Sang Pangeran

Sang Pangeran
110. Menyesal.


__ADS_3

Menyusuri tangga kayu usang, berjalan melewati balkon yang di tepianya banyak cucian pakaian Aslan dan Kia mengikuti Ranti.


Saat melewati bilik- bilik mereka mendengar berbagai macam suara, ada waktu dimana mereka samar- samar mendengar gelak tawa, ada yang beradu mulut, ada yang sedang asik memainkan alat musik bersama atau sorak sorai orang menonton bola. Ya rusunawa berisi dengan banyak orang dan berbagai warna. 


Dan kini mereka berada di depan pintu no 66 yang Ranty sudah lebih dulu masuk. Kia berdiri sejenak, terselip datang rasa pilu di hatinya, belum Kia bertemu dengan kakaknya matanya sudah nanar, kenapa hidup kakaknya terlihat menyedihkan.


Pintu rusunawa kakaknya catnya tampan mengelupas, ditutup dengan stiker gambar pinokio khas anak kecil, jendelanya juga tampak buram, bisa dibayangkan bagaiamana dalamnya. Jauh lebih baik tempat tinggal Kia, sekarang ataupun dulu.


“Kita sudah sampai sini, kenapa berhenti, ayo masuk, Sayang!” Aslan dengan lembut mengusap bahu Kia yang tertutup tunik dan hijab. 


Meski Aslan ragu, dan Kia tampak risih menerimanya, sentuhanya cukup membuat Kia mendapatkan kekuatan. Secepat kilat Aslan menarik tanganya lagi, memilih mengangguk memberikan senyuman kepercayaan diri. 


“Masuklah... ayo!” Ranty membukakan pintu. 


Dheg 


Jantung Kia seperti mau runtuh, ruang tamu kakaknya sempit. Tidak ada sofanya apalagi hiasan mahal seperti di rumahnya.


Di kasur lantai yang kumal, kakaknya tampak memangku balita yang berumur 4 tahun yang tampak terlelap, tapi semua anggota badanya tampak aneh, kecil kurus seperti kekurangan gizi, bibirnya pun tampak biru dan pucat. Kia menelan ludahnya, iba. Rasanya Kia ingin menangia sejadinya tapi dia tahan.


“Assalamu’alaikum Kak” sapa Kia. 


“Wa’alaikum salam, masuk lah, silahkan duduk!” jawab pria yang duduk memangku anaknya dengan senyuman sendu.


Kakak Kia yang dulu tampak gagah dan sehat kini tampak layu. Semua daging otot dan ketampananya seperti pergi entah kemana. Menyadari kedatangan tamu. Kak Banu menidurkan anaknya di kasur lantai yang kumal itu.


Kia dan Aslan kemudian ikut duduk di karpet lantai. Aslan tampak risih, tapi demi Kia dia lakukan semua itu.


Kia memajukan dirinya mendekati kakakya. Kia mencium tangan kakaknya, dan memeluknya, melepaskan kerinduan yang mendalam dan air matanya lolos begitu saja, saat kedua tubuh satu darah itu menyatu.


Aslan di belakangnya mengelus bahu Kia pelan pelan mendengar isakan Kia. Kak Banu ikut menangis mengungkapkan rasa bersalah dan menyesal sambil memeluk Kia. Mereka berpelukan agak lama.


“Duduklah Dhek, apa kabarmu? Maafkan kakak! Maafkan atas semua kesalahan kaka selama ini” bisik Kak Banu tulus. 


Kia melepaskan pelukan kakaknya sambil menunduk dan terisak. Dan kini Aslan yang menyalami Banu. Aslan tampak lebih muda dari Banu meski sebenarnya Aslan 1 tahun lebih tua dari Banu.


Setelah duduk mengatur nafasnya sebentar dan menyeka airmatanya, Kia memulai buka suara. 


“Apa kabar kakak? Kenapa Kakak tinggal di sini?” tanya Kia masih dengan sesenggukan.


“Seperti yang kamu lihat, kakak baik- baik saja! Maafkan kakak tidak bisa menjaga peninggalan Bapak Ibu” jawab Kak Banu tidak berani menatap Kia, wajah kak Banu sangat terlihat memendam dosa dan malu yang amat sangat ke Kia. 


Kia kemudian menoleh ke balita yang ada di dekatnya dan membelaiya lembut. 


“Siapa namanya Kak? Berapa usianya. Dia tampak tampan seperti Kakak” tanya Kia lembut. 


