Sang Pangeran

Sang Pangeran
44. Asthma


__ADS_3

"Ibuuu"


Saat Aslan dan Kia berdebat di ruang tamu terdengar suara Ipang memanggil. Meski bercampur suara hujan tapi Kia tetap mendengar karena kamar Ipang terbuka.


Aslan dan Kia sama-sama terbangun dan kompak mendatangi Ipang.


"Ada apa Nak?" tanya Aslan dan Kia kompak.


Mereka berebut masuk dan duduk di sisi Ipang. Mereka syok melihat keadaan Ipang yang terbangun setengah duduk dan memegang dadanya.


"Heehhaah heehhaah" Ipang tampak kesusahan bernafas dan wajahnya pucat.


"Ipang Sayang" panggil Kia panik, duduk dan memegang Ipang.


"My Boy kamu kenapa?" tanya Aslan lembut, berdiri membiarkan Kia yang duduk di tepi Ipang.


Meski sama-sama panik mereka menunjukan respon yang berbeda. Jika biasanya Kia langsung memeluk, kini Kia segera beranjak mengobrak abrik laci dan Aslan yang berganti memeluk Ipang.


"Tenang My Boy. Ayah di sini bersamamu" tutur Aslan penuh hangat ke Ipang dan membiarkan Kia mencari obat.


"Nafas Ipang sesak Ayah" keluh Ipang lemas sambil berusaha ambil nafas.


"Dudulah Nak, sini ayah pangku" ucap Aslan membantu Ipang setengah duduk dalam pangkuanya.


"Tenang Nak. Kamu jagoan, semua akan baik-baik saja. Ikuti ayah ya!" tutur Aslan lagi membantu meredakan serangan asthma Ipang.


"Iya, Ayah!" jawab Ipang pelan.


"Ambil nafas dalam, hembuskan pelan, seperti ayah" Aslan mengajarkan teknik bernafas ke Ipang.


Ipang kemudian mengikuti Aslan, meski masih sesak, tapi apa yang Aslan ajarkan sedikit mengurangi keluhan Ipang, sambil menunggu Kia menemukan obatnya.


"Alhamdulillah ketemu, pakai ini Nak!" ucap Kia lega dan menyodorkan inhaller ke Aslan.


Saat seperti ini mereka tampak seperti keuluarga yang lengkap dan bahagia. Ipang pun merasa senang berada di tengah kedua orang tuanya.


Aslan mengambil inhaler dari tangan Kia, Aslan memakaiakanya dengan tenang, seakan sudah biasa menangani Ipang, berbeda dengan Kia yang tampak gusar dan gugup. Padahal Kia yang selama ini merawat Ipang.


"Hirup obatnya ya?" tutur Aslan lagi memberikan inhaler. Ipang mengikutinya.


Setelah memakainya meski masih sesak sedikit tapi lebih lega.


"Apa anak Ayah sering sesak begini?" tanya Aslan menepuk-nepuk punggung Ipang sambil menggendong dari depan.


"Ipang lupa" jawab Ipang lemas dan menyandarkan kepalanya ke dada Aslan.


"Dia kambuh satu tahun yang lalu" ucap Kia menjawab pertanyaan Aslan, Kia berdiri di belakang Aslan dan Ipang.


"Dia mewarisi ibuku" ucap Aslan memberi tahu.


Asthma salah satu penyakit menurun, Ibu Aslan juga mempunyai penyakit asthma. Itu sebabnya Aslan sangat tenang menghadapinya.


"Begitukah?" tanya Kia melembut.


"Emem" Aslan hanya menganggguk lembut ke Kia sambil menimang Ipang.


"Mungkin karena hujan dan dingin jadi dia kambuh lagi" tutur Kia lagi.


"Kau pasti banyak menemui kesusahan karena hal ini, saat begini kamu harus tenang, Ipang juga banyak menangis dan ketakutan. Dia masih terlalu kecil. Kau jangan terlalu galak padanya" tutur Aslan menasehati.


Kia menunduk dan mendengarkan Aslan. Meski Kia tersudut, tapi Kia tidak membantah. Kali ini perkataan Aslan terdengar begitu hangat dan menenangkan. Ipang sendiri tidak berasa sudah terlelap dalam gendongan Aslan.


Kia terharu melihatnya, ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. Rasa sakit itu bercampur dengan keharuan dan kehangatan yang ingin terus dikembangkan.


Tapi Kia bingung mau memilih yang mana. Kia juga merasa keputusanya benar. Lalu omongan Aslan mulai mengusik pikiran Kia.


