
Kini semua keluarga dan sahabat Aslan Kia berkumpul. Mereka akan berangkat ke pulau D dengan bus eksklusif dan naik ke kapal bersama.
Meski di apartemen sempat bertemu dan beradu pendapat, setelah sampai di rumah Kia dan berbaur dengan banyak orang, Rendra dan Cyntia bersikap seolah semua baik- baik saja dan tak ada apapun di antara mereka.
Saat Cyntia tiba di rumah Kia. Rendra yang tiba terlebih dulu, tampak akrab dengan seorang perempuan paruh baya yang cantik dan berhijab. Rendra terlihat sangat penurut sopan dan seperti orang baik. Bahkan perempuan itu terlihat lengket dan sangat sayang ke Rendra.
Cyntia jadi heran melihatnya. Seorang laki- laki gesrek mesum dan saraf seperti Rendra dekat dengan perempuan alim, tatapan perempuan itu juga terlihat sangat teduh. Bahkan di hati Cyntia terbersit ke irian. Semenjak orang tuanya menikah lagi. Cyntia seperti anak terbuang. Apalagi setelah kemarin Cyntia bercerai, keluarganya semakin menyalahkan dan menjauhi Cyntia.
Cyntia ingin juga merasakan kasih sayang orang tua yang pengertian, lembut dan mengayomi. Orang tua yang bisa tunjukan jalan kebenaran menuju tatan hidup yang damai dan bermartabat.
"Dia benar- benar pandai melakukan pembohongan publik dan berlindung di tampang polosnya. Dasar!!" batin Cyntia manyun dan mencibir, merasa tidak terima melihat laki- laki yang dia anggap sebenarnya punya banyak aib mendapat kasih sayang dari orang baik.
Cyntia kemudian menghampiri Kia yang berada di kamar. Kia terlihat mendandani Alena. Sementara Ipang malah asik bermain sendiri bersama Rafli.
"Kia...!" panggil Cyntia agak bingung, melihat Alena yang patuh dan nurut ke Kia, rambutnya sedang Kia kepang. Perban di dekat bibir Alena juga masih terpasang.
"Hai... udah datang kamu! Makan dulu sana!"
“Gue udah makan!” jawab Cyntia tersenyum, lalu Cyntia menatap Kia dengan tatapan mengkode dan bertanya.
“Dia ikut?” bisik Cyntia yang dimaksud dia Alena.
“Iya! Ikut!” jawab Kia.
“Emaknya nggak nyariin?” tanya Cyntia lagi.
“Mulai sekarang, aku juga emaknya Alena! Iya kan Sayang?” jawab Kia mantap dan menanyai Alena yang kini rambutnya sudah rapih dan cantik.
Alena mengangguk dengan sangat manis dengan tatapan polosnya.
“Hoh!” Cyntia hanya melongo dan heran.
Kia tersenyum ramah ke Cyntia.
“Suamiku daddynya Alena, itu berarti dia juga anakku, right?” tanya Kia dengan kerlingan matanya.
Cyntia yang tau segalanya mendesis lalu berbisik lagi.
“Bukanya Aslan nggak mau akuin dia? Ini gimana sih? Pangeran apa kabar?” bisik Cyntia tidak mengerti pemikiran Kia.
Kia diam lalu menyuruh Alena ke depan.
“Alena Sayang, ke Mbok Mina dulu sana! Alena belum makan kan? Makan dulu, abis itu kita berangkat!” ucap Kia ramah.
“Ya Bu!” jawab Alena, mulai sekarang Alena juga memanggil Kia dengan sebutan Ibu. Setelah Alena pergi Kia kemudian mengajak Cyntia duduk.
“Aslan ayah kandung Alena? Katanya Alena bukan anak Aslan? Yang bener gimana sih ini?” tanya Cyntia penasaran.
“Ayah kandung Alena bukan Abang! Dia punya ayah!”
