terkesan sombong.


Tidak ada yang tahu kalau di dalam hati Aslan ada hello kitty menari-nari. Aslan juga mempunyai sisi lemah yang orang lain tidak tahu.


Seperti sekarang, Aslan langsung gugup dan khawatir saat tau anak dan keponakanya tidak ada di kelas. Bahkan Aslan mengeluarkan keringat karena cemas.


"Telpon sekurity, kunci pagarnya. Jangan sampai ada penculik masuk!" perintah Aslan berlebihan ke karyawanya.


"Ya Tuan" jawab karyawan Aslan patuh saja.


Aslan tiba di ruang pantauan cctv, semua karyawan menunduk mempersilahkan Tuan Aslan. Mereka takut tapi menahan ketawa, karena anak itu terlihat konyol di kamera.


Dari kamera tempat olah raga tampak dua anak laki-laki sedang asik di ruang sport hall. Tidak ada ketakutan atau rasa bersalah, mereka benar-benar menikmati permainanya. Bahkan pencilatan mencoba-coba alat-alat gym yang tersedia.


"Hahhh" Aslan menghela nafas lega dan menyandarkan bahunya ke kursi. Aslan kemudian menaikan sudut bibirnya tersenyum.


"Dia memang anakku, dia benar anakku" batin Aslan tersenyum mengingat dirinya dulu juga sering bolos hanya untuk bermain.


Aslan kemudian bangkit dan meninggalkan ruang cctv. Aslan hendak menyusul anaknya. Para karyawan pun bernafas lega, mereka aman.


"Aaankel?" seru Dafa melihat Aslan


Ipang pun menoleh, tapi Ipang tidak histeris dia hanya tersenyum cool melihat kedatangan ayahnya.


"Hai jagoanku, kalian sedang apa di sini?" tanya Aslan menghampiri dua bocah kecil itu.


"Ipang tidak suka berada di kelas"


"Iya benar Uncle. Pelatih itu mengajari kita menjadi seperti perempuan, Daffa juga tidak suka" ucap Daffa membela Ipang.


Bagi mereka dance itu melelahkan dan seperti perempuan.


"Hemm yaya. Ayah tau mau kalian Nak? Apa kalian sudah makan?" jawab Aslan mengangguk mengerti akan dunia laki-laki.


"Sudah Ayah" jawab Ipang.


"Kemarilah kalian Ayah ingin peluk kalian dulu" ucap Aslan mensejajarkan tubuhnya dan merentangkan tangan menyambut anak dan keponakannya itu.


Ipang pun langsung memeluk erat ayahnya. Begitu juga Daffa. Ipang di sebelah kanan Dafa di sebelah kiri.


"Katakan apa yang ingin kalian lakukan di sini?" tanya Aslan.


Ipang melihat sekeliling dan kolam renang di depanya.


"Ipang ingin bermain air, bermain bola dan bermain yang banyak sekali" tutur Ipang polos.


"Yaya. Ayah akan kabulkan semua permintaan Ipang" jawab Aslan mengangguk memangku Ipang.


"Daffa juga ingin main sepuasnya" sambung Daffa lagi.


"Baiklah, gimana kalau kita renang?" ajak Aslan ke anak dan keponakanya.


"Yeyy I like that uncle" jawab Daffa senang.


"Ipang juga!"


"Oke lets go!" jawab Aslan.


Tanpa ragu-ragu, Aslan melepas kemeja dan celana panjangnya. Aslan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer.


Ketampanan dan kebugaranya terpampang nyata. Untung hotel sudah dikosongkan khusus untuk karantina Bintang Kecil.


Lalu mereka masuk ke kolam renang. Tidak besar tapi sangat bersih dan nyaman. Ada dua tempat, tempat orang dewasa dan anak-anak.


Tapi Ipang dan Daffa tidak terima berenang di tempat anak-anak. Dia ingin berenang di kolam yang dalam bersama ayahnya.


"Ayah Ipang ingin berenang bersama ayah di situ" ucap Ipang iri melihat Daffa sudah pandai berenang


"Oh ya, kemon Boy, pegang tangan ayah" jawab Aslan antusias dan mengulurkan tanganya.


