
Rendra berjalan tegap menuju ke mobil. Ipang menggandeng Kia mengajak pergi, setelah berpamitan pada ayahnya. Dan saat itu tatapapan Kia tertuju pada Aslan.
Aneh rasanya, Aslan tidak mengantar Ipang atau banyak say helo seperti biasanya. Aslan hanya mengusap kepala Ipang.
Saat Ipang kembali ke Kia pun Aslan tidak menolehnya dan tetap fokus pada pengacaranya.
"Apa memang sefokus itu jika bekerja? Apa aku tidak salah lihat, itu semua berkas perceraian, ahh kenapa aku jadi memikirkanya" batin Kia sambil berjalan keluar menggandeng Ipang.
"Tunggu, tunggu, kalau benar dia mau bercerai, itu bukan karena aku dan Ipang kan? Aku nggak mau jadi kambing hitam. Lebih baik aku menghindar saja dari mereka" batin Kia berfikir sepanjang berjalan ke parkiran.
"Silahakan Nyonya" tutur Rendra membukakan pintu. Ipang melangkahkan kakinya hendak masuk, tapi tanganya dicengkeram Kia.
"No, turun Nak!" tutur Kia dengan tatapan mendeliknya, mencegah Ipang naik.
Melihat ibunya bermuka seram, Ipang memundurkan langkah dan tidak jadi naik.
"Maaf Nyonya. Kenapa anda melarang Tuan Muda Pangeran naik ke mobil?" tanya Rendra tidak terima.
"Saya bisa antar anak saya sendiri, biar kami berangkat sendiri naik bus saja" jawab Kia.
"Mohon maaf Nyonya. Jika anda ingin naik kendaraan umum, silahkan saja. Tapi tidak untuk Tuan Muda Pangeran" ucap Rendra lagi menunjukan ke Kia kalau mereka tidak peduli Kia agar Kia merasa terabaikan.
"Whoaa? Kau menyuruhku meninggalkan anakku padamu? Kamu pikir kamu siapa?" tanya Kia mendelik tidak terima.
"Saya adalah Rendra, sekertaris Tuan Aslan Ayah kandung Tuan Muda Pangeran"
"Tugas saya adalah memastikan Tuan Muda Pangeran sampai dengan selamat dalam perjalanan nyaman tidak kepanasan. Bagaimana tentang anda itu bukan urusan saya! Kalau mau naik taksi silahkan. Tapi tidak dengan Tuan Muda Pangeran" jawab Rendra panjang.
"Ck. Kenapa malah kalian yang mengaturku dan anakku? Seakan kalian yang memiliki Ipang. Menyebalkan sekali! Aku ibunya yang mengandungnya selama sembilan bulan dan merawatnya selama bertahun-tahun. Di mata hukum dan negara. Hanya aku yang berhak menentukan dan mengasuhnya!"
Kia marah-marah ke Rendra di depan Ipang dengan berkacak pinggang. Merasa Aslan dan Rendra mengintervensi dirinya dan seperti mengendalikan aktivitas Ipang.
Sebenarnya Rendra juga paham betul, anak yang terlahir dari ibu di luar nikah sepenuhnya hak ibu. Tapi Rendra tidak mau tau, yang penting tugasnya selesai.
Rendra diam melirik jam tanganya. Sementara Ipang memilih diam memperhatikan.
"Maaf Nyonya, kelas olah vokal Tuan Muda Pangeran sudah dimulai. Tuan Muda sudah bolos dua hari. Kalau hari ini terlambat dan bolos lagi Tuan Pangeran bisa didiskualifikasi, karena kita harus objektif" tutur Rendra mengalihkan pembicaraan.
Kia diam tidak menjawab, rupanya Aslan dan Rendra benar-benar tidak peduli denganya. Sebenarnya Kia juga hanya memegang uang 200 ribu di kantongnya.
Juka Kia pergi sendiria akan menghabiskan uang. Kalau ikut Rendra sedikit lebih irit. Tapi Kia tidak mau dianggap pelakor dan murahan.
