Sang Pangeran

Sang Pangeran
125. Pasif


__ADS_3

"Aaaaakh"


Di rumah besar yang sunyi itu, perempuan bertubuh tinggi semampai dan proporsional itu berteriak, membanting semua barang yang ada di meja kamarnya.


Paul benar-benar hilang kendali. Sudah sejak kemarin Nicho susah dihubungi.


"Ach... sial! An*ing! Semua ba**sat!" umpat Paul kesal.


Hari kemarin Paul berharap bisa menemui Nicho di lokasi syuting. Paul ingin membicarakan tentang kehamilanya, tapi Satya justru menunda waktu syuting dua hari.


Paul justru mendapati foto Cyntia berselfi dengan Kia dan Manda. Memang tidak jelas menunjukan foto kemesraan Kia dan Aslan, tapi caption Cyntia : "Finally ya Ki... hari bahagia lo sampai juga". Kia juga memakai kebaya putih dan cantik.


Paul tau kalau Kia dan Aslan menyelenggarakan pernikahan. Di saat yang bersamaan, orang tua Paul yang tadinya menetap di Swiss, memberitahu kalau mereka dalam perjalanan pulang.


Paul belum memberitahu hari ini adalah hari akhir perceraianya. Paul juga belum memberitahu anaknya Alena, Daddy dan mommy nya resmi berpisah.


"Gue nggak terima diginiin!" ucap Paul mencengkeram bed covernya, masih denail dengan keadaanya.


"Kriiing... " telepon rumah Paul berdering.


Paul malas mengangkatnya dan tidak peduli, tapi pembantu Paul mengangkatnya. Dia pun segera melapor ke Paul


"Thok.. thok.., Nyonya!" panggil pembantu Paul dari luar pintu kamar Kia.


"Masuk!" jawab Paul yang sedang duduk di lantai bersadar pada kaki ranjang, rambut Paul berantakan.


Pembantu Paul langsung menelan ludahnya memandang ngeri ke Paul. Pembantu Paul terhenti dan ragu untuk masuk. Paul sangat menakutkan. Mau bertanya peduli tapi takut di semprot.


"Masuk ada apa?" tanya Paul melihat pembantunya ketakutan.


"Telepon dari pengacara Tuan Aslan, Nyonya. Mereka menunggu Nyonya di Kafe Sky, Nyonya!" tutur pembantu Paul melapor.


"Mereka?" tanya Paul.


"Maksud saya Tuan Aslan!"


"Oke! Pergilah! Aku akan menemuinya" jawab Paul.


"Baik Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ning Pembantu Paul mencoba menawarkan bantuan.


"Bersihkan kamarku, aku akan pergi setelah ini!"


"Baik Nyonya."


Ning mengangguk dan berbalik hendak mengambil alat kebersihan. Paul kemudian berdiri dan bersiap mandi.


"Dia mau menemuiku rupanya? Mau apa dia?" batin Paul.


"Oke, kita mulai permainan selanjutnya!" batin Paul menyeringai.


****


Rumah Kia.


"Ayaah!" seru Ipang ketika pintunya dibuka.


Ipang merasa bahagia setelah tadi merasa dicueki.


"Hai anak ayah udah ganteng sekarang! Ayah boleh gendong?" sambut Aslan mengulurkan tanganya.


"Iyah! Ipang mau digendong Ayah" jawab Ipang senang


Aslan membungkukan badanya dan mengangkat Ipang dalam gendonganya.


"Uuh anak ayah sudah besar rupanya. Mana Daffa?" tanya Aslan berbicara pada Ipang yang sudah berada dalam dekapan tanganya.


"Daffa sedang berbicara dengan Daddy dan Mommy nya makanya Ipang ke sini!"


"Oh gitu!"


"Ibu mana?" tanya Ipang.


"Tuh lagi dandan!" jawab Aslan menunjukan istrinya yang sedang mengoleskan lipstik ke bibirnya yang sedikit lecet karena ulahnya.


"Pagi, sayangnya ibu!" sapa Kia ke Ipang menyadari kedatangan putranya.


"Ibu sudah selesai membantu ayah? Pasti lelah ya Bu?" tanya Ipang polos


"Huh!" Kia terbengong, lalu menatap Aslan. Kia tidak nyambung dan konek dengan pertanyaan Ipang.

__ADS_1


"Kalau ibu lelah, Ipang mau kok ikut bantu ibu?" ucap Ipang lagi.


"Maksud kamu apa Sayang? Bantu apa?" tanya Aslan


"Katanya, ibu udah nggak ngurusin Ipang lagi karena ibu sekarang urusin ayah. Kata Mbak Narti pekerjaan ayah sangat banyak. Makanya pagi- pagi ibu harus bantu ayah! Kalau ibu lelah, Ipang bisa bantu. Ipang udah selesai kok mandi dan siap-siap ke rumah Tuan Alvin!" jawab Ipang polos.


