
Di rumah Pangeran.
“Hujanya deres, Yang!” ucap Aslan memarkirkan mobil di garasinya.
“Hemmm ya, ya udah ayo turun kasian Ipang dan Alena!” jawab Kia.
Kia menoleh ke belakang, Alena tertidur. Sepanjang jalan Alena hanya diam, Kia pun bisa mengerti itu. Entah Mommy nya sudah memberitahunya atau belum, kalau Daddynya sudah tidak pulang ke rumah Mommynya lagi.
“Kamu nggak kasian sama Abang?” tanya Aslan malah menanggapi Kia dengan bercanda.
“Kasian sama Abang? Emang Abang kenapa? Kok harus kasian?” tanya Kia tidak peka.
“Ya, Abang juga kedinginan!”
“Ish... Abang nih, sempet gitu mikirin diri sendiri! Abang angkat Alena ya, biar dia tidur di kamar tamu, kasian dia!” jawab Kia tidak mau merespon Aslan yang bicaranya ngelantur.
“Kan ada Fatimah, Sayang!” jawab Aslan mengingatkan.
“Oh iya, ya? Di atas ada Radit juga ya?” jawab Kia ikut berfikir.
Aslan berdecak, kesal, kan, pasti abis ini Aslan lagi yang dikorbanin.
“Ya udah Pangeran di kamar kita dan Alena di kamar Pangeran, kasian kalau harus tidur di kamar atas, bingung nanti dia!” jawab Kia memberi solusi.
“Hmmm!” Aslan pun manyun sangat kesal ke Kia.
Maunya Aslan kan hujan- hujan begini tidur berdua dengan Kia. Meski tidak melakukan itu setidaknya bebas memeluk tanpa hambatan.
Melihat suaminya mendengus kesal Kia pun mendelik.
“Bang,!”
“Ya!”
“Jangan cemberut gitu dong! Pangeran anak siapa sih?” tanya Kia lagi mengeluarkan senjatanya.
“Iya, ya!” jawab Aslan.
Aslan pun turun, lalu menggendong Alena masuk ke dalam rumahnya. Mbok Mina mendengar mobil Aslan meski sudah hampir terlelap selalu siaga membukakan pintu.
Kia juga berusaha memutar tubuhnya, turun sambil menggendong Ipang. Meski bersusah payah, Kia melakukanya dengan penuh kasih sayang.
“Lhoh, Non Alena ikut?” tanya Mbok Mina kaget melihat Aslan menggendong Alena yang terlelap.
“Iya Mbok, minta tolong Narti bawakan koper anak- anak ya!” jawab Kia ramah sambil menggendong Pangeran sementara Aslan berjalan tanpa ekspresi.
“Iya Non!” jawab Mbok Mina.
__ADS_1
Kia menidurkan Pangeran di kamarnya, merapihkanya dan memastikan Pangeran tidru dengan nyaman. Setelah itu Kia menyusul ke kamar Alena memeriksa bagaimana suaminya menidurkan Alena.
Benar sesuai dugaanya, Aslan menidurkan Alena asal. Kia hanya menggelengkan kepalanya.
“Bang Aslan benar- benar kasar dan tidak berperasaan!” batin Kia.
Lalu Kia membetulkan posisi tidur Alena, yang tadinya meringkuk setengan tengkurap, diposisikan terlentang dan kepala bersandar pada bantal. Kia juga melepas sepatu Alena dan blazernya. Tidak lupa Kia memakaikan selimut tidur dengan lembut.
Aslan yang baru dari kamar mandi menuntaskan hajatnya karena selama di mobil menahan buang air kecil, melihat semua perlakuan Kia dengan haru. Tapi bagi Aslan apa yang dilakukan Kia terlalu berlebihan.
“Dia anak orang Sayang! Kenapa kamu begitu menyayanginya?” bisik Aslan mendekat ke Kia yang duduk di tepi Alena.
“Kia tahu Bang, Alena anak orang, masa iya anak siluman kita bawa pulang! Kia sayang semua anak kecil, hati mereka masih polos dan bersih Bang!” jawab Kia.
“Hmmm, maksud Abang, kenapa kamu memperlakukanya seperti ini? Apa kamu lupa? Dia anak orang sudah menyakiti kamu lho!” ucap Aslan lagi.
“Bang…udah kita bahas tadi lhoh. Mau dibahas lagi? Lihatlah Alena sebagai anak kecil, Bang! Kita nggak boleh benci dia!”
“Kalau abang mau bahas tentang salah dan benar, siapa Alena dan bagaimana ibunya. Abang di sini juga salah lho. Alena itu hanya korban dari kesalahan Abang dan Paul!” jawab Kia mengulangi penjelasanya.
Aslan hanya diam.
