
Aslan menutup telponnya. Bibir dan wajahnya yang tadinya bergerak ke kanan dan ke kiri bahagia berselimut cinta, kini kembali membeku.
Sebagai anak walau sebenci apapun, dan seburuk apapun perlakuan ayahnya padanya, Aslan tetap sayang dan menghormatinya. Aslan berdiri di balik dinding kaca ICU yang tembus pandang.
Sosok laki-laki yang dulu berwibawa dan tegas kini terbaring lemah dengan banyak alat menempel di tubuhnya. Satya tampak duduk di sampingnya mengenakan pakaian khusus penunggu dari rumah sakit.
"Tuan Agung masih kritis dan semoga segera sadar!" ucap salah seorang dokter.
Aslan tidak tahu dunia kedokteran, dia hanya mengingat apa yang dikatakan dokter jadi hanya kata itu yang terpatri di hatinya.
Kata kritis, kata yang Aslan dan Satya artikan pembatas antara hidup dan mati seperti tak ada sekat lagi, tinggal kemana Tuan Agung memilih. Itu sebabnya, mereka bertiga bertahan di situ.
Satya yang bertugas di dalam. Manda dan Bu Wina di luar dengan berdoa. Sementara Aslan otaknya berjalan.
"Apa Aslan yang buat papa sakit begini atau papa sendiri yang menyakiti hati papa dan tidak mau berdamai dengan kenyataan Pah?"
"Apa kepergianku membuat papa sakit? Kenapa Papa sakiti diri papah sendiri? Kia menantu yang baik untuk Papa, Pangeran juga cucu yang hebat dan menyenangkan?"
Aslan terus bertanya sendiri. Berharap laki-laki yang terbaring lemah itu bangun dan menjawabnya.
Apa salah Aslan?
Aslan sebagai pihak yang dirugikan dan dihianati Paul. Bahkan jika Aslan mau mengikuti ketentuan hukum, Aslan seharusnya pihak yang menang, bukti perselingkuhan Paul Aslan kantongi.
Tapi Aslan tidak mau mempermalukan keluarga besarnya. Bahkan selama ini Aslan lah yang membayar dan menghandle media agar perceraianya tertutup.
Setiap ada akses yang berupaya meliput perceraian dirinya dan mantanya, anak buah Aslan segera membungkam. Itulah sebabnya selama ini aman.
Aslan sebaik itu, Aslan masih memikirkan harga diri Paul, Alena dan keluarganya. Aslan masih menjaga nama dan kehormatan Paul di mata umum.
Aslan hanya ingin cerai dan hidup bahagia bersama anak dan perempuan yang selama ini terlunta dan menderita karenanya.
Aslan hanya ingin menebus kesalahanya. Menjadi ayah yang baik untuk anak kandungnya, mengganti tangis Kia menjadi tawa dan hidup bahagia.
Bahkan dengan sukarela Aslan mengikuti aturan ayahnya. Menyerahkan semua hasil kerja kerasnya untuk Paul dan keluarga. Meninggalkan rumah dengan cacian.
"Hhhhh... " Aslan menghela nafasnya panjang berdiri bersedekap dengan pandangan mata tak berarah.
"Tuhan, setidaknya jelaskan padaku. Apa salahku? Beri kesempatan, aku mengetahui alasan Papa melakukan semua ini?"
Satu-satunya harapan Aslan untuk ayahnya, papa Aslan sadar, menjelaskan kenapa selalu Aslan yang dikorbankan. Kenapa Aslan yang menjadi penyebabnya.
__ADS_1
Dalam kepiluanya, Aslan ingat pesan isrinya. Meski belum sempat melampiaskan has*atnya, dan menumpahkan benihnya, mereka memang sempat bergumul dalam kegiatan panas yang membuat mereka berhadas. Kia benar, Aslan harus mandi.
"Gue keluar dulu ya! Telpon gue kalau ada apa-apa!" ucap Aslan pamitan ke Manda.
"Iya Kak!" jawab Manda.
Aslan kemudian ke mobilnya, Aslan termasuk laki-laki yang telaten dan bersihan. Di mobil selalu tersedia pakaian ganti, alat mandi dan alat sholat. Aslan kemudian mandi di mushola rumah sakit sekaligus menunaikan sholatnya.
Setegar-tegarnya Aslan, tetap saja Aslan manusia biasa yang mempunyai hati dan emosi. Aslan menitikan air mata di atas sajadahnya.
Aslan memohon dengan segenap hati, Aslan ingin segera menyelesaikan hubungan dengan Paul. Aslan hanya ingin bahagia bersama anak dan istrinya.
Untuk ayahnya, Aslan hanya bisa memohon jalan terbaik untuknya. Memberikan semua tanya dalam dirinya.
Karena sudah sore. Aslan lama di mushola, sekalian menanti magrib. Aslan kembali ke keluarganya setelah isya. Untung mereka orang kaya dan Aslan kenal dengan pemilik rumah sakit, mereka mempunyai ruang tunggu khusus.
"Makanlah dulu Kak!" ucap Manda saat Aslan kembali.
"Apa dokter sudah memeriksa papa lagi? Bagaimana keadaan papah?" tanya Aslan tidak menjawab tawaran Manda.