“Rafli Tante...” jawab Ranty dari dalam membawa nampan berisi beberapa cangkir teh, teko dan camilan. "Ayok silahkan diminum!" ucap Ranty sambil menyajikan teh.

__ADS_1


"Terima kasih Kak"


“Namanya Rafli Danu Pratama, dia anak kedua kami.” Tutur Kak Danu menjelaskan. Kia yang sudah mendapatkan cerita anak pertama kakaknya meninggal mengangguk.


"Nama yang bagus," jawab Kia.


“Anak pertama kami meninggal Kia, dan dia juga mempunyai kelainan jantung, tiga bulan lalu dia selesai operasi! Kami jual rumah untuk dia.” sahut Ranty menceritakan berniat mengiga pada Kia. 


“Ikut berduka cita Kak! Maaf Kia tidak tau dan tidak bisa membantu,” ucap Kia. 


"Kan tidak ada yang terlambat, sekarang kita sudah ketemu lagi!" ucap Ranty lagi entah tidak tahu apa artinya.


Banu kemudian menggerakan tanganya memberi kode ke istrinya untuk menjaga bicaranya.


"Iya Kak!" jawab Kia mengangguk saja.


“Kamu tahu dari siapa kami tinggal di sini? Apa kabar kamu? Sepertinya hidupmu jauh lebih baik sekarang?” tanya Ranty tanpa rasa bersalah dan dosa. 


Kia tersenyum getir mendapat pertanyaan iparnya. Kia menoleh ke Aslan yang duduk di belakangnya. Memang lebih baik, tapi Kia jiga punya masalah sendiri.


Aslan tampak dingin seperti biasa, tapi saat Kia menoleh dia kembali tersenyum, lalu menegakkan badanya. 


“Kami tau tempat ini dari karyawan kami!” jawab Aslan. 


“Oh Karyawan?” ceplos Ranty langsung menutup mulutnya sendiri dengan senyuman dan kerlingan mata liciknya. Benar tebakanya laki-laki yang dibawa adik iparnya ini bos.


“Ooh kalian mau menikah? Wah wah wah” ucap Ranty spontan. 


“Kakak senang mendengarnya, Kakak bersedia, kapan kalian akan menikah?” tanya Danu lembut. 


Kia tidak menjawab dan menundukan wajahnya lagi. Kia malu hendak menjawab tentang pernikahanya, karena pernikahan siri bukan pernikahan yang Kia inginkan. 


“Besok pagi!” jawab Aslan tegas.


“Hooh!” ucap Ranty spontan. “Besok pagi? Mendadak amat?” tanya Ranty sok akrab.


“Iya maafkan kami. Rencanaya memang mendadak. Datanglah bersama kami malam ini! Kami datang untuk menjemput kalian” ucap Aslan lagi. 


“Aduh aduh kok keburu begini, aku jadi malu, aku belum siapkan baju dan make up, oh iya apa nanti udah disiapkan baju couple? Untuk kami?” tanya Ranty lagi. 


Kia dan Aslan kemudian saling tatap lagi. Acaranya diam-diam mana ada baju kondangan.


“Oh ya pastinya udah dong ya... kami kan kakakmu satu- satunya pasti udah ada hadiah juga buat kami?” tanya Ranty lagi tidak tahu malu. 


“Maaf Kak, tidak perlu ada baju kondangan kok. Pernikahan akan dilakukan di rumah dengan sederhana dan sederhana” jawab Aslan. 


“Ups! Kok gitu?” jawab Ranty. 

__ADS_1


“Iya Kak, kami ingin halal dulu, ini pernikahan sementara sambil menunggu persyaratan nikah KUA lengkap. Setelahnya baru kita pikirkan langkah selanjutnya, perlu resepsi atau tidak?” jawab Aslan lagi.


“Hah? Maksudnya nikah siri?” tanya Ranty dengan nada merendahkan. 


“Iya!” jawab Aslan tegas. Sementara Kia yang sudah hafal sifat iparnya diam merasa tidak nyaman. Pasti kakaknya akan mengatainya. 


“Ow ow, begitu rupanya? Kenapa nggak nikah resmi langsung? Apa kamu masih punya istri? Jangan-jangan ?” tanya Ranty lagi dengan lugas masih tega mah mengatai Kia.