“Alena masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan dalam hidupnya, dia hanya tau, Abanglah Daddynya. Dia nggak akan paham kalaupun Abang jelasin posisi Abang sekarang, Abang tahu siapa Daddy Alena? Kenapa Abang nggak kasih tau ke dia sejak kecil? Yang salah siapa?”
“So… please Kia mohon ke Abang, bersikaplah dengan hati dan empati, beri Alena kasih saying, beri pengertian ke dia siapa Abang sebenarnya, jika waktunya sudah tiba!” tutur Kia panjang dengan lembut berusaha menyadarkan suaminya.
“Ya!” jawab Aslan patuh, pokoknya apapun kata Kia, sekarang buat Aslan semuanya benar.
“Ya udah biarin dia tidur di sini dulu, besok kita antar Alena ke ibunya!” tutur Kia lagi.
“Ya udah ayo kita istirahat!” ajak Aslan ke Kia.
Sebelum pergi, Kia membelai rambut Alena dan membetulkan selimutnya. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan dan Aslan merangkul Kia mesra.
Ternyata saat Aslan menggendong Alena dan menidurkanya, Alena terbangun. Alena mendengar semua perkataan Aslan dan Kia. Alena pun meneteskan air matanya.
“Ini bukan rumah Mommy!” batin Alena melihat sekitar.
“Jadi Daddy bukan ayahku? No! Aku mau Daddy ayahku, aku nggak mau Daddy lain selain Daddy Aslan!” gumam Alena lagi menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.
Alena kemudian mencengkeram selimutnya menahan kesakitanya. Bagi Kia, Alena memang sangat kecil untuk mengetahui semua itu, tapi nyatanya Alena sudah tahu, dan Alena dipaksa berfikir sesuatu yang tidak semestinya tidak dia fikirkan.
Alena kemudian memiringkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. Alena menangis sejadi- jadinya. Alena merasakan kecewa yang luar biasa. Anak kecil itu dipaksa menanggung kepedihan yang tidak seharusnya.
Daddy yang dia kagumi, yang dia banggakan, orang yang menjadi cinta pertamanya, ternyata bukan Daddynya. Padahal Alena sudah banyak berbuat jahat ke Pangeran. Mommynya yang menjadi panutan untuknya ternyata bohong. Saat Alena butuh, bahkan Mommynya tak memberi kabar.
__ADS_1
Meski Kia baik, Alena sadar, Kia orang asing. Dengan mata telanjangnya dengan kedua kupingnya, Alena melihat Daddynya begitu menyayangi perempuan itu. Harapan mempunyai keluarga utuh dan orang tua yang lengkap pun hilang seketika.
“Mommy dimana?” rintih Alena dalam kesedihanya.
“Apa ini artinya, Daddy dan Mommy sudah berpisah? Hiks… hiks!”
Alena menangis sepanjang malam sampai dia tertidur.
****
Di kamar Aslan.
Tidak tahu dan tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Alena. Aslan membersihkan dirinya dan kini sudah berganti memakai pakaian tidurnya. Aslan nyaman tidur dengan kaos dalam tanpa lengan dan celana boxer. Meski sudah larut malam Aslan tampak segar karena sudah sikat gigi dan cuci muka.
Aslan sengaja meminta ke kamar mandi lebih dulu. Saat Kia di kamar mandi, Aslan melancarkan misinya. Pangeran yang sudah Kia tempatkan dengan hati- hati dan senyaman mungkin tidur di tengah kasur, Aslan pindahkan ke pinggir.
“Begini nyaman kan My Boy!” gumam Aslan sambil mengusap kedua telapak tanganya tersenyum nakal.
Kia kemudian keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya.
“Abang ngapain sih?” tanya Kia heran dengan kelakua suaminya, ngapain juga seret- seret Pangeran ke pinggir.
“He…!” Aslan nyengir menampakan muka isengnya.
Kia hanya manyun dan mengernyitkan dahi. Aslan kemudian mendekat ke Kia dan memeluknya dari belakang.
“Abang kan udah ikutin semua mau istri Abang, Abang ijinin Kamu bawa Alena, abang minta imbalan ya!” bisik Aslan ke telinga Kia sambil menciumi leher Kia.
“Imbalan?” tanya Kia.
Tidak menjawab pertanyaan Kia, Aslan langsung menggendong Kia dan membawanya ke tempat tidur. Dan menjatuhkanya terlentang. Aslan langsung naik dan mengungkung Kia di bawah tubuhnya. Kia gelagapan.
“Abang mau apa? Kia belum bersih!” ucap Kia memeluk tubuhnya sendiri menatap ngeri ke Aslan yang matanya memerah.
“Nggak apa-apa, nggak harus itu!”
“Ada Pangeran Bang!” ucap Kia lagi menawar.
“Dia tidur!”
“Kalau bangun gimana?”
“Ya udah makanya jangan berisik!” jawab Aslan menyingkirkan tangan Kia.
“Abang!”
__ADS_1