"Benarkah Alena bukan anak Tuan Aslan. Siapa laki-laki di hadapanku ini? Kehidupan seperti apa yang dia jalani. Kadang dia terlihat sombong, arogan, dan semaunya. Tapi kadang dia sangat lembut dan hangat. Oh Tuhan please please. Jangan jatuh cinta Kia. Dia masih punya istri"


"Tutup pintunya, udara di luar sangat dingin, buatkan air hangat juga!" perintah Aslan lembut melihat Kia melamun.


Kia pun tersentak dan tersadar dari lamunanya.

__ADS_1


"Iya" jawab Kia patuh.


Lalu Kia keluar. Tidak peduli apa kata orang, dia bertiga bersama Aslan. Kia menutup pintu ruang tamu dan pintu kamar Ipang. Lalu Kia ke dapur, membuat minuman hangat untuk Ipang.


Kia melirik jam yang menempel di dinding. Ternyata sudah siang dan hampir melewatkan dzuhur. Lalu Kia memilih untuk sholat.


Semua rencana dan perjanjian perdebatan Kia lenyap. Kia sendiri belum menyiapkan apapun. Rendra dan Randit sendiri belum menampakan batang hidungnya. Sepertinya rencana berangkat ke ibu kota sore ini gagal.


"Thok.. thok" Kia mengetuk kamar Ipang pelan. Aslan tampak sedang menidurkan Ipang.


"Ada apa?" tanya Aslan bangun menghampiri Kia.


"Waktu dzuhur sebentar lagi habis. Anda muslim kan?" tanya Kia lembut.


"Dheg"


Hati Aslan langsung tersentak. Sudah sekian lama Aslan meninggalkan sholat. Terakhir sholat saat dia berkunjung ke sahabatnya yang jadi ustad. Saat Aslan curhat tentang pernikahanya.


Dan ini untuk pertama kalinya Aslan diingatkan sholat kembali. Oleh seorang perempuan yang dulu dianggap perempuan bayaran.


"Halo, kenapa melamun?" tanya Kia menggerakan kedua tanganya di depan wajah Aslan sambil menampakan senyum cantiknya.


Aslan terbengong dan terhipnotis oleh senyuman Kia. Senyumnya begitu tulus, tapi Kia memang selalu manis, jangankan saat tersenyum marah-marah pun sangat menggemaskan.


"Ya Tuhan, beruntung sekali aku dipertemukan dengan bidadari ini. Ijinkan aku memilikinya, kenapa tidak dari dulu aku menyadarinya" batin Aslan menatap Kia.


"Ah iya aku muslim" ucap Aslan sadar.


"Tempat wudzunya di sana. Aku tunggu di tempat sholat ya, tempat sholatnya di situ!" tutur Kia ramah menunjukan arah kamar mandi dan tempat sholat.


Aslan tercengang lagi.


"Me-menungguku?" tanya Aslan gugup.


"Iya. Kita jamaah ya!" jawab Kia ramah.


Mendengat kata jamaah Aslan tampak ragu dan mengusap tengkuknya plintat plintut. Tentu saja Kia mengerti bahasa tubuh itu.


Aslan menjadi terpaku dan diam merasa tidak berguna.


"Maafkan aku Ki, belum bisa jadi imammu. Aku malu, sudah bertahun-tahun aku meninggalkan sholat, mulai sekarang aku akan lebih giat lagi, aku akan aku pasti bisa jadi imammu nanti" batin Aslan berjalan ke kamar mandi.


Setelah selesai sholat Kia ke dapur. Melihat kedekatan dan kasih sayang Aslan ke Ipang hati Kia sedikit luluh. Kia kemudian berinisiatif membuat masakan untuk tamunya itu.


"Ehm, Tuan Aslan" panggil Kia canggung. Setelah melihat Aslan selesai sholat.


"Iya, ada apa?" jawab Aslan mendekati Kia.


"Ya Tuhan kenapa aku mendadak jadi gugup berdebar begini" batin Kia saat Aslan mendekatinya.


"Sekertaris dan supir Anda? Kenapa mereka belum kembali? Apa mereka akan makan di sini? Kalau iya aku akan masak porsi besar, kalau tidak aku masak secukupnya" tanya Kia ragu.


"Porsi besar saja!" jawab Aslan singkat.


"Oke" jawab Kia menngguk lali membalikan badanya membelakangi Aslan.


"Apa artinya kau memasak untukku?" goda Aslan menatap punggung Kia dan membuat Kia berhenti dan berdecak.


"Ehm. Jangan GR ya! Aku memasak untuk Ipang, dan" jawab Kia spontan dengan wajah kesalnya tapi omonganya terpotong.