“Nah terus? Ngapain dia ikut kalian? Kamu ngga nyari penyakit buat berurusan dengan Paulina kan?” tanya Cyntia lagi.
“Lo apaan sih? Penyakit gimana?”
“Dia anak Paulina bersama lakii- laki lain Kia? Baik kamu dan Aslan bukan siapa – siapanya Alena? Ngapain kamu rawat dia?” tanya Cyntia lagi berfikir rasional.
Kia menarik nafas panjang dan tersenyum menatap Cyntia penuh dengan pengertian.
“Kamu lihat apa yang terjadi dengan Alena kemarin kan? Apa salahnya aku selamatkan hidup seseorang? Alena berhak bahagia!” jawab Kia.
__ADS_1
“Tapi Kia, lo bukan ibunya! Aslan juga bukan ayahnya!”
“Di mata hukum, Alena masih anak Bang Aslan!” jawab Kia lagi.
“Tapi kan kenyataanya enggak! Apalagi pernyataan Rendra kemarin? Itu bisa jadi perkara lho!” Ucap Cyntia memperingati.
“Nggak apa-apa, biar Bang Aslan yang urus dan tentuin, yang pasti kita sepakat buat ambil Alena. Gue nggak tega biarin Alena hidup dengan ibu macam Paulina. Meski begitu, Alena juga bebas bertemu dengan Mommynya dan memilih dengan siapa dia akan tinggal!” jawab Kia bijak dan ramah.
“Gue nggak ngerti deh Kia sama pikiran kalian, jadi kalian mau perjuangin hak asuh Alena?”
“Yap!” jawab Kia mantap.
“Kia... lo punya Pangeran! Lo juga akan punya anak lagi! Kalian bisa rawat anak kalian sendiri kenapa harus ada Alena?” tanya Cyntia masih tidak mengerti.
“Hhhhhh!” dengus Kia gemash ke Cyntia.
"Udah sih fokus anak kalian sendiri!"
“Kamu nggak ngerti Cyntia. Kamu punya anak dulu deh, nanti kamu akan ngerti! Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin menyelamatkan hidup Alena tanpa menghilangkan sosok Mommynya. Fokusku sekarang adalah, yang penting Alena selamat dulu. Biar Paulina menyadari kesalahanya, kalaupun tidak ya biar seterusnya Alena bersama kami! Kamu tahu kan? Hal mengerikan apa yang kemarin terjadi ke Alena? Itu hampir terjadi lagi di rumah sakit! Aku nggak bisa tinggal diam menempatkan seorang gadis kecil berada dalam bahaya meski itu ibu kandungnya sendiri!” tutur Kia panjang memberi alasan.
“Hoh!” Cyntia hanya terbengong.
“Apa yang Paulina lakukan sudah bukan kategori mendidik anak, tapi penganiayaan. Paulina sepertinya juga banyak mengalami guncangan hidup, tidak baik untuk tumbuh kembang Alena. Biarkan Paulina sembuh dulu! Aku juga tidak akan merebut Alena sepenuhnya dari ibunya kok. Kita juga akan temukan Alena pada Ayah kandungnya! Kalau memang Paulina bisa memperlakukan Alena dengan baik, Alena juga mau, aku akan persilahkan!” lanjut Kia lagi.
“Terserahlah, aku pusing dan nggak ngerti sama pemikiran kamu!” jawab Cyntia.
Kia tersenyum lagi, lalu menepuk lengan Cyntia.
“Nanti kamu akan mengerti kalau kamu udah punya anak, segeralah makanya!” ucap Kia meledek Cyntia.
“Ish... apaan sih? Segera apa?”
“Ishh!” Cyntia hanya manyun.
“Menikah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita cintai itu ternyata menyenangkan dan indah Cyn! Karirmu melejit dalam waktu dekat, apalagi yang kamu cari, sempurnakan hidupmu, temukan pasangan yang bisa bahagiakan kamu!” tutur Kia lagi.
