Sang Pangeran

Sang Pangeran
BC-3


__ADS_3

Kata orang, beda antara benci dan cinta itu sangat tipis. Dan kata agama juga, Tuhan Maha membolak balikan hati manusia.


Itulah sebabnya dalam hidup kita tidak boleh terlalu membenci seseorang, tidak baik juga terlalu mencintai seseorang. Semua harus masih dalam norma dan di kadar serta jalan yang benar, sebab semua hal yang berlebihan tidak baik. 


Dua Insan yang dulu selalu berselisih dan saling menjatuhkan, bahkan membuatnya menangis kini saling peluk mesra. Hingga larut dalam dunia indah yang hanya mereka berdua miliki dan rasa. Sampai rasanya tak ingin melepas dan tak peduli dengan dunia di luar kamar itu. 


Padahal saat Ipang terbangun mencari Ayahnya dan Omnya. Ipang langsung menggedor pintu kamar Rendra. Tapi tak ada sahutan.


“Umma... Om Rendra tidak jawab panggilanku!” adu Pangeran lesu ke Umma.


Ipang kesepian, Kikan dan Alena kan perempuan mainanya kutek dan alat make up. Pangeran senang kalau ada Rafli dan Daffa. Kalaupun tidak dia butuh Rendra dan ayahnya. 


“Om Rendra mungkin lelah, Nak. Sudah Ipang sini saja sama Umma, temani nonton tv ya!” tutur Umma mengajak Pangeran menonton tivi agar tidak bosan. 


“Hmmm!” Ipang hanya berdehem manyun. 


“Pangeran mau nonton apa? Sukanya apa? Biar pilih sendiri!” tutur Umma lagi tidak ingin membuat Ipang bete. 


“Terserah Umma aja!” jawab Ipang tak bersemangat.


“Coba Umma cariin chanel yang bagus ya!” tutur Umma memencet remote, mencari saluran televisi yang bagus. 


“Umma kenapa sih? Kalau orang sudah menikah, kalau di kamar lama dan nggak boleh diganggu?” ceplos Ipang polos yang membuat Oma langsung menoleh dan meletakan remot, Ipang hanya mengeluhkan keadaan sekarang Om Rendra sama dengan ayahnya.


“Hemmm” Umma berdehem berfikir dan geram ke keponakan laki- lakinya, semuanya pasti pada egois dan tidak memikirkan anak. Hanya memikirkan kesenanganya sendiri.


“Pangeran, orang yang sudah menikah itu urusan dan bebanya tambah banyak, jadi butuh waktu istirahat lebih. Jadi mereka begitu! Pangeran sebagai anak, harus maklum ya. Ayah dan ibu tetap menyempatkan waktunya kan sama Ipang?” tutur Umma memberitahu. 


“Iya sih. Tapi tak sebanyak dulu. Ipang jadi suka ayah ibu pas belum menikah!” ceplos Ipang lagi membuat Umma terhenyak. 


“Lhoh kok gitu?” 


“Pas belum menikah, Ayah dan Ibu sangat perhatian ke Ipang bahkan berebut sayang ke Ipang! Kan Ipang seneng kalau diperhatikan!” tutur Ipang lagi. 


“Lho... itu perasaan Ipang saja. Ayah dan Ibu tetap perhatian kok. Nggak boleh ngomong gitu lagi ya, kalau ayah ibu nggak nikah nggak boleh bersama kamu malah nanti bingung! Kamu harus milih di antara keduanya?” jawab Umma lagi.


“Iyakah Umma? Kalau tidak menikah tidak bersama?” 


“Iya, kamu mau mereka berpisah seperti dulu?"


"Tidak!"


"Ibu dan ayah bukan cuekin kamu sekarang, tapi Pangeran sudah besar, Ibu dan ayah juga harus bagi waktu, apalagi nanti kalau udah ada adik bayi...Ipang harus terbiasa mandiri. Nyatanya ayah dan ibu tetap sayang kamu kan?” tanya Umma lagi. 


“Iya Umma, mereka masih sayang! Aku mau adik bayi!” jawab Ipang kemudian.