"Silahkan pergi naik taksi sendiri dan bekerjalah kembali. Atau ikut saya mengantar Tuan Muda dan nanti saya antar anda ke kantor!" ucap Rendra lagi memberi pilihan.
"Ayo Bu naik saja. Ipang sudah banyak ketinggalan pelajaran" ucap Ipang menarik-narik ujung kemeja Kia sebagai bentuk permintaan.
Kia menarik nafasnya mengambil keputusan.
"Baiklah demi anakku aku ikut" jawab Kia akhirnya. Toh tidak ada Aslan.
Rendra akhirnya tersenyum. Mempersilahkan mereka masuk.
"Nyonya Kia, nyonya Kia, kenapa gengsimu tinggi sekali. Tuan Aslan kan sudah tau dan memikirkan semuanya. Bahkan dompet ktp dan uang anda dalam genggaman Tuan Aslan" batin Rendra duduk di jok depan sambil nyetir mobil.
Barang-barang penting Kia yang tertinggal di rumah sebenarnha langsung dipaketkan ke alamat Aslan. Dan pagi tadi sampai di tangan Aslan. Aslan sengaja menyimpanya agar ruang gerak Kia berada dalam genggamanya.
"Nak" panggil Kia ke Ipang dalam perjalanan.
"Iya Bu"
"Ibu sangat sedih kamu akan kembali ke karantina. Semalam kamu sudah tidak tidur bersama ibu. Setelah ini juga iya, ibu rindu kamu Nak" tutur Kia hangat memegan tangan Ipang.
"Ipang juga sedih Bu, tapi kata ayah Ipang laki-laki dan Ipang sudah besar. Ipang tidak boleh nangis, Ipang kan mau belajar" jawab Ipang ingat nasehat ayahnya tadi pagi.
"Iya Nak. Tapi nanti telepon ibu terus ya!"
"Iya Bu, ibu juga besok jenguk Ipang dan liat Ipang ya!"
"Iya Nak, Pasti!" jawab Kia tersnyum. Kia akan ke studio menonton langsung penampilan anaknya.
Setelah membelah kemacetan ibu kota mereka sampai di tempag karantina. Ipang memeluk Kia erat seakan tidak siap berpisah. Tapi kemudian Daffa keluar dan berteriak kegirangan.
"Pangeraan" panggil Daffa
"Hai Daffa" panggil Ipang menoleh dan melepaskan pelukanya.
Saat melihat temanya sifat manja dan ketergantungan Ipang pada Kia berkurang. Daffa menghampiri Ipang, Ipang dan Daffa kemudian berpelukan. Kia tersenyum lega melihatnya. Ipang tampak bahagia.
"Akhirnya kau kembali. Aku merindukanmu" ucap Daffa
"Aku juga" jawab Ipang.
__ADS_1
"Ehm, anda harus kembali bekerja ke kantor Nyonya" bisik Rendra mengingatkan agar mereka berdua tidak terlalu lama di situ.
"Ya" jawab Kia malas.
"Sayang, Nak Daffa, ibu harus bekerja. Kalian belajar yang rajin ya! Ingat telfon ibu" ucap Kia berpamitan.
"Ya Bu!" jawab Ipang mengangguk.
Setelah cipika cipiki dan berpelukan Kia pergi. Jika Kia dan Ipang berpisah dengan berpamitan baik-baik. Itu membuat keduanya tenang dan sama-sama tidak kecarian.
Sesampainya di parkitan, Kia pun menolak Rendra.
"Saya bisa pergi sendiri!" tolak Kia ke Rendra.
"Ehm. Ya Nyonya!" jawab Rendra meninggalkan Kia tanpa banyak bicara. Sangat cuek, Kia jadi tersudut sendiri karena kesombongaanya tidak ditanggapi.
"Huuft" gerutu Kia.
Lalu Kia berjalan ke halte bus.
"Ck. Ada ya orang sekeras batu begitu?"
****
..........
Pihak 1 akan bertanggung jawab terhadap pihak dua selama pernikahan.
Jika suatu hari terjadi perceraian :
2.a. Jika yang menceraikan pihak 1. (Aslan).