"Ehm.. ehm... " Kia dan Aslan kemudian saling berdehem.


Kia menggigit bibir bawahnya lagi dan matany tiba-tiba nanar. Padahal baru sehari Kia mengacuhkan Ipang, tapi Ipang sudah merasakan perbedaan itu. Mbak Narti juga ada-ada saja kasih alasanya.


Ayah dan ibunya sibuk apaan? Tidak ada yang mereka lakukan selain bermesraan. Kia merasa bersalah tiba-tiba mengacuhkan Ipang. Padahal kan seharusnya sekarang waktu Kia dan Ipang melepas rindu.


Ipang dan Kia kan sudah hampir 3 bulan tidak bertemu. Ipang pasti rindu dengan semua kebiasaan bersama ibunya. Eh tau-tau langsung disuruh apa-apa sendiri tanpa ibunya.


"Kemarilah, Sayang, ibu mau peluk Ipang juga." ucap Kia terharu dan bangun dari duduknya.


Aslan membawa Ipang ke Kia. Mereka bertiga kemudian duduk di atas ranjang Kia.


"Siapa yang bilang ibu nggak urusin kamu?" tanya Kia.


"Sekarang ibu udah nggak masakin Ipang sarapan. Ibu juga nggak siapin baju Ipang. Ibu juga nggak rapihin rambut Ipang!" ucap Ipang lagi protes.


Kia kemudian memeluk Ipang dan menatap suaminya cemberut, berbicara lewat sorot mata memberitahu ke suaminya untuk lebih mengerti dan pendekatan dulu ke Ipang, jangan langsung nyuruh Ipang pisah kamar dan nggak boleh masuk ke kamar ibunya.


Aslan menghela nafas kemudian mengelus anaknya.


"Ibu bukan tidak urusin Ipang lagi Nak. Ipang sebentar lagi mau sekolah kan?" tanya Aslan kemudian. Aslan merasa bertanggung jawab menjelaskan.


"Iya, Yah!" jawab Ipang.


"Kalau mau sekolah. Ipang harus belajar mandiri, tanpa bantuan ibu!" sambung Aslan lagi.


"Hmmm"


"Katanya Ipang mau punya adik, jadi nggak sih?" tanya Aslan iseng.


"Bang!" sahut Kia mengedikkan mata, kenapa Aslan bawa-bawa adik ke Ipang.


"Iya, Ipang mau adik!" jawab Ipang bersemangat.


"Kalau Ipang mau Ayah kasih adik. Ipang mulai sekarang harus mandiri. Gimana nanti punya adik kalau Kakanya belum bisa apa-apa sendiri?" tanya Aslan cerdas mengajari anaknya tanpa berbohong.


"Sekarang Ipang udah ngerti kan kenapa Ipang mulai sekarang harus siap-siap sendiri?"


"Iya yah, Ipang ngerti."


"Jadi, ibu bukan nggak peduli Ipang lagi, tapi Ibu dan ayah ingin Ipang jadi anak hebat!"


"Tapi kalau Ipang pingin tidur bareng ayah ibu boleh nggak? Daffa masih suka bareng Mommy dan Daddynya?" tanya Ipang lagi.


"Boleh dong! Kan ayah juga pengen tidur bareng Ipang. Tapi di kamar Ipang ya! Dan nggak boleh tiap hari" jawab Aslan lagi.


"Iyah!" jawab Ipang.


"Toss dulu dong!" ucap Aslan lagi mengerlingkan mata ke anaknya.


Anak bapak itu pun kompak tos bersama. Kia kembali tersenyum melihat anaknya bahagia bersama ayah kandungnya.


"Ayo Bu, cepat ganti baju. Nanti Daffa telat!" ucap Ipang kemudian.


"Ipang ke meja sarapan bareng ayah dulu ya. Ibu nanti nyusul. Ibu ganti baju dulu!" jawab Kia.


"Ya Bu!"


Masih ingin bermanja, Aslan membiarkan Ipang menaiki punggungnya menuju ke meja makan. Saat di ruang tengah mereka berpapasan dengan Danu dan anak istrinya.


"Adik Rafli... mau kemana?" tanya Ipang melihat Pak Dhenya itu membawa koper.


"Adik Rafli mau pulang, Nak!" jawab Aslan tegas, sebelum Danu dan Ranti menjawab.


Jawaban Aslan seakan menyiratkan ke Ranti dan Danu kalau Aslan menginginkan Ranti dan Danu segera pulang. Danu dan Ranti pun menundukan kepala, hatinya tersentil dengan perkataan Aslan.


"Iya, Apli mau pulang... Kaka Ipang mau ikut Apli?" ceplos Rafli.


