
Kebiasaan Mbok Mina, menjadi budak tawanan si ular betina, setelah selesai membersihkan rumah bagian dalam, Mbok Mina keluar, membuang sampah yang terkumpul di dalam ke bank sampah yang berada di luar pagar.
Dengan langkah yang pelan karena kakinya mulai berkeriput. Mbok Mina kembali ke rumah setelah membuang sampah.
Dan langkah Mbok Mina terhenti. Melihat Kia ada di depan matanya, Mbok Mina seperti tahanan perang yang dibukakan pintu jalan keluar agar bisa bebas. Sangat bahagia.
Setiap hari Mbok Mina selalu berdo’a, punya kekuatan atau bisa mengambil dompetnya agar Mbok Mina bisa kabur dan pulang kampung. Kalaupun tidak berharap Aslan kembali ke rumah itu dan menolongnya. Meski rasanya tidaj mungkin Aslan kembali.
Mbok Mina juga berharap ada orang datang menolongnya. Tapi siapa? Mbok Mina ingin berkeluh kesah dan menceritakan keadaanya, tapi di komplek situ Mbok Mina tidak punya kenalan.
Setiap hari rumah itu seperti rumah mati. Dan kalapun ada yang datang adalah pacar gelap majikanya. Rasanya hati Mbok Mina teriris- iris, saat mendengar suara- suara laknat dari perbuatan terkutuk yang dilakukan dua insan yang bukan pasangan sah di rumah itu.
Apalagi dengan posisi Paul yang masih istri Aslan. Dicerai tidak mau, tapi juga tidak setia.
Mbok Mina hanya geleng- geleng kepala. Menahan sesak di dadanya. Seringkali rasanya ingin menabur racun di makanan majikan paksanya itu.
Tapi Mbok Mina takut dosa, Mbok Mina masih percaya, kehidupan yang kekal adalah kehidupan yang akan dia temui setelah meninggal nanti. Semua akan ada balasanya.
Dan kini semua doa Mbok Mina terkabul. Entah apa yang membuat Kia melangkahkan kakinya sampai di rumah itu.
Alamat rumah Kia yang Mbok Mina simpan rapih dan sangat hati- hati, sebagai keinginan terbesarnya sebelum meninggalkan ibukota harus ketemu Kia. Kini tanpa susah payah Kia ada di depanya.
Mbok Mina langsung tersenyum lebar. Seperti mendapatkan doppingan nyawa dan tenaga. Meski baru pertama ketemu dan belum dekat, tapi Mbok Mina merasa Kia mempunyai hati hangat dan bisa menjadi Tuan yaang baik, Mbok Mina langsung memeluk Kia.
“Alhamdulillah, Duh Gusti, Engkau kabulkan Doaku, ini benar kan Nyonya Kia?” tutur Mbok Mina ber api-api.
“Iya Bu, anda masih mengingat saya?” tanya Kia pelan.
“Tentu saja, saya selalu berdo’a agar bisa menemui Nyonya Kia. Tolong bantu saya Nyonya, tolong saya Nyonya!” tutur Mbok Mina mengiba dan memegang tangan Kia dengan penuh pengharapan.
Kia diam, membiarkan tangannya digenggam. Rasanya hatinya bergetar, Kia memperhatikan wajah yang sudah banyak kerutan di depanya itu. Tidak ada raut kebohongan.
“Saya? Bantu Ibu?” tanya Kia pelan.
“Iya Nyonya!”
“Apa yang bisa saya lakukan?” tanya Kia.
“Banyak!”
“Banyak? Hoh?”
“Pumpung Nyonya Paul pergi, tunggu, tunggu saya ambil baju saya. Ayo kita pergi dari sini!” ucap Mbok Mina serius.
“Pergi? Saya ingin menemuinya Bu!” jawab Kia.
“Jangan Nyonya. Jangan temui orang jahat sepertinya. Tunggu di sini, saya ambil pakaian saya” jawab Bu Mina dengan segera berlari ke dalam.
Kia masih berdiri di depan rumah, Kia diam mencoba menerka. Meski tidak mendapatkan jawaban, tapi Kia merasa sebaiknya Kia mengikuti apa yang Bu Mina inginkan. Kia kemudian duduk menunggu Mbok Mina.
Setelah beberapa detik berlalu, Mbok Mina keluar membawa tas isi pakaianya. Kia pun bingung, ternyata Mbok Mina sungguh ingin pergi.