-Pihak satu menyerahkan harta gono gini dan 40 persen dari saham perusahaan pihak 1.
2.b. Jika yang menceraikan pihak dua.
-Tidak ada pembagian harta gono gini.
-Kedua belah pihak membawa harta masing-masing sebelum menikah.
Perjanjian ini di setujui kedua belah pihak dan keluarga besar.
Perjanjian ini ditanda tangani oleh kedua keluarga besar keluarga Nareswara dan keluarga Abigail.
Jika terjadi permasalahan perjanjian ini bisa diubah harus berdasar keputusan kedua keluarga besar.
……….
Setelah mendapatkan penjelasan dari pengacara. Aslan kembali ke kantor dan ke ruanganya. Aslan duduk merenung di kursi kebesaranya.
__ADS_1
Di mejanya sudah berjajar berkas-berkas. Tapi bukan pekerjaan atau kontrak iklan atau laporan penjualan.
Di mejanya sudah ada beberapa berkas perceraian, surat perjanjian dan hasil dua tes DNA.
Tes DNA Alena dan tes DNA Ipang. Anak Aslan memang hanya Pangeran. Semua sudah semakin jelas apa tujuan Aslan yang pantas diperjuangkan.
Aslah terus memandagi surat itu. 7 tahun Aslan menimang-nimang baik buruk keputusanya. Sebenarnya Aslan tau pasti tentang kelakuan Paul. Siapa yang tidur dengannya juga Aslan tau.
Bahkan saat Alena balita dia langsung melakulan tes DNA.
Tapi ayahnya tidak mau mendengarkanya. Entah bagaimana caranya membuktikan ke ayah Aslan agar ayah Aslan hatinya terbuka mengerti penderitaan Aslan.
Ayah Aslan merasa kenakalan Paul biasa. Aslan hanya tinggal menerima dan menjalankan pernikahan bahagia dan mempunyai anak lagi.
Tuan Agung mempunyai hutang budi di masalalu dengan ayah Paul. Itulah sebabnya Tuan Agung tidak pernah mengabulkan permintaan Aslan mengubah dan mendiskusikan perjanjian itu.
Dan jika Aslan nekad mau cerai. Tuan Agung pasti sakit. Di situlah kelemahan Aslan. Tidak tega membiarkan ayahnya sakit.
Aslan juga merasa harus mempertahankan perusahaan ayahnya. 10 persen saham perusahaan dari kolega bisnis Asla. 50 persen kepunyaan Aslan, karena Aslan yang mengembangkanya. 20 persen dimiliki Satya, dan 20 persen masih atas nama Tuan Agung.
Jika Aslan bercerai 40 persen saham jatuh ke tangan Paul. Itu berarti Paul yang akan punya paling banyak menandingi Tuan Agung dan Satya. Aslan sendiri hanya tinggal 10 persen.
Entah hutang seperti apa yang terjadi antara Tuan Agung dan Tuan Abigail. Sampai Tuan Agung rela menjodohkan anak kandungnya dengan perempuan binal seperti Paul. Dan mempertaruhkan perusahaanya.
Tapi pikiran Aslan yang seperti itu dulu, saat Aslan belum tahu jika dirinya punya Ipang. Dan kini saat Aslan bertemu dengan Ipang, mengetahui kehidupan di luar kemewahan dunia tapi ternyata lebih menyenangkan. Aslan memilih tetap bercerai.
Disetujui atau tidak disetujui. Bangkrut atau tidak bangkrut perusahaanya, Aslan tidak peduli. Dengan sisa saham Aslan yang 10 persen ituberarti masih ada triliyunan, Aslan akan merintis usaha baru lagi.
Cerai atau tidak cerai. Tuan Agung memang sudah sakit-sakitan. Bukan Aslan tidak sayang ayahnya dan takut kehilangan ayahnya. Tapi Aslan sudah tidak tahan hidupnya dijadikan korban kesepakatan.
Saat itu juga Aslan menandatangani gugatan perceraian itu. Saat Aslan selesai menutup kertasnya, pintu kerja Aslan diketuk.