"Tanya Mas Satya Kak!" jawab Manda.
Aslan berjalan masuk, bergantian dengan Satya. Aslan menunggui ayahnya. Digenggam eratnya tangan ayahnya sampai lama. Keadaan Tuan Agung masih sama, belum sadar.
Aslan memijat keningnya, berusaha mengurangi penat karena lama menunggu di rumah sakit. Sepertinya harapan hidup Tuan Agung tinggal menghitung kancing, hidup atau mati. Aslan hampir putus asa.
Tapi tiba-tiba tangan Tuan Agung bergerak.
"Pah, papa sadar? Ini Aslan, Pah." ucap Aslan bahagia dan menggenggam tangan Papahnya.
Aslan segera menghubungi dokter. Dokter segera memeriksa.
"Alhamdulillah, Tuan Agung membaik dan berangsur stabil" ucap Dokter di hadapan Aslan dan Satya.
Semua kemudian mengucap syukur. Tuan Agung memang sering ngeprank anak- anaknya, tapi tetap saja dia belum bisa komunikasi dan masih harus dirawat intensif.
"Terima kasih Dok!" ucap Aslan membiarkan dokter pergi.
"Kata Kia, Daffa sudah tidur di rumah, biar saja dia di rumahku! Kalian kalau mau pulang, pulang saja" ucap Aslan memberitahu Satya agar tidak usah mampir ke rumahnya.
"Syukurlah, kalau begitu biar kami yang tunggu papah. Kakak pulanglah!" tutur Satya melihat jam tangan sudah menunjukan pukul 10 malam dan merasa mereka saja yang menunggu ayahnya. Nyonya Wina sudah pulang lebih dulu bersama sopirnya.
__ADS_1
Aslan diam melirik Manda. Sebenarnya Aslan juga sangat rindu istri barunya, rasanya ingin segera pulang dan memeluk tubuh indah Kia yang tinggi dan berisi itu, pasti menyenangkan dan menghangatkan.
Kia satu-satunya obat lelah Aslan. Tapi melihat Manda seorang perempuan, jika harus begadang di rumah sakit rasanya tidak tega.
"Aku saja yang di sini. Kasian istrimu! Kalian pulanglah!" jawab Aslan mengalah.
"Kak Aslan aja yang pulang. Aku tidak apa-apa. Kalian kan pengantin baru, Kak Kia juga sudah menjaga Daffa, pasti Kak Kia udah nunggu Kakak. Kakak pulanglah!" jawab Manda merasa dia saja yang menunggu mertuanya.
Karena Manda sendiri yang meminta. Aslan mengangguk dan mau.
Dengan kepala peningnya. Aslan menyusuri jalan malam yang diwarnai kucuran hujan, menahan rasa dingin yang menusuk Aslan pulang ke rumah barunya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Aslan sampai. Hanya tinggal lampu depan yang menyala. Sepertinya anak dan istrinya sudah tidur.
Aslan juga yang berpesan jangan menunggunya. Aslan melirik jam tangan sudah menjelang dini hari. Aslan membuka pintu rumah dengan hati-hati, takut membangunkan penghuninya.
Tapi ternyata, meski sudah mematikan lampu dan memejamkan mata, Kia masih terjaga. Bahkan belum ada 5 menit yang lalu Kia masih mondar mandir.
Kia ingin menanyai suaminya tapi takut dibilang cerewet dan posesif.
"Kata Singa Gila itu, aku jangan menunggunya dan kunci pintunya saja. Mungkin dia tidak pulang!" batin Kia meletakan ponselnya.
"Kalaupun dia pulang, apa yang harus aku lakukan kalau dia memintaku lagi. Aku harus gimana? Mau atau tidak ya? Dia jelas-jelas mengingkari janjinya!"
Kia menelan ludahnya. Hanya memikirkan dan membayangkannya saja irama jantung Kia meningkat. Dalam hal ini Aslan sepertinya ingkar janji.
Isi pesan Aslan saja semua mengarah kesana, prospek memberi hadiah adik kecil yang manis untuk Ipang.
Karena tidak bisa tidur, Kia mematikan lampu kamar dan menyusul anaknya. Kia memilih tidur di kamar Ipang. Alih-alih melepas rindu, Kia memeluk Ipang di ujung ranjang, jadi Ipang diapit ibu dan sepupunya.
Aslan masuk tanpa mengucapkan salam. Tidak perduli dengan perjanjian Kia, Aslan ingin mencurahkan rasa lelahnya. Aslan langsung masuk ke kamar Kia.
"Sayang, Abang pulang," ucap Aslan menyalakan lampu kamar Kia.
"Hemmm" gumam Aslan, betapa kecewanya dia istrinya tidak ada di kamarnya.
Padahal saat Aslan meraih gagang pintu dan tidak dikunci. Aslan sudah sangat bahagia dan otaknya travelling kemana-mana.
Tidak mau kecewa, Aslan kemudian berjalan ke kamar Ipang, dengan hati-hati dibukanya pintu kamar Ipang.
"Hhh..." Aslan menghela nafasnya kesal. "Kenapa Kia harus tidur di kamar Ipang sih?"
__ADS_1