Kia yang sudah merasakan kehebatan rudal Aslan dalam keadaan sadar dan ridzo, menerima dan menyadari secara nyata bentuk cinta Aslan pada dirinya bisa mengatakan kalau menikah itu indah.
Kia juga menyesal pernah berfikir untuk menutup hati pada laki- laki, karena kenyataanya, kita butuh orang lain dalam mengarungi kehidupan. Kia juga merasa sangat bahagia bersama Aslan.
“Gue masih trauma Ki!” jawab Cyntia mengingat pernikahan sebelumnya bagaikan neraka. Sampai sekarang Cyntia juga belum menemukan sosok yang menurutnya pas.
“Trauma itu harus dihadapi dan dilawan Cyn! Gue yakin kok, dari ribuan laki- laki yang kamu temui, satu di antara mereka ada yang akan jadi jodohmu dan mencintaimu apa adanya! Menjadi ayah dari anak- anakmu! Yang penting, kamu harus mau buka hati kamu! Jangan terpaku pada masalalu! Oke?” tutur Kia lagi.
“Hemmmm!” Cyntia hanya berdehem, entahlah Cyntia lupa bagaimana itu cinta.
“Sayang!”
Dari luar kamar, terdengar suara Aslan memanggil dan mencari Kia. Kia pun menjawabnya.
“Iya Bang, Kia di kamar Alena!” jawab Kia bangung ke arah pintu. Kamar yang tadinya untuk kamar tamu dijadikan kamar Alena, sementara tamu semua diarahkan di lantai atas.
“Bus nya udah datang. Ayuk berangkat! Udah siap kan?” tanya Aslan
“Udah!” jawab Kia.
Mereka kemudian segera bergegas dan mengambil koper masing- masing. Besok pagi adalah pengesahan pernikahan Aslan dan Kia secara hukum negara, sekaligus perayaan kecil- kecilan bersama keluarga dan rekan terdekat Aslan.
Aslan memilih mengadakan pesta di pulau D, karena memang Aslan masih mempunyai aset resort di sana. Tempatnya juga sangat indah di tepian pantai dengan pasir putih yang lembut dan bersih.
__ADS_1
Sahabat- sahabat Aslan dari luar negeri juga akan lebih mudah berkunjung karena mereka menyukai tempat itu. Hal yang paling penting dari itu semua juga, privacy Aslan dan Kia lebih terjaga, sehingga acaranya akan berjalan dengan khidmat.
Pak Sentot yang sedang dicari- cari Paul juga sudah datang dan justru ikut Aslan bersama anak dan menantunya. Karyawan setia Aslan yang selalu melaporkan keadaan perusahaan Nareswara juga datang seperti Delvin dan Putri.
Ipang yang sudah banyak mengenal rekan ibu ayahnya pun memilih duduk dan bercerita dengan Delvin dan Putri ketimbang duduk bersama ayah ibunya.
“Om Baik!” pekik Pangeran saat bertemu Delvin.
Pangeran sangat ingat orang- orang yang memperlakukanya dengan baik di tengah banyak orang yang mencacinya.
“Hai jagoan! Lama tidak bertemu, sudah besar rupanya! kau tumbuh dengan sehat, Nak!” ucap Delvin membercandai anak mantan bosnya.
“Iya dong!”
“Selamat ya! Anak ganteng, kemarin jadi juara! Kapan main ke kantor lagi? Om punya banyak buku lagi!” ucap Delvin lagi,
“Ipang sebenarnya ingin main ke kantor Om, tapi ibu sekarang sibuk bersama ayah. Ibu juga kan tidak menulis lagi. Padahal Ipang masih ada buku yang belum selesai Ipang baca lho!” jawab Pangeran polos.
Delvin tersenyum mendengar cerita Ipang, Delvin kemudian melirik Kia dan Aslan. Aslan tampak dingin pura- pura tak mendengar sementara Kia tersenyum malu pada mantan atasanya itu. Setelah menikah Kia kan juga harus urus bayi tuanya.