"Masuk!" perintah Aslan
Rendra sang sekertaris yang baru pulang mengantar Sang Pangeran masuk.
"Tuan Pangeran sudah tiba dengan selamat Bos Nyonya Kia kembali naik bus" ucap Rendra lapor.
"Naik Bus?" tanya Aslan.
"Nyonya Kia menolak saya antar Tuan Aslan"
"Haishh terbuat dari apa sih hati perempuan itu? Apa aku harus perkosa dia lagi biar dia patuh padaku" ucap Aslan merespon.
"Empt" Rendra tersedak mendengar gumaman Aslan dan ingin tertawa.
Baru saja Rendra mau memuji akting Aslan. Ternyata Aslan pikiranya sudah mulai oleng.
"Kenapa lo ketawa gitu?" tanya Aslan tidak terima
"Ingat misi kita Bos. Hari ini akting Bos sudah bagus, dan Nyonya Kia tampak sedikit melunak. Lanjutkan saja, selama ada Tuan Pangeran dan Nyonya Kia bekerja di sini, hati Nyonya Kia pasti bisa ditakhlukan Tuan"
"Hari ini aku nggak berakting, aku tidak tahu jika aku miskin apa dia mau menerimaku? Apa semakin menjauh? Aku sungguh ingin perkosa dia saja" ucap Aslan lagi terlihat sangat setress.
"Heemmm sabar Tuan. Segala sesuatu yang diawali dengan cara paksa tidak akan berakhir baik, ingat Nyonya Kia perempuan baik- baik. Perlakukan dengan cara yang baik!" tutur Rendrq menasehati.
"Baiklah aku harus menjauh darinya dulu sampai perceraianku beres. Paul pasti akan menyerangnya" ucap Aslan lagi meregangkan tanganya.
"Tapi bukankah perceraian kalian menguntungkan Nyonya Paul. Kenapa Nyonya Paul menolak perceraian? Dan memusuhi Nyonya Kia?" tanya Rendra.
"Karena Paul takut ayahku merubah perjanjianya. Ayahku selama ini masih membelanya dan memaafkan kesalahanya karena ibu tiriku. Entahlah. Aku tidak tau pastinya. Mungkin ada alasan lain. Sudahlah aku tidak peduli. Antarakan surat ini saja! aku sudah menandatanganinya" ucap Aslan menyerahkan surat gugatan Aslan.
"Anda yakin tidak mau berusaha lebih sabar dan katakan pada Tuan Agung untuk mengubah perjanjian?" tanya Rendra hati-hati.
"Ayahku sembuhnya lama, bicara saja masih susah. Itu juga belum tentu setuju. Mana mungkin aku mengajaknya berdiskusi tentang ini? Orang tua Paul juga tidak akan mudah menyetujuinya" jawab Aslan.
"Apa anda yakin sudah siap miskin?" tanya Rendra lagi.
"Aset pribadiku masih ada kalau hanya untuk makan dan minum dan sekolah Pangeran. masih cukup. Kalau kau mau berhenti bekerja dariku, sebentar lagi waktunya akan tiba" ucap Aslan lagi.
"Ehm. Tidak begitu Bosku. Aku setia padamu!"
"Sebentar lagi, jika ketuk palu perceraian, selain menjadi duda, aku akan jadi pengangguran. Untuk apa kau setia padaku?"
"Kita buka perusahaan baru saja, Tuan" saran Rendra tersenyum.
"Aku masih ingin bersantai menghabiskan uangku, merasakan menjadi bawahan sepertinya menarik" jawan Aslan malah ngebanyol.
"Lalu bagaiaman nasib Nyonya Kia Tuan?"
"Oh iya hubungi Satya, minta pekerjaan padanya untuk Kia. Aku nggak mau Kia jadi karyawan Paul" jawab Aslan ingat permintaan Kia agar Kia tidak berkerja di tim Delvin lagi.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Rendra kemudian menghubungi Satya. Aslan kan memang hari ini mau menemui Satya dan Manda.