"Kalau gitu, Ipang harus terbiasa berbagi, berbagi kasih sayang dan waktu ayah ibu ya!"


"Ya Umma!"


Umma pun mengelus kepala Ipang lembut sambil terus memberi pengertian.


Dalam hati Umma pun geram, pantas saja Tuhan belum memberi amanah Aslan dan Kia hamil lagi, setelah menikah mereka malah mengesampingkan anak yang sudah ada.

__ADS_1


Umma pun dalam hati membatin harus siap menceramahi Aslan dan Kia. Meski Ipang sudah besar tapi kan Ipang juga sama seperti Kia yang baru merasakan kasih sayang Aslan.


**** 


Di poli kandungan. 


Aslan dan Kia keluar ruangan dengan ekspresi berbeda. Aslan tampak lemas tak berdaya sementara Kia tanpa ekspresi.


Mereka pun masuk ke mobil mau ke rumah Rendra, mengingat kedua anak mereka masih di rumah adik sepupunya.


“Dengar kan Bang tadi apa kata dokter?” tutur Kia di dalam mobil. 


“Hemmm!” jawab Aslan hanya berdehem sambil fokus menyetir, karena Aslan tau pasti Kia mau ngomel. 


“Kita berdua semuanya normal sehat Bang. Kalau mau jadi Baby, berhubungan juga diatur waktunya, ****** yang sehat itu 2 atau 3 hari, nggak kaya Abang maunya terus- terusan. Kita juga harus happy dan nggak boleh stress atau ambisi! Jangan tekan Kia buat hamil cepat!” tutur Kia manyun- manyun.


“Ya...!” jawab Aslan. 


“Kita udah ada Ipang ma Alena, udah jangan iri sama Rendra dan Cyntia kita lalui saja rumah tangga kita ngalir apa adanya, Abang sayang kan sama Kia? Kita kan nggak KB, kalau udah waktunya pasti nanti ada kok. Kita juga baru kan nikah!” tutur Kia lagi. 


“Iya, Sayang! Maafin, Abang yang tertalu menekan kamu punya anak lagi! Abang cinta kamu apa adanya. Cuma kadang bayangin seru aja, kalau di rumah ada anak kecil. Abang pengen rasain ganti popok anak Abang. Maaf ya” jawab Aslan sambil satu tanganya mengusap kepala Kia.


"Bener ya, nanti kalau Kia hamil, Abang yang gantiin popok anak kita!"


"Hemmm... itu kiasan Sayang!" jawab Aslan.


Kia pun tersenyum geli.


Jika waktunya tiba pasti akan ada adik Ipang.


Ipang sangat bahagia mendengar suara mobil ayahnya datang dan langsung berlari menyambut ayah ibunya.


Aslan dan Kia kemudian mengajak Ipang dan Alena pulang. Sayangnya Alena memilih bermalam dan mau main dengan Kikan dulu, sementara Pangeran pulang bersama Kia dan Aslan. Kia pun setuju.


Ipang jadi senang malam ini bisa bermanja dengan ayah ibunya.


“Rendra dan Cyntia kemana Umma?” tanya Aslan mau pamitan pulang. 


“Di kamar! Tidur mungkin! Dari tadi nggak keluar kamar dipanggil, Ipang juga nggak nyahut!” jawab Umma bercerita.


“Oh!” jawab Kia tersenyum dan melirik ke Aslan. 


Kia bahagia mendengarnya, berdasar cerita Kikan kan, selama menikah ini, mereka berdua tetap seperti kucing dan tikus. Rendra sering disuruh tidur di luar karena Cyntia marah. Berarti hari ini ada kemajuan, mereka berdua tidur berdua.


“Syukurlah kalau mereka akan akur!” tutur Kia. 


“Umma mau ngomong sama kalian!” tutur Umma bersiap menasehati Kia. 


Mereka bertiga pun menjauh dari Ipang. Umma menegur Aslan dan Kia agar lebih memprioritaskan Ipang, meski mereka pengantin baru. Aslan pun jadi kembali terpojok. 


