Sang Pangeran

Sang Pangeran
108. Pengobatan


__ADS_3

Kia keluar dari kamar Ipang, membiarkan Ipang bersama ayahnya. Tapi belum Kia melangkah jauh, Aslan mengejarnya. Dan menghentikan langkah Kia. 


“Malam ini aku tidur bersama Pangeran saja ya! Di atas sepi sendirian” ucap Aslan meminta ijin ke Kia. 


Kia diam dan menatap Aslan memeriksa apa ada niat jahat tersembunyi. 


“Jangan racuni Pangeran untuk memintaku melakukan hal- hal yang aneh sebelum kita menikah KUA!” ucap Kia tegas dan tanpa bosa basi. 


“Ish... ish.. galak amat, iya, iya, 7 tahun aja aku sabar menanti kamu, masa tinggal nunggu akta cerai aja aku nggak sabar! Aku nggak pernah racuni Pangeran apapun kok” jawab Aslan.


“Kupegang kata- katamu!” ucap Kia lagi dengan ekspresi galak.


“Aish! Kok mu lagi sih? Abang! Sebentar lagi kita menikah” jawab Aslan tidak terima Kia kembali ketus. 


“Iya, ya maaf!” 


“Ya udah, berarti boleh ya, aku tidur di kamar Ipang” 


“Boleh,” jawab Kia memberi ijin.


"Makasih Sayang"


"Hmmm"


Lalu Aslan berbalik dan Kia melanjutkan langkah, belum jauh, Kia menoleh lagi ke Aslan. 


“Abang!” panggil Kia ke Aslan. 


“Apa? Kangen ya sama abang? Masih mau ngobrol abang?” 


“Iyuuh narsisnya..., bukan itu! Ipang nggak apa-apa nginap di rumah? Udah ijin Tuan Alvin? Kita udah ngelanggar aturan lho!” tanya Kia mengingatkan karena mereka berdua kembali lagi melanggar aturan peserta bintang kecil.


"Ya, abis ini abang telpon” jawab Aslan. 


“Oke” jawab Kia percaya pada ayah anaknya itu. 


Aslan kemudian kembali ke kamar anaknya dan Kia masuk ke kamarnya. Kia duduk sebentar di kasur, dia tersenyum sendiri. 


“Tidur bareng, liburan bareng, renang bareng?” Kia mengingat ucapan Ipang sambil membayangkan mereka bertiga melakukan semua itu.


“Ibu juga pingin Nak, semoga keinginanmu terwujud ya” batin Kia lagi. 


Meski tidak diungkapkan, tapi Kia juga ingin membahagiakan Ipang, tapi bukan sekarang, melainkan setelah nikah sah. Bukan hanya nikah sirih, tapi yang membunyai buku nikah. Kia ingin jadi perempuan yang terhormat dan berharga apapun masalalunya.


"Hhhhh" Kia mengela nafasnya. Lalu bangun dari duduknya.


Kia melepaskan pakaianya satu per satu setelah itu masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya, dan setelah itu menunaikan sholat Ashar.


Kia kembali mengenakan pakaian panjangnya mengingat sekarang ada makhluk berjenis kelamin laki- laki di rumahnya. Dan saat ini mereka belum halal.

__ADS_1


Apalagi niat Aslan kan malam ini mengunjungi kakaknya sekaligus menjemputnya. Jadi sekalian memakai baju pergi yang cocok.


Kia sendiri dheg-dhegan, setelah tujuh tahun lamanya mereka tidak bertemu. Apa yang akan terjadi nanti. Akankah kakaknya masih bersikap baik, merindukanya? Atau mengusirnya?


Kalau melihat masalalu, rasanya sangat malas bertemu dengan mereka lagi. Tapi sebagai adik yang baik, Kia harus lupakan mereka. Walau bagaiamanapun juga, hubunhan darah tidak akan bisa terganti. Kakak Kia tetaplah Kakak Kia. Dan akan berdosa orang yang memutus tali silaturrahim.


Meski berat Kia mengikuti mau Aslan. Sekarang atau besok, kakak Kia satu-satunya wali Kia sekarang. Aslan ingin besok pagi mereka menikah secara siri dulu agar Aslan bisa tinggal di rumah Kia tanpa ada keraguan dan rasa berdosa. Aslan tau Kia kini bukan Kia yang dulu. Kia perempuan yang menjaga dirinya.


Setelah berdandan rapih Kia keluar, dan benar saja, di sofa empuk di depan TV, Aslan tampak sedang mengobrol dengan seseorang. Memberi perintah untuk mengatur acara besok pagi.


Di sampingnya Ipang sedang duduk mendengarkan ayahnya dan bermain ponsel. Kia tidak berani mendekati anak dan ayah itu, Kia memilih ke dapur menemui Mbok Narti dan Mbok Mina. 


Samar – samar Kia mendengar Mbok Mina dan Mbak Narti sedang bergosip. Kia kemudian berhenti dan berdiri di balik pintu mendengarkan. 


“Jadi Neng Kia dan ayahnya Pangeran memang belum menikah sampai sekarang?” tanya Mbak Narti. 


Mbok Mina menggelengkan kepalanya. 


“Belum, mereka juga ketemu baru...sekitar 3 bulanan” 


“Ouh aku kira"


"Iya. Mbok juga baru tahu"


"Kasian ya Pangeran. Pantas pas audisi Pangeran terlihat menyedihkan"


"Hmmm, jadi Kia menempati rumah ini juga baru?” tanya Mbak Narti lagi. 