“Ayo Nyonya, kita harus segera pergi dari sini!” ajak Mbok Mia.
“Ah iya!” jawab Kia bingung tapi tetap tubuhnya bergerak mengikuti Mbok Mina. Bahkan tangan Kia reflek menarik tas Mbok Mina. Meski Mbok Mina hanya pelayan, tapi insting Kia merasa kasian melihat perempuan tua membawa tas besar.
“Sini saya bawa Bu, biar saya taruh di bagasi!” ucap Kia sambil menarik tas nya.
“Aduh berat, Nyonya, saya bisa bawa sendiri!”
“Nggak apa- apa!” jawab Kia. Kemudian Kia menaruh tas pakaian Mbok Mina ke mobilnya.
Kia pun membukakan mobilnya dan mempersilahkan Mbok Mina masuk.
“Terima kasih Nyonya” jawab Mbok Mina.
Kia tersenyum mengangguk. Kia ikut masuk dan menyalakan mesin mobilnya, bergerak mundur dan kemudian meninggalkan rumah Paul.
Sebenarnya masih sulit Kia cerna. Niatnya mau ngelabrak Paul, menjambak rambutnya mencakarnya, mengata- ngatainya dan mengancamnya. Malah yang Kia temui perempuan tua, dan meminta tolong padanya.
“Maaf Bu, saya lupa, nama ibu siapa ya?” tanya Kia ramah ke Mbok Mina.
“Den Aslan memanggil saya, Mbok Mina” jawab Mbok Mina ramah.
“Oh ya, Mbok Mina mau kemana? Saya harus antar Mbok Mina kemana?” tanya Kia lagi.
Ditanya mau kemana Mbok Mina diam. Mau jawab antar ke terminal atau stasiun, Mbok Mina kan nggak punya uang.
__ADS_1
“Terserah Nyonya Kia, yang penting bawa saya ke tempat yang bisa buat kita ngobrol Nyonya!” jawab Mbok Mina ingat tujuan utamanya.
“Oke!” jawab Kia mengangguk.
Lalu Kia membawa Mbok Mina ke sebuah kafe yang nyaman untuk mengobrol. Kia memilih tempat duduk yang sepi dan tidak ada pengunjung lain.
“Tasnya biar di mobil ya Mbok” tutur Kia.
“Iya Nyonya!”
Lalu Kia mengambil kertas menu di kafe itu.
“Mbok Mina udah makan?” tanya Kia.
“Sudah Nyonya baru saja”
“Beli camilan aja berarti ya!” tutur Kia ramah.
“Terserah Nyonya saja!”
“Mbok Mina ada makanan pantangan atau yang dihindari nggak? Mbok Mina suka makanan manis atau asin?” tanya Kia lagi.
Kia memperlakukan Mbok Mina sangat baik. Bukan seperti Nyonya ke majikan, tapi seperti anak ke orang tua. Mbok Mina pun tersenyum lega, Tuan Mudanya tidak salah pilih menitipkan benihnya.
“Nggak ada Nyonya, saya makan sembarang saya suka semua makanan” jawab Mbok Mina.
“Oke” jawab Kia mengangguk, lalu Kia memesan beberapa makanan.
Setelah memesan Kia pun memulai percakapan dengan bertanya.
“Mbok Mina mau minta tolong apa ke saya? Katanya mau menyampaikan sesuatu. Apa itu Mbok?” tanya Kia.
“Saya hanya ingin pergi dari rumah itu, dan sekarang saya lega sudah jauh dari rumah Nyonya Paul”
“Heh?” Kia terbengong mendengar penuturan Mbok Mina. Kenapa kesanya Mbok Mina seperti tawanan, Mbok Mina kan bekerja.
“Iya Nyonya”
“Kenapa ingin pergi? Dan kenapa harus dengan cara seperti ini?” tanya Kia lagi.
“Dompet saya, uang saya dan telepon saya diambil Nyonya Paul. Tuan Aslan sudah lama menyuruh saya pergi, tapi saya tidak bisa pergi karena dilarang Nyonya Paul” tutur Mbok Mina sedih.
“Iya, Nyonya benar” jawab Mbok Mina.
“Bukankan Aslan bersikap baik pada Mbok Mina, kenapa tidak katakan pada Aslan Mbok?” tanya Kia lagi.