"Tapi Ipang tidak pernah berenang di kolam renang seperti ini Ayah. Ipang tidak pernah ke kolam renang, apa berenang di sini sama dengan di sungai?" ucap Ipang jujur.


Mendengar penuturan Ipang, Aslan menjadi merasa bersalah. Padahal Aslan mempunyai banyak kolam renang. Baik di rumah atau di hotelnya, atau di Villanya.


Dan kini anaknya mengatakan tidak pernah berenang di kolam renang. Betapa berdosanya Aslan membiarkan anaknya hidup dalam kesederhanaan.


"Apa ibumu tidak mengajakmu pergi ke kolam renang?" tanya Aslan.


"Tidak, soalnya itu jauh sekali. Ipang hanya mandi di sungai" jawab Ipang polos.


Daffa mendengar penuturan Ipang justru antusias.


"Wah, sepertinya seru mandi di sungai. Aku malah ingin mandi di sungai, di kolam itu membosankan" jawab Daffa.


"Iya sih, di sungai sangat asik. Ada banyak ikan di sana. Tapi airnya tidak begitu dalam, aku baru mau mencoba di kolam sekarang" ucap Ipang bercerita.

__ADS_1


Sementara Aslan memperhatikan percakapan dua anak itu dengan asik. Aslan jadi bertanya-tanya seperti apa kehidupan putranya dan Kia selama ini.


"Pegang tangan Ayah Ipang, Ayah akan mengajarimu berenang di sini" ucap Aslan merentangkan tangan dan mengajal Ipang masuk ke kolam.


Dengan berani Ipang meraih tangan Aslan. Mereka bertiga kemudian bermain air.


Pelatih korografi hanya mengintip dari jendela. Mereka tidak berani menegur Ipang ataupun Daffa.


Ah biarkan saja mereka sesukanya. Berasa di rumah sendiri. Tapi kan Aslan memang pemilik hotel itu. Bahkan para pelatih Aslan yang menggajinya.


Sementara Alena melihat ayahnya begitu dekat dengan Ipang langsung memasang muka cemberut tidak terima.


****


Kia.


"Ke kantor dulu, atau ke Ipang dulu. Ke kantor? ke Ipang? Ke Kantor ke Ipang? Hhhhrrrgg!"


Kia mondar mandir di kamarnya bingung. Setelah berfikir semalaman dengan segala macam praduganya, narasi-narasi yang entah darimana datangnya sehingga muncul banyak hipotesis tak berdasar di otak Kia.


Pokoknya hasil akhir dari banyak kata-kata yang beterbangan di otak Kia. Kia harus segera mengundurkan diri. Kia harus bawa Ipang pergi.


Apapun alasanya, sebaiknya Kia menjauh dari Aslan. Kia sudah membayangkan, kalau Aslan mengambil Ipang, lalu Ipang dirawat ibu tiri.


Ipang akan disiksa dan dicincang-cincang atau bahkan jadi pembantu seperti di sineteron atau di khayalanya sendiri.


"Ohhh tidak tidak, bisa gila gue ngebayanginya" Kia mengacak-acak sendiri rambu bergelombangnya


"Bahkan sehari saja ibu tidak bersamamu, ibu sudah sangat rindu Nak" batin Kia lagi ingin segera membawa Ipang pergi.


"Gue harus balik ke kampung" ucap Kia gigih.


Lalu Kia memutuskan untuk ke tempat karantina Ipang terlebih dulu. Tidak memperdulikan tata tertibnya Kia langsung menuju ke hotel convinien dengan ojek online.


"Makasih Pak" ucap Kia menyerahkan uang tagihan ojek.


Kia berdiri menatap gedung indah di depanya itu.


"Huft" Kia menghembuskan nafas tanda membulatkan tekad.


"Gue nggak mau Ipang disebut anak haram, meskipun kenyataanya iya, biar jati diri Ipang terkubur dalam yang penting Ipang tidak akan tau apapun tentang ayahnya" batin Kia sambil melangkah masuk.


"Berhenti Nyonya" sapa satpam menghentikan Kia.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Kia berhenti lalu menatap satpam kesal.