"Dan aku kan?" tanya Aslan PD.


"Bukan! Bukan kamu, tapi tamuku"


"Katakan saja iya. Tidakkah sekarang kita tampak seperti suami istri?" tanya Aslan lagi dengan senyum nakalnya.


"Hah. Benar-benar ya, sepertinya tingkat kebaperanmu terlalu tinggi Tuan. Apa kau tidak diajarkan bagaiamana menerima tamu. Aku memasak ini bukan hanya untuk kamu. Tapi tamu, jadi semuanya! Pak Rendra, Sopir Anda, saya, dan Ipang juga. Semua inu dilakukan karena hati baik saya. Bukan karena Anda, Ishh" jawab Kia berkacang pinggang dan berbicara banyak sekali.


"Hemm begitu?" Aslan hanya berdehem dan mengangguk tapi tetap denga tatapan nakalnya.


Sementara Kia menatapa geram. Dan membalikan badanya lagi. Kia mulai memotong-motong bahan masakan. Kia merasa dirinya diperhatikan seseorang. Dan dia menoleh ke belakang. Benar saja dengan wajah tengilnya Aslan duduk berpangku tangan menatap Kia.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih di situ?" tanya Kia kesal.


"Aku ingin menemanimu masak!"jawab Aslan santai.


"Tidak perlu! Aku tidak butuh batuanmu!" jawab Kia ketus


"Sungguh?"


"Pergi!" usir Kia memegang pisau.


"Hemmm" Aslan hanya berdehem pasrah.


"Pergi Nggak!" bentak Kia lagi mengangkat pisaunya.


"Ya ya" jawab Aslan mengangguk. Akhirnya Aslan mengalah.


Lalu Aslan masuk ke kamar Ipang lagi. Menikmati waktu berharganya. Masuk ke selimut Ipang dan memeluknya hangat. Aslan melupakan semua urusan kantor.


Aslan kemudian menelpon Rendra.


"Pulanglah istriku membuatkan makanan untuk kalian" ucap Aslah di telepon sudah percaya diri kalau Kia itu istrinya.


"Kami sedang makan Tuan" jawab Rendra gugup karena kenyataanya Rendra memang sedang menyantap nasi dan gurameh bakar.


"Aku tidak peduli. Cepat kembali dan habiskan masakan istriku nanti. Kalau sampai dia kecewa dan cemberut. Mati kau di tanganku!" ancam Aslan


"Baik Tuan" jawab Rendra akhirnya mengalah dan pasrah merelah kenikmatan gurame bakar di tempat yang Indah.


Meski hari masih hujan. Randi dan Rendra tetap pulang ke rumah Kia. Saat mereka sampi Aslan sudah terlelap memeluk Ipang.


"Ya ampun kasian sekali kalian" ucap Kia melihat Rendra menyebrang hujan dari mobil masuk ke rumah Kia dan sepatu mahal mereka kena lumpur.


"Tuntutan Nyonya Kia sudah kami cabut" lapor Rendra dingin.


"Seharusnya kalian tidak usah pakai acara lapor segala. Salah kalian sendiri" cibir Kia batal berempati.


"Hemm" jawab Rendra.


Lalu Kia masuk ke dalam rumah dan membuatkan minum hangat. Adzan ashar tersengar. Kia segera mandi dan sholat Ashar..


Setelah dirinya rapih Kia ingin membangungkan Ipang. Tapi Kia terhenti, saat melihat Aslan dan Ipang berpelukan dengan nyaman.


"Huuuft" Kia kemudian berbalik. Dan saat bernalik tangan Aslan meraihnya.


"Kenapa tidak jadi membangunkanku?" tanya Aslan membuka matanya.


"Iissh, lepas!"


"Ya. Apa Rendra sudah kembali?"


"Sudah, cepat bangun dan segera pergi dari rumahku"


"Aku akan pergi jika kau dan Ipang ikut dengan kami" jawab Aslan.


"Mana surat perjanjianya?" tanya Kia ingin memperdayai Aslan.


"Tidak ada, bersiap-siaplah. Kita berangkat setelah makan!" jawab Aslan memerintah tanpa mau di sanggah.


"Wuooh"


"Tidak usah bengong begitu. Kemasi bajumu!"


****


Hehehe.


Buat tambahin semangat author dan biar percaya diri.


Bantu kasih like koment dan vote yaa.


Semoga menghibur.. Maaf author masih sering tidak percaya diri menulisnya. Maaf kalau banyak kekurangan.

__ADS_1


__ADS_2