Rafli merasa nyaman dengan saudaranya itu, meski biasanya dia pendiam kalau dengan Ipang Rafli semangat bicara.


"Besok ya. Ipang main ke tempat adik Rafli kalau Ipang udah selesai ikut Bintang kecilnya!" jawab Ipang.


Danu, dan Aslan tersenyum melihat percakapan anaknya. Aslan kemudian mempersilahkan mereka sarapan dulu.

__ADS_1


Setelah memanggil Daffa mereka kemudian sarapan bersama. Disusul Kia yang sudah cantik dengan gamisnya. Jika biasanya Kia memakai tunik dan celana Kia kini memakai gamis.


Kia berjaga saat nanti ke tempat Tuan Alvin bertemu dengan Jeje. Kia ingin menegaskan dirinya tak serendah yang Jeje pikirkan.


"Terima kasih Kak. Sudah menikahkan kami!" ucap Aslan dewasa mengantar Danu dan Ranti menemui mobil pesanan Aslan.


"Kami yang berterima kasih Tuan. Tolong jaga adik saya!" ucap Danu lirih.


"Tentu saja aku akan menjaga orang yang aku sayang. Aku bukan manusia berdarah dingin yang tega membiarkan wanita hamil keluar dari rumah kok!" jawab Aslan menjadi seperti perempuan Aslan ingin menampakan gertakanya ke Ranti.


Ranti langsung menelan ludahnya gemetar dan menundukan kepalanya.


"Abaang ..." bisik Kia mencubit pinggang suaminya kenapa bahas masalalu Kia.


"Ehm!" Danu berdehem merasa tidak enak.


"Terima kasih sudah menyayangi adik saya. Kalau begitu kami pamit!" ucap Danu lagi.


Suasana pun menjadi canggung karena terang-terangan Aslan mulai menampakan raut ketidak sukaanya pada Ranti.


"Hati-hati Kak!" jawab Kia maju.


Meski Aslan tampak diam dan serem seketika, Kia berusaha bersikap ramah pada kakak dan iparnya.


Kia bersalaman, memeluk dan menyelipkan amplop uang ke kakaknya tanpa Ranti lihat.


"Apa ini?" bisik Danu.


"Buat pengobatan Rafli Kak!" tutur Kia.


Danu hendak menolak tapi Kia mengerlingkan matanya untuk menerima. Danu pun menerima karena Danu memang butuh itu.


Ranti yang sejak tadi mati kutu, tidak mempunyai nyali menatap Aslan dan Kia. Aslan pun menunjukan ketidaksukaanya. Aslan berdiri tanpa menoleh ke Ranti. Mereka pun pamitan seperlunya.


"Daaah adik Rafli, besok kita main lagi ya!" ucap Ipang.


Berbeda dengan orang tuanya. Anak-anak mereka malah saling bergandengan tangan berpamitan. Mereka tidak tahu dan tidak peduli dengan kecanggungan orang tuanya.


"Iya, kakak!"


"Adik Rafli main ke rumah Daffa juga ya. Aku juga saudaranya Pangeran lho" sahut Daffa


"Iya kita semua kan saudaraan!" jawab Ipang lagi.


"Huum, dada kakak!" ucap Rafli.


Mendengar melihat keakraban mereka Kia dan Danu menjadi terharu. Sementara Aslan tetap berdiri dalam mode dinginya.


"Insya Alloh, kalau Pangeran udah di rumah, Rafli bisa sering main bareng ya! Sekarang pisahan dulu!" sahut Kia menimpali.


"Iya Tante!"


"Sudah ya pamitanya, Rafli ayuk pulang!" ajak Danu.


Danu dan Ranti kemudian pulang. Anak-anak mereka pun melambaikan tangan. Kia juga mengajak kedua anak laki-laki sepupuan itu, masuk ke mobil.


"Ipang Daffa yuk. Kita juga berangkat!" ajak Kia.


"Ya Bu!" jawab Daffa dan Ipang berlari menuju ke mobil.


"Nggak pamit sama suami?" bisik Aslan menarik tangan Kia yang berjalan menyusul Ipang dan Daffa.


"Iya Abang, Kia pamit ya!"


"Cium dong!" ucap Aslan menepuk pipinya.


"Iih kan tadi udah. Ada anak-anak juga?" jawab Kia.


"Mereka udah masuk ke mobil nggak lihat!"


"Nggak! Kia buru-buru!" jawab Kia menolak dan berusaha pergi.


Tapi Aslan menarik Kia mendekat dan mencium dahinya dengan paksa.


"Diajari jadi istri solikhah susah amat?" Bisik Aslan


"Hemm!" jawab Kia melengos dan tetap pergi melepaskan tanganya pergi.


Aslan hanya menggelengkan kepala. Kia masih saja pasif.

__ADS_1


__ADS_2