"Kenapa langkahku selalu dihadang satpam sih? Nggak di kantor nggak di sini, semua pegawai Singa gila itu hoby banget nyetop orang" batin Kia.


"Mohon maaf Nona. Ada perlu apa datang kemari? Selama tiga bulan hotel kami ditutup untuk umum Nona" tutur Satpam menjelaskan dan memanggil Kia dengan sebutan Nona.


"Saya ibunya Pangeran. Saya mau menemui anak saya" tutur Kia.


"Maaf ibu, peraturan karantina. Anak-anak bisa dijenguk setelah satu minggu" jawab satpam menjelaskan.


Mendengar ucapan satpam Kia jadi geram. Lalu mata Kia mendelik ke Satpam. Meski Kia memakai jilbab, jangan salah, itu karena kewajiban sebagai perempuan.


Tapi terpaan hidupnya yang keras membuatnya bisa berubah-ubah tergantung situasi. Kia bisa lembut dan sopan. Tapi Kia juga bisa menjadi serigala gila.


"Saya mau ketemu anak saya sekarang!" ucap Kia lantang.


"Tapi ini aturanya Bu!"


"Aturan siapa? Saya ibunya saya berhak menemui anak saya!" jawab Kia masih nekat dan tetap mau maju menyerobot satpam.


"Maaf tidak bisa Bu" ucap Satpam menghalangi jalan Kia.


"Iish minggir!" ucap Kia berani menekan tangan satpam.


Lalu satpam satunya mendekat dan berbisik.


"Jangan-jangan ini penculik yang dimaksud orang atas tadi makanya kita suruh kunci pagar"


"Iya yah?" jawab satpam itu mengangguk.


Kia mendengarnya semakin geram


"Kurang ajar kalian ya! Ngata-ngatain saya penculik! Saya ibunya Pangeran, saya ibu kandungnya Pangeran. Denger nggak! Saya mau ketemu anak saya!" teriak Kia membentak.


Lalu Kia mengambil dompetnya menunjukan KTP dan fotonya.


"Nih liat, liat ktp saya dan anak saya. Saya Ibunya Pangeran. Saya mau ketemu anak saya. Nggak ada yang boleh larang saya ketemu anak saya. Paham!" bentak Kia melanjutkan.


Sementara satpam hanya menelan ludah bingung menghadapi emak-emak muda dan cantik model Kia. Mau dikerasi terlalu cantik, mau dilembuti nanti kena omelan atasan.


"Tapi maaf Nyonya, sekarang waktunya anak-anak belejar. Anda bisa menghubunginya nanti" jawab Satpam memberi kompensasi.


"Saya mau lihat dia belajar tunjukan kelasnya" ucap Kia berani.


Akhirnya Satpam mengalah pada Kia dan menunjukan tempatnya. Kia bergegas mencari ruangan tempat anak-anak berlatih koreo.


Kolam renang dan tempat olah raga, berada di sisi gedung, yang tepatnya di sisi kanan pos satpam terpisahkan oleh dinding.

__ADS_1


Meskipun kalau mau ke kolam renang harus masuk ke dalam dulu, tapi dari jarak, kolam dan post satpam sangat dekat.


Aslan, Ipang dan Dafa pun mendengar samar-samar suara Kia.


"Ayah, Ipang seperti mendengar suara ibu" tutur Ipang menggelendot manja di bahu Aslan di tengah kolam.


"Iya, ayah juga dengar" jawab Aslan masuk ke air dan membiarkan Ipang di atas punggungnya.


"Ajak saja ibumu renang Ipang" sambung Dafa yang sedang bermain air.


"Ibuku pasti tidak mau" jawah Ipang.


"Kenapa? Daddy dan Mommyku saja selalu renang bersamaku, apalagi jika kita holiday ke Bali. Iya kan Uncle?" ucap Daffa polos.


"Ya Daffa" jawab Aslan singkat lalu fokus mengajari Ipang.


Ipang yang mendengarnya juga ingin merasakan apa yang Daffa ceritakan.


Aslan membalikan tubuhnya dan kembali hendak mengajari Ipang berenang.