“Tuan Aslan sudah meniggalkan rumah lama, sudah hampir tiga bulan Nyonya”
“Hah?” Kia kembali terbengong. "Aslan pergi dari rumah? 3 bulan” tanya Kia kaget.
“Iya Nyonya”
Kia kemudian diam. “Pantas Paul menanyaiku? Tapi dia kemana?" batin Kia.
“Memang Aslan kemana Bu?” tanya Kia.
“Saya malah ingin bertanya pada Nyonya Kia?”
“Ke saya?”
“Iya”
“He..” Kia kemudian tersenyum. “Manda, Paul, dan sekarang Mbok Mina menanyakan dimana Aslan kepadaku? Apa aku terlihat dekat dan istimewa buatnya? Bukankah seharusnya mereka yang tahu dimana Aslan” batin Kia pipinya tetiba memerah.
Entah kenapa rasanya seperti ada kupu- kupu beterbangan di dadanya saat Kia merasa seperti istimewa buat Aslan.
“Ehm” Kia kemudian berdehem.
Sebelum satu minggu ini, Kia memang lebih intens berkomunikasi dengan Aslan. Tapi Kia selalu gengsi bertanya dimana Aslan dan kenapa tidak pernah melihat di kantor lagi.
“Saya juga tidak tahu, Aslan ada dimana Mbok” jawab Kia.
“Hhh” Mbok Mina kemudian menghela nafas menyiratkan kesedihan.
“Tapi dia menjanjikan anakku, kalau bulan ini dia akan kembali” tutur Kia lagi sama- sama dengan nada sendu.
“Oh syukurlah, Den Aslan selalu menepati janjinya, dia pasti akan kembali Nyonya” jawab Mbok Mina kemudian semangat.
__ADS_1
“Hoh?” Kia kemudian terbengong. “Kenapa Mbok Mina begitu semangat memuji Aslan, apa segitu baikkah Aslan?” batin Kia lagi menatap Mbok Mina dengan tatapan penuh tanya.
“Menepati janji gimana Mbok? Bahkan dia tidak bisa dihubungi, dia juga tidak menghubungiku, Dia tidak membritahu dimana keberadaanya, apa-apaan itu. Dia malah menghilang” jawab Kia keceplosan, mecurahkan kekesalanya kehilangan Aslan.
“Apa Nyonya merindukanya?” tanya Mbok Mina.
“Hah!” jawab Kia tersentak.
“Ehm” Kia kemudian berdehem dan menelan ludahnya malu. Iya, Kia rindu Aslan, Kia kangen Aslan, tapi Kia malu menyadarinya.
“Menikahlah denganya Nyonya Kia” tutur Mbok Mina dengan nada rendah tapi dalam.
“Hah?” tanya Kia spontan dan kaget. Mendengar permintaan Mbok Mina, Kia langsung merinding.
"Kenapa Mbok Mina berkata begitu?" tanya Kia salah tingkah.
Entah kenapa, Kia menjadi berdebar dan terharu. Kenapa semua orang ingin dia menikah dengan Aslan.
Mbok Mina kemudian tersenyum hangat. Lalu tanganya meraih tangan Kia lembut.
“Saya mewakili Bu Andini, tolong, bahagiakan Tuan Aslan. Kasihan dia, dia tidak mempunyai cinta di hidupnya” tutur Mbok Mina lagi dengan pelan. Kia semakin tidak bisa berkata- kata. Kia diam sejenak dan mengatur nafasnya.
“Apa maksud Mbok Mina, dia kan punya istri dan anak, kelahiran Ipang adalah kesalahanku. Hubungan kami tidak seperti itu. Kita hanya bertemu satu malam tanpa saling mengenal. Saya bukan perempuan baik-baik” jawab Kia berusaha menyadarkan Mbok Mina dengan kenyataan yang ada.
Mbok Mina tersenyum lagi.
“Anda salah Nyonya, hubungan Tuan Aslan dan Nyonya Paulah yang tidak seperti yang terlihat. Nyonya Kialah perempuan baik yang patut menjadi pendamping Den Aslan”
“Ma-maksudnya?”
“Hubungan mereka bukan seperti hubungan suami istri Nyonya, tapi lebih seperti air dan minyak yang ditumpahkan dalam wadah yang sama karena sebuah kesepakatan”
“Kesepakatan?” tanya Kia terkejut.