“Sini duduk sama Om, buku mana yang belum selesai kamu baca biar Om ceritain!” jawab Delvin mengangkat dan menggendong Pangeran agar duduk bersamanya. Mereka asik ngobrol seperti Om dan Ponakan.
Saat Pangeran ikut ke kantor, Delvin memberi Pangeran beberapa buku dongeng bergambar. Meski belum sekolah karena Kia dan Fatimah telaten mengajari Ipang, Ipang sudah pandai membaca.
Aslan dan Kia membiarkan Pangeran bersama Delvin, sementara Alena bersama Mbok Mina dan Mbak Narti.
Setelah dipimpin doa bersama oleh Pak Sentot, sopir Bus menyalakan mesinya agar berangkat. Bus pun melajua.
Di bangku belakang, karena Cyntia tidak punya teman, dia duduk sendiri di dekat karyawan- karyawan Aslan yang laki- laki.
Lama- lama merasa risih, Cyntia kemudian berpindah di kursi barisan perempuan berhijab yang tadi dia liat bersama Rendra. Itulah satu-satunya bangku kosong yang berada di dekat perempuan.
“Permisi Bu, boleh saya duduk di sini?” tanya Cyntia ramah ingin duduk di slot 3 bangku. Perempuan itu menoleh ke Cyntia dengan tatapan teduhnya.
“Oh, boleh, boleh banget, silahkan Nduk!” jawab Umma Arini ramah.
Cyntia pun duduk satu bangku dengan Umma dan Kikan.
“Kakak saudaranya Kak Kia ya?” tanya Kikan menyapa Cyntia.
“Ah...ya bukan saudara sih, tapi teman rasa saudara!” jawab Cyntia.
“Kakak yang main di film “Itu Kamu* kan!” ucap Kikan lagi sksd sempat melihat triller film terbaru Cyntia.
“Iyah benar, nonton ya!” jawab Cyntia ramah.
“Ah senengnya aku bisa bertemu Kakak, aku fans kakak lho! Aku pasti akan nonton. Teman- temab sekolah Kikan juga suka. Kak Cyntia ternyata cantik banget ramah lagi! Kita foto bareng nanti ya! Teman- temanku akan iri padaku nanti” ucap Kikan lagi berapi- api.
“Iya boleh- boleh, makasih ya!” jawab Cyntia lagi dengan senyum sensualnya. Cyntia ternyata punya fans anak remaja.
“Ah Kikan, seneng banget, sampai jantung Kikan mau copot Kak! Oha ya belum jadi kenalan, kenalkan ini Ummaku, namanya Umma Arini! Aku Kikan, sepupu Kak Aslan!” jawab Kikan ceria.
Cyntia pun menyambut dengan ramah menyapa Umma dan Kikan. Cyntia baru ngeh kenapa Umma baik ke Rendra.
"Dia bukan ibunya pria gesrek itu kan? Beda banget!" batin Cyntia menebak. Cyntia belum tahu kalau orang tua Rendra meninggal, orang yang dituakan Aslan, Rendra dan Satya adalah Umma Arini.
Umma, Kikan dan Cyntia kemudian mengobrol akrab. Cyntia langsung nyaman di dekat Umma. Kikan si fans Cyntia juga sangat menyukai Cyntia.
“Dia pandai sekali sksd dan pdkt dengan semua orang? Ngapain di dekat- dekat dengan Kikan dan Umma, apa ini bagian dari pdkt nya? Wah parah, dia bilang dia sudah tidak mengidolakanku dan mengabaikanku kenapa dia malah dekat- dekati Ummaku!”
__ADS_1
Di pojokan bangku bus kecil itu seseorang yang memakai baju casual memperhatikan Cyntia dan Kikan yang tampak mengobrol dengan seru.