"Pegang tangan ayah ya. Angkat saja kakimu, seperti ayah tadi" tutur Aslan mengajari seperti pelatih renang.


Belum Ipang melakukan yang Aslan ingingkan, Ipang memegang erat ayahnya, menatapnya dan bertanya.


"Ayah, apa ayah mau renang dan holiday bersama ibu seperti momy dan dadynya Daffa?"


Aslan langsung tersenyum sangat senang mendengar pertanyaan Ipang.


"Tentu jagoan. Ayah akan lakukan apapun yang Ipang mau. Tapi bagaimana kalau ibumu tidak mau"


"Nanti Ipang bantu" jawab Ipang.


"Oke!" Aslan mengembangkan senyum bangga ke anaknya.


"Ayo kita latian lagi, pegang tangan ayah, angkat kakimu, latian ambil nafas"


Ayah dan anak itu kemudian berlatih renang bersama.


***


Kia mencari tempat berlatih menari. Setelah bertanya ke petugas Kia sampai ke ruangan latian menari itu.


Di dalam terdengar riuh anak-anak berceloteh dan suara pelatih mengajari. Sesaat Kia tersentuh, suara anak-anak tampak bahagia berlatih. Kia tidak tau anaknya bolos latian.


"Ya Tuhan, salah nggak ya aku ajak Ipang pergi. Tapi aku harus pergi dari kota ini" batin Kia memejamkan mata di depan pintu hendak masuk.


Kia berdiri dulu dan memantapkan hati. Tapi belum jadi mengetuk, pintu itu terbuka. Salah satu pelatih hendak keluar. Sehingga mereka hampir bertarakan


"Ada siapa Nona? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelatih itu, sekali lagi memanggil Kia Nona.


"Saya ibunya Pangeran. Saya harus menemuinya" tutur Kia sopan.


"Oh, Pangeran. Dia tidak masuk kelas pagi ini" jawab pelatih koreo sopan.


"Hah! Tidak latian? Kemana anak saya?" tanya Kia gelagapan panik.


"Silahkan Anda liat sendiri dari balkon situ" jawab pelatih mengarahkan balkon di ujung lorong.


"Dari situ?" tanya Kia menatap aneh ke Pelatih.


"Iya, dia sedang berenang" jawab Pelatih.


"Hah? Berenang?" tanya Kia syok. Kia tau Ipang tidak pernah dia ajari berenang.


"Berenang dengan siapa?" tanya Kia memburu pelatih.


"Anda lihat sendiri saja Nyonya, saya permisi" jawab pelatih tenang dan berlalu.


Sekarang berganti memanggil Kia Nyonya setelah tahu ibunya Ipang.


Kia berjalan cepat dengan langkah panik menuju ke balkon. Matanya langsung melotot melihat ke bawah.


"Kau, dasar?" ucap Kia geram.


Kia melihat dada bidang Aslan yang terbuka lebar dan tampak melatih Ipang renang.


"Hoh." Kia bernafas ngos-ngosan lalu menelan ludahnya sambil berfikir.


"Gue telat satu langkah. Kurang ajar. Bahaya kalau dia cuci otak Ipang, ini tidak bisa dibiarkan!" batin Kia mengepalkan tangan.


****


"Ipang itu ibumu" teriak Daffa memberi tahu Ipang.


Ipang dan Aslan menoleh ke atas tersenyum.


"Ibuu" teriak Ipang kegirangan, ibunya benar-benar datang.


Kia tersentak dari lamunanya dan tersenyum getir ke anaknya. Kenapa Ipang sedekat itu dengan Aslan.


"Ibu sinii" panggil Ipang menggerakan tangan. melambai Kia. Sementara Aslan tersenyum tenang dengan wajah coolnya.

__ADS_1


Kia menelan salivanya dan melirik tajam ke Aslan. Lalu Kia tersenyum dan mengangguk, hendak turun menemui anaknya.


Kia berjalan gontai dan frsutasi. Bagaimana ini? Aslan selangkah lebih maju dari Kia. Niatnya datang mau ambil dan bawa pergi Ipang, kenapa malah Ipang bersama Aslan.


__ADS_2