“Saya sudah duda kami sudah resmi cerai. Secepatnya pernikahan KUA akan segera kami urus, hanya saja kami ingin lebih terjaga dan leluasa saat bersama. Jadi kami ingin mendahului dengan nikah agama. Saya bertanggung jawab atas itu semua” jawab Aslan lagi dengan sopan memposisikan Banu dan Ranty sebagai orang tua mereka.


“Oh Duda?” Ranty malah mengomentari status Aslan. 


“Nggak apa- apa,  bagus kok, Kakak akan datang dan ikut kalian, semoga setelah ini pernikahan KUA nya segera terlaksana dan menyusul, tolong jaga adik saya dan bertanggung jawablah!” Danu menimpali dengan sopan.


"Saya pastikan semua itu. Saya akan bertanggung jawab!" ucap Aslan lagi.


“Terima kasih Kak!” jawab Kia sopan. 


“Diminum dulu teh nya, biar kakak siap- siap. Oh ya belum kenalan. Mau jadi adek masa belum kenalan!” ucap Danu kemudian.


“Saya, Aslan, Aslan Nareswara” 


“Hoh, yang suaminya artis itu? Berarti kamu saingan sama artis cantik itu? Wah! Pantas saya nggak sing dengan wajahnya, ganteng pisan, kaya orang blesteran! Berarti calon suamimu ini bos besar kan Kia?” tanya Ranty lagi dengan wajah berbinar mengenal nama Aslan.


“Ehm!” Kia berdehem tidak nyaman sekali dengan sikap iparnya. 


“Kami sudah bercerai!” jawab Aslan menegaskan. 


“Oh ya ya. Syukurlah! Kami tidak ada yang tahu. Habis belum muncul di televisi. Ya udah , sok sok, diminum tehnya, biar saya siap- siap dulu!” ucap Ranty sambil mengerlingkan mata ke suaminya. 


Ranty kemudian masuk ke kamarnya mengambil baju ganti dan mengambil peralatan perbekalan Rafli. Dan kini hanya tersisa Danu, anaknya, Aslan dan Kia. 


“Maafin Kia Kak!” ucap Kia ke Danu sendu.


“Kenapa minta maaf Ki? Kakak yang minta maaf padamu, maafkan kakakmu yang tak berguna dan berdosa ini!” tutur Danu dengan rasa bersalahnya. 


“Kia juga minta maaf tidak pernah pulang dan tau kabar Kakak” 


“Kakak yang harus minta maaf tidak mencarimu dan mencari tahu kabarmu, bagaimana kabarmu dan anakmu? Bagaimana hidupmu selama ini? Kamu tinggal dimana?” tanya Danu sambil melirik ke Aslan. Danu belum tahu tentang anak Kia dan ayahnya. 


“Alhamdulillah, hampir 7 tahun aku tinggal di kota Y kak. Kami hidup dengan baik. Kia di sini sekitar dua bulan jalan tiga bulan. Maaf Kia tidak langsung menemui Kakak. Anakku tumbuh sehat dan pintar Kak, usia sebentar lagi usianya genap 6 tahun!” jawab Kia bercerita.


“Ehm... terima kasih Tuan Aslan mau menikahi adik saya yang sudah punya bontot, keluarga kami juga bukan keluarga terpandang. Terima kasih” ucap Danu sungkan ke Aslan dan merasa keadaan Kia yang sudah punya anak adalah kekurangan. 


“Kenapa harus terima kasih, aku ayah anak Kia, itulah sebabnya kami ingin segera menikah meski nikah agama dulu, maafkan saya terlambat menemukan Kia! Maafkan saya baru datang sekarang, saya yang sangat berterima kasih pada Kia, karena dia tidak menggugurkan anakku dan merawatnya selama ini, saya mencintai Kia dan anak kami, dan saya akan menjaganya sebisa saya agar kami tidak terpisah lagi.” ucap Aslan terus terang pada Danu. 


Mendengar penuturan Aslan Danu terhenyak. Dan langsung menoleh ke Aslan kaget. Dan Ranty yang sedang memakai bedak di balik kamar ikut mendengarkan, dia tanpa sadar menjatuhkan bedaknya sehingga kacanya pecah dan menimbulkan suara.

__ADS_1


Ranty menelan ludahnya menyesal dulu sudah mengusir Kia. Kalau saja tau ayah dari anak yang dikandung Kia adalah pengusaha besar, Ranty tidak akan berani menyuruh Kia menggugurkan kandunganya dan mengusirnya. Yang ada harusnya Ranti meminta pertanggung jawaban dan mendompleng kekayaanya


__ADS_2