“Iya Umma, maaf!” jawab Aslan patuh. 


“Umma juga pernah muda, tapi mulai sekarang atur waktunya, setidaknya setelah Alena dan Pangeran tidur atau mereka pergi, saat ada anak- anak, temani mereka. Habiskan waktu bersama mereka. Masa emas mereka itu sebentar, nyesel lho nanti kamu kalau Ipang tau- tau besar,” tutur Umma memberitahu lagi. 

__ADS_1


“Iya Umma!” jawab Aslan dan Kia sedikit tersinggung, masa waktu bercinta harus dikasih tahu Umma.


Setelah dirasa cukup mereka pun pamit pulang.


Aslan kini menyadari kesalahanya, membalaskan dendam dan membayar hausnya kehangatan istri yang 7 tahun dia lewati dengan puasa sudah cukup terkenyangkan.


Sekarang waktunya hidup dengan normal, berhubungan sewajarnya dan belajar menyelami peranya sebagai ayah yang baik untuk anak- anaknya. 


Mereka pun pulang tanpa memberitahu Rendra dan Cyntia. Sementara Alena diurus Kikan. 


**** 


Sudah 3 jam lebih, Rendra dan Cyntia tertidur. Sampai Cyntia merasa ada dorongan seperti buang air kecil, tapi bukan buang air kecil, ada rasa hangat dan menggelitik di bawah sana dan membuatnya terbangun. 


“Rendra,” pekik Cynta tergugup malu ketika membuka matanya. Ternyata rasa hangat dan menggelitik itu karena ulah tangan Rendra yang sudah bangun lebih dulu.


Rendra pun kaget dan menelan ludahnya seperti maling ketahuan. Saat Rendra bangun, adik kecilnya ikut bangun karena tertindih tangan Cyntia.


Adik kecil Rendra pun menuntut haknya, sehingga Rendra harus mengambil kesempatan saat Cyntia tidur. Sebab jika Cyntia sadar yang ada ngomel terus.


“Ehm!” dehem Rendra melepaskan tanganya dari dalam celana Cyntia tang berhasil dia singkap..


Ternyata kancing baju atas Cyntia juga sudah terbuka, Rendra sudah lebih dulu bermain di sana.


“Maaf! Tolong jangan marah!” ucap Rendra gugup menebak Cyntia akan membencinya dan marah. 


Rendra menunduk pucat seperti anak SD yang siap menerima hukuman. 


Cyntia kemudian menatap Rendra lucu. 


“Kenapa minta maaf?” tanya Cyntia tersenyum, di luar dugaan Rendra, bahkan dia tidak membetulkan kancing bajunya yang terlepas.


“Huh!” pekik Rendra mendongakan kepalanya menatap Cyntia. Cyntia tersenyum lagi ke Rendra. 


Rendra memperbesar bola matanya, jadi Rendra sudah menjelahai tubuh tapi Cyntia tidak marah, apa itu artinya acc?


Rendra pun terbengong, menelan ludah tak percaya dan membuat Cyntia kembali tersenyum geli.


"Jadi aku boleh?" tanya Rendra gugup.


Tidak mengucapkan apapun, Cyntia justru maju, tanganya meraih leher Rendra dan mendaratkan bibirnya ke bibir Rendra dengan agresif. 


Rendra pun syok tapi bahagia, tidak menyiakan kesempatan, Rendra membalas ciuman Cyntia dengan lahap. Sampai mereka kehabisan nafas dan terjeda. 


“Ini kan yang kamu mau?” bisik Cyntia 


“Jadi kamu mengijinkanya, apa kamu menerimaku?” tanya Rendra dengan tatapan nakalnya. 


“Kamu bilang kamu penguntitku dan milikku kan? Aku sekarang milikmu!” jawab Cyntia lagi. 


Rendra tersenyum dan kembali melahap bibir Cyntia dengan penuh gaairah. Mereka pun saling beradu, menyatukan tubuh dalam kasih, melebur rasa yang dulu benci menjadi cinta. 


 

__ADS_1


__ADS_2