“Iya, mereka ketemu ya gara-gara Pangeran ikut audisi itu. Non Kia juga kerja di kantor Den Aslan. Mereka yang dulu terpisah dalam jangka waktu yang lama. Namanya takdir yah siapa yang tahu. Tuhan pertemukan mereka dengan jalan yanh nggak diduga. Simbok seneng banget, meskipun siri dulu, Mbok seneng mereka akan segera menikah” jawab Mbok Mina. 


“Nah mantan istrinya Tuan Aslan tau Mbok?” tanya Mbak Narti kepo. 


“Ya taulah” 


“Apa nggak marah dan nggak nglabrak Kia? Berarti Kia dulu beneran jadi simpanan dan selingkuhan suami orang?” 


“Kalau tentang itu, Mbok nggak tau. Yang pasti Den Aslan bukan lelaki yang mata keranjang atau gampangan, karena Nyonya Paul yang berhianat duluan, harusnya mereka udah cerai sejak lama” jawab Mbok Mina. 


“Oh gitu? Berarti selama ini Kia juga banyak menderita ya Mbok” 


“Iya sekarang waktunya mereka bahagia” jawab Mbok Mina. 


Kia tertegun mendengarkanya, ini yang kesekian kali Kia mendengar. Orang lain pasti mengira Kia perempuan tidak baik, mempunyai anak tanpa nikah. Terlebih jika orang tau ayah anaknya adalah pria beristri. 


Kia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil berfikir. 7 tahun sudah Kia melalui semua ini, menerima semua tuduhan dan cemoohan, menikah atau tidak sama aja Kia akan temui itu.


Kia menghela nafasnya dengan mata terpejam, kini saatnya Kia mengakhiri pertanyaan itu, dan biar dunia tahu siapa ayah Ipang. Kia siap hadapi apapun jalan dan rintangan di depanya nanti. Kia harus menikah demi Ipang.


“Sayang lagi ngapain di situ?” tanya Aslan memergoki Kia bersandar dan memejamkan mata berfikir. 

__ADS_1


Menyadari kedatangan Aslan, tidak ingin membuat Mbok Mina dan Mbak Narti merasa tidak nyaman. Kia langsung beranjak dari duduknya berjalan cepat dan spontan menutup mulut Aslan dari dekat. Jangan sampai Mbok Mina dan Mbak Narti tau Kia menguping.


“Ssssttt!” ucap Kia membulatkan matanya.


Disentuh Kia meski hanya mulutnya dan berdekatan dengan Kia tanpa jarak membuat Aslan bahagia, bahkan adik kecil Aslan yang pintar dan bersembunyi di bawah sana terbangun. Aslan berdiri pasrah mengikuti mau Kia. Rasanya ingin lama-lama dibekap Kia begitu.


"Jangan keras-keras," ucap Kia memberitahu.


Kia pun menyadari tatapan aneh Aslan. Ada hawa panas menyelinap di antara ******* nafas mereka. Jantung Kia pun berdetak kencang seperti ada sambungan listrik yang menjalar dari berdirinya adik kecil Aslan. Kia langsung melepaskan tanganya dan berjalan menjauh dengan salah tingkah. 


Aslan langsung berbalik meraih tangan Kia. 


“Mau kemana Abang mau ngomong!” ucap Aslan. 


“Ngomong apa?” 


“Habis maghrib kita ke rumah kakakmu, berapa anggota keluarga kakakmu, biar abang pakai mobil besar,” ucap Aslan. 


“Oh itu, Kia juga udah 7 tahun Bang, nggak jumpa dan tau kabar Kakak Kia, Mbak Narti dulu tetangga Kakak Kia, tanya sama Mbak Narti aja!” 


“Ya udah ayuk, kenapa malah balik?” tanya Aslan. 


Kia mengangguk, lalu mereka berdua masuk ke dapur, rupanya topik pembicaraan Mbok Mina dan Mbak Narti sudah berbeda.


Melihat kedatangan kedua majikan yang baru saja mereka gunjingkan, Mbak Narti tampak salah tingkah. Apalagi bisa melihat wajah tampan Aslan dari dekat, sungguh akan membuat semua wanita dheg- dhegan dan tak jemu memandang, tidak terkecuali Mbak Narti.


“Mbak Narti” panggil Aslan dingin. 


“Iya Tuan” jawab Mbok Narti menundukan wajahnya sebagai tanda hormat seorang pelayan. Meski ingin menikmati pemandangan ciptaan Tuhan yang indah itu, tapi Mbak Narti harus tau diri.


Aslan tidak melanjutkan pertanyaanya malah melirik ke Kia, Aslan malas dan membatasi berinteraksi dengan perempuan selain Kia.


Kia sedikit demi sedikit memahami Aslan dan pandai mengartikan setiap gerik mata dan bahasa tubuh calon suaminya itu.


“Malam ini kita mau ke rumah Kakak, Mbak, kalau boleh tau anak Kakak berapa? Kakak masih tinggal di rumah yang sama kan?” tanya Kia. 


“Maaf Non, saya sudah hampir 1 tahun tidak pulang, tapi kalau dari grup warga gang mawar, Mak Danu dan Mbak Ranty sekarang pindah ke rusun” jawab Mbak Narti. 


“Ke rusun?” tanya Kia kaget. 


“Iya Non” 


“Terus rumah bapak dan ibu?” 


“Dijual untuk pengobatan Rafli” jawab Mbak Narti. 


Mendengar kata pengobatan Kia terdiam. Seperti ada yang mencekik lehernya dan membuat Kia merasa iba. 


“Kakak sampai menjual rumah untuk pengobatan anaknya? Sakit apa sebenarnya? Mbak Narti memang sudah cerita tempo hari, tapi tidak cerita tentang rumah, apa sebegitu menderitanya kakak?” batin Kia sendu. 

__ADS_1


__ADS_2