“Iya, Den Aslan hanya korban, korban perjanjian dari Tuan Agung dan orang tua Nyonya Paul. Tuan Agung berhutang entah hanya mereka yang tahu. Sehingga membuat Tuan Aslan terjebak dalam kesepakatan pernikahan”
“Tapi Bu, mereka mempunyai anak, dan Aslan juga tidak menolak pernikahan itu. Bahkan sampai tujuh tahun mereka bersama! Kalau memang Aslan tidak menerima kenapa bisa bertahan selama ini?” jawab Kia.
“Tuan Aslan bukan tidak menolak. Tapi Tuan Aslan terlalu baik dan polos. Tuan Agung akan selalu masuk rumah sakit setiap kali Den Aslan maju untuk bercerai, Den Aslan hanya peduli dengan ayahnya”
“Oh” Kia terdiam. “Jadi pernyataan Aslan benar” batin Kia dalam hati. Hati Kia semakin terhunjam mendengar cerita Mbok Mina.
“Ada harga juga yang harus Tuan Aslan bayar jika Tuan Aslan menceraikan Nyonya Paul”
“Harga? Dibayar?”
“Ya. Jika Tuan Aslan menceraikan Nyonya Paul sebelum perjanjian mereka diubah. Apa yang menjadi hak Tuan Aslan di Nareswara, 80 persen menjadi milik Paul”
"Mbok Mina tahu dari mana semua itu Mbok?” tanya Kia lagi.
“Mbok abdi di keluarga itu sejak Den Aslan bayi. Mbok tau semuanya, Den Aslan sudah seperti anak Mbok, tolong, tolong Nyonya Kia, terima Den Aslan” tutur Mbok Mina menggenggam tangan Kia erat dengan tatapan nanar.
Kia salah tingkah. Ditatapnya perempuan tua di depanya. Mata Mbok Mina tergenangi air yang perlahan menetes.
Jantung dan dada Kia berdebar kencang. Tidak ada kebohongan di wajah Mbok Mina, lebih seperti ke ketulusan dan pengharapan yang besar.
“Jadi Aslan selama 2 bulan ini tidak ke kantor karena dia sudah tidak lagi bekerja di sana?” tanya Kia terbata.
“Iya... Den Aslan pergi, Mbok sendiri tidak tahu kemana?”
“Hoh” Kia hanya terdiam. “Jadi semua yang dia katakan benar? Dia tidak berbohong, ya Tuhan apa ini? Kenapa aku sangat ingin bertemu denganya sekarang” batin Kia kemudian sambil menatap Mbok Mina.
“Den Aslan tak sekuat yang orang lihat. Buat Mbok Dia hanya anak laki- laki yang kesepian, ibu Den Aslan meninggal saat Den Aslan masih kecil. Dan sejak saat itu semuanya sudah ditentukan oleh Tuan Agung”
“Begitukah?” tanya Kia semakin ngilu.
“Percaya pada saya Nyonya, Den Aslan laki- laki yang sangat setia, dia bukan orang yang mudah jatuh cinta. Bahkan karena tertutupnya dia, dulu sampai Den Aslan kelaianan karena Den Aslan tidak pernah berteman dengan perempuan”
“Tapi bagaimana dengan Paul dan Alena Mbok?”
“Alena bukan anak Den Aslan. Saat menikah Nyonya Paul sudah hamil lebih dulu. Den Aslan tidak tahu apa- apa”
“Hoh” Kia kembali tertegun, dan kini Kia sendiri meneteskan air matanya.
Ternyata Aslan tak seperti yang dia lihat. Kehidupanya sangat miris menyedihkan, apalagi Kia tahu sendiri kalau Paul berselingkuh.
“Tolong, menikahlah denganya Nyonya, temani dia. Den Aslan orang yang baik. Dia tidak jahat, bahagiakan dia. Mbok yakin Nyonya Kia satu- satunya orang yang bisa membahagiakan Den Aslan, apalagi ada Den Pangeran di antara kalian” tutur Mbok Mina lagi.
__ADS_1
Kia kemudian menyeka air matanya. Kia belum bisa menjawab dengan kata- kata, meskipun hatinya berkata. Iya, Kia mau menikah dengan Aslan, demi Ipang, dan kini demi Aslan dan dirinya sendiri.
Saat Kia menunduk menyeka air matanya. Pelayan restoran datang menyapa dan membawa makanan yang dia pesan. Kia pun membalas sapaan itu.